
"Rian... Koma." Jawab Rico membuat Alex dan Octa tersentak kaget.
"Dokter gak bisa memperkirakan sampai kapan, yang jelas Rian gak bakal sadar dalam waktu dekat. Gue titip Rian sama kalian, nanti Rian bakal dipindahin ke ruang rawat VVIP, masalah administrasi biar gue yang urus. "
"Dan penjelasan kalian masih pengen gue denger, sekarang gue punya urusan lain. Kalo ada apa-apa hubungin gue. " Ucap Rico yang kemudian pergi.
Tidak lama setelah itu beberapa perawat datang untuk memindahkan Rian ke ruang rawat. Sampai di ruang rawat yang di tentukan, perawat langsung membawa Rian ke dalam ruangan sementara Alex terhenti saat melihat seseorang yang tidak asing tengah duduk di depan ruang rawat VVIP lainnya dengan beberapa pengawal menjaganya. Octa yang melihat ekspresi heran Alex langsung berinisiatif menceritakan apa yang ia ketahui.
"Itu Tuan Besar Xil, kan? " Tanya Octa yang sebenarnya sudah tau.
Alex hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Si bocah itu masuk rumah sakit pagi ini, makanya gue ketemu Rico tadi. "
Bukannya mengerti, Alex malah semakin bingung. Melihat wajah bingung Alex membuat Octa menghembuskan nafas kasar.
"Bodoh! " Umpat Octa kesal.
"Gak usah pakai umpatan, jelasin biar gue ngerti. " Balas Alex tidak kalah sewot.
"Gitu aja gak ngerti, si Rico yang bawa tuh bocah ke sini. Kayaknya panik banget sampai lupa pakai masker. Untung gue selalu bawa topi sama masker buat jaga-jaga. Akhirnya di pake juga. "
Alex berkedip beberapa kali sebelum menjawab.
"Gue ngerasa ada sesuatu yang gak kita tau tentang si Rico, jangan sampai ada skandal lagi setelah ini. "
'Gue belum tau apa yang lo tutupin dalam pertemanan kita, Octa. Dan sekarang Rian sama Rico juga nutupin banyak hal. Gue ngerasa persahabatan ini cuma formalitas, kita cuma kumpulan orang kesepian yang mengatasnamakan persahabatan. Gue gak mau jadi orang yang gak tau apa-apa. Gue bakal cari tau apa yang kalian tutupin selama ini. '
"Oh iya, Ran gimana? Masih dilarang ke sini? "
Pertanyaan Alex membuat Octa menoleh padanya.
"Gue belum dapat kabar dari pengasuhnya. "
"Gue gak habis pikir sama keluarga itu. "
...***...
Di sebuah kamar bernuansa retro terlihat Morin tengah berdiri melihat keluar jendela kamar. Tatapan matanya tidak terbaca. Di tangannya sebuah majalah digenggam erat.
"Gue baru pergi kemarin dan lo udah mengkhianati gue? "
Morin terkekeh meski air matanya mengalir.
"Gue kira gue yang paling jahat, hampir aja gue ninggalin dia buat lo. Oke, kalo ini mau lo, kita main terang-terangan. " Ucap Morin sambil menatap terluka foto yang tercetak di majalah.
Atensinya teralihkan saat handphonenya yang tergeletak di ranjang bergetar menandakan panggilan masuk. Segera Morin mengambil handphonenya dan terlihat kontak bernama 'mama'. Tanpa pikir panjang Morin langsung menjawab panggilan itu.
Hello, Morin. Kata Octa kamu pulang, kenapa gak ke rumah Mama?
"Maafin Morin, Ma. Morin cuma sebentar, gak sempat nemuin Mama sama Sunny. Morin udah disuruh balik lagi sama Papa. "
Ya udah gak papa, yang penting kamu baik-baik aja. Kamu betah di rumah Papa?
"Iya Ma, Papa selalu manjain Morin. Padahal Morin udah gede. Tapi, Morin kangen sama Mama. "
Lama tidak terdengar balasan dari lawan bicaranya. Morin tau Mamanya tengah menahan tangisan seperti yang dilakukan Morin saat ini.
