
Pagi cerah di hari selasa dipenuhi jepretan kamera. Wartawan berkerumun di depan gerbang mansion megah keluarga 'Megardante'.
Berita skandal asmara antara Rian dan Chelsea pagi ini telah tayang dihampir setiap stasiun televisi. Surat kabar dan majalah-majalah juga telah mencetak dan menerbitkan berita skandal tersebut.
Tidak berbeda jauh dengan keadaan di kediaman konglomerat ternama, keluarga 'Xilent'. Sejak berita skandal itu menjadi Hot Issue pagi ini, Chelsea enggan untuk keluar dari kamarnya. Berbeda dengan Rian yang telah diseret dengan kasar oleh sang ayah dari kamarnya menuju ruang tengah.
Setelahnya tamparan dan pukulan yang diberikan sang ayah Rian terima dengan diamnya. Setiap masalah yang menghantam dirinya selama ini membuatnya lupa cara membela diri.
Sang mamah hanya memalingkan wajahnya saat Rian menatap penuh rasa sakit. Sementara Ran mematung di ambang pintu kamarnya. Lagi, Ran melihat penderitaan Rian.
Kedua orang tua mereka mengabaikan reaksi terkejut Ran saat setiap pukulan ayahnya mendarat di tubuh Rian. Mereka tidak berpikir bahwa sewaktu-waktu dendam dapat saja tertanam di hati anak laki-laki usia 9 tahun itu.
"Puas kamu, Rian?! Terus permalukan keluarga ini! Lakukan Rian! Kenapa dulu bukan Vian yang selamat?! Kenapa bukan kamu yang mati?! Sialan! "
Tubuh Rian mematung. Kilasan tragedi kelam di masa lalu terus berputar di benaknya. Setelah sekian lama ingatan kelam itu Rian kubur dalam-dalam, kini ayahnya sendiri yang menarik ingatan itu kembali. Tangan Rian bergetar, kepalanya mulai berdenyut nyeri. Nafas Rian tidak teratur dan telinganya berdengung.
Rian berusaha keras menahan segala rasa sakit di raga dan hatinya dengan mengepalkan tangan erat. Rian tidak ingin dipandang lemah oleh keluarganya.
Tapi perkiraan Rian salah. Ia kira raganya akan bertahan saat hatinya diam-diam menyerah untuk berpura-pura kuat. Ia jatuh terduduk di lantai dengan darah yang keluar dari telinganya.
Beruntung ayah dan mamahnya sudah pergi dari ruangan tengah. Hanya tersisa Ran yang berlari kemudian memeluknya dengan erat. Tubuh Ran bergetar karena tangisan yang tertahan. Rian hanya terkekeh dengan mata berkaca-kaca. Raga dan hatinya terasa sangat sakit.
"Lo cengeng banget. " Ejek Rian pada Ran yang dengan enggan melepas pelukannya.
Rian mengusap air mata yang mengalir di pipi adiknya sambil tersenyum. Tampak jelas rasa sakit tergambar di mata Rian. Ran bisa melihatnya.
Mata yang semakin hari semakin kehilangan cahayanya. Kedua tangan Rian memegang bahu Ran yang berdiri dengan isakan di depannya.
"Dengerin abang, Ran. Jangan hidup seperti abang! Bagaimanapun rasa sakit gak boleh sampai bunuh hati. Ran tau kan, abang sayang banget sama Ran. " Ucap Rian dengan nafas yang putus-putus.
Detak jantungnya mulai tidak teratur karena menahan kepalanya yang berdenyut. Dengung di telinganya membuat Rian terkulai lemas di lantai. Darah dari telinganya mengalir ke lantai. Sakit kepala itu membuatnya tidak berdaya.
Perlahan matanya mulai terpejam meski senyumannya belum memudar. Terdengar suara Ran yang berulang memanggilnya. Tapi Rian merasa tidak mampu untuk sekadar membuka mata. Rian lelah dan ingin istirahat sejenak.
'Kak Vian, Rian kangen kakak. Rian pengen ketemu kakak, tolong bawa Rian pulang ke rumah kakak. '
Telinga Rian menuli dan akhirnya Rian benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Rian!! "
...***...
"Chelsea! Sayang! Keluar dong. Ayah mohon, kalau ada masalah cerita sama ayah. Jangan kayak gini! Kamu belum makan dari semalam, keluar dong sayang! "
Berkali-kali Tuan Besar Xil mengetuk pintu kamar Chelsea yang masih terkunci rapat. Terus menerus ia berusaha membujuk putrinya itu untuk keluar dari kamarnya dan hasilnya nihil. Bahkan tidak ada sedikitpun jawaban dari Chelsea.
