Liar

Liar
BERKELAHI


__ADS_3

Alya pulang dengan keringat bercucuran hingga membuat pakaiannya basah kuyup. Badannya pun terasa pegal-pegal semua. Ia memutar kembali suara yang sempat ia dengar di White House tadi.


"Dia gadis hebat. Baru hari pertama latihan udah hafal tiga jurus sekaligus. Aku penasaran di hari keduanya."


Begitulah ucapan Miko sang pelatih Alya. Dia juga mengatakan bahwa besok Alya sudah bisa berlatih judo. Alya pun makin bersemangat menunggu hari esoknya.


"Lo darimana?" tanya Bima membuyarkan lamunan Alya.


"Dari... rumah temen." balas Alya dengan jawaban palsu. Alya tak mau Bima dan kawan-kawannya tahu jika ia berlatih di markas Kang Kisna.


Bima yang tengah memandikan motor kesayangannya itu menatap Alya tajam. Dalam hati Alya merasa panik tapi ia tetap menunjukkan wajah datarnya. Sorot mengintimidasi terlihat sangat jelas di mata Bima.


"Ngapain lo di rumah temen sampe basah kuyup begini?"


"I... ini bukan basah. Tapi keringetan, soalnya pas di jalan pulang tadi dikejar-kejar anjing gila." jawab Alya asal.


Tiba-tiba Bima berdiri mendekati Alya dengan selang air masih dalam genggamannya. Bima menatapi Alya dari atas hingga bawah dengan sorot mata tajam. Alya makin gemetaran karena ia pasti akan kehabisan kata-kata jika Bima menanyainya lagi.


"Apa ada yang salah?" tanya Alya lirih.


Bima terus memandangi Alya dengan tatapan penuh intimidasi. Keningnya sampai berkerut.


"Kenapa Kak Bima natap gue kaya git..."


"Mandi lo sana, bau apek."


"Huuu, gue kira apaan." kesal Alya sambil menciumi bahu kanan kirinya. Ternyata memang apek juga.


"Udah cepet mandi. Mau gue mandiin juga bareng motor?" ucap Bima sambil menunjuk selang air di tangannya.


"Waw, iya iya. Gue masuk duluuuuu," teriak Alya karena Bima malah tetap menyemprot tubuhnya dengan selang air.


★★★


Matahari pagi bersinar cerah menembus tirai jendela kamar Alya. Gadis itu terbangun karena silau. Tubuhnya menggeliat di dalam selimut. Saat Alya baru saja duduk dan nyawanya belum terkumpul sempurna, teriakan dari luar membuat kedua matanya melotot.


"WOY, KEBO. BANGUN! GUE TINGGAL NIIH!"


BRAK! BRAK! BRAK!


Alya segera beranjak dari tempat duduk dan menyempatkan melirik jam. Waktu menunjukkan pukul 06:35. Ini gawat!


"Jangan tinggalin gue. Tungguin bentar!" teriak Alya ketika ia sudah membuka pintu.


WOSHH..


Bahkan Bima yang berdiri didepan pintu sampai hendak melayang karena Alya berlari secepat kilat.


Pukul 06:45 Alya baru selesai bersiap-siap. Ternyata Bima masih menunggunya di depan rumah. Alya merasa lega karena cowok menyebalkan itu tak berangkat duluan meninggalkannya.

__ADS_1


"Cepetan, telat gobl*k."


"Sabar lah." segera Alya mengikat tali sepatunya asal. Ia berlari ke arah Bima dan langsung naik keatas motor. Mereka pun melesat meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi.


....


Alya berlari sekencang-kencangnya menuju kelas. Di lorong depan perpustakaan, ia menemukan Theo tengah berkelahi dengan seseorang. Terlihat wajah Theo sudah babak belur dengan darah mengalir dari pelipisnya yang robek.


Theo sudah tak berdaya hingga tubuhnya terpepet di tembok oleh lawan. Cowok yang memepet Theo itu mengangkat tangan bersiap meninju. Dengan langkah cepat, Alya pun mendekati mereka berdua.


