
Alex menghela nafas karena akhirnya bisa masuk ke kantor pusat setelah menghabiskan banyak waktu untuk menerobos kerumunan wartawan yang mencegatnya. Sudah bukan rahasia lagi kalau Alex adalah manager Rico.
Akibatnya ketika pagi ini berita Rico menjadi trending topik, Alex pun kena imbasnya. Saking banyaknya wartawan Alex sampai harus mengandalkan bodyguard Xil grup agar bisa masuk ke kantor pusat.
Sampai di lobby, Alex bergegas menuju ruangan rapat karena ternyata alasan mengapa ia dipanggil ke kantor pusat adalah untuk menggantikan Tuan Besar Xil yang tidak bisa menghadiri rapat. Ia baru saja mengetahuinya sesaat sebelum masuk ke kantor.
Hal ini memang sudah biasa terjadi, saat Tuan Besar Xil tidak bisa menghadiri rapat Alex akan diperintahkan untuk menggantikannya. Padahal Direktur utama yang notabene anaknya lebih berhak.
Pikiran Alex menerawang saat ia tengah berada di dalam lift bersama dua bodyguard Xil di belakangnya. Dulu dia sering mempertanyakan hal itu. Ingatannya memutar kembali kejadian di hari pertama ia diperintahkan menjadi wakil Tuan Besar Xil untuk menghadiri rapat. Hari itu ia baru beberapa bulan menjadi manager Rico.
Flashback On
Alex menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dengan wajah jengah. Sempat beberapa kali ia terdengar berdecak kesal. Dibelakangnya nampak orang-orang sibuk menata kamera dan beberapa atribut syuting. Dari kejauhan ia melihat orang yang lama ia tunggu.
"Akhirnya lo datang juga, dari mana aja lo, hah? Bikin gue kesel aja pagi-pagi. " Amuk Alex pada pria di hadapannya yang malah nyengir tak berdosa.
"Santai, gaji lo gue naikin deh. "
"Awas aja kalo gak naik, panas kuping gue dengerin sutradara nanyain lo mulu. "
Pria di hadapannya hanya mengangguk-angguk tak peduli. Alex berusaha menahan diri untuk tidak memukul pria itu tapi akhirnya tangannya sampai juga di tengkuk si pria.
"Wah! Jangan KDRT dong, Lex. " Protes si pria sambil mengusap tengkuknya.
"Untung cuma gue pukul, bersyukur dong! "
"Eh, Rico! Dari mana aja lo? " Tegur Rian yang tiba-tiba datang dari belakang Alex.
"Eh, iya. Gue baru ingat, lo disuruh gantiin Tuan Besar rapat, Lex. " Ucap Rico membuat Alex dan Rian sontak menatap tak percaya.
"Gak usah bercanda, hey! " Ucap Rian masih dengan tatapan tak percayanya.
"Ya ampun, gue gak tanggung jawab ya kalo lo dimarahin Tuan Besar. Gue udah kasih tau lo. "
Rico melangkah pergi menuju tempat sutradara yang memberinya isyarat untuk datang.
"Si Rico kayaknya gak bercanda deh, mending lo cepat pergi. Lo tau tempat rapatnya kan? " Saran Rian kemudian menyusul Rico.
Sementara Alex memutuskan untuk mengikuti saran Rian. Ia bergegas pergi menuju mobilnya dan mulai mengemudi meski masih dengan kebingungannya. Dan ternyata saat sampai ditempat rapat ia benar-benar sudah ditunggu untuk menggantikan Tuan Besar Xil.
Flashback Off
"Pantesan waktu itu Rico yang ngasih tau gue. Kenapa dulu gue gak pernah curiga sama sekali? Ternyata dia putra Tuan Besar. " Gumam Alex bermonolog.
Pintu lift terbuka saat ia sudah sampai di lantai tempat diadakannya rapat. Ia membenahi penampilannya beberapa saat sebelum kemudian melangkah dengan gagah keluar lift. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya menyapa dengan ramah. Alex membalas sapaan itu dengan ramah juga.
Sikap ramahnya memang sudah sangat dikenal para pegawai Xil grup dan membuatnya menjadi pemimpin ideal yang diinginkan setiap pegawai. Bahkan banyak pegawai yang mengharapkan Tuan Besar Xil mengganti direktur utama yang memimpin dengan Alex.
