
Rumah Alex tampak ramai sore ini. Setelah drama antara orang dewasa dan para bocah yang menolak pulang selesai, mereka memutuskan untuk makan bersama. Dan atas saran Ara yang sangat keras kepala dengan alasan hemat mereka akhirnya makan pasta yang dibuat oleh pengawal Ara.
"Kakak ganteng! "
Teriakan Sunny sukses membuat Rico menjatuhkan sumpit yang sedang dipakainya. Wajah Rico bersemu dan hal itu tidak terlepas dari perhatian Alex. Alex tertawa dan membuat semua pasang mata menatap ke arahnya.
"Gokil! Muka lo merah cuma karena dipuji ganteng sama Sunny? Sunny loh ini. Biasanya juga lo narsis, ada apa nih? " Goda Alex yang membuat Rico berdecak sebal.
"Berisik lo! Ketularan si Rian nih pasti. " Balas Rico sambil melempar remahan ayam tepung di atas meja makan.
"Weh! Santai bos! "
"Kakak ganteng kenapa? " Tanya Sunny dengan polosnya setelah diam menyimak sejak tadi.
"Eh! Enggak papa, kenapa tadi manggil? "
Rico menjawab dengan pertanyaan sambil sedikit gelagapan. Bukannya menjawab Sunny malah tersenyum manis dan membuat Rico salah tingkah. Sementara Ran menatap Rico dengan tajam. Rico yang merasa ditatap langsung menoleh dan mendapati tatapan tajam dari Ran. Rico tersenyum kikuk dan kembali memakan pastanya.
...***...
Pukul 7 pagi di hari senin. Seperti hari senin biasanya Octa akan datang menjemput Rian dan menunggu di depan gerbang mansion megah keluarga 'Megardante'. Sebuah keluarga harmonis di depan kamera yang membuat Octa sendiri geram dengan semua kepalsuan itu.
Dengan kepala keluarga yang merupakan seorang pejabat pemerintah tersohor didampingi seorang wanita cantik mantan Miss kecantikan negara sebagai istrinya. Dan kini seorang aktor yang menjadi idola remaja selama 3 tahun kebelakang diketahui adalah putra sulungnya juga putra bungsu yang disebut-sebut sering mendapatkan tawaran menjadi model cilik di agensi yang ternama.
Sekilas nampak tergambar keluarga yang sempurna, tapi siapa sangka kalau terlahir di keluarga ini justru menjadi penderitaan bagi Rian. Octa bukan tidak tau atau tidak ingin untuk mengungkapkan kebenaran dan menghentikan penderitaan Rian. Hanya saja Octa terlalu pengecut untuk melakukan hal itu.
Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya Rian datang dan tanpa basa basi langsung masuk ke dalam mobil yang dikendarai Octa. Sedikit berbeda dari minggu-minggu sebelumnya, kali ini Rian yang biasa berpakaian casual berlengan pendek dengan alasan tidak ingin gerah dan berkeringat memilih memakai jaket tebal lengkap dengan masker dan kacamata hitam.
Octa bukannya tidak merasa heran, hanya saja waktu tidak memberi mereka kesempatan untuk bersantai. Terlebih Octa bukan orang yang senang basa-basi. Octa justru merasa kalau Rian hanya perlu waktu berdiam diri dan beranggapan bahwa mungkin saja Rian sedang ada masalah dengan ayahnya seperti biasa.
Perjalanan menuju lokasi syuting hanya dihabiskan dengan saling diam. Sampai saat mereka tiba di ruang make up dan Rian yang meminta Octa meninggalkannya bersama Staf, Octa masih tidak protes.
Octa bukan tidak menyadari sikap aneh Rian, hanya saja Octa berusaha bersikap seperti dirinya selama ini yang dikenal cuek. Ia merasa sikap terlalu khawatirnya justru bisa membuat Rian curiga.
Setelah Octa pergi Rian baru berani membuka kacamata dan maskernya dan membuat staf make up tersentak kaget. Staf make up memekik saat jaket Rian telah terlepas. Ada luka lebam di pelipis dan sudut bibir Rian.
