
Syuting seharusnya sudah dimulai beberapa saat yang lalu jika saja semua aktornya datang tepat waktu ke lokasi yang telah ditentukan. Sutradara tampak beberapa kali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sambil menggerutu.
"Rian! Si Rico mana nih?! Udah ngaret banget. "
Pria dengan surai coklat yang dipanggil Rian itu sontak mengalihkan pandangannya ke sutradara yang melayangkan pertanyaan padanya. Belum sempat ia menjawab, orang yang ditanyakan datang bersama managernya yang notabene adalah sahabatnya sendiri.
"Nah! Orangnya dateng. " Sahut Rian menunjuk seorang pria berwajah tegas yang diikuti seorang pria berwajah ramah dengan dagunya.
Kedua pria itu menghampiri sutradara dan sahabat mereka yang tengah memasang wajah kesal. Si sutradara memijat pangkal hidungnya mendapati kelakuan kedua aktor yang selalu dibanggakannya itu.
'Kalo gak dibayar, males banget gue berurusan sama nih dua orang aneh. Pasti ngelunjak nih gara-gara gue puji-puji'
"Gue tau lo orang sibuk, Rico. Langsung mulai aja. " Ucap si sutradara jengah.
Pria berwajah tegas yang dipanggil Rico itu dengan santai melenggang bersiap untuk syuting. Sementara Rian malah asyik sendiri mengajak manager Rico yang adalah sahabatnya itu bergosip ria bak emak-emak komplek.
"Rian! " Tegur sutradara membuat Rian ngacir mendekati Rico yang sudah di posisinya.
"Oke, shut up everyone! Kamera, rolling, action! "
Rico dan Rian mulai berakting. Adegan kali ini memperlihatkan Rian yang tengah berdiri ditembok pembatas loteng rumah berlantai 3.
"Stop! Jangan nekat! "
Teriak Rico yang datang bersama seorang pemeran lainnya dengan nafas yang putus-putus seperti habis berlari.
"Why? Kamu suka kalo kakak mati, kan? You should thank me that i was kind enough to allow you to see my death. "
"Gak usah ngada-ngada, turun sekarang! " Teriak seorang pemeran lainnya di samping Rico.
Rian malah tertawa miris sementara Rico mengepalkan tangannya menahan gengsi untuk sekadar kembali mencegah kakaknya untuk bunuh diri.
"Sialan! Payah! " Umpat Rico dengan mata berkaca-kaca.
"I know you strong, " Ucap Rian sebelum kemudian membiarkan tubuhnya terhuyung jatuh dengan mata terpejam dan senyuman.
"No! " Teriak Rico yang langsung berlari berusaha menggapai Rian tapi tak sampai karena jarak mereka yang terlalu jauh.
Rico mematung bersama seorang pemeran lain dibelakangnya. Tapi tiba-tiba matanya menyiratkan keterkejutan yang kentara. Tampak sangat panik saat ternyata tali pengaman yang terikat di pinggang sahabatnya itu putus ketika Rian masih berjarak 2,5 meter dari matras.
Posisinya yang tidak siap membuat Rian jatuh dengan kaki kanannya saja dan berakhir menindih lengan kanannya. Beberapa staf wanita memekik kaget dan sutradara langsung menghampirinya yang mengerang kesakitan bersama staf medis.
Sementara itu Rico langsung berlari menuruni rumah berlantai 3 itu untuk menghampiri sahabatnya setelah meredakan keterkejutannya. Nampak kepanikan di wajah tegasnya. Tidak jauh berbeda dengan kedua pria bersifat saling bertolak belakang yang baru keluar dari mobil.
"Astaga! Rian! " Teriak salah satu pria yang berwajah ramah.
Sementara satu pria lainnya yang berwajah jutek langsung berlari menghampiri sahabatnya. Disusul pria berwajah ramah yang belum habis dengan keterkejutannya.
