
Malam ini, Bima Ardja akan melakukan penyelidikan di markas Anhar. Sesuai saran Kang Kisna, penyelidikan itu hanya diwakili oleh dua orang. Karena jika mereka datang beramai-ramai, tentunya akan membuat geng motor Anhar curiga.
Dan perwakilan dua orang itu jatuh kepada Galang dan Kevin. Mereka baru saja melesat meninggalkan markas, untuk melaksanakan misi.
Lagi-lagi telepon dari orang tidak dikenal mengganggu Alya yang tengah berdiskusi bersama yang lain.
"Kenapa gadiangkat?" tanya Wanda.
"Biarin. Orang yang kemaren nelfon lagi."
"Angkat aja, Al. Sini gue yang ngomong." Wanda merebut gadget Alya lalu menekan tombol hijau.
"..."
"Saya masih sibuk, jangan hubungi lagi."
"..."
"Maaf ya saya tutup teleponnya sekarang."
Klik
"Nih," Wanda kembali menyerahkan gadget Alya. Gadis cantik itupun tersenyum senang, lalu berterimakasih kepada Wanda.
"Gimana, udah dapet informasi tentang Sarah?" tanya Kang Kisna.
"Belum, Kang." Alya menjawab.
★★★
"Kita parkirin motor disini aja." ucap Galang ketika mereka telah sampai tidak jauh dari markas Anhar. Ia menghentikan motor dibawah pohon besar. Melepaskan helm fullface nya.
"Gailang nih motor?" tanya Kevin sambil menjajarkan posisi motor di samping motor Galang.
"Gabakal."
"Ni motor kesayangan gue loh. Kalo ilang lo yang harus tanggung jawab!"
"Elaah, iya, iya. Yuk cepet."
Mereka berdua berjalan ke markas Anhar yang tidak jauh lagi. Hanya tinggal masuk gang gelap tanpa lampu lalu sampai. Sesuai rencananya, mereka mengintip ke dalam melalui jendela samping bangunan itu.
★★★
"Gimana si lo, Al. Masa nomor mantan pacar Abangnya sendiri gapunya," protes Adam.
"Ya emang gapunya. Abis mau gimana lagi, di gadget Kak Bima juga udah gaada."
"Payah lo, Al." tambah Erik.
"Woy, chattingan teross!" lanjutnya menyenggol pinggang Nico dengan sikut.
"Awhh, sakit ******. Siapa juga yang lagi chattingan," balas Nico sambil cepat mematikan gadgetnya.
"Apaan, tadi gue juga liat lo lagi chat sama Eka."
"Ya ampun boong banget. Di hati gue tu cuma ada Alya! Lo ngerti kagak!"
Alya yang mendengar itu jadi geli sendiri. Wanda pun jadi menggodanya habis-habisan. Alya memilih memainkan kuku-kuku panjangnya tanpa memedulikan mereka yang mulai menggodanya.
"Jadi ini gimana?" Alya mengganti topik agar mereka berhenti menggodanya.
"Kita cari info dari orang lain. Kalian kan punya temen di sekolah. Nah, siapa tau ada yang kenal Sarah atau Riko." jelas Kang Kisna diikuti anggukan oleh mereka.
"Okelah, Kang."
★★★
"Gaada siapa-siapa." lirih Kevin saat ia dan Galang mengintip jendela markas Anhar.
"Pada kemana nih pasukan Adudu."
"Congor lo lah, Lang. Pengin ketawa gue,"
"Ssstt, jangan ketawa lo kalo ketawa berisik."
"Kita masuk aja, yuk."
"Ngapain?"
"Grebek, siapa tau mereka lagi main ena-ena di dalem."
"Congor lo lah, Vin."
"Yuk cepet, sepi gini biasanya begitu."
Mereka akhirnya berjalan menuju pintu markas. Mengendap-endap seperti maling yang mau maling. Maling ya maling lah gobl*k, wkwk
Saat sampai di depan pintu, Galang menyentuh handel pintu itu lalu kembali berpikir.
"Buka ga nih?"
__ADS_1
"*****, sini gue aja lah." Karena sudah tidak sabaran, Kevin mendorong Galang menjauh dari pintu lalu ia membukanya.
Ceklek
Pintu terbuka dan
"Duarrr!"
★ ★ ★
Alya tengah tertawa bersama yang lain. Memperhatikan Adam yang sedang bermain di atas motor CBR nya. Menaikkan roda motor bagian depan saat Adam berkendara memutari halaman markas.
Shitttttt
Adam mengerem motornya tepat disamping Alya dan Wanda yang tengah duduk di kursi panjang.
"Ajarin gue dong, Dam." pinta Wanda sambil mengacungkan dua jempol ke cowok itu.
