
Jam sekolah sudah bubar. Semua orang meninggalkan sekolah untuk kembali ke rumah yang mereka rindukan. Alya tengah berjalan untuk keluar dari sekolah. Ia sendirian, Wanda sudah pulang dari tadi karena ia yang memintanya duluan.
"Alyaaaa!" seseorang berteriak memanggilnya dari belakang.
Alya menoleh dan melihat Adam tengah berlari kecil menghampirinya.
"Adam?" sapa Alya.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Adam masih dengan nafas tidak teratur.
"Biasa lah sama Kak Bima. Kenapa emang?"
"Bima tadi bolos waktu istirahat pertama"
"Hah! Trus Alya pulang sama siapa dong"
"Bareng gue aja, mau ga?" tawar Adam.
"Boleh?"
"Yaboleh lah, ntar kalau gue ninggalin lo gue juga yang kena masalah sama Bima"
"Yaudah yuk"
Mereka kembali berjalan menuju gerbang sekolah.
"Loh, motor kamu mana?" tanya Alya kemudian. Ia baru sadar kalau Adam keluar dari sekolah berjalan kaki.
"Dititipin temen"
Alya mengikuti Adam jalan, kemudian cowok itu berhenti disebuah rumah yang tidak jauh dari sekolah tadi. Alya sempat melihat ada motor lain juga yang terparkir didepan rumah itu. Yang pastinya, Alya juga pernah melihat sebelumnya.
"Zaaalllll, gue ambil motor!" teriak Adam saat ia mulai naik keatas motornya.
"Yuhuuu" jawab suara dari dalam rumah itu.
"Yuk" ajak Adam mempersilakan Alya naik.
Alya langsung mendekat kearah Adam. Kaki kanannya sudah mulai naik, tapi tiba-tiba
"Bareng gue aja!"
Alya menurunkan kakinya yang belum sempat menyentuh motor Adam. Ia menoleh kearah rumah tadi.
"Kevin?" seru Alya tidak percaya.
Kevin yang tadinya berdiri di ambang pintu kini bergegas meraih motornya. Ia memakai helm lalu menjalankan motor dan berhenti kembali didepan Alya. Alya jadi bingung harus milih siapa. Tunggu! Kenapa Kevin jadi begini?.
"Yodah gue duluan, daaahhh" Adam langsung melesat meninggalkan mereka berdua.
"Adaaammm!" teriak Alya kesal.
Tidak dapat Alya jangkau, Adam sudah sangat jauh dari tempat itu. Kini ia harus berhadapan dengan Kevin. Tadinya ia memutuskan untuk pulang bareng Adam saja. Karena ia sedikit kesal dengan Kevin yang selalu bersikap dingin kepadanya.
"Mau gue anterin ga? Kalau gamau ya syukur" ucap Kevin.
"Tadikan kamu yang minta sendiri!" timpal Alya sebal. Ia membelalakan mata mengalihkan pandangannya.
"Gue mau pulang" kata Kevin lalu membunyikan mesin motornya.
"Kamu ninggalin Alya?" tanya Alya dengan penuh penekanan.
"Abisnya lo gamau bareng gue"
"Emang Alya bilang gamau pulang sama kamu? Kamu aneh deh!"
"Gue pulang"
Tanpa Alya duga, Kevin menjalankan motor meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Keviiinnnnnnn!" Alya terpaksa berteriak memanggil nama itu, karena ia tidak tahu lagi mau berbuat apa. Ia sangat kesal.
Akhirnya Kevin mengerem motornya mendadak. Ia terlihat ketawa kecil dibalik wajah dinginnya kepada cewek itu.
Alya menghampiri Kevin dengan langkah kasar.
"Gausah ketawa! Alya tahu!"
"Siapa yang ketawa?" Kevin kembali menunjukkan wajah cueknya.
Dengan sebal, Alya naik di motor itu. Mereka berdua hening diselama perjalanan. Dengan pikiran yang berbeda-beda. Sampailah didepan gerbang besar berwarna hitam. Rumah Mama Alya.
"Thanks" ucap Alya cuek.
"Kenapa gitu? Marah ya?" Kevin ketawa. Alya jadi dibuat bingung olehnya. Kenapa tiba-tiba dia jadi humoris gini?. Alya belum pernah melihat Kevin ketawa seperti itu kepadanya.
"Heh, kok diem?" kata Kevin mengejutkan Alya yang melamun.
"Jangan suka ngelamun, ntar dimasukkin setan loh" lanjutnya sambil memandang wajah Alya.
"Eh, jangan dimasukkin setan deh. Ntar keenakan setannya" tambahnya lagi lalu terkikik pelan.
Alya benar-benar dibuat bingung oleh cowok itu. Tatapannya sungguh sangat berbeda dari biasanya. Cara bicaranya juga, yang biasanya dia itu cuek kini malah jadi humoris begini. Sebenarnya kenapa si dia? Salah minum obat apa gimana?.
"Al" panggil Kevin lagi menyadarkan Alya.
"I...iya" jawab Alya setengah terkejut.
"Udah dibilangin jangan ngelamun terus"
"Kenapa kamu jadi banyak bicara gini? Biasanya kamu kan cuek, dingin ke Alya" tanya Alya akhirnya.
"Gaboleh emang?"
