
Rico berteriak frustasi di dalam mobilnya. Tampak jelas amarahnya sedang membuncah dan seorang bodyguard dan supir yang berada dalam satu mobil yang sama lebih memilih diam. Meski Rico tengah mengalami cedera tapi anak konglomerat itu tidak bisa diremehkan. Jika macam-macam mungkin saja sebelum hari ini berakhir nyawa mereka sudah meninggalkan raga.
Tiba-tiba handphonenya bergetar menandakan panggilan masuk. Nama yang tertera di layar handphone itu membuat Rico merasa sedikit senang. Ia nampak tersenyum sinis sesaat sebelum menjawab panggilan masuk itu.
"... "
Rico tersenyum senang setelah mendengar hal yang dilaporkan anak buahnya.
"Wah, kerja bagus! Lo emang paling bisa diandalkan. "
Tiba-tiba raut wajahnya yang sesaat terlihat senang itu kembali berubah. Ia terlihat terkejut dan mengernyit saat kembali mendengar laporan anak buahnya.
"Besok? Kalian yakin? "
"... "
"Apa yang si brengsek itu lakuin di sana? "
"... "
Rico tiba-tiba kembali tersenyum senang.
"Kayaknya gue punya ide baru. " Ucap Rico sebelum menutup panggilan itu dengan tawa senangnya.
Rico tersenyum kemudian menghela nafas. Setelahnya bersandar senyaman mungkin dengan mata terpejam.
"Ayo pulang ke rumah. " Ucap Rico dengan mata yang masih terpejam dan senyuman yang juga masih tercetak.
Sopir langsung menuruti ajakan tuannya yang sebenarnya adalah sebuah perintah itu. Dan mobil mewah itu melaju keluar kawasan perkantoran Xil grup dengan kecepatan sedang. Rico terdiam menikmati perjalanan itu.
Hari sudah beranjak siang dan kali ini Chelsea pergi dari kelas tanpa pengawalan. Ia senang karena baru saja berhasil mengelabui para bodyguardnya meski dengan terpaksa ia harus merelakan sweater kesayangannya dan juga topi yang ia beli di luar negeri dipakai orang lain.
Chelsea berjalan dengan cepat dengan kacamata hitam dan masker hitam yang masih melengkapi penampilannya. Jelas terdengar desas-desus setiap siswi yang dilewatinya tapi ia berusaha tidak peduli. Yang ia pikirkan hanya dirinya yang harus kabur sejauh mungkin dari pengawasan para bodyguardnya.
Tanpa ia sadari ternyata kakinya membawa ia melangkah menuju warung tempat nongkrong para siswa SMA. Itu menjelaskan bagaimana keadaan warung itu saat ini. Banyak siswa yang sedang asyik nongkrong sambil main game atau sekedar makan-makan di sana.
__ADS_1
Langkah Chelsea terhenti, ia menjadi agak ragu saat melihat hanya ada beberapa siswi yang ikut nongkrong di sana. Ia mengenali siswi itu, kakak kelas cerewet yang marah-marah padanya saat ia dihukum membersihkan lapangan waktu itu.
Chelsea tiba-tiba memutar bola matanya saat melihat orang lain yang juga familiar. Dia adalah pria dekil yang pernah bolos bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Kara. Chelsea sama sekali tidak terkejut melihat keberadaan Kara diantara anak-anak badung. Ia sudah memperkirakan seberapa bebasnya pergaulan pria dekil itu.
Chelsea hendak berjalan ke arah lain saat suara seseorang menghentikannya. Ia menatap Kara yang berdiri dengan sombong sambil mengunyah permen karet di hadapannya. Nampak pria itu lebih bersih daripada waktu pertama kali bertemu. Chelsea bisa melihat jelas warna rambut pria itu yang sedikit berubah.
"Ngapain sih?! Gak ada kerjaan banget menghalangi jalan orang. " Ketus Chelsea kemudian berjalan menyenggol bahu Kara.
Kara tampak tersenyum sinis dan membiarkan Chelsea berjalan menjauh beberapa saat. Setelahnya meludah untuk membuang permen karet dari mulutnya dan berlari menyusul Chelsea. Kara tiba-tiba menyambar pergelangan tangan Chelsea membuat Chelsea terkejut. Mereka berlari bersama menjauhi kawasan sekolah.
Setelah lumayan jauh Chelsea berhenti dan menghempaskan tangan Kara dengan kasar. Ia menatap heran pada Kara yang menoleh padanya. Kara menghela nafas kemudian berdiri menghadap Chelsea dengan tangan di saku celana.
'Dasar sok keren! '
"Ngapain kayak tadi?! Main tarik-tarik tangan orang terus pakai lari segala. "
"St! Diam! " Ucap Kara tegas membuat Chelsea heran.
Tiba-tiba terdengar suara bel sekolah yang tidak terlalu nyaring. Mengingat posisi mereka sudah lumayan jauh dari kawasan sekolah.
Chelsea tampak mematung dengan wajah yang bersemu malu.
