
Guru meninggalkan kelas. Alya membereskan alat tulis dan memasukkan mereka semua ke dalam laci. Saat tangannya masuk, ia merasakan sesuatu di dalam sana.
Alya tersenyum setelah melihat benda yang ia temukan. Sebuah topi dengan aroma pomade yang Senin kemarin ia gunakan untuk upacara.
"Haha, masih ada, ya." ucap Wanda.
"Belum diambil pemiliknya." balas Alya.
"Simpen aja di laci, buat kenang-kenangan."
"Hahaha."
"Ke kantin yuk, gue laper." ajak Wanda.
Alya mengangguk dan kembali memasukkan topi itu ke laci. Mereka berjalan keluar kelas.
"Helllooooowww! TEGA BANGET GUE dilupain!"
Alya menutup kedua kupingnya rapat, begitupun Wanda.
"Huhhh, kebiasaan!" Desah Wanda lalu menoleh ke belakang.
Cewek berambut panjang gelombang itu menghampiri mereka. Dengan langkah kaki yang sengaja di hentak-hentakkan.
"Liat, semua orang pada ngeliatin lu. Nggak malu?" Wanda menunjuk cewek-cewek kelas sebelah yang memang tengah menatap mereka.
"Apa liat-liat!" Sasha malah menyembur mereka dengan mata melotot.
Wanda hampir terbahak dan cepat menarik Sasha menjauh dari mereka.
"Gue kesel tau, ditinggalin mulu!"
"Lu nya aja yang suka ngilang. Lu pecicilan sih." balas Wanda.
"Mana ada!"
"Nyata."
"Iiihhh! Kesel deh!"
"Sorry, Sha. Lu lucu kalo lagi ngambek."
Wajah sebal Sasha berubah setelah mendengar itu. Cewek itu mengangkat bibirnya, tersenyum lebar. "Yang bener?" tanyanya dengan manja.
"Iya, lucu." balas Wanda.
"Serius?"
"Serius."
"Mm... lucunya kaya apa?"
"Lucu lah pokoknya."
"Kaya hello kitty?"
"Apaan? Gue nggak tau."
"Ihh, Wanda parah banget, ya Al. Masa hello kitty aja nggak tau."
"Hahahah..." Alya tertawa kecil.
"Hello kitty itu semacam kucing, itu kesukaan gue. Pasti gue lucu kaya kucing kan!"
"Bukan."
"Terus kaya apa?"
"Kurang lebih kaya monyet mungkin."
"WANDAAAAA!!!"
Wanda dan Alya reflek menutup telinga rapat-rapat.
"Huhhh, lama-lama bisa pecah gendang telinga gue temenan ama lu, Sha!" seru Wanda.
Sasha memonyongkan bibir sebal. "Abis lu ngeselin banget!"
"Tuhkan kaya monyet." bisik Wanda ke Alya. Alya tertawa sambil membungkam mulut.
"Apa bisik-bisik!" teriak Sasha.
"Nggak ada." elak Wanda.
"Yaudah lah gue mau ngambek aja!"
"Ngambek aja sono biar kaya monyet."
"WANDAAAAAAA!!"
"Udah, Nda." ucap Alya mengingatkan.
Wanda berhenti ketawa. "Iya deh cape gue."
Mereka sampai di kantin dan duduk di meja bundar. Wanda merasa risi dengan sesuatu yang memperhatikan mereka di meja sebelah.
"Biasa aja ngeliatnya, kak!" seru Wanda menyindir. Tidak tahan dengan kelakuan mereka.
Sontak Alya dan Sasha menoleh ke meja sebelah. Gerombolan cewek-cewek tengah menatap Alya dengan sinis. Beberapa berbisik-bisik membicarakan Alya, seolah menyalahkan cewek itu dari berita tadi pagi. Berita UKS lama sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Kini berita itu pasti sudah menjadi bahan obrolan hangat.
"Nggak usah dipeduliin. Terserah apa kata mereka tentang aku. Yang penting aku udah jujur." Alya sengaja mengeraskan suaranya.
"Idih, liat deh. Udah ngelakuin salah pede banget lagi." samar-samar terdengar bisik-bisik mereka.
"Kalo di diemin terus ngelunjak, njing." gerutu Wanda.
Alya melirik lagi. Mereka masih melihatinya sambil berbisik-bisik. Alya tetap pede dan bersikap seolah tidak peduli. Toh, kenyataannya ia memang nggak ngapa-ngapain.