Dan yang membuat ngilu para staf adalah lebam-lebam membiru di lengan, bahu bahkan sampai ke perut Rian. Para Staf bisa memperkirakan kalau banyak luka dan lebam lain di tubuh Rian.
"Tutupin semuanya! Gimana pun caranya, gue gak mau ada orang selain lo semua yang liat. Kalo ada diantara kalian yang buka mulut, gue pastiin kalian semua didepak dari Xil Entertainment. "
__ADS_1
Mendapat ancaman serius dari Rian membuat staf make up berusaha sekeras mungkin untuk menutupi lebam di tubuh Rian. Setelah hampir 1 jam, mereka baru selesai dan hasilnya sempurna. Tidak ada sedikitpun lebam yang terlihat dan itu membuat Rian tersenyum tipis.
'Seenggaknya gak bakal ada yang ikut ngerasain sakit karena liat gue, gak ada yang bakal liat gue dengan tatapan kasihan. Cukup gue aja. '
Rian baru beranjak hendak berganti pakaian saat matanya menangkap kehadiran Chelsea yang mematung di ambang pintu. Sorot mata Chelsea benar-benar sulit dibaca.
'Sialan! Malah ketauan sama anak bos lagi. Ini si Chelsea gak bakal bawel kan ya? '
"Eh, Chelsea! Tumben datang pagi, gak sekolah emangnya? " Tanya Rian dengan nada cerianya.
Bukannya menjawab Chelsea malah berjalan menghampiri Rian yang tengah tersenyum ceria seolah tidak terjadi hal buruk padanya. Satu tamparan mendarat di pipi Rian yang lebamnya tertutup make up. Rian meringis menahan sakit di pipinya.
"Sakit?! Sakit, kan?! " Tanya Chelsea dengan nada tinggi.
Mata Chelsea berkaca-kaca meski nada suaranya terdengar membentak. Rian menatap Chelsea dengan tidak mengerti.
"Kalo sakit tuh ngomong, Kak! Kak Ian tau Chelsea lebih sakit liat kakak kayak gini dan Chelsea gak tau! " Teriak Chelsea dengan air mata yang berurai.
Rian bingung harus menanggapi Chelsea seperti apa. Tidak pernah sekalipun Rian dihadapkan secara langsung dengan wanita yang sedang menangis. Dan Rian baru sadar kalau hal itu tidak menyenangkan sama sekali. Rian segera menghapus air mata Chelsea.
"Maaf."
Tidak jauh berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan staf make up. Tidak ada yang sadar dengan senyuman misterius seseorang yang terlihat puas dengan hasil jepretannya.
'*Kenapa lo selalu jadi orang yang paling ngerti apa yang gue butuh, Chelsea? Kenapa harus lo orangnya? '
' Gue punya Morin, gue gak mau punya pikiran apapun tentang lo. Jangan sampai perasaan salah itu ada, Chelsea. Jangan biarin gue jadi pengkhianat*. '
...***...
Sebelum hari beranjak malam, syuting selesai. Morin hari ini tidak datang menemani Rian. Rian yang tengah duduk istirahat di sofa ruang make up memejamkan matanya. Kilasan pertemuannya dengan Morin kemarin kembali melintas di benaknya.
"Maaf ya, Sayang. Aku gak bisa nolak perintah dari Papa. " Ucap Morin sambil ikut duduk di kursi taman yang di tempati Rian.
Tampak Rian duduk bersandar sambil menengadah menatap langit cerah. Penampilan Rian sangat tertutup karena takut bertemu paparazi.
"Jadi kamu mutusin buat balik lagi ke tempat itu? " Tanya Rian tanpa berubah posisi.
Morin terdiam. Ia rasanya keberatan untuk sekedar mengiyakan ucapan Rian. Sementara Rian menghela nafas sebelum kembali bicara.
__ADS_1
"Tapi, besok? Kenapa harus besok, honey? "
Kali ini Rian menegakkan duduknya. Memposisikan dirinya untuk menghadap ke arah Morin.