Padahal jika benar terjadi pun Alex mana mau memimpin perusahaan besar seperti Xil grup. Jadi manager Rico saja sudah benar-benar membuatnya pusing apalagi memimpin perusahaan besar Xil grup. Ia bahkan sering bergidik ngeri saat para pegawai memanggilnya pimpinan ideal.
'Amit-amit, jangan sampai Tuan Besar punya pikiran ngaco buat jadiin gue pengganti Rico. Lagian nih orang-orang kira mimpin perusahaan kayak main monopoli? Mereka enak, lah gue yang makin banyak beban hidup. Pengen gue buang ke amazon juga yang ngomong. '
...***...
Octa nampak duduk di sebuah warung. Letaknya ada di belakang sekolah Kara yang adalah sekolahnya dulu saat SMA bersama Alex, Rico dan Rian. Karena sekolah ini juga mereka akhirnya bersahabat. Seorang wanita paruh baya datang menghampirinya dengan sumringah.
"Eh, ada nak Octa. Sudah lama tidak datang ke sini. Gimana kabarnya nak Octa sama yang lainnya? "
Octa tersenyum tipis saat mendapat pertanyaan dari pemilik warung yang akrab dengannya itu.
__ADS_1
"Saya sehat, Bi. Teman-teman saya juga sama cuma Rian udah meninggal. "
Si pemilik warung yang di panggil Bibi itu nampak terkejut.
"Kapan itu nak? "
"Udah agak lama, Bi. "
"Meninggalnya karena apa? Padahal masih muda. "
Octa beberapa saat termenung.
"Sakit, Bi. " Lirih Octa.
Pikiran Octa menerawang jauh ke masa dimana mereka masih duduk di bangku SMA.
Flashback On
"Eh, nonton konser yuk! " Ajak Rian yang tiba-tiba datang ke warung tempat Octa, Alex dan Rico nongkrong.
Ketiga sahabatnya menatap Rian heran.
"Dateng-dateng ngajak ke konser, lo waras? " Tanya Rico membuat Rian cemberut.
Alex tertawa sementara Octa hanya menyimak.
"Lagian lo bilang gak bisa ke sini gara-gara apa tuh, gue lupa. Bacot lo! "
Lagi, Alex tertawa.
"Gimana? Berhasil gak deketin anak macan? " Tanya Alex jahil.
"Apa sih? Pada mau gak? "
"Lo yang bayar tiketnya tapi. "
Rian memutar bola mata jengah.
"Ya makanya gue ngajak. "
Rico menatap Rian berbinar.
"Beneran lo yang bayarin? Wah! Tumben. "
Alex dan Octa hanya menyimak sambil membatin hal yang sama.
'Gak mungkin banget, si Rian tuh pelit. '
Rian mengernyit.
"Maksud gue biar ada yang bayarin tiket gue gitu. Makanya gue ngajak lo semua. "
Rico melempar kulit pisang pada Rian saking kesalnya. Sementara Alex tertawa dan Octa tersenyum.
'Udah gue duga. '
"Sialan lo! Lo kira muka gue tempat sampah? " Protes Rian yang malah mendapat ejekan dari Rico.
"Udahlah, kayak anak kecil lo berdua. Sini lo Rian, mending makan dulu. " Lerai Alex.
__ADS_1
"Tapi, ditraktir kan? " Tanya Rian dengan sumringah.
Alex terkekeh.
"Iya, gue traktir. "
"Dasar gak modal, yang satunya pilih kasih. " Gerutu Rico sambil memakan kuaci.
Rian yang mendengarnya malah memasang wajah menyebalkan dan membuat Rico melemparkan cangkang kuaci di tangannya pada wajah Rian. Octa menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu. Sementara Alex hanya tertawa di sela-sela mengunyah makanannya.
Malamnya saat waktu semakin larut Octa bersiap untuk tidur setelah belajar beberapa saat. Tiba-tiba suara notifikasi di handphonenya membuat ia mengurungkan niatnya. Sebuah pesan dari grup WA. Ia mengernyit sebelum kemudian membaca pesan itu.