"Ayah! " Panggil seseorang yang baru saja datang dari lantai bawah.
Tuan Besar Xil menoleh pada putranya dengan tatapan gelisah.
"Bagaimana ini, Rico? Chelsea belum keluar dari kamarnya, dia belum makan dari semalam. "
__ADS_1
Rico menghampiri ayahnya yang tengah berdiri di depan pintu kamar Chelsea. Para pengawal dan pelayan berdiri di belakang Rico dengan tertunduk.
"Apa karena skandal murahan itu? "
"Pagi ini beritanya tayang hampir di setiap stasiun televisi dan memenuhi surat kabar juga. Tapi, Chelsea menolak keluar kamar sejak semalam, ayah tidak mengerti, Rico. Ayah khawatir, Chelsea tidak pernah seperti ini. "
Rico menatap tajam kedua pengawal pribadi Chelsea. Keduanya nampak tertunduk takut.
"Kalian ingin dipecat? Apa untungnya mempekerjakan kalian? Buang-buang uang saja. "
"Sudah Rico, lebih baik bujuk adikmu. " Ucap sang ayah menengahi.
"Gak bakal berhasil. Ayah tenang aja, biar Rico dobrak pintunya. "
Sang ayah menanggapi dengan anggukan kemudian mundur beberapa langkah saat Rico mengambil ancang-ancang. Dan pintu kamar Chelsea terbuka dengan 2 kali tendangan. Rico dan sang ayah segera masuk ke dalam kamar Chelsea yang terlihat masih rapih seperti tidak tersentuh semalam.
Awalnya Rico dan sang ayah panik saat tidak melihat keberadaan Chelsea sampai netra sang ayah menangkap sosok yang terduduk memeluk lututnya di sudut ruangan. Nampak sosok yang ternyata Chelsea itu tertunduk menyembunyikan wajahnya. Rico segera berlari menghampiri Chelsea saat menyadari arah tatapan sang ayah.
"Chelsea, are you okay? "
Chelsea mendongak, wajahnya pucat dan berantakan.
"Kak, Chelsea jahat. " Adu Chelsea lirih pada Rico yang langsung dibalas pelukan oleh sang kakak.
"St! Chelsea gak jahat. Chelsea itu princess baik. "
"Rico, ada apa ini? Kenapa Chelsea bicara seperti itu? " Tanya sang ayah curiga.
Belum sempat Rico memberi alasan, Chelsea sudah terkulai lemas tidak sadarkan diri. Rico mulai panik begitu pula ayahnya. Rico dengan cekatan menggendong tubuh lemah Chelsea dan membawanya ke rumah sakit milik keluarga Xil. Mobil Rico melesat membelah kerumunan wartawan di depan gerbang rumah utama keluarga Xil.
Beruntung jalanan tidak macet, dan Rico bisa membawa Chelsea sampai ke rumah sakit dengan cepat. Di belakangnya para pengawal terus mengikuti untuk memastikan keamanan tuannya. Para perawat yang melihat kedatangan sang aktor dengan nona keluarga Xil dalam gendongannya langsung bergerak cepat.
"Ruang VVIP! " Ucap Rico yang langsung ditanggapi para perawat.
Chelsea di bawa ke ruang VVIP dengan cepat, sementara Rico berjalan mengikuti sambil menjaga jarak. Bisa gawat kalau ada orang yang membuat skandal tentang Chelsea lagi. Tiba-tiba seseorang mencegatnya sambil menyodorkan sebuah masker topi berwarna hitam. Rico sontak menatap pemilik tangan itu.
'Octa? Ngapain dia di rumah sakit Xil Grup? Apa jangan-jangan Octa udah tau rahasia gue? '
"Kaget yah ketemu gue di sini? Pakai dulu, gue jelasin tapi gak di sini. "
Setelah Rico memakai masker dan topi, Octa baru menarik tangan Rico untuk mengikutinya. Kening Rico berkerut saat Octa membawanya menuju lorong ruang rawat pasien. Terlihat dari kejauhan Alex menatap heran kearah dirinya dan Octa.
Octa berhenti tepat di tempat Alex yang duduk di kursi di depan ruang UGD. Raut khawatir tampak terlihat jelas di wajah Alex. Tapi, raut heran justru lebih terlihat saat Octa datang bersama Rico.