"Kalian ngapain?" tanyanya polos.


Theo dan cowok itu spontan menoleh ke asal suara.


"Bukan urusan lo." jawab cowok itu datar lalu kembali menatap Theo tajam yang sudah lemas tak berdaya.


Cowok tak dikenal itu kembali memukul wajah Theo membabi buta. Theo tampak memprihatinkan dengan kondisi wajahnya yang babak belur hebat. Tubuhnya menyender di tembok tak sanggup berdiri. Cowok tak dikenal itu menyeringai senang lalu mencengkeram kuat leher Theo hingga wajah Theo memerah.


"Uhuk... uhuk..." Theo tak bisa berbicara karena cekikan di lehernya. Tubuhnya makin menggeliat tak karuan meronta minta dilepaskan.


"Berani lo macam-macam lagi, gue habisin lo kapanpun gue mau!" ucap cowok itu keji.


Alya kebingungan tapi ia merasa kasihan dengan Theo yang sekarat. Wajah Theo makin memerah karena nafasnya tersengal. Tak pikir panjang lagi, Alya langsung mendekati mereka dan menendang pinggang cowok tak dikenal itu dengan kuat.


DUAKK!


Cowok itu langsung terhuyung kesamping hampir jatuh. Cekikan di leher Theo pun spontan terlepas. Ia menatap Alya tajam yang sedang memasang kuda-kudanya.


Alya tak mempedulikan dan ia pun langsung mendekati Theo. Kondisinya sangat miris bahkan kedua matanya seperti tak terbuka. Theo terduduk lemas menyender tembok lorong.


"Lo gapapa?" tanya Alya panik sambil meraba wajah Theo yang babak belur.


Theo tak bisa bersuara dan hanya menggeleng lemah. Alya makin merasa kasihan dengannya. Kedua tangan Alya terkepal erat menahan amarah. Ia pun berdiri dan menatap tajam cowok tadi dengan nafas memburu.


"Lo nyelakain dia, lo harus berurusan dengan gue!" tegas Alya yang sok jago padahal baru latihan tiga jurus kemarin.


"Cewek ya, mudah." cowok itu tersenyum miring.


BUK! BUK! BUK! BUK!


Alya berusaha melayangkan tinju ke wajah cowok itu tapi dengan sigap dia berhasil mengelak. Perkelahian sengit antara cowok dan cewek pun terjadi. Dengan sekali gerakan, Alya berhasil terjatuh terkena tendangan di perutnya.


Namun Alya tak mau kalah. Ia kembali bangkit dan kini menyerang cowok itu. Memukuli dadanya bertubi-tubi, diakhiri tendangan di kaki kanannya. Cowok itu reflek terjatuh karena lututnya tertekuk.


Skor mereka satu sama. Ternyata suara pukulan dan rintihan mengundang beberapa siswa untuk melihat. Mereka terlihat terkejut menyaksikan perkelahian itu dimana yang cowok malah terjatuh di lantai.


"Wow siapa dia, bukannya anak baru itu ya?" gosip cewek-cewek kakak kelas membicarakan Alya.


"Iya. Yang itu loh model dari inggris. Dih masih cantikan gue lah."

__ADS_1


"Centil banget tuh cewek berani ngelawan Azril."


"Yah, maklum lah cewek sok-sokan mentang-mentang cantik."


"Heh jan kek gitu dia adek Bima tau."


"Heleh yang penting bukan Bima-nya. Gapapa kita jelek-jelekin, kalo Bima sih jangan."


"Gobl*k si,"


Cowok itu kembali bangkit menatap Alya tajam seperti elang yang ingin menerkamnya. Ia melayangkan kaki kiri untuk menendang wajah Alya, namun dengan sigap Alya membungkuk menghindar. Alya memukul wajah cowok itu dan mengenai tulang pipi nya.


