
Fang tersenyum sinis melihat Adam jatuh pingsan. Ia membungkukkan badan untuk menyeret kaki cowok itu.
"LO ANJ*NG?"
Belum sempat Fang menyentuh kaki Adam, sebuah teriakan dari belakang membuatnya menoleh. Ia terkejut setengah mati melihat banyak orang berdiri dihadapannya dengan tatapan membunuh. Apalagi dengan cowok salah satu dari mereka yang berdiri paling depan. Fang spontan berteriak karena terkejut.
"LO!!"
Teriak Fang dan Bima bersamaan ketika mata mereka bertemu. Para anggota Bima Ardja terkejut, rupanya mereka sudah saling kenal.
Fang menatap Bima was-was yang menampakkan sorot kemarahan di kedua matanya. Tanpa pertimbangan lagi, Fang pun berlari kabur secepat-cepatnya meninggalkan gangster Bima Ardja itu.
"KEJAR ANJ*NG ITU!!" teriak Bima memerintahkan seluruh pasukannya.
Semua anggota Bima Ardja termasuk Alya pun berlari beramai-ramai mengejar cowok tadi. Dan kebodohan menyerang lagi, mereka malah mengejar dengan berlari daripada naik motor. Bima mengatur nafasnya yang memburu dan meredakan emosinya. Semua pasukannya sudah berlari jauh mengejar Fang.
Kini tersisa dirinya dan tubuh Adam yang tak sadarkan diri di gang sunyi itu. Bima berjongkok untuk memeriksa keadaan Adam. Ia menempelkan jari telunjuk di ujung hidung Adam. Terpaan udara hangat terasa di jari telunjuknya. Bima menghembuskan napas lega. Ia merogoh saku jaket dan mengeluarkan gadget dari sana. Setelah di otak-atik sebentar Bima menempelkan benda gepeng itu di telinganya.
"Gue butuh tiga orang ke Gang Dahlia."
★★★
"WOI, PENGECUT JANGAN LARI!" teriak Kevin saat mengejar Fang beramai-ramai.
Mereka terus mengejar tanpa mengenal lelah. Jalan gang hanya muat untuk 2 orang berjajar. Baris paling depan Kevin dan Galang karena mereka lebih cepat dari yang lain. Baris kedua Banar dan Angga. Baris ketiga Erik dan Wanda. Baris keempat Beni dan Dito. Baris kelima Bayu dan Sony, dan seterusnya sampai baris paling akhir adalah Alya.
Nafas Alya menderu-deru mencoba mengimbangi lari mereka yang begitu cepat. Entah mereka yang sangat cepat berlari, atau Alya yang memang lamban berlari. Alya cukup kagum dengan kecepatan mereka yang seperti tak merasa lelah, sedangkan dirinya serasa ingin mati saja. Gadis itu berhenti berlari dan tertinggal oleh kawan-kawannya. Alya membungkuk menyangga tubuh lemasnya dengan kedua tangan memegang lutut.
Dadanya naik turun tak beraturan dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Alya merasa sangat lelah tapi ia tak ingin tertinggal gangster Bima Ardja yang sudah tak terlihat. Setelah istirahat sejenak itu dirasa cukup, Alya kembali melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk menyusul mereka. Namun tiba-tiba,
GREB!
"Siapa lo?!" teriak Alya terkejut karena ada seseorang menangkap tubuhnya dari belakang.
Orang yang menangkap tubuhnya itu tak menjawab dan semakin erat mencengkeram tubuh Alya. Alya pun berusaha meronta minta dilepaskan.
"Lepasin gue! Lepasin! Siapa lo!" teriak Alya yang terus meronta ingin bebas.
Karena tak kunjung dibebaskan, Alya nekat menggigit lengan orang itu.
"Aarghh!" rintih orang itu merasa kesakitan karena gigitan Alya. Dari suaranya yang terdengar berat Alya bisa mengetahui bahwa dia seorang cowok.
