
Sampai hari beranjak siang langit masih mendung dan setia menjatuhkan rintik-rintik gerimis yang membasahi permukaan bumi. Bau aspal yang tersiram rintik gerimis sudah tidak lagi tercium.
Di balik jendela kaca yang berembun karena dinginnya udara tampak sepasang mata yang menatap kosong jalanan komplek perumahan yang sesekali dilalui kendaraan. Mata itu terpejam sesaat setelah pemiliknya menghela nafas.
"Mata lo gak bosan Liat keluar terus dari tadi? Padahal cuma gerimis, mending sekarang lo makan aja, Zoy. " Ucap Alex sambil menghampiri Morin yang tidak juga menoleh.
Wanita itu hanya berdiri di depan jendela kaca sambil melipat tangan di depan dada. Tampak sesekali mengusap-usap lengannya yang tidak tertutup kaos pendek yang tengah dipakainya.
Alex menatap sendu pada Morin dan mulai berjalan menghampiri teman kecilnya itu. Dengan tanpa bicara Alex mendekap Morin dari belakang . Tampak jelas Morin tersentak kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari temannya itu.
"Lo apa-apaan sih? " Tanya Morin sambil berusaha berontak dari dekapan Alex.
"Mendingan lo diem, gue tau lo kedinginan. "
"Gue emang kedinginan tapi lo gak usah modus. " Ketus Morin yang membuat Alex tertawa.
"Modus? percaya diri banget! " Kilah Alex sambil melepaskan dekapannya.
Morin berbalik dan langsung menatap tajam pada Alex. Ia mulai memasang wajah sombong sambil melipat tangan di depan dada.
"Ngaku aja lah, gue tuh emang body goals dan pasti lo sengaja cari kesempatan tepe-tepe. " Tuduh Morin membuat Alex tertawa lebih keras.
Alex sampai memegangi perutnya dan sebelah tangannya bertumpu pada sofa di dekatnya. Morin tampak kesal karena Alex menertawakannya.
"Sakit perut gue, ngapain juga gue tepe-tepe? Gue udah sering liat lo ... ehm! . "
Morin spontan mencubit pinggang Alex yang tertutup sweater.
"Sembarangan banget ya kalo ngomong. "
"Tapi bener, kan? "
"Itukan pas kita masih kecil, jangan sampek ada yang dengar terus salah paham. "
"Apa yang gak boleh didengar? Apa yang bisa bikin salah paham? "
Morin dan Alex sontak menoleh. Di ambang pintu tampak Bee tengah berdiri dengan pakaian yang menutupi identitasnya. Tangannya menenteng tote bag yang tampak terisi benda yang lumayan berat.
__ADS_1
"Eh! Babe? Kenapa gak kasih kabar kalo mau ke sini? " Tanya Alex sambil berjalan menghampiri kekasihnya.
Mereka berpelukan sesaat dan mengambil alih tote bag yang ditenteng Bee. Sementara Morin beranjak pergi ke arah sofa dan duduk di sana.
"Jadi sekarang aku harus kasih tau dulu kalo datang ke sini? "
"Nggak gitu, Babe. Sekarang kan lagi musim hujan, maksudnya kalo kamu kasih tau aku, nanti aku bakal jemput kamu. Jadi kamu gak harus repot-repot nyetir sendiri. " Jawab Alex sambil menaruh tote bag di atas meja yang ada didekatnya.
Morin berdecak sebal mendengar ucapan Alex.
"Gak usah dipercaya, bohong tuh. " Tuduh Morin tiba-tiba dan langsung mendapatkan delikkan tajam dari Alex.
Dan Bee hanya menghela nafas sambil duduk di sofa menemani Morin yang sudah bermanja-manja dengan kehangatan sofa. Dengan cemberut Alex memaksa duduk di antara kedua wanita itu.
"Ih! Kamu apaan sih, Babe? " Tanya Bee.
"Sempit woy! " Protes Morin setelahnya.
Tapi Alex tetap cuek dan memaksa duduk di sofa yang memang diperuntukkan bagi dua orang itu. Setelahnya dengan usil menggeser Morin dan membuat ruang luas untuknya dan Bee.
"Dasar orang dewasa! " Gumam Sunny yang masih bisa didengar Ara.
Ara menoleh dengan wajah terkejut. Nada ketus Sunny berhasil membuat Ara heran dan kaget. Tak lama Sunny pun membalas tatapan heran Ara dengan wajah datar.
"Kenapa? " Tanya Sunny tanpa merubah ekspresinya.
"Gak, gak papa. "
Di lain tempat Octa tengah duduk di gazebo mansion keluarga Megardante. Secangkir teh di atas meja masih mengepul. Tapi ia tampak tidak memiliki minat untuk menyentuh teh itu.