"Cihh, mentang-mentang kakak kelas, ya! Itu mata minta disiram sambel apa gimana? Melotot aja terus!" Sasha menyembur terang-terangan.
Gerombolan itu tambah melotot lebar. Wanda hampir terbahak. Ia menginjak kuat kaki Sasha di bawah sana.
"Awh! Apaansih, injek-injek kaki gue!" pekik Sasha.
"Diem lu!" seru Wanda.
...****************...
"Cha!" teriak Marsha memanggil Icha. Cewek itu tengah berdiri di depan kelas, menatap mading kelas.
Icha yang tengah membuang sampah menghampiri Marsha. "Paan?" tanyanya.
"Buset!" seru Icha setelah tak sengaja melihat isi mading.
"Ini beneran apa nggak?" tanya Marsha.
"Ini Alya adek Bima kan?"
"Iyalah. Siapa lagi."
"Buset! Nggak mungkin sih!"
"Yah, gue rasa juga nggak mungkin cewek sepolos dia kaya gini." Marsha setuju.
"Kalo nggak mungkin berarti ini hoax dong? Hmm, siapa nih yang bikin berita hoax begini."
Marsha mengedikkan bahu. Ia menggigit bibir bagian bawah seperti tengah berpikir keras.
"Gue nggak terima, ya. Calon adek ipar gue di fitnah beginian!" seru Icha.
__ADS_1
Mereka berdua saling pandang lalu kembali merenung.
"DORRRRRR!!!" seseorang mengagetkan mereka.
"Junaaaaaa!"
Juna terbahak mengingat wajah terkejut mereka. Kalau saja ia bisa memotretnya mungkin akan lebih lucu untuk dibuat stiker WhatsApp.
"Eh, apaantuh." cowok itu berubah serius setelah melihat poster.
"Lu yang bikin fitnah ini, ya?" cetus Icha.
"Fitnah? Apa? Enak aja lu ngomong, ya. Alya aja gue nggak tau dia siapa. Kalo Anhar baru gue tau, berandalan nakal nggak berkelas macam itu siapa sih yang nggak kenal. Namanya aja disorot dimana-mana karena kenakalannya."
"Bener bukan lu yang bikin?" tanya Marsha lagi untuk meledek cowok letoy itu.
"Sumpah! Gue berani ketabrak kereta."
"Alah ngaku aja lu."
"Apasih malah pada nuduh-nuduh nggak jelas!"
Marsha dan Icha tertawa puas melihat ekspresi panik cowok itu.
...****************...
Pak Ali, guru Seni Budaya masuk. Ia guru yang masih sangat muda diantara guru-guru lain. Umurnya 24 tahunan, berkulit putih, wajahnya manis, apalagi dia belum menikah. Setelah mengucapkan salam,
"Alya Caliista!" suaranya yang lantang memanggil nama itu.
Alya terkejut mendengar namanya di panggil. Ia menyenggol sikut Wanda dan cewek itu menyuruhnya untuk tenang. Alya mengatur nafas dan berdiri memghampiri meja guru.
"Saya Alya, pak. Ada apa?" tanya Alya dengan jantung berdebar-debar.
Guru itu terdiam menatap Alya lekat. Cukup lama hampir 30 detik mereka saling diam.
"Ada apa, ya?" ulang Alya lagi.
"Kamu dipanggil Bu Vita ke ruang BP."
Jantung Alya makin berdebar mendengar ruang BP.
"Baik, pak. Saya kesana sekarang."
Alya berjalan keluar kelas sambil menatap Wanda. Cewek itu mengucapkan "semangat" lewat gerak bibirnya. Selama perjalanan, ia terus memikirkan apa yang akan terjadi disana.
Alya keringat dingin menatap pintu kaca besar itu. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya masuk. Alya menginjakkan kaki di lantai ruang BP yang berderit. Tubuhnya makin dingin karena paparan AC.
"Permisi selamat siang, saya Alya, bu." sapa Alya pelan.
Bu Vita tidak bergeming. Tetap duduk anteng sibuk membolak-balik buku jurnal. Itu malah makin membuat Alya merinding. Cukup lama ia mematung menunggu wanita itu bersuara.
"Duduk." akhirnya suaranya terdengar.
Alya menarik kursi di depan meja Bu Vita. Gesekkan dari lantai dan kursi menimbulkan suara keras. Bu Vita mengangkat kepala menatap gadis di depannya.
"Wuihh, cantik juga." ujar Bu Vita sembari tersenyum. Entah apa arti dari senyumnya itu. Alya tetap ngeri melihat semua ekspresi wajahnya.