Alya tersenyum mendengar rintihan sakit cowok itu lalu kembali mengigitnya. Tapi tiba-tiba cowok itu membungkam bibir dan hidung Alya dengan sapu tangan. Alya meronta agar bungkaman sapu tangan itu dilepaskan. Namun, akhirnya tubuh gadis itu melemas sendiri bersamaan dengan matanya yang terpejam.
Cowok berbaju hitam itu menggendong Alya yang sudah tak sadarkan diri akibat obat bius, entah dibawa kemana.
★★★
TANG! TANG! TANG!
Fang menjatuhkan 3 kaleng tong sampah di pinggir jalan dan menggelindingkannya ke belakang agar Bima Ardja kesulitan mengejarnya. Alhasil gerombolan Bima Ardja pun harus melewati tantangan melompati gelindingan 3 tong kaleng itu.
__ADS_1
Fang semakin jauh dari kejaran Bima Ardja yang harus melompati tong. Selesai melewati tantangan, Bima Ardja kembali mengejar Fang namun mereka kehilangan jejaknya. Sudah jauh mereka berlari dan Fang benar-benar tak ditemukan. Cowok satu itu menghilang begitu cepat bagai ditelan bumi.
"Sial! Kita kehilangan jejaknya!" seru Galang dengan nafas terengah-engah. Ia menyeka keringat di dahinya dengan telapak tangan.
"Siapa sebenarnya cowok itu? Dia saling kenal dengan Bima, tapi kenapa kita gatau?" tanya Kevin dengan nafas terengah-engah juga.
"Al, lo tau siapa dia?" tanya Wanda mencari sosok Alya di sekelilingnya.
Semua orang celingukan mencari keberadaan cewek cantik itu. Kini mereka baru sadar bahwa Alya tak ada bersama mereka. Bukankah tadi Alya ikut berlari mengejar dan dia berada paling belakang?
"Alya!" Wanda setengah berteriak mencari-cari sahabatnya.
"Alya dimana?!" teriaknya lagi menatap semua orang bergantian.
Semua orang bingung. "Ketinggalan kali," akhirnya Banar menjawab enteng untuk memecahkan ketegangan.
"Tapi..."
"Kita cari Alya sekarang! Mungkin dia masih ada disekitar sini!" seru Kevin memotong Wanda.
Mereka pun kembali berlari untuk mencari Alya. Mereka tak peduli lagi dengan Fang karena Alya lebih penting. Semua orang berteriak memanggil nama Alya sambil mencari-cari. Anehnya cewek itu tak kunjung ditemukan padahal sepanjang jalan yang mereka lewati tadi sudah diteliti.
Mereka sudah sampai di tempat awal menemukan Fang tadi. Motor-motor masih tergeletak di tempat dan aman tak ada yang hilang. Adam pun sudah tak ada di tempat pingsannya. Mungkin Bima sudah membawa pulang cowok itu dengan bantuan anggota lain.
Sekarang yang menjadi kepanikan Bima Ardja adalah Alya. Kemana perginya cewek itu!
"Fix, Alya ga baik-baik aja. Perasaan gue gaenak!" seru Wanda dengan wajah panik sambil mengotak-atik gadgetnya.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi."
"Gimana?" tanya Galang.
"Ah, gadgetnya gaaktif." jawab Wanda resah.
Semua orang terlihat panik dan ucapan Wanda seperti ada benarnya. Namun ditengah ketegangan mereka, lagi-lagi Banar memecahkan.
"Mungkin Alya udah pulang sama Bima. Positif thinking dulu, coba hubungin Bima."
Wanda segera menelepon Bima untuk menanyakan keberadaan Alya. Dan ternyata,
"GIMANA SI! TADI KAN SAMA KALIAN!" teriak Bima marah di dalam telepon. Wanda menjauhkan gadget beberapa centi dari telinga.
