LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Keberanian Atau Kebodohan? (Revisi)


__ADS_3

Setelah mendengar rencana gila mamanya, Morin kini tengah duduk cemberut di sofa ruang tengah rumahnya. Sementara Alex yang memang belum pulang masih santai saja memakan kue yang tersaji untuknya. Meski beberapa kali terbatuk-batuk karena tenggorokannya yang sakit, Alex tetap melanjutkan makannya.


Morin terus berusaha mengabaikan Alex yang terbatuk-batuk. Tapi akhirnya Morin menghela nafas saat perasaan tidak teganya terus membuat ia tidak nyaman.


Tanpa permisi Morin langsung mengambil piring kue ditangan Alex dan membuat Alex menatapnya heran. Tapi, Morin tetap meneruskan aksinya tanpa peduli.


"Kalo mau cari penyakit jangan di rumah gue, lo mati gue juga kena. " Omel Morin membuat Alex terdiam.


"Kuenya enak. "


Morin menatap jengah.


"Ya udah terusin, gak bisa di balikin emang. " Ucap Morin kemudian pergi meninggalkan Alex yang memilih menuruti kemauan Morin.


Alex meminum air dan malah kembali tersedak saat televisi menayangkan berita. Morin sontak berbalik saat mendengar Alex yang kembali terbatuk-batuk. Menghembuskan nafas kasar dan menghampiri Alex.


"Lo gak bisa minum yang bener? "


"Bukan gitu, Itu! " Jawab Alex sambil menunjuk televisi yang sedang menyiarkan berita tentang keluarga konglomerat Xilent.


Morin buru-buru kembali duduk di sofa dan memperhatikan televisi dengan seksama. Beberapa kali ia menggeleng tidak percaya. Sementara Alex menatap intens dengan pikiran menerawang. Banyak pertanyaan berseliweran di benaknya.


'Gue gak percaya ini, pasti ada yang salah. Gue harus cari tau. '


"Gue gak nyangka, bisa-bisanya gue ketipu muka sok polos tuh bocah. "


Alex sontak menoleh saat kata-kata tidak enak didengar telinganya itu keluar dari mulut Morin. Tatapan tajam yang tidak pernah sekalipun Alex layangkan padanya kini Morin dapatkan untuk pertama kalinya.


"Lo gak boleh nilai orang hanya dari sudut pandang orang lain. " Ucap Alex datar sambil mengalihkan pandangannya.


"Lo belain bocah itu? Lo ngomong dengan nada kayak gitu ke gue karena bocah itu? " Sewot Morin kesal.


Nada bicara Morin semakin naik. Alex menghela nafas kemudian mengubah posisi duduknya menghadap Morin yang duduk tidak jauh di sampingnya. Morin nampak menatap dengan raut wajah kesal.


"Lo tau gimana gue, Zoy. Gue bukan bela dia, gue cuma gak mau lo berprasangka buruk bahkan sampai salah paham sama orang yang baru aja jadi teman akrab lo. Karena bisa aja faktanya gak seperti yang kita lihat dan dengar. Gue mau lo mulai bersikap dewasa. "


Morin tampak menunduk. Kata-kata Alex berhasil membuat Morin mengerti.


"Kita cari tau kebenarannya dulu, selama itu tolong tetap bersikap dewasa. "

__ADS_1


Nada bicara Alex semakin lembut dan membuat Morin tersenyum.


"Makasih Lex, lo selalu bisa bikin gue tenang. "


...***...


Seorang pria dengan jas abu dan masker hitam yang menyembunyikan identitasnya itu tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya. Ia duduk di kursi yang membelakangi pintu masuk ruangan itu.


Matanya tetap enggan terbuka meski tiba-tiba seseorang masuk ke ruangannya. Seorang pria yang menjadi kepercayaannya beberapa tahun terakhir itu berdiri dengan wajah kaku.


"Semuanya sudah siap, Mr. Xil. "


Ya, dia 'Juan Richard Xilent' . Direktur utama Xil grup yang mungkin akan lebih dikenali jika dipanggil 'Rico'. Sepasang mata itu akhirnya terbuka memperlihatkan iris abu yang nampak redup. Terkekeh dan selanjutnya memutar kursi untuk melihat langsung wajah pria kepercayaannya.


"Kapan kita bisa lihat kehancuran Adhitama? " Tanya Rico tidak sabaran.


"Jika kita menyerang langsung, kehancuran akan cepat terlihat, Mr. Xil. " Jawab pria didepannya masih dengan nada kaku.


"Jawaban yang sangat bagus, ayo lakukan sekarang. "


Rico tampak tertawa setelah mengutak-atik laptopnya. Menekankan beberapa tombol keyboard sambil duduk santai menatap hasil kerjanya. Pria di depannya hanya menatap sang tuan dengan tatapan yang sama sejak tadi. Kaku tanpa ekspresi apapun.