"Bu...bukan gitu, Alya bingung aja kenapa tiba-tiba kamu jadi banyak bicara gini. Ngajakin ketawa lagi" jelas Alya.
"Ah, udahlah. Makasi udah nganterin" Alya langsung memutar tubuh menghadap gerbang rumah. Ia masih ingin menunjukkan rasa kesalnya pada Kevin. Saat ia mulai melangkah tiba-tiba jemari Kevin menarik lengannya. Alya spontan terkejut, jantungnya berdebar-debar. Ia tidak percaya ini.
Dengan sigap, Alya membalik badan kembali menghadap Kevin. Cowok itu terlihat tersenyum manis kepadanya.
"Kenapa dia ganteng begini!" kesal Alya dalam hati.
"Sampe besok" ucap Kevin lirih lalu kembali tersenyum secerah matahari. Ia melepaskan jemarinya yang melingkar di lengan putih Alya.
Alya masih mematung tidak percaya. Melihat Kevin tersenyum manis seperti itu, ia terkutuk. Mata birunya masih terbuka lebar. Ia tidak sanggup berkata apa-apa.
"Gue pulang dulu ya, bye"
Sekali lagi, cowok tampan itu tersenyum manis kearah Alya. Cewek itu semakin terkutuk dan mulutnya serasa diplester, ia tidak bisa bicara.
Bremm...bremm...breeemmmm!
Suara bising motor itu berbunyi keras. Kevin sudah melaju jauh, sedangkan Alya masih mematung ditempat. Ia sangat tidak percaya apa yang barusan terjadi.
Alya menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, menyadarkan dirinya setelah beberapa menit terkutuk. Ia mengeplak keras pipi kanannya dengan telapak tangannya sendiri.
"Auuu!" jeritnya kesakitan.
"Jadi ini bukan mimpi?" serunya kemudian.
Seketika itu jantungnya berdebar-debar keras serasa diremas. Ia tenggelam dalam bayangan wajah Kevin tadi dibenaknya. Bagaimana dia dengan manisnya tersenyum ke Alya. Alya menjerit dalam hati. Wajahnya jadi secerah matahari, seceria burung di pagi hari.
Dengan langkah bahagia, Alya masuk kedalam halaman rumah setelah gerbang dibukakan oleh satpam. Disepanjang perjalanannya menuju kamar, bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Ternyata itu bukan mimpi!
Hati Alya serasa berbunga-bunga. Ia baper sendiri oleh kelakuan cowok tampan tadi. Kembali dibayangkannya wajah Kevin tadi. Senyumnya semanis gula!
Tok...tok...tok
Suara ketukan pintu kamar menyadarkan Alya dari kegilaan. Ia bergegas membuka pintu.
__ADS_1
"Nona belum ganti baju? Sebaiknya cepat ganti baju, non. Kak Bima udah nunggu di meja makan" kata Bi Ikah.
"Iya, Bi" jawab Alya.
Alya menutup pintu lagi setelah Bi Ikah berlalu. Ia bahkan sampai lupa ganti baju karena membayangkan kejadian tadi.
"Kak Bima pasti nanti protes kalau Alya lama" gumamnya dalam hati sambil cepat mengganti baju.
Alya sampai di meja makan. Bima diam tidak berekspresi ataupun memandangnya. Ia melihat wajah Bima kusut dan lesu, tidak seperti biasanya. Alya menarik kursi lalu duduk disebelah Bima.
"Tumben ga protes kalau Alya dateng lama" sewot Alya.
Bima masih tidak berekspresi. Tatapannya kosong sedari tadi.
"Kak Bima kenapa si?" tanya Alya mulai curiga.
Bima tidak bergeming.
"Woyy! Kayak vampir aja!"
...
"Jangan kayak gini Alya takut!"
...
"Kak Bima?..."
...
"Gausah bercanda deh, Alya bener-bener takut!"
...
"Biiiiiii! Bibiiii!" Alya akhirnya teriak memanggil Bi Ikah. Ia melakukan itu karena takut melihat wajah Bima yang seperti mayat hidup.
Bima langsung menutup rapat mulut Alya dengan telapak tangan kanannya. Alya tersentak lalu dengan cepat melepaskan bungkaman itu.
"Ada apa, Non?" tanya Bi Ikah muncul.
"Gaada apa-apa, Bi. Maaf" Alya tersenyum meringis.
"Yaudah Bibi ke dapur lagi, silakan makan siang" ucap Bi Ikah lalu berlalu pergi.
"Udah berani teriak-teriak ya sekarang!" sewot Bima menatap Alya tajam.
"Salah siapa Kak Bima kayak mayat hidup tadi!"
Bima tidak merespon. Ia langsung mengambil makanan yang tersedia ke piringnya. Memakan makan siangnya dengan perlahan. Alya mengikuti.
"Kak Bima kenapa si?" tanya Alya disela-sela makan itu.
Bima tidak menjawab, ia fokus dengan sepiring makanannya.
"Kak?" panggil Alya lagi.
Tidak ada jawaban, hanya suara piring bersentuhan dengan sendok yang terdengar.
"Gakaya biasanya begini" jelas Alya.
"Kak Bima kenapa si? Kok lesu gitu?"
"Cerita dong"
"Kak?"
"Kak Bimaa!"
"Bawell, ah!" seru Bima akhirnya, membuat Alya diam dan meneruskan makannya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1