Alya menundukkan kepala. Bu Vita membuka laci, terdengar ia mencari sesuatu dalam sana.
"Apa ini, Alya Callista?"
Alya terbelalak melihat benda itu di tangan Bu Vita. Ya, poster dengan tulisan gila itu. Alya terdiam beberapa saat.
"Ayo, jawab!" suara Bu Vita mengeras.
"A...anu..."
"Apa? Ini beneran kejadian?"
"I...iya."
"Bukan itu maksud saya, bu!" elak Alya cepat.
"Apa?" mata Bu Vita melotot lebar. Alya menelan ludah untuk kesekian kali. Ia mulai menjelaskan dengan hati-hati.
"Saya harap ibu bisa mengerti saya. Saya akan bicara jujur, semoga ibu mempercayai saya. Jadi, saya adalah korban di posisi itu, bu."
"Kalau ibu tidak percaya ibu bisa cek cctv. Ibu akan tau kalau saya memang bicara apa adanya." lanjutnya.
"Hmm... masalahnya cctv di UKS lama sudah nggak ada. Tapi coba nanti saya tanyakan, cctv di depan UKS lama masih aktif atau tidak. Saya butuh kronologi kejadiannya, tolong ceritakan." ucap Bu Vita tegas.
"Kemarin hari Selasa itu, saya datang terlambat. Dihukum Pak Saiful hormat di depan tiang bendera. Saat itu kepala saya sangat pusing dan penglihatan kabur. Semuanya hitam. Setelah itu saya nggak tau apa yang selanjutnya terjadi. Saat saya buka mata, ternyata udah di UKS itu. Disana memang ada Anhar dan Rio..."
"Bentar, bentar! Anhar dan siapa?" potong Bu Vita. Ia buru-buru mengambil kertas dan pulpen.
"Rio." jawab Alya.
"R i o. Eh, Rio ini yang sekelas sama Anhar juga. Iya, iya, saya ingat anak ini juga sering masuk BP." Bu Vita bicara sendiri sambil mencatat nama Rio di kertas.
"Lanjut." ucap Bu Vita.
"Nah disitu saya nggak tau apa yang udah mereka lakuin. Dan... kancing seragam atas udah kebuka. Saya sempet berontak, tubuh saya ditahan di atas kasur oleh mereka. Lalu ada orang datang memergoki perbuatan Anhar dan Rio, mungkin orang itu salah paham. Dia mengira kami sedang berbuat bejad, padahal sebenarnya itu salah total. Saya benar-benar nggak tau apapun. Saya harap ibu percaya. Saya sudah mengatakan semua dengan jujur, tanpa melebih-lebihkan atau mengurangkan."
Bu Vita mengangguk-angguk sambil menatap Alya.
"Astaga, malang bener nasibmu, nak... nak. Ibu minta maaf, ya. Mungkin tutur kata Ibu ada yang menyakiti hati kamu." Bu Vita menghela nafas sambil mengelus punggung tangan Alya pelan.
Alya tersenyum tipis. "Ah, nggak papa, bu."
"Kurangajar anak itu! Saya harus melaporkan tindakkan ini ke pihak yang berwajib!" Bu Vita kembali melotot berapi-api.
Alya merasa lega. Akhirnya kebrengsekkan Anhar selama ini berhasil terbongkar. Tanpa ia yang harus membongkarnya sendiri.
"Ada orang memergoki kalian? Siapa orang itu?" tanya Bu Vita.
"Saya nggak tau, bu. Saya masih baru disini."
"Oh iya kamu anak baru, ya. Sekali lagi saya minta maaf, Alya. Kamu bisa kembali ke kelas sekarang. Tolong panggilkan Rio untuk menemui saya disini, ya." ucap Bu Vita.
"Rio tidak hadir, bu." jawab Alya.
"Wah wah, bolos tuh anak?"
"Rio dan Anhar nggak hadir tanpa keterangan."
"Dasar bocah nakal! Bener-bener, ya, mereka. Bener-bener minta digundulin! Huhh pening kepalaku ngurus kenakalan mereka yang nggak ada habisnya." gerutu Bu Vita sambil memijit kening kepalanya sendiri.
"Alya," suaranya yang tegas kembali memanggil.
"Iya, bu."
"Saya akan cek cctv dulu untuk menyatakan kebenarannya. Kalau benar, kamu lolos dari kasus ini. Tapi kalau tidak, siap-siap terima akibat buruknya, paham?"
Alya mengangguk mengerti. "Paham, bu."
"Kamu saya kasih skors karena terlambat datang ke sekolah. Jangan diulangi lagi, ya!" tegas Bu Vita.