"Siapa bilang aku mau kabur?! Paling kamu kan yang niat kabur?! " Sangkal Chelsea menuduh Kara.
Kara menghentikan langkahnya kemudian terkekeh.
"Orang yang jalan keluar kawasan sekolah di jam istirahat emang harus gue sebut apa? " Tanya Kara setengah menyindir.
Chelsea diam tak berkutik. Ia sudah kehabisan kata untuk dijadikan alasan.
"Lo kalo mau berdiri di sana biar ketangkep security ya udah, gue duluan. " Lanjut Kara kemudian melangkah pergi semakin menjauh.
Chelsea tampak gelagapan kemudian segera menyusul langkah Kara. Kara hanya tersenyum sinis saat menyadarinya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju jalan raya yang jaraknya sudah sangat dekat. Ada satu hal yang menjadi pertanyaan dalam benak Chelsea.
'Kenapa sikap dia jadi jutek banget? Waktu itu kayaknya petakilan, aneh. '
__ADS_1
Dan tanpa sadar Chelsea malah melamun. Ia terus melangkah dan tarikan Kara pada tangannya baru saja menyelamatkan ia yang hampir tertabrak mobil. Chelsea jatuh terduduk di trotoar dengan nafas putus-putus. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
"Kalo pengen mati jangan depan mata gue, b*go! Mending loncat aja ke waduk sekolah, biar ada penunggunya. " Sinis Kara tanpa sedikit pun berniat membantu Chelsea berdiri.
Sedangkan Chelsea yang masih syok malah mematung dengan tatapan kosong. Kara yang maksud bercanda tapi tidak juga mendapat respon dari Chelsea nampak mengernyit. Setelahnya berjongkok di samping Chelsea yang masih terduduk di trotoar.
"Heh! Lo kenapa? " Tanya Kara mulai khawatir.
Chelsea masih tidak merespon dan malah mulai sesak nafas. Jantungnya berdenyut nyeri dan membuat nafasnya tersenggal. Kara mulai khawatir.
"Eh! Jangan bercanda, hey! "
Wajah Chelsea mulai pucat dan keadaan jalan yang padat semakin membuat Chelsea sesak. Kara berusaha bersikap tenang dan langsung membopong tubuh Chelsea menuju gazebo yang tidak jauh dari sana. Chelsea dibiarkan duduk di kursi gazebo sambil bersandar ke salah satu tiang penyangga. Kara berlari untuk membeli air minum dan beruntungnya ada warung di dekat sana. Dengan cepat ia kembali ke tempat Chelsea setelah membeli sebotol air minum dan minyak angin.
Chelsea sudah setengah sadar dan nyaris pingsan. Kara dengan cepat menolong Chelsea. Chelsea berangsur-angsur membaik setelah minum air dan menghirup aroma minyak angin. Wajah Chelsea nampak berkeringat dan membuat seragam yang dipakainya sedikit menerawang. Kara segera menyadari hal itu dan memberikan jaket bomber yang ia pakai untuk dipakai Chelsea.
"Gak usah, gerah. " Lirih Chelsea menolak jaket yang disodorkan Kara.
Tanpa banyak bicara Kara langsung menutup tubuh Chelsea dengan jaket itu. Chelsea menatap lemah wajah jutek Kara yang tengah duduk bersandar pada salah satu tiang gazebo. Pria itu memejamkan matanya, jelas sekali raut kelelahan itu tercetak di wajah tegasnya. Tatapan Chelsea semakin intens.
Sementara itu Rico sampai di kediaman keluarga Xilent tepat saat waktu makan siang. Dengan bantuan bodyguardnya Rico masuk ke rumah. Beberapa pelayan menyambutnya dan mempersilahkan ia menuju ruang makan.
Tuan Besar Xil sudah menunggunya di meja makan. Makanan tertata rapi dan Rico segera bergabung ke meja makan. Tanpa sepatah kata pun makan siang mereka dimulai. Hanya terdengar dentingan alat makan yang beradu.
Makan siang mereka selesai dengan cepat dan Rico bersiap untuk pergi ke kamarnya. Tapi suara Tuan Besar lebih dulu menghentikan Rico. Rico menatap ayahnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Besok, kembalilah ke Aussie. Ayah sudah siapkan semuanya. "
Rico terkekeh kemudian berpikir sejenak.
"Oke, kalo aku nolak juga gak akan ayah dengar kan? " Balas Rico sarkas.
Tuan Besar menatap putranya dengan tatapan tak terbaca. Sementara Rico sudah beranjak pergi menuju kamarnya dengan bantuan bodyguard. Tatapan mata Rico terlihat tajam dan tangannya terkepal erat. Meski raut wajahnya sama sekali tidak berubah tapi amarahnya jelas tersirat pada iris abu kelam miliknya.
'Ayah malah buang gue ke pengasingan setelah nyerahin semua hasil kerja keras gue, gue kayak gini karena kehilangan orang yang sangat berharga. Kenapa ayah malah bikin gue lagi-lagi harus kehilangan? '
__ADS_1