LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Yang Belum Tuntas (Revisi)


__ADS_3

"Semoga lo bisa sembuh, Raja. Gue bakal ngerasa bersalah kalo ternyata apa yang gue lakuin sia-sia. Entah siapapun lo, gue ngerasa ada Rian dalam diri lo. " Gumam Alex sebelum kemudian kembali menghampiri mama Raja.


"Saya harus pergi sekarang, tante. "


"Kenapa buru-buru banget? "


"Maaf tante, tapi saya ada urusan lain di luar. Nanti saya usahakan mampir ke sini lagi. " Jawab Alex sambil tersenyum.


Mama Raja menghela nafas kemudian mengambil sebuah kotak bekal dan termos kecil dari meja. Alex mengernyit saat mama Raja memberikan kedua benda itu padanya.


"Ini masih sangat pagi dan kamu sudah melakukan banyak hal, ambil ini. Ada makanan dan teh jahe untuk menjaga stamina. Orang baik seperti kamu harus selalu sehat. Karena masih banyak yang butuh kamu. "


Alex tersentuh dengan pesan mama Raja sampai membuat matanya berkaca-kaca. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendapatkan perhatian seperti itu. Selama ini baru sekarang ia mendapatkan perhatian selain dari keluarga Morin.


"Makasih, tante. " Ucap Alex sambil menerima pemberian mama Raja.


Wanita paruh baya itu tersenyum hangat dan Alex pun pamit. Alex menoleh pada Raja sebelum benar-benar keluar melewati ambang pintu ruang rawat. Menatap Raja yang masih belum sadarkan diri dengan tatapan sendu. Dan setelahnya ia benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu.


Setelah sampai basement Alex langsung memasuki mobil dan bersiap untuk pergi ke kediaman keluarga Xilent. Alex menatap termos kecil dan kotak makanan pemberian mama Raja dan tersenyum. Kemudian baru tancap gas keluar dari basement rumah sakit.


Sementara itu nampak seseorang dengan hoodie tengah berdiri menyembunyikan dirinya di salah satu pilar penyangga yang tidak jauh dari tempat Alex memarkirkan mobilnya. Orang itu masih memakai masker dan topi yang menyembunyikan identitasnya.


Sementara itu di kediaman keluarga Xilent Chelsea tengah bercanda ria bersama Saka di dapur. Awalnya Chelsea sedang belajar membuat puding buah dan tiba-tiba Saka datang sambil mengejeknya. Dan berakhir dengan mengacaukan dapur dengan bubuk-bubuk gula dan puding yang bertebaran di lantai.


Alex yang baru sampai ke kediaman keluarga Xilent langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tersenyum saat mendengar suara-suara bising dari arah dapur. Ia cukup mengenal pemilik suara itu.


Saat mulai memasuki ruang tengah, Tuan Besar menyambut Alex dengan hangat. Memberi pelukan dengan senyuman yang selalu tercetak di wajah pria paruh baya yang sudah Alex anggap sebagai ayahnya.


"Kenapa gak bilang kalo mau kesini, Lexan? "


Alex tertawa kecil.


"Jadi sekarang saya harus bilang dulu kalo mau kesini, Ayah? " Canda Alex membuat Tuan Besar terkekeh.


"Saya senang saat kamu memanggil saya ayah seperti ini. "


Keduanya tertawa bersama. Setelahnya mereka duduk di kursi ruang tengah dan pelayan pergi ke dapur untuk membuat teh dan mengambil cemilan. Saat para pelayan akan memasuki dapur mereka tampak berdiri sebelum ambang pintu karena Chelsea dan Saka belum menyadari kehadiran mereka.


Saka menepuk pelan bahu Chelsea untuk memberi tau keberadaan para pelayan saat ia menyadari kehadiran mereka di ambang pintu. Chelsea menoleh kemudian tersenyum saat melihat para pelayan.


"Kenapa? " Tanya Chelsea pada kepala pelayan.


"Kami harus menyiapkan teh dan camilan, Nona. "


Chelsea mengernyit.


"Ada tamu di depan? " Tanya Saka sambil meneruskan menata potongan buah.


"Ada Tuan Lexan, Tuan Muda. "


Chelsea mengangguk-angguk paham sementara Saka hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ya udah, buat aja sekarang. "


Para pelayan langsung masuk ke dapur setelah mendapat izin dari Chelsea. Sementara Chelsea membantu Saka menyelesaikan puding buah mereka. Sesekali mereka berselisih dan saling melempar candaan. Kemudian tertawa bersama. Para pelayan hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Puding ini bawa sekalian ke depan. "


Pelayan mengangguk paham dan mengambil puding buah yang sudah disiapkan Chelsea. Setelahnya segera pergi mengantarkan teh dan camilan yang sudah selesai disiapkan.


