
"Gimana, dok? Apa ini penyakit serius? "
Morin tampak tidak sabaran ingin mendengar jawaban seorang wanita berjas putih khas petugas medis yang sesaat lalu memeriksa dirinya.
"Saya benar-benar tidak menemukan hal yang aneh. Anda benar-benar dalam keadaan sehat saat ini. Gejala seperti ini sering terjadi pada orang yang terlalu banyak pikiran dan kurang istirahat. Saya sudah menulis resep obat untuk menghilangkan rasa sakit, silahkan ditebus. "
Terlihat jelas dari ekspresinya Morin merasa tidak puas. Ia yakin ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Tapi karena tidak ingin membuat keributan, Morin memutuskan untuk mengiyakan ucapan dokter dan beranjak pergi untuk menebus obat yang telah diresepkan. Setelahnya baru ia berniat untuk pulang.
Langkahnya membawa Morin ke basement rumah sakit tempat mobilnya diparkir. Setelah menemukan mobilnya, Morin segera masuk ke kursi kemudi. Morin termenung dengan pikirannya. Tangannya refleks menyentuh bandul kalung berbentuk bunga matahari yang dipakainya. Benaknya mengingat seseorang.
'Rian'
"Awh,,, ssh. " Morin meringis ketika jantungnya tiba-tiba berdenyut nyeri.
'Sebenarnya gue tuh kenapa? '
Morin bergegas mengeluarkan obat yang beberapa saat telah ia tebus. Untungnya Morin selalu menyediakan beberapa botol air mineral di mobilnya. Obat itu sudah tertelan dan rasa sakit yang dirasakannya tadi berangsur-angsur hilang. Nafasnya putus-putus dan keringat mulai membasahi keningnya setelah menahan sakit beberapa saat.
"Gak mungkin ini cuma karena banyak pikiran atau kurang istirahat. Kenapa perasaan gue mulai gak enak? "
Setelah beberapa saat menenangkan diri, Morin mulai mengemudikan mobilnya keluar basement rumah sakit. Lampu-lampu disepanjang jalan sudah mulai menyala dan menerangi jalan yang tidak terlalu padat itu. Langit sore semakin terlihat berwarna jingga. Matahari beberapa saat lagi akan kembali ke peraduannya. Dan laju mobil Morin terhenti karena lampu merah.
Mata Morin mengedar melirik papan iklan di pinggir jalan sambil menunggu lampu hijau. Merasa bosan, Morin menghidupkan radio dan memilih saluran yang ia sukai. Awalnya sebuah lagu diputar dan membuatnya mulai merasa tenang. Kemudian setelahnya Morin terkekeh sinis saat berita skandal itu mulai di bahas.
"Orang-orang ini, gak ada puasnya bahas satu masalah dari pagi sampai sore kayak gini. Dasar! "
Tangan Morin terulur hendak mengganti saluran saat tiba-tiba kakinya refleks menginjak rem karena terkejut. Tangannya yang belum sempat mengganti saluran radio itu tertahan di udara. Mobilnya berhenti di tengah jalan secara tiba-tiba. Beruntung jalanan sedang lengang. Tubuh Morin menegang dan wajahnya terlihat syok.
'Apa yang gue dengar tadi? Dia kenapa? '
...***...
Chelsea nampak terbaring lemah di ranjang ruang rawatnya. Selang oksigen terpasang di hidungnya setelah ia sesak nafas beberapa saat lalu. Dengan wajah pucat yang begitu kontras dengan rambut hitam legam miliknya. Di sofa sang ayah sudah menggantikan si pria untuk berjaga.
"Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? Jangan buat ayah khawatir terus. " Ucap sang ayah sambil menatap Chelsea yang masih terpejam dari sofa.
Sementara itu di luar ruang rawat Rian, Alex dan Octa nampak berdiri dengan gelisah. Rian tiba-tiba kritis dan membuat keduanya panik. Dari kejauhan seseorang nampak berjalan tergesa menghampiri mereka.
"Gimana Rian? "
Alex dan Octa sontak menatap Rico yang baru datang.
"Masih ditangani dokter. " Jawab Octa.