"Mengertilah, Sayang. Aku harus menyelesaikan kuliahku dengan cepat dan menjadi dokter. Hanya 2 tahun lagi. "
"Aku tau, honey. Setelah itu kita akan semakin jauh, aku sangat mengerti. Fokus saja pada kuliahmu. " Ucap Rian sarkas.
Kemudian setelahnya Rian memutuskan untuk pergi meninggalkan Morin yang terus memanggilnya. Rian merasa kecewa dan enggan mendengar apapun yang akan dikatakan Morin. Bahkan saat isak tangis Morin sampai ke telinganya Rian memilih untuk berpura-pura tuli. Rasa kecewa dalam dirinya begitu besar sampai membuat Rian pergi dengan diamnya.
Rian hanya ingin seseorang selalu ada untuknya, sekali saja dalam hidup Rian ingin jadi egois. Tapi, sandarannya hilang, satu kebahagiaannya memilih pergi dan mana mungkin dia akan melepaskannya.
'Kenapa harus sekarang? 2 tahun sebentar untukmu yang hidup sebagai sandaran ku, Morin. Tidakkah kau mengerti bagaimana rasanya jadi aku? Saat luka-luka itu tercipta dan kau memilih pergi, Morin. Aku kecewa. '
Rian memijat pangkal hidungnya untuk meredakan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Matanya masih terpejam dan tubuhnya masih bersandar di sofa. Tiba-tiba handphonenya berbunyi menandakan pesan masuk.
Matanya sontak terbuka dan tangannya sigap mengeluarkan handphone dari saku celana. Nafasnya berhembus kasar bersama bahunya yang bergerak turun. Tersirat jelas kekecewaan di matanya saat mendapati kenyataan bahwa pesan itu tak sesuai harapannya.
Tapi kemudian keningnya berkerut saat mendapati pengirim pesan itu adalah Chelsea. Pikirannya terus mencari-cari hal yang mungkin menjadi alasan Chelsea mengirim pesan padanya. Namun hasilnya nihil.
Rian tidak merasa melakukan kesalahan atau membuat janji dengan anak bos itu. Sampai akhirnya setelah beberapa pertimbangan, Rian memilih tidak membuka pesan itu. Apalagi saat ini kepalanya sedang sakit.
Rian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada sekitar 20 menit sebelum waktu pulang dan ia memutuskan untuk kembali memejamkan mata. Kali ini Rian benar-benar ingin tidur. Tidak butuh waktu lama, Rian sudah terlelap dengan posisi duduk di sofa.
Sementara itu di sebuah ruangan dengan pencahayaan lampu belajar seorang pria misterius yang selalu nampak memakai hoodie hitam dan masker hitam itu tengah menatap beberapa foto yang tertempel di cermin.
Banyak coretan menggunakan spidol berwarna merah di cermin itu. Foto itu tampak sedikit buram dari kejauhan. Yang terlihat paling jelas adalah foto Octa yang berukuran paling besar.
Tangannya hendak menyentuh foto-foto di cermin saat tiba-tiba handphonenya yang tergeletak di meja bergetar. Nampak sebuah panggilan dari kontak tak bernama. Tanpa basa basi pria misterius itu menjawab panggilan tersebut.
Rencana sukses, Tuan. Beritanya akan terbit besok pagi dan malam ini penayangannya sedang diproses.
"Kerja bagus! Ambil bayaran lo dalam 10 menit, di apartemen. "
Siap, Tuan.
Si pria misterius menutup panggilan sepihak kemudian tertawa di ruang remang-remang itu. Tangannya meraih sebuah foto yang telungkup di atas meja dan membukanya perlahan.
Tampak foto Rian dan Chelsea yang diambilnya tadi siang tercetak jelas. Ada foto serupa yang ternyata tersimpan di laci meja. Foto itu terlihat saat si pria misterius membuka laci dan mengeluarkan foto-foto itu dari sana.
__ADS_1
"Bocah pintar! Hasilnya sangat bagus, sangat memuaskan. Ini cukup untuk menghancurkan popularitasnya. Dan si brengsek itu akan menderita. "