Para staf medis buru-buru membawa Rian yang masih mengerang kesakitan menggunakan tandu menuju mobil ambulans. Rico hendak ikut masuk kedalam mobil ambulans jika saja pria berwajah jutek tidak mencegahnya.
__ADS_1
"Lo diem di sini! " Ucap pria berwajah jutek sambil menepuk pundak Rico.
Rico yang nampak masih panik baru saja akan menyanggah saat suara pria berwajah ramah menginterupsi.
"Lo masih harus syuting, gue sama Octa yang nyusul ke rumah sakit. "
Rico menghela nafas.
"Oke, jangan lupa kabarin gue yah, Lex. "
Pria ramah yang dipanggil Alex itu mengangguk pasti. Sementara pria jutek yang dipanggil Octa menepuk pundak Rico pelan.
" Balik sana! "
Rico mengangguk kemudian kembali ke lokasi syuting sementara Octa dan Alex bergegas memasuki mobil untuk pergi ke rumah sakit menyusul Rian.
...***...
Arloji di pergelangan tangannya membuat atensi Octa beberapa kali melirik dengan khawatir meski netra kelamnya tidak sedikitpun menyiratkan kekhawatiran itu. Jarum jam menunjukkan pukul 21.11 WIB.
Sudah lebih dari 3 jam berlalu pasca operasi Rian selesai. Tapi sahabatnya itu belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Benaknya memutar ingatan pada perkataan dokter setelah operasi dilakukan.
"*Saya menemukan pendarahan di otak pasien, kemungkinan kepalanya terbentur dengan keras. Anehnya pendarahan itu sepertinya terjadi sebelum kecelakaan yang membuat tulang kaki kanannya retak dan tulang lengan kanannya patah seperti sekarang ini. "
"Apa beberapa hari kebelakang pasien pernah mengalami kecelakaan lain atau benturan keras? Karena jika dilihat dari kondisinya saat ini, pendarahan di otaknya tidak mungkin bisa membuatnya bertahan selama ini jika ternyata penyebabnya terjadi beberapa minggu kebelakang* "
Octa hanya menggeleng dengan wajah terkejut.
"Untuk mengetahui hal itu kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah pasien pulih. Saya sangat menganjurkan pasien untuk bedrest selama beberapa bulan sampai keadaannya benar-benar pulih dan hasil pemeriksaan telah dipastikan aman"
Setelahnya mereka keluar dari ruang dokter dengan wajah sendu. Alex menepuk pundak Octa untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Gue ngerasa jadi sahabat yang payah, gue bahkan gak tau kalo selama ini Rian gak baik-baik aja. Padahal dia selalu berusaha bikin kita ketawa. "
Alex tersenyum.
"Dia bakal baik-baik aja, Rian pasti bakal ketawa bareng kita lagi. "
Octa menghela nafas.
"Saat itu terjadi, gue bakal bener-bener nemenin Rian ketawa. Gue gak sanggup kalo harus lihat perubahan Rian setelah ini. "
"Gue tau, lo emang jutek. Tapi, lo yang paling peduli diantara kita berempat. "
Octa beranjak dari sofa dan berjalan mendekati ranjang tempat Rian terbaring. Ada perban yang melilit di kepalanya dan gips yang terpasang di lengan kanan dan kaki kanannya.
Beberapa alat terpasang di tubuh Rian yang jelas terlihat lemah itu. Rasa lelah tergambar jelas di wajah Rian yang masih terbaring dengan mata terpejam. Octa berdiri menatap Rian dengan tatapan tak terbaca.
"Capek yah, Dek? Tidur yang nyenyak. Dunia gak pernah adil kan sama lo? Maaf kalo kakak gak pernah peduli, kakak belum siap jujur. Lihat lo betah jadi sahabat gue dan bisa ketawa selepas itu, gue gak sanggup harus kehilangan semua itu kalo gue jujur. "
__ADS_1
Octa menghela nafas kemudian menengadah mencegah air mata lolos dari mata kelamnya.
