
" *Okay, k*ill me now! "
Setelahnya suara tawa menyahut. Bergema memenuhi setiap sudut ruang remang-remang penuh genangan darah merembes dari mayat-mayat disekitarnya.
" No! Bukankah akan lebih menyenangkan melihatmu menikmati setiap penderitaannya, Kakak? "
Sekali lagi suara tawa itu bergema. Bersahutan dengan jerit penuh rasa sakit yang memilukan. Dan tiba-tiba lampu remang itu bersinar dengan terangnya. Membuat setiap sudut ruang terlihat dengan jelas. Bersamaan dengan bangkitnya tubuh-tubuh yang sesaat lalu nampak kaku.
"Oke, enough for today! Good job everyone! "
Suara riuh tepuk tangan bersahutan mengiringi banyak kata pujian yang terlontar. Dua orang pria yang sesaat lalu saling melemparkan tatapan penuh dendam kini tengah saling merangkul sembari sesekali melempar guyonan. Nampak keduanya berjalan beriringan melewati beberapa kamera menuju ruangan bertuliskan ' Aktor '.
Setelah duduk dengan santai di depan meja rias, keduanya kembali bercengkrama sembari membiarkan wajah mereka dibersihkan para penata rias. Pria dengan surai coklat terang pemeran korban memposisikan badannya menghadap pria berambut hitam legam berwajah elegan dan tegas yang menjadi lawan mainnya. Yang ditatap masih fokus memperhatikan wajahnya sendiri di cermin. Diam-diam memuji dirinya sendiri dengan narsis.
'Wah! gue tuh emang gak bisa dibikin jelek. Cuma Kucel doang gak mungkin bikin gue jelek, dasar orang ganteng! '
"Lo gak beneran punya dendam kesumat kan sama gue? "
Yang ditanya malah tertawa menanggapi pertanyaan konyol sahabatnya itu.
"Lo liat gue kayak nafsu banget pengen mutilasi. " Lanjut si sahabat dengan konyolnya.
"Lo mau beneran gue cincang? " Sahut pria berwajah tegas masih dengan tawa sambil mengusap dagu sok ganteng di depan cermin.
"Sialan lo! " Umpat si sahabat kemudian ikut tertawa.
"Gak usah sok ganteng! " Celetuk si sahabat setelah kembali ke posisi semula yakni menghadap cermin.
"Aku ganteng, aku diam. "
Kemudian tawa keduanya kembali terdengar memenuhi ruangan membuat beberapa staf di sekeliling mereka geleng-geleng kepala. Para staf sudah biasa menghadapi kekonyolan kedua idola remaja yang sedang naik daun itu.
Bukan hanya bakat akting mereka yang memukau tapi juga vokal dan kemampuan bermusik keduanya berhasil menarik hati banyak penggemar. Ditambah tubuh ideal dan rupa menawan yang menjadikan mereka pujaan.
Yang satu berwajah bak bayi yang nampak sangat imut namun seksi meski dengan iris jenaka dan satunya lagi berwajah tegas dan elegan bak putra konglomerat. Keduanya selalu menjadi lawan main di setiap film maupun drama yang mereka bintangi. Meski begitu di luar dunia akting mereka dikenal sebagai sahabat.
"Gue masih gak ngerti, bisa-bisanya mereka ngasih peran gue sebagai kakak lo. Jelas-jelas lo lebih tua dari pada gue. Gue baru masuk 20, lah elo udah dari kapan 20. Bener-bener gak ngerti gue. " Keluh pria pemilik surai coklat dengan nada sebal bak anak kecil yang merajuk.
"Lo gak ngerti juga? " Tanya pria berwajah tegas dengan nada serius sambil menatap sahabatnya itu.
Yang ditatap mengernyit dengan wajah cemberut tapi tidak lantas membalas tatapan sahabatnya. Malah kembali fokus ke cermin yang memantulkan wajahnya.
"Ya, jelas lah! Gue tuh ganteng. "
"Ya terus apa hubungannya, a*j*r?! " Sewot pria dengan surai coklat.
"Kagak ada, seneng aja bikin lo iri. "
Pria pemilik surai coklat mendengus menanggapi sikap narsis sahabatnya sambil membatin dan mengelus dada.
__ADS_1
'Orang seksi harus sabar'
"Ngapa lo? Jangan bilang lo sakit jantung karena iri sama kegantengan gue?! Wah! Gue bangga sama diri gue sendiri. " Narsis pria berwajah tegas yang ternyata masih memperhatikan gerak tubuh sahabatnya.
'Sakit jantung beneran gue lama-lama. Malaikat penolongku dimanakah dirimu? Jangan bilang lo kena macet di jalan'
Kedua makhluk narsis itu tidak sadar dengan kemunculan pria berwajah jutek yang sejak awal menyaksikan sikap narsis mereka dengan tatapan jengah. Sampai tiba-tiba pria dengan surai coklat berbalik sembari bangkit dari duduknya hendak berganti pakaian. Ia sangat tidak nyaman dengan kostum penuh noda seperti darah yang dikenakannya.
'Ngeri banget nih baju, pantesan keseksian gue berkurang'
"Eh, b*bi copot! " Teriaknya heboh saat bertatapan dengan seorang pria yang bersandar di ambang pintu.
Pria berwajah tegas yang mendengar teriakan lantas berbalik dan matanya menangkap sosok dingin itu. Sudut bibirnya tertarik menampilkan senyuman.
"Wah! Akhirnya lo datang juga. Panas kuping gue dengerin ocehan tuh orang, bener-bener malaikat penyelamat gue emang. " Ucap pria dengan surai coklat sambil berjalan menuju pria jutek itu kemudian merangkulnya.