"Siap, bu!" balas Alya mantap.
...****************...
Pak Ali keluar kelas setelah mengucapkan salam. Semua orang pun berhamburan keluar karena ini waktunya pulang. Alya membereskan alat tulis, memasukkan mereka semua kedalam ransel.
"Gimana tadi sidangnya?" tanya Wanda lalu terkekeh.
"Huhhh, tegang. Belum pernah masuk BP sebelumnya." balas Alya.
Wanda tertawa. "Gue anterin pulang, ya." ucapnya kemudian. Mengingat betapa marahnya Bima pada gadis itu. Ia takut kalau sampai Alya diapa-apakan oleh Bima. Secara dia cowok yang nekatan dan keras kepala.
__ADS_1
"Aku pulang sama ab..." perkataan Alya terhenti teringat kejadian tadi pagi. Ia menunduk gelisah.
"Hey," panggil Wanda.
"Boleh deh." ucap Alya lirih. Wajahnya berubah lesu.
"OOEMMJIII HELLOOWW!! Kalian nggak pada butuh gue? Kita pulang bareng aja bertiga, gue bawa mobil!" teriak Sasha seraya menghampiri mereka. Mengacungkan kunci mobil tepat ke depan wajah mereka.
"Motor gue gimana, bloon!" balas Wanda ketus.
"Oh iya lu bawa motor, ya. Hmm, lagian ngapain si bawa motor segala. Atau gue yang anter Alya aja, lu pulang sendiri, hehe." celetus Sasha. Wanda menjitak kepala cewek itu.
"Nggak usah. Bahaya." ucap Wanda.
Sasha mengernyit bingung. "Bahaya apa? Jalan ke rumah Alya longsor kah? Atau banjir?"
"Iya. Maka dari itu roda empat nggak bisa lewat sana. Cuma roda dua yang bisa." balas Wanda asal.
"Mm... yaudah deh gue pulang aja. Maaf, yah Al, nggak jadi nganterin lu." Sasha cemberut.
"I...iya, nggak papa kok, Sha." balas Alya tersenyum tipis.
"Yaudah gue pamit duluan, laper nih. Bye!" Mereka bertiga tos sebentar sebelum gadis itu pergi.
Alya menatap Wanda dengan ekspresi seakan mengatakan kenapa. Kenapa dia berbohong pada Sasha. Wanda cuma tertawa sambil mengacungkan jempol. Mereka menggendong ransel dan berjalan keluar kelas.
Saat sampai di luar, Alya terkejut. Wanda juga. Bima berdiri di sana bersama Galang. Tengah membicarakan sesuatu berdua dan tak menyadari kehadiran mereka.
"Sssstttt! Ngapain, woi!" Wanda memanggil mereka.
Bima dan Galang menoleh bersamaan. Alya mengalihkan pandangan saat ia bertatapan dengan Bima. Wajah mengerikan itu masih terbayang-bayang ketika Alya melihat matanya.
"Buruan, samperin gih!" suara Galang sambil menyikut Bima.
"Iya, iya, gue samperin nih."
Alya yang tengah menunduk, melihat kaki Bima berjalan mendekat ke arahnya. Jantungnya kembali berdebar-debar kuat. Ia takut apa yang akan dilakukan cowok itu kali ini. Sementara tangan Wanda cukup jauh untuk ia pegang. Alya cuma bisa meremat-remat bagian bawah roknya sambil keringat dingin.
"Al." suaranya yang berat mengerikan memanggil.
Alya tak mau bergeming.
"Alya, gue minta maaf,"
Alya terbelalak. Seakan tak percaya ini terjadi.
"Tadi itu bener-bener diluar kendali. Gue tau, itu salah besar. Gue marahin lu habis-habisan bahkan gue nampar lu. Tapi sekarang gue sadar, semua perlakuan itu nggak ada gunanya. Yang gue butuhin adalah penjelasan kebenaran." ucap Bima panjang lebar.
Alya mengangkat kepalanya perlahan. Menatap wajah Bima yang sangat dekat dengannya. Mata itu. Sudah berbeda dari tatapan mengerikan tadi pagi.
"Lu mau maafin gue kan?" tanya Bima sekali lagi.
Alya mengangguk.
"Makasih. Tapi tanpa lu jelasin, gue udah tau."
Alya menatap Bima dengan dahi berkerut. Seakan mengatakan apa maksudnya.
"Gue udah tau kejadian sebenarnya. Bu Vita cerita ke gue pas jam istirahat terakhir." ucap Bima.