"Gue masih takut kalo ngajarin orang." balas Adam. Ia turun dari motor kesayangannya lalu duduk di sebelah Alya.
"Tapi permainan lo bagus kok."
"Gue baru bisa njirr, belajar dari Kevin."
Perkataan Adam membuat Alya tertarik untuk menanyainya.
"Emang Kevin bisa kek gitu?"
"Jago dia lah. Bukannya lo udah pernah liat, waktu dia balapan?"
"Oiya, hehe."
"Gue pengen lo juga bisa naik motor, Al." ucap Wanda.
"Hah?"
★★★
"Gaada siapa-siapa di dalem." keluh Kevin saat mereka telah selesai menyusuri setiap ruangan markas Anhar.
Berjalan di gang gelap gulita bukanlah hal yang mudah untuk mereka. Apalagi jalan yang penuh batu berceceran, membuat mereka waspada. Markas geng motor Anhar memang terletak jauh dari komplek perumahan. Mungkin karena mereka sengaja menghindari keramaian penduduk sekitar.
"Udah pulang gadapet hasil, jalan gelap kek begini," keluh Kevin lagi. Sementara Galang tetap fokus pada jalan gelap itu, tanpa memedulikan ocehan kawannya.
Tiba-tiba,
"ANJIRR!!"
Kevin tidak sengaja menyandung batu besar dan ia pun jatuh tersungkur. Ia pun mengaduh kesakitan, sementara Galang terbahak-bahak.
Dengan susah payah menahan tawanya, Galang membantu Kevin berdiri melalui uluran tangan. Walaupun ia sendiri susah melihat karena keadaan gang yang sama sekali tidak berlampu.
"Makannya fokus sama jalan. Salah lo sendiri ngoc..."
"Awhh, kayanya gue terluka deh, Lang." pekik Kevin kesakitan.
"Bahasa lo, lah. T E R L U K A, hahaha..."
"Beneran nih sakit banget sikut sama lutut gue."
"Lemah! Yuk cepetan balik. Mana gelap gini gue gabakal bisa liat luka lo."
"Sakit banget sumpah, Lang. Gendong dong,"
"MANJA!"
★★★
Wanda terus membujuk Alya agar gadis itu mau dengan tawarannya. Wanda ingin mengajari Alya naik motor. Ia ingin sahabatnya tampak keren seperti dirinya juga.
"Gue gamau, Wandaaa. Udah berapa kali gue bilang," timpal Alya untuk kesekian kalinya.
"Masa lo gamau si, Al. Kan biar keren dikit gituu."
"Gini aja udah keren. Haha,"
"Ish," Wanda memukul lengan sahabatnya dengan topi yang semula ia kenakan. Setelah merapikan rambutnya sebentar, ia kembali memakai topi itu.
Suara mesin motor CBR terdengar jauh sebelum benda itu nampak. Mereka yakin itu pasti Galang dan Kevin. Dan benar saja, mereka berdua tengah melaju mendekat.
Setelah memarkirkan motor, Kevin mendekat ke arah kursi panjang yang Alya dan Wanda duduki. Jalannya agak pincang, serta keringat di dahinya benar-benar mengalir membasahi lehernya. Tanpa Alya sangka, cowok itu duduk di sampingnya!
Jantung Alya serasa diremas. Baru kali ini ia duduk di sebelah Kevin, dan itu sangatlah dekat. Tidak tahu kenapa, Alya merasa gugup. Tapi ia berusaha menunjukkan wajahnya agar tampak biasa saja.
"Cepetan, Lang. Ambilin kotak P3K, njirr." ucap Kevin tiba-tiba.
"Haha, iya bentar gue ambilin dulu." Galang bergegas masuk ke dalam dengan berlari kecil.
"Lo kenapa tadi jalan kek orang encok?" sewot Wanda pada Kevin.
"Abis jatoh di gang yang gelap itu." jawab Kevin sambil mulai menggulung celana jeans hitamnya ke atas. Memeriksa lututnya dan untung baik-baik saja. Hanya lebam sedikit dan Kevin pasti tidak kenal rasa sakit itu.
"Kenapa keringetan begitu malah bikin kamu tambah ganteng si?" protes Alya kesal dalam hati.
"Ada yang sakit?" tanya Wanda lagi.
__ADS_1
"Noh! Pake tanya lagi." Kevin menunjukkan sikutnya yang sudah berdarah.
Alya langsung terkejut melihat banyaknya darah di lengan Kevin. Ia agak ngeri melihatnya. Sepertinya lukanya membelah dan itu pasti sakit sekali.
"Ya ampun, ngeri banget!" pekik Alya spontan.
