
Flashback 3 jam yang lalu:v
Tingg...Tingg...Tingg...Ting...Ting
"Apaansi brisik amat!" decak Kevin sebal lalu bergegas meraih gadged di saku celana jeansnya.
Adam Idris Nuh dan Hud : 5 pesan.
19:02 : Tu ditunggu Alya di cafetaria luar
19:02 : Di deket kolam air mancur
19:05 : Tadi udah gue suruh diem disana
19:07 : Samperin gih buruan! kasian kaya orang ilang
19:13 : WOYY ALIEN! LO DENGER KAGA!
Kevin menekan tombol mikrofon dan mendekatkan ujung bawah gadgednya ke bibir
"Iyaa gue dengerr, abis tadi WhatsAppnya pending. Gue kesana sekarangg!"
Klik!
Pesan suara terkirim.
Dengan langkah panjang, ia memasuki gerbang bertuliskan 'CAFETARIA'. Cahaya lampu yang menyoroti wajahnya membuat ia menunduk. Tiba-tiba telinganya mendengar suara teriakan heboh.
"Hubungi petugas! Hubungi petugas! Hubungi petugas!"
"Dia gabisa berenang!"
\*
Flashback off
Orang-orang lain yang tadinya duduk tenang di meja, kini berlarian menuju kearah kolam. Kevin mengerutkan kening bingung.
Bruukkkkkkkk!
Salah satu pelayan wanita berpakaian hitam putih, menabrak Kevin. Ia hampir saja jatuh terhuyung.
"Maaf" ucap pelayan itu lalu kembali berlari terburu-buru ke arah kolam.
Kevin semakin bingung ada apa di sekitar kolam air mancur sana. Semua orang berkerumun dan mengoceh ramai layaknya burung. Dengan perasaan yang sangat ingin tahu, Kevin berlari kearah mereka menyelusup masuk untuk melihat kolam.
"Tolongin diaa!" teriak seseorang.
"Sudah aku bilang, hubungi petugas!"
"Cepat! Cewek itu bisa tenggelam!"
Dan bla, bla, bla, bla.
Saat lengan orang yang tenggelam itu terangkat, Kevin terkejut bukan main. Ia melihat jam tangan digital berwarna putih, yang sangat dikenalnya.
"KENAPA KALIAN DARI TADI CUMA TERIAK-TERIAK!" teriak Kevin berapi-api menatap orang-orang yang berkerumun.
Tanpa bersuara lagi, diletakkan gadged miliknya asal. Ia membuka jaket yang menutupi kaos polo putihnya dan melemparkannya kebelakang. Dengan kakinya yang masih memakai sepatu, ia langsung loncat menyebur kedalam kolam.
Setelah mengambil napas dalam-dalam, Kevin menenggelamkan kepalanya menyelam kedalam kolam. Ia dapat merasakan bau kaporit yang terkandung dalam air bening itu sangat menyengat. Akhirnya kedua lengannya berhasil merangkul tubuh cewek tadi. Tapi sayang, sepertinya dia sudah tidak sadar.
Kevin menyembulkan kepala keatas, dan melihat orang-orang yang berkerumun menghela napas lega. Ia segera membawa tubuh cewek yang sudah ia selamatkan, ke tepi kolam.
Seorang pria mendekat dan membantu mengangkat tubuh cewek yang sudah tak sadar itu, ke atas tanah berumput.
"Ulurkan tanganmu" ucap pria tadi kepada Kevin.
__ADS_1
Kevin mengangkat tangan kanannya. Pria itu membantu Kevin naik ke daratan.
"Terimakasih" ucap Kevin singkat lalu segera mendekati tubuh cewek tadi yang sudah terbaring kaku diatas rumput.
"Alya! Al! Bangun!" Kevin menepuk-nepuk kedua pipi cewek itu bergantian.
"Bangun Al! Gue disini!" ucapnya lagi sambil menggoyang-goyangkan punggung Alya kuat.
Alya tetap tidak terbangun. Matanya tertutup rapat. Bibirnya saja yang biasa terlihat pink, kini menjadi putih pucat. Kevin semakin panik memandang telapak tangan gadis itu yang pucat dan mengkerut.
Kemudian dua orang petugas datang dan langsung berjongkok untuk menangani Alya. Salah satu dari mereka menekan-nekan dada Alya kuat. Akhirnya gadis itu mengeluarkan banyak air bening dari mulut. Kemudian, dia mengangkat pergelangan tangan Alya dan merasakan denyut nadinya.
"Panggil ambulans!"
"Baik" jawab salah satu petugas lagi lalu segera menelefon.
"Kenapa, dia kenapa!" Kevin setengah berteriak kepada petugas tadi. Ia sungguh sangat panik, mendengar kata ambulans. Jantungnya berdebar-debar sangat kuat.
Petugas itu hendak membuka bicara untuk menjawab tapi terhenti karena mendengar suara teriakan.
"ALYAAAAAA!"
Wanda bersama Sasha berlarian kearah mereka dengan wajah super panik.
Mereka berdua langsung berjongkok menggerak-gerakan tubuh Alya yang terbaring kaku.
"Al! Lo ga pura-pura kan?" tanya Sasha masih dengan suara cempreng khasnya.
"Lo gimana si! Badannya kaku begini, wajahnya pucat begini, masih dikira pura-pura!" bentak Wanda lalu kembali menggoyang-goyangkan punggung Alya.
"Alyaaaa! Hiks...hiks...hiks" Sasha memecahkan tangis, tak peduli seberapa memalukannya dia itu. Ia memeluk tubuh Alya kuat, membiarkan bajunya ikut basah.
Melihat itu, Wanda jadi terharu dan ia pun ikut meneteskan air mata. Dipandangnya lagi wajah Alya yang pucat, ia mengusap air mata yang menetes.