Iya, Mama tau. Pintu rumah Mama selalu terbuka buat kamu, Mama sama Sunny selalu sayang sama kamu. Jaga diri baik-baik ya, jangan sampai sakit.
__ADS_1
Belum sempat Morin membalas ucapan sang Mama, panggilan sudah diakhiri sepihak. Morin menangis saat itu juga, setelah mati-matian menahan akhirnya dia tetap menangis juga. Morin kembali mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.
Hello, ada apa? Udah sampai di rumah Papa kamu, kan?
"Rian kayaknya bakalan ninggalin aku, itu kabar baik buat kita. "
Bukan kamu yang mau ninggalin dia karena skandal itu, kan? Aku tau Rian gak mungkin mengkhianati kamu.
"Kamu ngomong seakan hubungan kita gak penting, bukannya ini yang kita tunggu? Rian ninggalin aku dengan sendirinya dan kita bisa jalanin hubungan ini. Dia yang ninggalin aku, kenapa kamu seolah gak mau itu terjadi? " Tanya Morin dengan nada kecewa yang kentara.
Ini bukan waktu yang tepat, semua ini bakal nyakitin Rian. Aku gak mau, tolong jangan biarin Rian ninggalin kamu, dia lagi butuh kamu sekarang.
"Kamu selalu mikirin perasaan Rian, tapi kamu gak peduli gimana perasaan aku. "
Bukan gitu maksud aku, kamu tau seberapa berharganya Rian buat aku, kan?
"Ya, cukup jelas lebih berharga dari pada aku. Dia keluarga kamu, dan aku cuma orang asing. " Jawab Morin sarkas.
Kamu juga berharga, kamu sama sekali bukan orang asing. Tapi, aku mohon jangan egois.
Hati Morin berdenyut nyeri.
"Egois? Aku cuma butuh kamu, Babe. "
...***...
Hari beranjak sore, cahaya matahari menyusup melewati celah-celah tirai kamar rawat yang tengah ditempati Chelsea. Chelsea mengalami demam tinggi sejak pagi tadi dan meski suhu tubuhnya semakin turun, matanya masih enggan terbuka. Dan wajah pucat Chelsea membuat seorang pria berjas abu dengan masker hitam menutup sebagian wajahnya terus menerus menatap Chelsea dengan khawatir.
Pria dengan iris abu yang duduk di sofa itu sudah berulang kali bertanya tentang keadaan adiknya pada dokter, tapi jawabannya selalu sama. Chelsea baik-baik saja dan hanya sedang istirahat.
"Kakak heboh banget sih! Arshie capek liat kakak bolak-balik nanya ke dokter. " Celetuk Arshie yang sedang duduk di sebelahnya.
"Tapi keliatan, kakak gimana sih? Arshie kan punya mata. " Protes Arshie tidak mau kalah.
"Udah, jangan ribut. Ayah pusing dengerin bacotan kalian. " Lerai Tuan Besar Xil menengahi.
"Tapi, Yah! " Ucap Arshie dan pria itu bersamaan.
Tuan Besar Xil terkekeh.
"Tuh udah kompak bantahnya. Sekarang coba deh kalian kompak diamnya. "
"Kakak sih! " Tuduh Arshie.
"Apa lo, bocah?! " Sewot si pria.
Dan yang dilakukan Tuan Besar Xil hanya geleng-geleng kepala. Kedua anaknya memang sulit dihentikan. Tiba-tiba suara seseorang membuat mereka terdiam.
"Aish! Berisik banget sih! Gak bisa apa biarin princess ini tidur? "
Si pria berkedip beberapa kali sebelum berlari dan memeluk tubuh lemah Chelsea. Chelsea tampak risih mendapat perlakuan itu.
"Lepasin ih! Ayah!! Help me!! " Teriak Chelsea.
Bukannya menolong Ayahnya justru malah tertawa bersama Arshie. Keduanya tidak bisa menahan tawa saat melihat wajah teraniaya Chelsea. Lelah memberontak, Chelsea akhirnya memilih pasrah.
