
"Lo bisa liat isinya kalo lo mau, gue saranin lo liat isinya biar lo gak nyesel. "
Ucapan Alex terus saja terngiang dalam benak Rico. Bahkan sampai saat ini dimana Rico mencoba untuk tidur karena perjalanan yang lumayan jauh akan ia tempuh. Rico menatap keluar jendela kaca pesawat dan hanya mendapat kehampaan.
"Gue benci pikiran gue yang mulai percaya sama ocehan pengkhianat itu. " Gumam Rico bermonolog.
Rico mencari posisi nyaman dan mulai memejamkan matanya. Tiba-tiba terdengar keributan yang membuat Rico sontak membuka mata dengan kesal. Setelahnya memasang headset ke telinganya dan memutar lagu dengan volume yang cukup keras.
Matanya sudah kembali terpejam saat merasakan orang disebelahnya beranjak kemudian tidak lama duduk kembali. Dan Rico memilih untuk tidak peduli. Matanya masih terpejam dan Rico mulai terlelap. Rico bahkan tidak menyadari senyum seseorang mengambang saat melihatnya.
Sementara itu Chelsea dengan segera pulang ke kediaman keluarga Xilent dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Masih dengan penampilan yang sama seperti kemarin Chelsea berjalan menghampiri ayah dan adiknya yang tengah menunggunya di meja makan. Menyapa dengan hangat dan bergabung untuk sarapan bersama. Setelah menyelesaikan sarapan dengan cepat Tuan Besar mengantar kedua putrinya sampai keluar pintu utama.
"Jangan kabur lagi untuk hari ini dan seterusnya, Chelsea. Ini perintah, kau dengar itu? " Ucap Tuan Besar sebelum Chelsea berangkat.
Chelsea menghela nafas sebelum kemudian mengangguk patuh.
"Tapi, jangan biarkan bodyguard ayah mengikuti aku. Aku muak melihat mereka ayah. "
"Ayah tidak mau bertaruh untuk keselamatan kamu dengan membiarkan kamu pergi sendiri, Chelsea. "
Chelsea cemberut.
"Maaf Tuan Besar Xil, tapi Chelsea akan pergi bersama saya. "
Ketiganya menoleh ke sumber suara dan menemukan Kara yang tengah berjalan menghampiri mereka. Tuan Besar mengernyit karena merasa tidak mengenal orang itu. Sementara Chelsea tersenyum senang.
"Siapa kamu? "
"Saya Kara, kakak kelas Chelsea. Dan saya menjamin keselamatan putri anda, Tuan Besar Xil. " Jawab Kara dengan wajah dingin dan tegasnya.
"Apa jaminannya? " Tanya Tuan Besar lagi.
Kara tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Anda boleh menentukannya sendiri. "
Tuan Besar tersenyum mendengar jawaban Kara. Saat hendak memberi izin tiba-tiba Alex datang. Menyapa Tuan Besar dan mengajukan diri untuk mengantar Chelsea ke sekolah begitupun Arshie.
__ADS_1
"Anda akan lebih mudah memastikan keselamatan Nona Chelsea jika ia berangkat bersama saya, Tuan Besar. "
Tuan Besar tampak membenarkan ucapan Alex.
"Kamu ada benarnya, saya juga sangat mengenal kamu. "
"Om sama ayah apaan sih?! Chelsea berangkat sama Kara, mendingan Om anterin aja Arshie. " Putus Chelsea kemudian menarik Kara pergi.
Akhirnya Chelsea berangkat bersama Kara menggunakan motor matic milik Kara. Tuan Besar menghela nafas melihat tingkah putrinya sementara Alex tersenyum penuh arti. Setelahnya Arshie yang sejak tadi menyimak tanpa banyak bicara langsung masuk ke dalam mobil Alex. Di sana sudah ada Ara yang duduk sambil membaca buku.
Saat Alex tengah sedikit berbincang dengan Tuan Besar, Arshie menatap Ara dengan kesal. Karena Arshie tipe anak yang tidak suka banyak membaca ia jadi kesal saat duduk bersama orang yang kutu buku.
"Membosankan! " Celetuk Arshie yang tidak ditanggapi oleh Ara.
Ara masih saja fokus pada bukunya dan mengabaikan Arshie. Sementara Arshie malah kesal sendiri. Sampai akhirnya mobil Alex melaju keluar dari kawasan kediaman keluarga Xilent.
...***...
Waktu terus berjalan dan terasa semakin cepat berlalu. Sudah 3 tahun waktu terlewati dan selama itu Chelsea berangsur-angsur kembali menjadi dirinya yang ceria dengan kehadiran Kara. Mereka memang tidak pacaran tapi kedekatan mereka berhasil membuat Raja banyak berubah.