"Hmm, makannya jadi orang jangan emosian. Huhh apa-apa diambil emosi. Emang nggak bisa sabar tuh anak." Wanda menyahut. Cewek itu berjalan mendekati Alya dan merangkul bahunya dengan satu lengan.
"Mulai sekarang kalian nggak boleh musuhan lagi!" tegas Wanda. Menatap keduanya lekat, Bima dan Alya.
"Harusnya sih gitu. Tergantung dia mau maafin gue apa kagak." balas Bima.
"Buruan ngomong, Al." Wanda mensuport.
"Aku maafin." ucap Alya singkat.
"Makasih. Lu mau apa, Al, gue pengin turutin."
Alya terkejut. Tadi ia tidak salah dengar kan? Abangnya baru saja melontarkan perkataan yang sangat langka untuk seorang Bima.
"Apa?" gadis itu perlu memastikan kupingnya memang normal.
"Lu pengen apa? Gue turutin kali ini sebagai tanda minta maaf." ulang Bima.
Wanda membungkam mulutnya agar tidak kelepasan. Galang malah sudah tertawa duluan. Membuat Wanda mendorong bahu cowok itu hingga terhuyung ke samping.
"Diem, tololl." bisik Wanda.
"Sorry, sorry, abis pengen ketawa aja liat Bima berdrama gitu. Heh, mimpi apa lu semalem, Bim?" ucap Galang lalu tertawa lagi.
"Kagak mimpi gue, belajar dari sinetron." balas Bima. Galang tertawa dan Wanda cuma geleng-geleng kepala.
"Buruan, Al, ngomong aja." Bima menatap Alya dengan senyum manis.
"Ayo, Al. Mumpung lagi mode royal tuh, hahaha." tambah Galang.
"Royal sister nggak tuh." Wanda ikutan.
"Anjayy."
"Diem lu pada. Mau apa, Al? Baju baru? Sneakers? Atau earphone? Katanya earphone lu ketinggal di pesawat, kan." Bima menatap Alya dengan senyum manis itu. Lagi.
Mata Alya mengerjap-erjap beberapa kali. Ia malah salting oleh perlakuan abangnya sendiri. Wah, dia manis sekali. Jarang-jarang dia seperti ini. Tapi tiba-tiba perkataan menyakitkan Bima kembali terputar dalam benaknya. Senyum Alya memudar.
"Woi, Al, bilang lah jangan kelamaan. Nanti abang lu keburu update pikiran." ucap Wanda.
"Bener tuh, Bima itu orangnya cepet berubah-ubah. Kaya bunglon!" sambung Galang.
"Enak aja," sahut Bima.
"Nyata, woi!"
"Hmm."
"Buruan, Al, lu minta apaan lumayan wey!" seru Wanda.
Alya bingung. Gadis itu menatap mereka bertiga bergantian. Mereka menatapnya penuh semangat.
"Mm... aku... aku nggak tau." balas Alya. Gadis itu masih terbawa suasana kemarahan Bima. Ia jadi canggung dengan abangnya.
"Ayolah, come on!" Wanda berseru.
"Lah kok gitu. Ngomong aja nggak usah malu-malu, biasanya juga malu-maluin." ucap Bima.
Alya menatap Bima yang tersenyum hangat. Tapi wajah mengerikannya seperti masih melekat di pikiran Alya. "Aku... pengin tau siapa pembuat poster itu. Jelas-jelas itu pencemaran nama baik. Itu fitnah." ucap Alya akhirnya.
"Lah iya! Nggak kepikiran dari tadi anjir!" seru Wanda.
Bima nampak berpikir. Cowok itu menghela nafas. "Gue nggak mungkin ngebiarin adek sendiri difitnah begitu. Lu nggak usah bingung, gue bakal cari orangnya sampe dapet." ucap Bima.
Wanda bertepuk tangan. Alya mengangkat senyum tipis.
"Tapi gue punya misi penting yang harus gue jalanin dulu. Setelah itu baru gue cari siapa pembuat poster."
"Makasih, bang." lirih Alya.
"Udah, Al? Gitu doang yang lu pengin?" tanya Galang heran.
Alya mengangguk. "Iya, itu aja."
"Yahh, kirain lu bakal minta moge baru dan helm Arai MZ RC." Galang menunduk kecewa.
"Lol. Itumah lu yang pengin." balas Bima datar.
Wanda menjitak keras kepala plontos Galang yang baru di botakkin Bu Vita. Cowok itu mengaduh kesakitan.
__ADS_1