Tertinggal lebam di wajah cowok itu dan ia pun marah. Ia bergerak bagai kilat menyerang wajah Alya bertubi-tubi. Wajah Alya ikut lebam bahkan ia sampai mimisan.


Alya kaget merasakan darah mengalir dari lubang hidung. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan wajahnya mulai terlihat pucat. Seluruh pandangannya berputar-putar. Bahkan tubuh cowok itu terlihat ada dua di mata Alya.


Melihat kesempatan Alya yang linglung, cowok itu kembali memukul perut Alya hingga terjatuh.


"Ugh," rintih Alya memegangi perutnya yang sakit. Perlahan ia mencoba bangkit menahan pusing di kepalanya. Alya mencoba memukul cowok itu tapi pukulannya tak mengenai. Ia kesal karena pandangannya kabur dan tak bisa melihat jelas mana sasaran yang asli.


"Udahlah lo pucat banget gatega gue." suara berat itu terdengar di telinga Alya. Cowok itu tertawa mengejek.


Alya tak mau dipandang lemah. Ia tersadar dan langsung mencengkeram kerah seragam cowok itu kuat. Alya mendorongnya hingga memepet pada tembok. Ia menatap cowok itu tajam tanpa berkedip. Tak lupa ia pun melirik tag nama di seragamnya "Azril Febrian" baca Alya dalam hati.


"Jangan pernah ganggu dia lagi, atau..." ucapan Alya terpotong karena cowok itu angkat bicara.


"Gausah belagu jadi cewek. Maksud lo apa ikut campur urusan gue?" kata Azril sambil meronta minta dilepaskan cengkeraman kerah bajunya.


Alya tak mau menjawabnya dan malah memukul perut Azril dengan lutut bertubi-tubi.


"Ahh, cukup! Agg... berhenti! Uhuk... uhuk..." rintih cowok itu kesakitan tapi ia balas memukul wajah Alya dengan kepalan tangannya kuat.


Alya terkena pukul di pelipis kanannya. Itu membuat kepalanya semakin pusing ditambah ia masih mimisan karena hantaman kuat di tulang hidung. Alya menghajar Azril tanpa ampun bahkan ia tak segan mencekik lehernya.


Kini gantian wajah cowok itu yang memerah karena nafas tersengal. Alya tersenyum sinis dan makin mempererat cengkeraman tangannya.


"Tadi lo ngelakuin hal ini ke dia. Sekarang lo ngerti kan gimana rasanya." ucap Alya lalu tertawa mengejek.


Tubuh Azril makin melemas, bahkan pukulan yang ia layangkan ke tubuh Alya berhenti seketika. Alya merasa pelajaran ini sudah cukup. Ia pun melepaskan cekikan di leher Azril, seketika cowok itu merosot jatuh dari sandaran berdirinya.


Alya segera menghampiri Theo yang masih terduduk lemas menyender dinding lorong. Ia menanyakan keadaannya apakah ia baik-baik saja. Theo mengangguk lemah dan berterimakasih pada Alya. Alya pun segera memapah Theo untuk dibawa ke UKS. Sebelum beranjak, ia menyempatkan melirik tajam cewek-cewek kakak kelas yang menonton tadi.


Mereka langsung terlihat kikuk dan segera bubar dari tempat. Takut Alya akan ikut menghajar mereka karena sudah menonton aksinya dan membicarakannya tanpa dosa.


"Argh, sial! Gobl*k! Siapa cewek itu, berani-beraninya ikut campur. Anj*ng!" umpat Azril mengusap kasar darah di ujung bibirnya. Ia perlahan bangun dan berjalan tergopoh menuju kelas.


Diam-diam Azril berencana mencari tahu siapa gadis itu. Ia berniat balas dendam karena gadis itu hampir saja membuatnya kehilangan nafas.


----------

__ADS_1


Terus simak kisah selanjutnya ya gaes, jan lupa like, komen, vote, and rate bintang 5 yaa💖😘


__ADS_2