Tubuhnya bersandar di sofa yang ia duduki dan matanya menatap langit mendung dengan sendu. Beberapa kali ia menghela nafas dan membuat beberapa pelayan merasa khawatir.
"Kenapa? Kenapa kalian pergi secepat ini? "
Octa memejamkan matanya untuk menahan air mata yang hampir jatuh. Tak lama seorang pria berjas datang dan membungkukkan badan sesaat memberi hormat padanya.
"Maafkan saya Tuan, anda harus segera mengurus perihal harta milik Tuan Megardante. Pengacara keluarga akan datang besok. "
__ADS_1
Octa menghela nafas dan tampak berpikir sesaat.
"Katakan pada pengacara, jangan datang besok, suruh dia datang minggu depan. Saya butuh waktu untuk menenangkan diri. "
Dengan patuh pria itu mengiyakan perintah Octa dan setelahnya membungkukkan badan sebelum akhirnya melenggang pergi. Octa tampak menghela nafas sembari menggapai cangkir teh di atas meja.
Perlahan ia menyesap teh yang mulai dingin dan menikmatinya sambil memejamkan mata. Angin dingin berhembus pelan dan membuat ia merinding. Dengan cepat ia mengeratkan selimut yang sejak awal menutupi sebagian tubuhnya.
Tiba-tiba handphonenya yang tergeletak di atas meja bergetar dan membuat sebelah alis Octa terangkat. Ia penasaran dengan orang yang punya keberanian mengganggu waktunya menenangkan diri.
Dengan cepat tangannya terulur untuk menggapai handphone. Beberapa pelayan tampak penasaran tapi jelas mereka menahan diri untuk mencari tau. Mereka mencari aman dengan memperhatikan ekspresi tuannya yang justru membuat mereka kebingungan.
Pasalnya sang tuan seperti mengerti rasa penasaran mereka dan dengan sengaja berekspresi datar saat membaca pesan masuk di handphonenya. Beberapa dari pelayan yang penasaran hanya bisa menghela nafas.
Octa beranjak dari duduknya dan mencampakkan selimutnya begitu saja di atas sofa. Setelahnya ia berjalan masuk ke mension dengan handphone dalam genggamannya. Para pelayan tampak saling menatap sebelum kemudian beberapa berjalan mengikuti tuannya.
Langkah Octa mengantarnya keluar melewati pintu utama mansion. Tampak sebuah mobil sedan hitam terparkir bersama seorang pria seusianya yang mulai beranjak saat mata mereka beradu pandang. Saat jarak mereka menipis, sebelah alis Octa nampak terangkat.
"Gak usah sok ngartis bisa kan? " Celetuk Octa membuat pria itu tertawa garing.
"Ini fashion, bro. "
"Iya, fashion lo bikin sakit mata. " Ketus Octa sambil nyelonong masuk ke dalam mobil meninggalkan pria yang nampak tidak habis pikir dengan kelakuannya.
Si pria memberi kedipan mata genit pada pelayan wanita yang sesaat lalu mengikuti Octa. Pelayan itu tampak tersipu dan membuat si pria lagi-lagi tertawa sebelum menyusul Octa masuk ke dalam mobil.
Menit berikutnya mobil itu melaju keluar kawasan mansion diikuti tatapan dingin dari Ran yang tengah berdiri di dekat jendela kaca besar mansion. Jendela itu mengarah langsung ke gerbang mansion dan membuat Ran leluasa melihat mobil yang ditumpangi Octa keluar.
Sementara itu Octa hanya duduk diam di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu. Ia tampak tidak terkejut saat mobil itu membawanya melewati jalanan tanah berbatu hingga sampai di sebuah bangunan cukup mewah di tengah hutan yang cukup lebat.
Setelah mobil itu berhenti, dengan santai Octa keluar dan otomatis memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celana saat merasakan udara disekitarnya yang lebih dingin dari pada udara di mansion.
Matanya menatap rumah mewah yang tampak terurus itu sebelum kemudian melangkah masuk diikuti si pria di belakangnya. Sepanjang jalan Octa hanya memasang wajah datar tanpa sedikit pun berniat untuk bicara. Langkahnya yang tegas jelas menunjukkan bahwa tempat itu tidak lagi asing untuknya.
Dan langkahnya sontak terhenti saat telah mencapai tempat yang dituju. Di hadapannya seorang wanita muda langsung menayangkan sebuah video yang membuat Octa menyeringai.
"Bodoh! Berpikir bisa mengintimidasi itu kebodohan. "
__ADS_1