"Kamu lama banget bangunnya, kakak jadi khawatir. "
"Tumben, biasanya seneng kalo Chelsea diem. " Sindir Chelsea yang kemudian dihadiahi sentilan di keningnya.
__ADS_1
"Kamu udah kayak orang mau mati, kamu pikir kakak bakal seneng?! " Sewot si pria ngegas.
"Weh! Jangan marah-marah dong, Chelsea mati beneran nih. " Ancam Chelsea sambil mengusap keningnya yang panas.
Sekali lagi Chelsea mendapat sentilan di keningnya.
"Sembarangan! "
Chelsea nyengir tak berdosa sambil mengusap kembali keningnya. Sementara ayahnya dan Arshie hanya tertawa sambil menyimak. Tiba-tiba senyum Chelsea memudar dan hal itu tidak terlepas dari perhatian si pria.
"Kak Ian gimana? Baik-baik aja, kan? " Lirih Chelsea membuat si pria menghela nafas.
Si pria bingung harus menjawab apa. Adiknya masih saja memikirkan Rian dalam kondisi seperti ini. Bagaimana jika Chelsea tau Rian drop? Memikirkan hal itu membuat si pria melamun.
"Kak Ian baik-baik aja, kan? Perasaan Chelsea gak enak. "
"I-iya, Rian baik-baik aja. Kamu jangan mikirin itu dulu, biar agensi yang urus. " Jawab si pria yang dengan sangat terpaksa berbohong.
"Syukur deh kalo kak Ian baik-baik aja. Chelsea khawatir karena sebelumnya kak Ian kecelakaan, Chelsea takut kak Ian drop. " Ucap Chelsea sambil tersenyum.
Si pria menatap adiknya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Adiknya tersenyum karena kebohongannya.
'Maaf, Chelsea. '
Sementara itu, di sebuah dermaga Morin tengah berdiri menatap langit senja. Sebuah syal berwarna mocca melingkar di lehernya. Dress model sabrina dengan gambar bunga matahari yang di pakaiannya menari-nari karena hembusan angin pinggir pantai. Rambutnya beterbangan mengikuti arah angin berhembus. Tangannya nampak menggenggam kalung perak dengan bandul berbentuk bunga matahari.
"Gue gak ngerti sama perasaan ini. Mereka sama-sama berharga. "
Morin menghembuskan nafas pelan kemudian berbalik dan berjalan kembali ke tempat mobilnya terparkir. Saat kakinya menginjak pasir, tiba-tiba kalung yang dipegangnya jatuh. Morin menghentikan langkahnya dan berjongkok untuk mengambil kalung itu. Saat akan kembali berdiri jantungnya berdenyut nyeri.
'Ada apa ini? Kenapa jantung gue sakit banget? Perasaan gue gak enak. '
Di ruang rawat Chelsea tampak tersisa si pria yang tengah duduk di sofa saat tiba-tiba handphonenya mendapatkan panggilan. Si pria melihat sekilas nomor si penelepon sebelum kemudian menjawab panggilan itu. Dari kontak bernama 'Manager'.
"Kenapa? " Tanya si pria dengan masih memperhatikan Chelsea yang tengah memakan jeruk di ranjangnya.
Rian kritis
"Apa?! "
Si pria berdiri karena kaget. Tiba-tiba...
Bruk!
Mata si pria tertuju pada sumber suara.
"Chelsea!! "
Si pria bergegas menghampiri Chelsea yang tergeletak di lantai. Wajah Chelsea tampak pucat.
"Nafas Chelsea sesak. " Lirih Chelsea dengan mata sayu.
Si pria dengan cepat menggendong Chelsea kembali ke ranjang kemudian memencet tombol darurat dengan tidak sabaran. Si pria terlihat sangat panik. Chelsea menatap si pria dengan lemah.
"Rasanya sakit, kak. "
Si pria menggenggam tangan Chelsea dengan erat. Di depan matanya Chelsea tampak kesulitan bernafas. Mata sayu itu hampir tertutup dan dengan jelas air mata Chelsea terlihat mengalir dari sudut matanya.
"Kamu kenapa? Bertahan! kakak percaya kamu kuat. "
__ADS_1