"Abang ih! Ini kenapa jelek banget? " Protes Chelsea membuat Saka tertawa.


"Yang penting rasanya, my angel. "


"Ih! Tapi gak ada seninya sama sekali. Pokoknya tata ulang! "


Saka tertawa kemudian menyuapi Chelsea sepotong kecil puding buah buatannya.


"Enak kan? "


"Em, lumayan lah. "


Lagi, Saka tertawa saat Chelsea memujinya dengan enggan.


"Dasar gengsian. " Gumam Saka membuat Chelsea mendelik.


Saka tersenyum manis sementara Chelsea menggerutu kesal kemudian mengambil sisa potongan puding buah buatan Saka dan memakannya. Saka terkekeh sambil menyelesaikan puding buah buatannya. Setelah selesai ia memasukan puding itu ke lemari es dan mulai beres-beres. Sementara Chelsea malah sibuk menikmati puding di meja pantry.


Sementara di ruang tengah Tuan Besar dan Alex mulai kembali membahas tentang pekerjaan. Tiba-tiba Arshie datang dan berlari menghampiri Alex dengan manja.


Alex terkekeh sambil mengelus kepala Arshie.


"Emang Arshie mau apa? "


Ditanya seperti itu membuat Arshie berbinar. Tapi belum sempat Arshie mengatakan keinginannya Tuan Besar sudah lebih dulu menyahut.


"Jangan dimanjain, Lexan. Arshie tuh kebiasaan manfaatin kamu. "


Arshie mendelik pada ayahnya sambil cemberut. Sementara Alex tersenyum dan kembali mengelus kepala Arshie dengan lembut.


"Arshie kan mintanya sama kakak bukan sama ayah. "


Tuan Besar tersenyum.


"Kakak, Arshie kan liat bunga di kamar kak Chelsea, wangi banget deh. "


Alex tersenyum saat mengerti arah pembicaraan Arshie.


"Kamu mau bunga? " Tanya Alex yang membuat Arshie mengangguk antusias.


"Mau bunga apa? Kakak beliin sama kebunnya. "


Arshie tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Lavender"


Senyum Alex perlahan luntur saat mendengar jawaban Arshie. Nama Rian disebut hatinya tanpa sadar. Bunga itu mengingatkannya kembali pada sesuatu yang belum tuntas selama ini. Ia sampai melamun beberapa saat sebelum Chelsea datang dan membuatnya kembali sadar.


"Om kenapa bengong? " Tanya Chelsea.


"Nggak, gak ada papa. " Jawab Alex sambil tersenyum tipis.


Setelahnya Chelsea pergi ke kamarnya dengan tidak peduli.


"Kakak bakal beliin Arshie bunganya, kan? "


"Iya, kakak beliin hari ini juga. " Jawab Alex membuat Arshie senang.


Sementara Tuan Besar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan manja Arshie pada Alex.


"Eh, ini puding buah enak juga. " Puji Tuan Besar setelah mencicipi puding buah yang dihidangkan pelayan.


"Pasti dong, yang bikin kan Saka. " Ucap Saka yang tiba-tiba datang.


"Oh pantesan, kirain bikinan Chelsea. "


"Gak mungkin lah om, dia cuma menghancurkan dapur aja. "


"Benar sekali, om setuju. "


"Wah! Bagus yah, baru ditinggalin bentar aja udah di gosipin. " Sindir Chelsea sambil menghampiri ayahnya.


Tuan Besar dan Saka tertawa sementara Alex malah beranjak dari duduknya dan membuat orang-orang heran.


"Maaf, saya harus pergi sekarang. Ada urusan yang harus diselesaikan. " Pamit Alex.


Tuan Besar tersenyum.


"Kalo perlu bodyguard kamu bawa aja. "


"Iya, saya pergi dulu. "


"Hati-hati, Kak. Bunganya jangan lupa. " Teriak Arshie membuat Alex tersenyum.


Alex berjalan keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Sebelum tancap gas Alex lebih dulu menelpon seseorang. Beberapa saat menunggu dan panggilan tersambung.


"Kita harus ketemu, gue tunggu lo di tempat biasa. "


"... "


"Kita harus bahas sesuatu yang belum tuntas selama ini. "


"... "


Alex tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu, Rico. "


__ADS_2