"Eh, lo phobia darah ya?" tanya Kevin lalu terkekeh.
"Gamau liat." Alya membelokkan wajahnya ke arah Wanda. Dimana tubuhnya diapit oleh kedua makhluk itu.
Galang pun datang dengan membawa kotak putih berlambang plus di tutupnya. Lalu menyerahkan kotak itu kepada Kevin.
"Nih obatin sendiri. Gue mau laporan sama Kang Kisna." ucapnya lalu pergi.
"Gue mau dengerin Galang dulu." Wanda tiba-tiba ikut melesat meninggalkan mereka berdua. Membuat Alya nyaris berteriak tapi ia urungkan. Wanda sudah masuk ke dalam dan tubuhnya tidak terlihat lagi. Alya tahu, sahabatnya melakukan ini pasti dengan sengaja.
Kini tinggal mereka berdua yang tersisa, Alya-Kevin. Duduk dalam kecanggungan dan keheningan. Merasa agak tidak nyaman, Alya memilih meninggalkan Kevin untuk masuk ke dalam markas.
Namun, baru saja ia melangkah sekali, tangannya ditarik oleh Kevin. Persis seperti kejadian saat dimana Kevin mengantarnya pulang. Dan ini bukanlah mimpi lagi!
Alya membalik badan.
"Bantuin dikit napa. Elaah susah amat." ucap cowok itu dengan wajah memelas.
Glek
Alya menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk lalu mulai duduk kembali. Membuka kotak P3K yang semula Kevin kesulitan membukanya. Alya mengambil kapas dan mulai membersihkan bercak darah di sikut Kevin. Meskipun dirinya agak ngeri setiap kali melihat darah. Tetapi Alya berusaha menahannya mati-matian.
"Awhh," pekik Kevin memecah keheningan, saat Alya menekan-nekan kapas itu di lukanya.
"So.. Sorry, sakit ya?" tanya Alya.
"Banget. Jan keras-keras makannya, pelan-pelan aja."
Alya mengangguk sementara Kevin ketawa. Bagaimana bisa gadis cantik itu sangat polos.
Setelah luka bersih dari darah, Alya memberi obat merah untuk ia teteskan di kapas yang baru. Lalu kembali mengobati luka Kevin.
"Ta...tadi gimana penyelidikannya?" Alya memberanikan diri bertanya untuk memecah keheningan.
"Anhar gaada sama geng-gengnya." jawab Kevin sambil sesekali mengaduh kesakitan.
"Gaada sama sekali?" tanya Alya lagi.
"Ga."
Alya hanya ber oh tanpa suara. Ia masih fokus memberi obat merah di luka Kevin. Dalam hati, ia sebenarnya ingin berucap banyak karena ia kecewa. Kenapa bisa hasilnya nihil. Tapi mengingat orang yang ada dihadapannya adalah Kevin, Alya memilih diam saja.
"Al,"
Lagi-lagi, suara berat itu kembali terdengar. Alya mendongakkan kepala sebentar. Menatap wajah Kevin dengan jantung yang bergetar hebat.
"Iya?"
"Lo cantik."
Deg!
Kalian bahkan harus tahu, jantung Alya serasa berdiskoan disana!
Gadis itu langsung tersipu dan ia memilih mengabaikan perkataan Kevin. Kembali menundukkan kepala untuk melanjutkan memberi obat merah pada luka Kevin.
"Kalo misalkan gue nembak lo, lo mau nerima gue ga?" pertanyaan konyol yang pernah Alya dengar dari sosok Kevin.
"Gatau." balas Alya singkat.
"Yakin?"
Alya mencoba mencerna kembali pertanyaan Kevin. Kenapa cowok itu begitu? Dengan agak ragu, ia menganggukkan kepala mengiyakan.
"Iya." tambahnya.
Tidak Kevin sangka, Alya sudah selesai mengobati lukanya. Bahkan sudah di plester juga. Tak lupa, Kevin melirik lututnya yang juga sudah diplester. Kapan gadis itu menyelesaikan ini dengan cepat?
"Makasih." ucapnya singkat.
Alya mengangguk sembari merapikan isi kotak P3K itu. Setelah agak rapi, ia menutupnya kembali dan bangkit dari duduknya. Alya membalik badan untuk mengembalikan kotak itu ke markas.
"Alya," lagi-lagi Kevin memanggilnya.
"Apa?"
"Sakit."
"Sakit apanya, kan udah diobatin."
"Ini." Kevin menempelkan telapak tangan di dadanya.
"Hah?"
-------------------------------------
*Terus kepoin kisah selanjutnya ya gaess
Jan lupa warnain jempolnya:v
Vote😍
__ADS_1
Coment😘
Dadaa*_