"Lo kasih tau dia? " Tanya Alex pada Octa membuat Rico penasaran.
"Emang ada apa sih? Kok lo nanya gitu ke Octa seolah gue gak boleh tau? " Sahut Rico bingung.
Alex menatap Octa meminta penjelasan dan membuat Octa menghembuskan nafas kasar.
"Rian drop, gue langsung datang ke rumah dia waktu liat berita. Pas gue sampai, gue denger Ran nangis dan Rian udah gak sadar. " Jelas Octa membuat Rico tersentak.
__ADS_1
"Si Octa telpon gue dan ngasih tau keadaan Rian, gue langsung dateng pas tau Rian dibawa ke sini. " Tambah Alex.
Tangan Rico mengepal kemudian meninju tembok dengan kuat berkali-kali. Untung Alex menghentikannya sebelum Rico mematahkan tulang jari-jarinya sendiri. Rico merasa sangat terluka mendengar keadaan sahabatnya. Mereka bersahabat sejak masuk SMA sekitar 6 tahun yang lalu, persahabatan mereka setahun lebih awal dari pada Alex dan Octa.
Rico cukup tau penderitaan yang dialami Rian. Sama halnya dengan Octa, Rico juga mengetahui kebenaran itu dengan tidak sengaja saat berniat mengembalikan buku tugas Rian yang tertinggal di kelasnya dulu. Mereka baru masuk tahun pertama di SMA saat itu. Rico bahkan sempat membela Rian saat sahabatnya itu di cacimaki dan dianiaya di depan matanya. Ia bahkan berniat membuat laporan ke kantor polisi tapi Rian mencegahnya dengan alasan tidak ingin keluarganya terpecah belah.
Semenjak saat itu Rian selalu menceritakan semua keluh kesahnya pada Rico. Tapi, entah sejak kapan Rian mulai kembali menutup diri tentang urusan pribadinya dari Rico. Karena kesibukannya Rico sadar dirinya mengabaikan perubahan itu dan ia menyesalinya sekarang di saat Rian benar-benar memilih diam.
'Rian, lo gak pernah selemah ini. Maafin gue. '
Tiba-tiba dokter keluar dari ruang UGD dan membuat ketiganya buru-buru menanyakan keadaan Rian.
"Siapa keluarga pasien diantara kalian? Tolong ikut saya ke ruangan. " Ucap dokter kemudian berjalan menuju ruangannya.
Sebelum sempat dicegah, Rico sudah lebih dulu pergi menyusul dokter. Alex hendak mencegatnya tapi Octa menahan.
"Kita gak bisa biarin Rico tau keadaan Rian, Ta. Kita udah sepakat soal ini. "
"Ini udah saatnya Rico tau. Makin lama kita tutupin ini, gue gak bisa bayangin reaksi Rico nantinya. Rahasia ini bakal nyakitin Rico juga. "
Setelah 10 menit berlalu Rico baru keluar dari ruang dokter dengan tatapan penuh amarah. Rico berjalan menghampiri Alex dan Octa dengan tangan terkepal.
Bugh!
Bugh!
Satu tinjuan di pipi masing-masing Octa dan Alex dapatkan dari Rico. Beberapa orang yang berlalu lalang memekik kaget melihat kejadian itu. Nafas Rico memburu karena amarahnya. Matanya berkaca-kaca.
Tapi, sebelum sempat bicara suara dering handphone mengalihkan perhatian Rico. Ia mengeluarkan handphonenya dari saku celana dengan tangan bergetar dan langsung melihat si penelepon. Rico berdecak.
"Gue tunggu penjelasan kalian. " Ucapnya kemudian pergi untuk menjawab telpon.
"Iya, kenapa Yah? "
"... "
"Maafin Rico, Rico gak mungkin ke sana dengan penampilan Rico yang sekarang. "
"... "
"Iya, Rico bakal pulang buat ganti baju terus balik lagi buat liat Chelsea. "
"... "
Rico menutup panggilan dan langsung kembali ke tempat semula.
"Gimana keadaan Rian? " Tanya Alex saat Rico sudah kembali.
Rico menghela nafas berat. Wajah penuh amarahnya hilang digantikan raut penuh kesedihan. Lidahnya kelu, sangat berat rasanya mengungkapkan keadaan Rian saat ini. Rico mengatur nafasnya kemudian menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Rian... Koma. "
__ADS_1