__ADS_1
Ketiganya nampak kalut.
"Kenapa bisa kayak gini, sih? "
Alex menghela nafas.
"Kita gak tau apa penyebabnya, tiba-tiba aja keadaan Rian memburuk. Padahal kata dokter pas pindah ke ruang rawat keadaan Rian udah stabil. " Jelas Alex dengan wajah murung.
Sementara Octa tertunduk sambil memejamkan mata. Air matanya ingin keluar tapi dengan cepat Octa menengadah.
'Kenapa, dek? Kakak mohon jangan menyerah, kakak mohon Rian. Kakak tau kakak pengecut, penderitaan ini karena kakak. Kakak tau, tapi tolong jangan kayak gini.'
Suara pintu terbuka berhasil mengalihkan perhatian mereka. Ketiganya sontak menoleh serempak. Rico bergerak cepat menghampiri dokter yang keluar dari ruang rawat Rian.
"Apa yang terjadi, dokter? Bagaimana keadaannya? " Tanya Rico tidak sabaran.
"Kondisi pasien memburuk, detak jantungnya melemah. Jika pasien ingin hidup dia akan bertahan. Tapi jika tidak ada keinginan hidup, mohon persiapkan diri kalian untuk kemungkinan terburuk. Kami sudah berusaha sebisa kami. "
Rico mematung sesaat sebelum masuk ke ruang rawat Rian. Di dalam Rico disambut perawat yang memintanya memakai pakaian yang telah ditentukan. Setelah pakaian itu terpasang di tubuh tegapnya, Rico berjalan pelan menghampiri Rian yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat penunjang hidup yang terpasang di tubuhnya. Wajah Rian sangat pucat.
Rico berdiri beberapa langkah dari ranjang. Belum lama menatap tubuh lemah Rian, Rico sudah memalingkan wajahnya sambil tertunduk. Sebelah telapak tangannya menutup kedua matanya yang mengalirkan air mata dengan deras.
Isak terdengar memenuhi ruang rawat itu. Sampai kedua lututnya tidak lagi mampu menopang berat badannya. Akhirnya Rico jatuh berlutut di lantai. Air matanya semakin deras. Berulang kali tangannya memukul-mukul dadanya pelan. Rasanya menyakitkan, hatinya ngilu.
Sementara itu di luar ruangan Alex langsung terduduk di kursi tunggu, tubuhnya lemas. Berbeda dengan Octa yang nampak masih berusaha mencerna apa yang ia dengar. Octa terlihat seperti orang linglung, dia mematung dengan pandangan kosong. Sampai sebelah tangannya terangkat menutup kedua matanya. Ia semakin tertunduk dengan sebelah tangan lainnya yang mengepal erat.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Alex mendongak saat suara itu mengagetkannya. Matanya membulat saat melihat Octa yang pasrah saat dipukuli Rico berkali-kali.
"Semua salah lo, brengsek! Lo yang salah, gara-gara lo! Rian menderita karena lo! " Teriak Rico sambil terus melayangkan pukulan pada Octa yang terlihat pasrah dengan tatapan kosong.
Alex dengan cepat melerai, berusaha memisahkan kedua sahabatnya saat Octa pun mulai membalas pukulan Rico sama bringas. Keributan itu membuat beberapa orang berkerumun. Karena kesulitan memisahkan Rico dan Octa, akhirnya Alex melayangkan pukulan untuk pertama kalinya pada kedua sahabatnya itu.
"Stop!! Lo berdua gak usah kekanak-kanakan! Lo berdua mau mati, hah?! Mau sok jagoan?! Sini lawan gue!! "
Untuk pertama kalinya juga Alex membentak kedua sahabatnya. Tidak ada Alex yang ramah hanya ada Alex yang penuh amarah saat ini.
"Udah! Cukup! Rian butuh kita, kalian harus sadar dengan hal itu. "
__ADS_1
Rico beranjak pergi meninggalkan Alex dan Octa dengan amarahnya tanpa peduli banyak kamera menyorot padanya. Sementara Alex membubarkan kerumunan dan Octa terduduk sambil bersandar ke dinding. Octa berteriak sambil mengacak rambut frustasi. Kemudian tertunduk saat air matanya benar-benar keluar.