Raut wajahnya berubah khawatir dan ia langsung berlari mengambil kunci mobil dan mantel yang tergantung di dekat pintu kamar. Berlari keluar kamar menuruni tangga dan membuka kunci pintu depan dengan buru-buru. Setelah keluar dan mengunci kembali pintu rumah mobilnya melaju kencang membelah jalanan lengang kota.
Butuh waktu 10 menit untuk sampai ke tempat yang disebutkan Rian. Octa mengernyit saat melihat tempat itu. Tempat yang sangat gelap dan sepi. Octa sempat ragu untuk keluar tapi benaknya kembali mengkhawatirkan keadaan Rian.
Akhirnya Octa membuka pintu mobil dan keluar dengan waspada. Belum sempat mengambil langkah, seseorang telah membekapnya dari belakang dan membuat ia kehilangan kesadaran.
Mata Octa menyipit saat tiba-tiba sebuah lampu menyorotinya yang tengah terduduk di kursi di ruangan gelap. Ia menatap heran saat tidak mendapati satu tali pun yang mengikatnya.
Ia menoleh saat menemukan dua lampu lain menyoroti dua objek berbeda di sampingnya. Matanya terbelalak saat menemukan Rico dan Alex yang menatapnya dengan keadaan yang sama. Tatapan bingung mereka saling beradu.
Belum sempat saling bicara, tiba-tiba nampak banyak lampu bercahaya warna emas yang menyala di sekitar mereka. Lagi, mereka nampak kebingungan. Dan alunan merdu piano mengalihkan perhatian mereka.
Saat itu juga lampu-lampu menyala dan memperlihatkan panggung sederhana di depan mereka. Disusul suara nyanyian yang sangat familiar di telinga membuat ketiganya membungkam saking terkejutnya.
Sebuah lampu akhirnya menyorot Rian yang duduk memainkan piano sambil menyanyikan sebuah lagu. Tidak disangka Octa ikut menyanyikan lagu itu sambil beranjak dari Kursinya menghampiri Rian yang tersenyum.
Alex dan Rico saling menatap sebelum akhirnya ikut menyanyi. Mereka berempat bernyanyi bersama membuat orang-orang yang memegang lampu berteriak heboh. Ternyata lampu berwarna emas itu dipegang oleh para siswa angkatan mereka. Setelah selesai bernyanyi mereka saling berpelukan.
"Lo bertiga gak mau ngucapin apa gitu ke gue? "
Alex dan Rico tertawa sementara Octa tersenyum mendengar pertanyaan menyindir dari Rian.
"Gak usah bikin orang serangan jantung, happy birthday. Semoga lo cepat waras. " Ucap Octa sambil memukul bahu Rian pelan.
Rian nyengir lebar.
"Gue benar-benar kaget, ulang tahun lo anti mainstream. Happy birthday, cepat dewasa dan jangan bikin gue pusing terus. "
Alex memeluk Rian dan membuat Rian terkekeh. Orang-orang tampak bersorak. Sementara Rico menendang kaki Rian dan membuat Rian meringis sambil tetap berusaha tersenyum.
"Gue kaget, b*b*! Lo mau nyawa gue jadi kado ulang tahun lo, gitu? Sialan lo! Semoga lo gak bisa ngalahin kegantengan gue. Happy birthday, sialan! " Rico memiting leher Rian dan mengacak puncak kepala Rian dengan kepalan tangannya.
Malam itu berubah jadi sangat meriah.
Flashback Off
Octa menghela nafas kembali tersenyum sambil bersandar ke dinding dengan kepala menengadah. Langit-langit bercorak indah itu semakin mengingatkannya pada masa-masa itu.
"Pesta ulang tahun itu benar-benar paling berkesan buat gue, dek. Setelahnya lo beneran dicari agensi karena viral. Dan akhirnya lo jadi penyanyi, jadi aktor terkenal juga. Gue bangga sama lo, dek. "
"Maafin gue yang gak sempat kasih tau lo identitas gue, padahal gue pengen banget denger lo manggil gue kakak kayak dulu. " Lirihnya pelan.
Matanya berkaca-kaca dan matanya terpejam. Octa menghela nafas, hatinya benar-benar ngilu jika mengingat bahwa adiknya sudah pergi untuk selamanya.
"Kak! "
Mata Octa sontak terbelalak.
__ADS_1