Dan yang dirangkul malah nyelonong masuk tanpa permisi kemudian langsung duduk santai di sofa.
"Iya, emang gue yang paling waras" Celetuk si pria jutek kemudian dengan lancang meneguk minuman di atas meja tanpa peduli siapa pemiliknya.
Toh cuma mereka bertiga di ruangan itu.
"Jadi lo kesini cuma numpang minum doang? " Tanya pria berwajah tegas dengan ekspresi tidak percaya.
"Kalo bisa sih sama makan juga, lo gak ada niat ngasih gue makan? Tega emang! " Balas si pria jutek dengan tidak tau diri.
Kedua pria narsis itu nampak tidak habis pikir dengan kelakuan sahabat mereka yang katanya paling waras. Padahal mereka semua sama saja.
Teriakan cempreng membuat ketiga sahabat itu kompak menoleh ke sumber suara. Tampak seorang gadis kecil dengan rambut pirang yang di cepol dua menyerupai tanduk dan baju olahraga SD berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar. Disusul dengan bocah sok jutek dengan baju yang sama berjalan di belakangnya dengan santai.
"Sorry, Bang. Sunny maksa pengen ikut. " Ucap si bocah pada kakaknya yang kemudian menghampiri gadis kecil yang ia panggil Sunny itu.
"Kangen yah sama abang? " Tanya pria pemilik surai coklat dengan percaya dirinya.
Sementara pria berwajah tegas nampak terpaku melihat gadis kecil itu. Tiba-tiba jantungnya berdebar dan membuatnya menelan saliva kasar.
'*Eh? A*paan sih nih jantung?! Lebay banget! kenapa harus konser dadakan segala? Kurang kerjaan! Dikira biaya konser murah apa?! Sadar! Itu bocah! Dasar gak waras! '
"Hey! "
Si pria berwajah tegas itu tampak kaget.
"Mikir jorok ya, lo? Bengong aja, gue panggil-panggil juga dari tadi. Situ malah asyik bengong. "
Pria berwajah tegas nampak bingung menanggapi teguran pria dengan surai coklat yang ternyata sudah duduk santai di sofa bersama dua bocah tadi menemani si pria jutek.
"Ngarang lo! Kayak bisa baca pikiran orang aja. " Jawab pria berwajah tegas sembari bergabung dengan mereka yang tengah menikmati ayam goreng yang disuguhkan staf bagian konsumsi.
"Emang" Balas pria dengan surai coklat dengan santai sambil mengunyah.
__ADS_1
Gadis kecil di sampingnya sontak menatap pria dengan surai coklat yang ia panggil abang itu dengan berbinar.
"Wah! Abang hebat! Emang abang pernah baca pikiran siapa aja? "
Si pria dengan surai coklat tersenyum.
"Pikiran siapa lagi, pikiran abang lah. Abang kan orang juga. " Jawab pria dengan surai coklat dengan santainya.
"Wah! Abangnya Sunny emang hebat! "
Sementara ketiga orang yang sedari tadi ikut menyimak menunjukkan reaksi yang berbeda-beda karena tingkah ajaib sepasang manusia beda generasi itu. Si bocah laki-laki sok jutek tampak memutar bola matanya dengan jengah sementara pria jutek di sebelahnya menatap miris. Jangan lupa dengan pria berwajah tegas yang menepuk jidatnya tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Gak waras! " Celetuk si bocah sok jutek sambil kembali mengunyah makanannya yang sesaat terabaikan.
Tak disangka ternyata abangnya mendengar celetukan itu.
"Orang seksi mah bebas, lo adik siapa sih, bocah? Heran deh gue, rempong amat. "
"Yang penting ganteng. " Balas si bocah dengan wajah datar.
"Ran sama abang ribut terus, berisik tau! " Sewot Sunny dengan wajah kesal kemudian beranjak mendekati si pria berwajah tegas yang sedang menikmati makanannya.
Hal itu memancing tatapan tajam dari si bocah dan tatapan heran dari kedua pria sebaya di sampingnya. Yang didekati nampak penasaran dengan sikap gadis kecil itu.
"Kakak ganteng, boleh duduk di sebelah kakak gak? "
Yang ditanya nampak tersipu saat dipuji. Tapi justru hal itu mengundang tatapan tajam dari Ran dan senyum usil pria dengan surai coklat.
"A*j*r! Merona gak tuh pipi?! " Ejek pria dengan surai coklat kemudian tertawa.
Tiba-tiba Ran melenggang pergi tanpa pamit membuat atensi Sunny menatap heran.
"Eh, bocah! Pacar lo ngambek tuh. " Celetuk si pria jutek membuat Sunny sontak berlari menyusul Ran.
"Keren juga lo, bisa bikin adik gue cemburu. " Ejek pria dengan surai coklat.
"Adik lo yang mana sih? Kirain tuh cewek adik lo juga. "
"A*j*r! Si bocah lo sebut cewek?! "
"Lah, emang cewek, kan? "
"Serah lo! Anggap aja gitu! "
'Gue beneran gak waras! Bisa-bisanya gue mikir tuh bocah cewek taunya dua-duanya cowok. Gue perlu di ruqyah kayaknya. Tapi, tuh bocah cantik juga. Eh?! Tau ah! Gue kecewa, a*j*r! '
"Gak heran gue. " Celetuk si pria jutek yang sedari tadi menyimak sahabatnya yang jadi bahan candaan.
"Diem lah, a*j*r! " Balas pria berwajah tegas dengan malu.
__ADS_1
Setelahnya terdengar tawa yang gencar menistakan dirinya. Siapa lagi tersangkanya kalau bukan kedua sahabat laknatnya.