"Dia kenapa!" teriak Kevin lagi kepada petugas tadi.
"Anda siapanya?" jawab petugas itu lain. Ia memandang wajah Kevin lekat.
"Saya perlu tahu anda siapanya"
"Dia kenapa!" Kevin masih mengulang. Wajahnya terlihat sangat berapi-api menatap mata petugas itu.
"Beritahu saya dulu, anda siapanya!" petugas itupun ikut ngegas.
Kevin semakin geram dengan petugas itu yang masih belum menjawab pertanyaannya. Ia menghembuskan nafas kasar, lalu dengan suara lantang ia berteriak.
"SAYA PACARNYA!"
\*
Mata Alya terasa sangat berat seperti ada sesuatu yang menahannya. Perlahan-lahan ia membuka kelopak mata dan menangkap pemandangan yang ia lihat. Pandangannya buram tapi kemudian berangsur normal setelah ia mengerjap-ngerjap pelan. Ia melihat tubuhnya terbaring diatas ranjang panjang berseprei putih, dan selimut tipis putih menutupi setengah badannya. Ruangan pun bertembok putih pula.
"Dimana ini?" gumam Alya lirih dengan suara serak.
Alya menghirup aroma menyebalkan dari ruangan ini. Ia mengangkat tangan kirinya yang terasa pegal, dilihatnya selang infus terpasang disana. Kini giliran telapak tangan kanannya yang terasa seperti digenggam. Ia menoleh ke arah kanan dan mendapati seorang cowok tengah tertidur dengan kepalanya yang bertopang pada bibir ranjang. Tangan cowok itulah yang menggenggam telapak tangannya.
"Kak Bimaa" panggil Alya lemah.
Cowok itu masih belum bangun, mungkin karena suara Alya yang begitu lirih sehingga tak dapat didengar.
Tangan kiri Alya mulai ia gerakkan untuk mengelus puncak kepala cowok itu.
"Kak Bima" panggil Alya lagi.
Akhirnya cowok tadi bangun dan mengangkat kepalanya menghadap Alya.
"Kevin?" seru Alya lirih tak percaya dengan adanya sosok cowok itu.
Kevin langsung melepaskan genggamannya pada tangan Alya. Ia bangkit dari duduk lalu memencet sebuah tombol di tembok atas ranjang.
__ADS_1
"Syukur lah lo udah sadar"
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka dan masuklah Mama bersama Bima yang tampak panik.
"Alyaaaa" teriak Mama langsung memeluk tubuh puterinya. Alya dapat mendengar segrukan kecil di hidung Mama ketika dia memeluknya.
"Alya kenapa, hah?" tanya Mama menantang tapi dengan suara lembut.
Alya menggeleng pelan mencoba mengingat hal tadi. Ia sudah sangat pasti bahwa dirinya akan mati tenggelam di kolam dalam itu. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, ia selamat tanpa sadar beberapa jam.
"Ini siapa?" tanya Mama lagi sambil menatap Kevin.
Mendengar itu, Kevin berdiri dari duduknya dan membungkukkan badan mencium punggung tangan Mama.
"Kevin" ucapnya lirih.
"Hah?" Mama belum mendengar jelas jawaban dari cowok tampan itu.
"Dia Kevin, temen gue" belum sempat Kevin berbicara, Bima sudah mendahuluinya.
"Ooh, yang tadi ngabarin ke Bima ya?" tanya Mama menampakkan senyum ramah.
"Iya, Tante" jawab Kevin sembari membalas senyuman Mama.
"Kenapa baju kamu basah?" tanya Mama lagi. Ia melihat kaos yang dikenakan cowok itu basah. Celana jeans hitamnya juga. Bahkan sepatu serta kaos kakinya.
"Kamu yang nyelamatin Alya?" seru Mama kemudian.
"A...."
Ceklek!
Pintu kembali terbuka dan masuklah seorang dokter pria.
"Dr. Olivia!" seru dokter tadi setengah terkejut ketika matanya melihat Mama.
"Ah, iyaa. Dengan Dr. Alpha, bukan?" balas Mama sambil memberikan senyum ramah. Ternyata mereka berdua sudah saling mengenal.
"Ya saya, Alpha. Apa Nona Alya putri anda?"
"Iya, dia putriku"
"Saya harus memeriksanya!"
Dokter Alpha segera berjalan mendekati ranjang tempat Alya terbaring. Ia mulai memeriksa keadaan Alya sebentar, lalu kembali kepada Mama.
"Bagaimana kondisinya, Dr?" tanya Mama setengah panik.
"Nona Alya menelan banyak sekali zat klorin atau kaporit. Tapi untungnya dia tidak keracunan, ataupun sesak napas. Kami memberikan infus karena kondisi tubuhnya yang lemah" jelas dokter Alpha.
"Jadi Alya gakenapa-napa kan, dok?" tanya Bima memastikan.
"Kondisinya baik, tapi Nona Alya masih butuh istirahat"
Bima dan Mama mengangguk-angguk mengerti.
"Kalau begitu, saya permisi dulu" ucap dokter Alpha sembari tersenyum ramah kearah mereka semua.
"Mari" lanjutnya lalu beranjak pergi dari ruangan itu.
...
Alya menatap Kevin yang tampak canggung ketika diajak ngobrol oleh Mama. Jujur, Alya ingin sekali ketawa melihat wajah Kevin menggemaskan begitu. Sesekali ada tawa diantara mereka, sepertinya Mama sudah cukup akrab dengan Kevin. Tapi hanya sebagai teman dari Bima, bukan Alya.
------------------------------------------
Vote😗
Like👍
Coment/saran:)
Thnkss.
__ADS_1