Setiap isak tangis yang keluar dari mulutnya membuat hati Alex yang mendengarnya ikut ngilu. Alex melangkah mendekati Octa dan berjongkok di depan sahabatnya itu. Tangannya menepuk pundak Octa untuk memberi kekuatan.
'Apa yang sebenarnya gue gak tau tentang kalian? Kenapa kalian bisa saling menyalahkan? Pasti ada alasan, kan?'
...***...
Setelah berita skandal Rian dan Chelsea menjadi tranding topik di segala media pagi ini, jagat maya kembali dihebohkan dengan tersebarnya kabar kedua peran utama skandal itu sama-sama tengah terbaring di rumah sakit Xil Grup. Berkat kamera netizen, bukti mereka berdua yang tengah sakit tersebar luas. Banyak komentar dukungan bahkan cibiran untuk kabar itu.
Dan disinilah Morin berada, berdiri di samping Rian yang mungkin tidak menyadari kehadirannya. Setelah memaksa papanya memberikan izin, Morin akhirnya sampai di sini. Menatap Rian dengan pandangan terkejutnya. Tanpa sadar air matanya menetes, menciptakan sungai kecil di pipinya. Hatinya perih melihat pemandangan di depannya. Apalagi penjelasan Alex sebelum ia masuk ruangan benar-benar membuatnya hancur.
"Aku gak tau gimana aku menganggap kamu dalam hidup. Aku cuma tau, kamu itu berharga. Dengarkan ini baik-baik, sayang. Hiduplah untukku. " Ucap Morin sambil menggenggam tangan Rian.
Tiba-tiba sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Morin benar-benar merasa familiar dengan pelukan itu.
"Aku tau itu kamu, Babe "
"Jangan nangis, kamu nyakitin aku. " Ucap si pemilik tangan.
Tanpa mereka sadari, seorang pria dengan hoodie hitam yang menutupi kepalanya lengkap dengan masker yang menyamarkan identitasnya tengah menatap tajam ke arah mereka. Tangannya terkepal menahan amarah.
"Si brengsek itu harus benar-benar diberi pelajaran. "
Sementara itu dalam lelapnya Rian tengah duduk ditempat penuh darah. Tidak ada mayat, hanya darah yang menggenang sampai mata kakinya. Tatapannya kosong seperti tak ada roh yang mengisi raganya.
Tiba-tiba sebuah suara familiar memanggilnya dan membuat ia menengok ke segala arah mencari pemilik suara itu. Rian berusaha bicara tapi tidak bisa, berteriak sekuat tenaga pun tidak ada suara. Hanya batinnya yang mampu berteriak.
'Kakak! Kak Vian! Kakak! Kakak dimana?! Ini Rian! '
Tiba-tiba suara tawa terdengar. Semakin lama semakin keras dan memekakkan telinga. Rian menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, matanya terpejam erat. Ketika dirinya mulai tidak kuat bertahan, tangan dingin seseorang membantu Rian menutup telinganya.
"Hiduplah untukku."
Rian sontak mendongak untuk melihat si pemilik suara familiar lainnya. Wanita dengan senyuman meneduhkan itu menatapnya dengan manik berkaca-kaca. Senyuman itu membuat hatinya tenang dan tempat di sekitarnya berubah menjadi tempat berkabut. Tangan wanita itu hendak mengusap pipi Rian tapi ditepis kasar oleh tangan lain. Rian sontak menoleh. Wanita dengan manik bercahaya itu meraih telapak tangan Rian yang kemudian digenggam erat.
"Aku disini, kak Ian. Hiduplah untukku. "
Lidahnya ingin mengucapkan satu nama, tapi nama lain justru diucapkan hatinya.
'Morin'
Di ruang rawatnya Chelsea tiba-tiba bangun terperanjat dari tidurnya. Nafasnya tidak teratur. Tiba-tiba tangisnya pecah. Isak keluar dari mulutnya bersama air mata yang semakin deras turun dari matanya. Hatinya tiba-tiba ngilu dan membuatnya menangis sendirian tanpa alasan.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sakit banget? Kenapa? "