Hari ini adalah hari perpisahan Chelsea. Pagi-pagi sekali ia berdandan di kamarnya dan turun ke ruang tengah membuat beberapa pasang mata menatapnya dengan terpesona. Apalagi senyum itu menghiasi wajah cantiknya.
"Wah! Putri ayah memang sangat cantik. " Puji Tuan Besar yang membuat Chelsea malah menunjukkan wajah sombongnya.
"Jelas dong! Chelsea tuh udah cantik dari lahir. " Balas Chelsea dengan percaya diri.
Alex dan Tuan Besar tertawa mendengar ucapan Chelsea. Setelah puas tertawa dan membuat Chelsea cemberut, akhirnya Chelsea berangkat bersama Alex.
"Ayo, Om! Nanti kalo kesiangan gaji Om bakal ayah potong. " Ancam Chelsea membuat Alex terkekeh.
"Ayah gak bakal setega itu. " Bantah Alex.
Selama 3 tahun ini memang banyak yang berubah. Bahkan panggilan Alex pada Tuan Besar Xil pun ikut berubah. Semenjak menggantikan posisi Rico sebagai direktur utama Xil grup, Tuan Besar terus memaksa Alex memanggilnya ayah.
Tentu saja awalnya Alex menolak karena merasa tidak enak pada anak-anak Tuan Besar terutama Rico jika sampai sahabatnya itu tau. Tapi tidak disangka Chelsea dan Arshie tidak keberatan dengan hal itu. Dan akhirnya Alex membiasakan diri dengan panggilan itu.
Setelah berpamitan pada Tuan Besar Chelsea menggandeng lengan Alex yang sudah seperti keluarganya itu menuju mobil. Chelsea mulai kembali mengeluh saat melihat sebuah mobil lainnya yang berisi para bodyguard.
__ADS_1
"Kenapa pakai bodyguard lagi sih, Om?! " Rengek Chelsea dan langsung mendapat sentilan dari Alex.
"Gak usah dibikin ribet, ayo berangkat! "
Dengan wajah cemberutnya Chelsea mengikuti Alex yang sudah masuk ke dalam mobil. Sedikit pun Alex nampak tidak berniat membujuk Chelsea. Alex hanya tersenyum saat melihat Chelsea yang terus cemberut sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba mobil direm mendadak dan membuat kening Chelsea hampir membentur Jok depan mobil. Beruntung Alex sigap menahan kening Chelsea dengan telapak tangannya. Meski karena itu telapak tangannya jadi agak memar.
Alex meringis saat merasa bahwa tulang jari kelingking dan jari manisnya patah karena memang benturan tadi cukup keras. Sopir meminta maaf berkali-kali dan Alex hanya memaklumi.
"Om gak papa? " Tanya Chelsea khawatir.
"Agak ngilu dikit, tapi gak papa. " Jawab Alex berusaha terdengar baik-baik saja.
Sementara Chelsea malah kesal.
"Ini ada apa sih? Kenapa ngerem mendadak? " Tanya Chelsea pada sopir.
"Ada mobil yang berhenti di depan, Nona. "
Chelsea melihat ke depan dan menemukan mobil yang memblokir jalan mereka. Chelsea hendak keluar dari mobil tapi tangan Alex lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Biar bodyguard aja yang beresin. "
Mendengar larangan Alex membuat Chelsea yang malas berdebat memilih kembali duduk tenang. Ia memperhatikan para bodyguard yang mendatangi mobil itu. Mengetuk kasar kaca mobil pengemudi yang sepertinya menolak untuk keluar.
Melihat cara kasar bodyguardnya yang tidak membuahkan hasil membuat Chelsea muak dan turun dari mobil sebelum Alex kembali mencegahnya. Alex menghela nafas dan segera menyusul Chelsea.
Chelsea berjalan anggun menghampiri mobil itu dan memerintahkan para bodyguardnya kembali ke dalam mobil. Setelahnya mengetuk kaca pengemudi mobil itu dan seperti dugaannya pengemudi mobil menurunkan kaca. Nampak seorang pria dengan topi baseball hitam dan masker hitam di depannya. Ada anting yang melengkapi tampilan badboy pria itu.
"Permisi Tuan, apa anda punya masalah dengan saya? Tindakan anda ini sangat berbahaya. "
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Chelsea dan malah keluar dari mobilnya. Alex yang melihat gelagat mencurigakan pria segera berjalan mendekati Chelsea dan menarik Chelsea ke belakang tubuhnya.
Pria itu terkekeh sebelum membuka topi kemudian maskernya dan membuat Chelsea sangat terkejut. Melihat reaksi Chelsea membuat pria itu tersenyum sementara Alex mengernyit bingung.
"Bang Saka? "
__ADS_1