"Gue egois, kan? Gue gak sanggup, gue pengecut. Kalo lo denger ini, gue mohon maafin gue. Lo denger? Gue gak sanggup lihat lo kayak gini, dek. Gue takut. "
Tubuh Octa tampak lemas. Dia berjongkok di sebelah ranjang Rian sambil menutup kedua mata kelamnya dengan telapak tangan saat air mata dengan lancang menghancurkan citra juteknya.
Isak pilu terdengar menyayat hati. Suara itu berhasil menghentikan langkah seorang pria yang hendak masuk ke ruang rawat Rian. Tangan si pria tampak terkepal menyiratkan kemarahan.
Masker hitam dan kepala yang tertutup hoodie membuat pria itu sulit dikenali. Pria yang lantas mengurungkan niatnya untuk masuk dan malah melenggang menjauhi ruang rawat Rian.
"Brengsek! Selalu gue yang harus turun tangan, pengecut! "
Umpatan pria itu berhasil mengalihkan atensi Alex yang berpapasan dengannya tidak jauh dari ruang rawat Rian. Alex sempat menghentikan langkahnya saat merasa familiar dengan pria misterius itu.
Kedua alisnya menukik saat mencoba memperhatikan pria misterius yang berjalan semakin menjauhinya. Dengan segera Alex mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang saat pikirannya tertuju pada seseorang.
"Hello, Rico. Lo dimana? "
Sorry, Lex. Gue pengen banget ke sana, tapi syuting belum beres. Rian gimana? Baik-baik aja, kan?
"Rian baik. Emang belum sadar dari pas operasinya beres. Tapi, sejauh ini gak ada yang harus kita khawatirkan. Lo harus jaga kesehatan, jangan sampai masuk sini juga. "
Rico terkekeh sebelum membalas ucapan Alex dengan narsis.
Penyakit malu sama orang ganteng, virus sama bakteri pasti terpesona sama kegantengan gue yang tiada tara ini.
"Ganteng menurut bakteri aja sombong, udahlah! Cari duit lagi aja yang rajin biar gaji gue cepat naik. Lo kan pelit soal duit. "
Gue turunin juga gaji lo! Gue tuh terlalu kaya, duit gue kebanyakan. Bingung gue buangnya harus kemana.
"Nah! Buang aja ke gue, gue ikhlas mulung duit lo. Lo kaya tapi pelitnya keterlaluan. "
Itu namanya ngirit, Bro. Kalo gue naikin gaji lo terus gue miskin, lo mau ngurus anak cucu gue? Tujuh turunan gue ikhlas lo urusin.
"Gue yang gak ikhlas ngurus anak cucu lo. Ngakunya terlalu kaya, naikin gaji gue doang kagak bisa. " Ejek Alex yang mematahkan sikap narsis Rico.
"Udahlah! Kerja lagi sono! Makan dulu! Lo rese kalo lagi lapar. "
Situ lagi iklan? Masnya peka banget deh, jadi terharu.
"Gak waras emang! Jauh-jauh lo dari gue! "
Rico kembali tertawa di seberang sana. Kemudian setelahnya panggilan telepon terputus. Sebelum memasukkan kembali handphonenya ke saku celana, Alex mengirim pesan kepada seseorang.
Tidak lama balasan masuk ke handphonenya menyebabkan dentingan yang berhasil mengalihkan atensinya. Setelahnya Alex menghela nafas lega kemudian masuk ke ruang rawat Rian.
Di sisi lain sebelah sudut bibir seseorang tertarik menciptakan seringai misterius sambil menurunkan handphonenya yang semula tertempel di telinga. Ruang remang-remang itu sukses menyembunyikan identitasnya.
Cahaya yang menyelinap lewat celah jendela hanya berani menyorot bibirnya yang menyeringai dengan misterius itu. Tapi siluetnya menggambarkan sosok yang pantas dipuji. Masker hitam kembali ia pakai sebelum kemudian berkata dengan amarah yang tertahan.
__ADS_1
"Sangat konyol! Lo semua harus lihat cara main gue. "