"Gue beneran gatau, Bim. Awalnya Alya sama kami kok waktu ngejar cowok itu. Tapi pas udah kehilangan jejak, kami baru nyadar Alya udah gaada." jelas Wanda.
"Cari dia sampe ketemu!"
"O-oke."
TUT... TUT...
Sambungan telepon terputus. Wanda kembali menyimpan gadgetnya dan segera memberitahu semua orang bahwa mereka harus mencari Alya. Sampai dapat. Bila tidak, ah entahlah.
__ADS_1
★★★
Disisi lain, masih di gang yang sama, Fang berhenti berlari sambil ngos-ngosan. Ia menoleh kebelakang, nampaknya Bima Ardja tertinggal sangat jauh dari tempatnya berdiri. Ia segera menelepon seseorang setelah memposisikan tubuhnya jongkok.
"Hah... halo?" sapa Fang memulai pembicaraan di telepon itu.
"Lo dimana?" suara telepon di seberang sana.
"Maaf, bos. Gue gabisa bawa cowok tadi. Tadinya hampir berhasil tapi tiba-tiba gerombolan Bima Ardja dateng. Gue lari dikejar-kejar mereka. Tapi sekarang udah aman." jelas Fang sesekali mengatur nafasnya yang memburu.
TUT... TUT...
Sambungan telepon tiba-tiba terputus padahal lawan bicaranya belum merespon apa-apa. Fang mengerutkan dahinya bingung. Tiba-tiba, sebuah telapak tangan menepuk bahunya dari belakang. Kedua mata Fang membulat lebar karena ia sangat terkejut. Orang di belakangnya mulai mencengkeram pergelangan tangan Fang. Jangan-jangan...
"A-ampuun! Gue cuma nurutin perintah dari bos, jangan bawa gue! Ampun!" teriak Fang takut dibawa Bima Ardja dan dikeroyok ramai-ramai.
"Lo apa-apaan si," ucap orang di belakang Fang.
Sontak Fang langsung membalik badan dan ternyata itu bukan salah satu anggota Bima Ardja. Seperti dugaannya.
"Maaf Bos Victor, gue kira anj*ng, eh maksudnya anggota Bima Ardja. Hehe..." cengir Fang menggaruk belakang kepalanya yang gak gatal.
"Misi berhasil. Pekerjaan lo bagus. Kita balik ke markas sekarang." ucap cowok bertato itu sambil tersenyum puas. Victor.
Ya, dia Victor. Yang tadinya menyuruh Fang mengejar Adam adalah Victor. Cowok berambut merah yang Fang panggil 'Bos'.
"Wow, misinya berhasil? Yuhuuu ga sia-sia gue lari cape-cape begini."
Mereka pun ber-tos ria sambil tertawa bersamaan. Misi yang sudah lama mereka rencanakan telah berhasil dilakukan dengan mudah.
★★★
Terdengar suara adzan dikumandangkan entah dari arah mana. Langit mulai gelap sementara ke 14 anggota Bima Ardja itu belum juga menemukan Alya. Mereka sudah berpencar mencari kemana-mana tapi hasilnya nihil. Alya tetap tak ditemukan. Mereka semua berkumpul di tempat motor diparkirkan dengan wajah lesu.
"Gimana hasilnya?" tanya Galang.
Mereka menggeleng berjamaah. Raut kepanikan tampak jelas di wajah semua orang. Mereka takut Bima akan mengamuk setelah ini.
"*OH MY GOD*!"
Semua orang langsung menoleh ke arah Wanda yang memekik tiba-tiba. Gadis tomboy itu menatap semua orang dengan mata membulat lebar.
"Ada apa?" tanya Banar.
"Jangan-jangan ini jebakan!"
----------
Apa yang akan terjadi selanjutnya ya guys? Dimana keberadaan Alya sekarang? Kita cari jawabannya di eps selanjutnya ya guys😊
Jan lupa like, komen, and vote yaa😘
__ADS_1
See you~