Octa menjatuhkan badannya ke atas ranjang king size miliknya itu setelah menyelesaikan kesibukannya. Rumah itu besar tapi sangat kekurangan pelayan, ia harus membereskan barang-barang miliknya hanya dengan bantuan seorang pelayan yang baru saja keluar dari kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamar kemudian tersenyum.


"Akhirnya gue bisa balik lagi ke kamar ini, rasanya udah lama banget. " Gumamnya dengan wajah sumringah.


Ia bahkan tidak menyadari tatapan tajam seseorang yang mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Nampak sekali pemilik mata coklat tua itu tidak suka dengan kehadiran Octa.


Sementara kepribadian Octa nampak mulai berubah. Tidak ada wajah kaku dan mulut pedas. Akhir-akhir ini ia sering tersenyum dan tertawa. Kebiasaan itu perlahan membuat kepribadian cerianya kembali meski kadang pada orang selain keluarga Megardante ia masih bersikap dingin.


Tiba-tiba handphonenya bergetar dan membuatnya sontak terbangun. Berjalan beberapa langkah dan tangannya mengambil handphone yang tergeletak di atas meja di depan televisi. Mata Octa menatap layar handphone yang menyala dan terlihat satu panggilan masuk dari nomor dengan nama 'Min'. Dengan cepat Octa menjawab panggilan itu.


"Apa yang lo mau? Jam segini ganggu gue aja lo. "


Octa tampak malas.


"... "


"Oke, apa yang gue dapat? " Tanya Octa lagi dengan sebelah alis terangkat.

__ADS_1


"... "


Tiba-tiba Octa terkekeh.


"Gue bercanda doang, serius amat hidup lo. Gue cariin sekarang, udah puas? "


"... "


"Iya, iya. Oh iya minggu depan gue bakal balik. Mau ikut gak? "


"... "


"Oh, oke. "


Sambungan telepon tertutup saat percakapan mereka telah selesai. Nampak Octa menghela nafas sebelum kemudian beranjak dari ranjang menuju sebuah meja. Ada laptop dan beberapa buku bacaan juga alat tulis di meja itu.


Menghidupkan laptop, menggeser kursor dan mulai mengetikkan sesuatu dalam kolom yang tersedia. Ia mengernyit saat melihat isi E-mail, tertera nama seseorang yang dikenalnya di sana. Benaknya bertanya-tanya tentang banyak hal dan kemungkinan.


"Chelsea? Buat apa dia cari informasi tentang salah satu keluarga Xilent?"


Octa nampak tidak habis pikir, tiba-tiba ia juga menjadi kepo saat putri keluarga Xilent itu jadi tranding topik di media sosial. Ia menggeser kursor ke sana kemari dan akhirnya menemukan sesuatu yang sulit ia percaya.


"Obat terlarang? Gila nih bocah. "


...***...


Hari beranjak semakin larut membuat pria dengan hoodie itu mengepalkan tangan saat kabar yang ia tunggu tidak juga ia dengar. Ia mulai tidak sabaran dan buru-buru mengambil laptop yang tampak tergores pecahkan kaca. Laptop dibuka dan kursor bergerak saat matanya melihat notifikasi E-mail masuk.


Mata itu bergerak mengikuti arah bacaannya. Semakin lama semakin melotot dan tangannya lagi-lagi terkepal. Kemarahan tampak tergambar jelas di manik abunya. Ia memukul meja sekuat tenaga dan menciptakan luka memar di tangannya. Tapi sama sekali tidak membuatnya meringis atau sekedar menyadari luka itu. Rasa sakitnya seperti tidak ia rasakan sama sekali karena amarahnya.


"Sialan! Dasar gak becus! Xil malah nyerang gue duluan. Gak! Gak bisa! Gue harus lakuin sesuatu. Gue gak mau hancur sendirian, tunggu kejutan gue Xil. "


Jarinya menari di atas keyboard laptop, mulai melakukan sesuatu yang bisa menjadi senjata mematikan untuk membalas Xilent. Dan akhirnya senyuman sinis itu menghiasi wajahnya.


"Kita lihat, apa yang bisa lo lakuin kalo gue ungkap ini ke media. Gue gak yakin lo terhindar dari kejaran media, Juan. "


Suara tawa terdengar, memenuhi setiap sudut ruangan yang masih saja terlihat remang-remang itu. Tangannya bergerak membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat. Setelahnya membuka botol itu, mengeluarkan pil yang lebih mirip permen karena bentuk dan motifnya dan akhirnya menelan pil itu sambil terpejam.


Semakin lama ia semakin menikmati reaksi obat itu. Rasa bahagia yang membuatnya tertawa tidak jelas dan kesadaran yang semakin hilang. Ia terlihat seperti orang gila atau mungkin orang mabuk. Matanya masih terus tertutup saat ia menghela nafas.

__ADS_1


"Kenapa lo sebodoh itu? Dari mana keberanian itu lo dapetin? Kenapa lo bikin rencana gue hancur? Kenapa lo bikin gue kayak gini, Chelsea? "


__ADS_2