
Alex menatap air hujan yang berjatuhan membasahi rerumputan taman. Ia tengah duduk di kursi salah satu gazebo taman belakang sekolah Chelsea yang beberapa saat lalu masih dipenuhi banyak orang. Matanya terpejam menikmati dinginnya angin malam dan menghela nafas sesaat sebelum kemudian beranjak dari duduknya.
Melihat hujan yang mulai reda Alex memasukan telapak tangannya ke dalam saku celana dan mulai mengambil langkah meninggalkan gazebo. Sama halnya dengan beberapa orang yang tersisa di taman itu.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya menangkap keberadaan mobil yang tidak asing untuknya. Alex mengernyit saat benaknya menciptakan beberapa pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
"Gue gak salah liat, kan? Kalo dia datang, kenapa gak nemuin Chelsea? Masa iya ada orang sebodoh itu? "
Setelah pusing bermonolog Alex memutuskan menghampiri mobil itu dan mengintip ke dalam mobil. Tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat Raja yang tampak tidak sadarkan diri dengan pakaian kotor dengan noda darah dan tanah. Dengan cepat Alex membuka pintu mobil Raja yang beruntungnya tidak terkunci.
"Ya ampun! Raja! Raja! "
Alex beberapa kali menepuk pelan pipi Raja, tapi tidak ada respon. Akhirnya dengan sedikit kesulitan Alex bisa memindahkan Raja ke kursi penumpang di sebelah kursi kemudi. Setelahnya Alex duduk di kursi kemudi dan memasangkan sabuk pengaman pada Raja.
Alex merogoh handphone dari saku celananya dan menelpon seseorang.
"Bawa mobil pulang, saya ada urusan. Jika Tuan Besar menanyakan saya, katakan saja kalau saya ada urusan di luar. " Titahnya pada seseorang di seberang panggilan.
Setelah menutup panggilan Alex langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Di kejauhan tampak seseorang tengah memperhatikan tindakan Alex. Hoodie, topi dan masker masih menyembunyikan identitasnya. Ia bersandar pada dinding kemudian menghela nafas.
...***...
"Vian, besok ayah sama mamah harus pergi keluar kota. Kamu ingin ikut atau tetap disini? Biar sekalian liburan juga. "
Keempat anggota keluarga Megardante tengah berkumpul menikmati camilan dan teh di gazebo taman mansion. Obrolan hangat kedua pasangan Megardante dan putra sulung mereka berbanding terbalik dengan ekspresi dingin yang ditunjukkan si bungsu. Anak laki-laki berusia 12 tahun itu hanya sibuk dengan camilan dan tehnya.
"Aku ada jadwal syuting sama pemotretan minggu ini, jadi kayaknya enggak bisa. "
"Lagian Ran juga gak ikut, kan? " Lanjut Octa membuat Ran memutar bola mata jengah.
Belum sempat sang ayah kembali bicara Ran sudah lebih dulu menyahut.
__ADS_1
"Kalo gak mau ikut gak usah bawa-bawa aku jadi alasan. " Ketus Ran kemudian beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
Sang ayah menghela nafas. Sikap putra bungsunya semakin dingin dan membuat ia merasa terbebani.
"Gak papa, Yah. "
"Tapi gak mungkin ayah biarin Ran terus bersikap seperti itu, Vian. Ayah sendiri juga sejujurnya merasa terbebani dengan sikap adik kamu itu. "
"Gak papa, Yah. Ayah jangan sampai sakit gara-gara mikirin ini, biar Vian yang cari cara buat bikin Ran kayak dulu lagi. Ayah jangan khawatir, mamah juga. " Ucap Octa berusaha menenangkan kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya tersenyum dan Octa pun ikut tersenyum. Setelahnya obrolan hangat kembali tercipta diantara ketiganya. Sesekali mereka tertawa bersama karena lelucon yang saling terlontar, kadang juga obrolan mereka diselingi mengunyah cemilan dan menyeruput teh.
Tiba-tiba handphone Octa yang tergeletak di meja bergetar menandakan panggilan masuk. Octa melihat nama yang tertera di layar handphone dan langsung menjawab panggilan masuk itu.
"Iya, kenapa? "
Lo masih nanya kenapa? Heh! Lo ada pemotretan setengah jam lagi, lo dimana sekarang? Jangan bilang lo masih di rumah, gue mutilasi juga lo!
Octa tertawa mendengar omelan managernya.
Sialan lo! Sengaja yah mau bikin gue darah tinggi? Pokoknya lo gak boleh telat, awas aja lo!
"Oke, lo kalo terus ngomel sama gue, malah jadi telat beneran, udah diam! Gue berangkat sekarang. "
Tanpa menunggu tanggapan dari managernya Octa langsung menutup panggilan. Setelahnya berpamitan pada kedua orang tuanya dan berangkat menuju lokasi pemotretan.
Mobil sport Octa melaju di jalanan padat kota dengan kecepatan tinggi. Melewati beberapa papan iklan yang memajang fotonya. Ya, dia adalah aktor pendatang yang namanya tengah melejit beberapa bulan ini.
Papan iklan di pinggir jalan dengan berbagai ukuran itu membuat Octa tersenyum sepanjang jalan menuju lokasi. Octa sudah hampir sampai ke lokasi saat ia nyaris menabrak seseorang yang berlari ke depan mobilnya.
Nampak dahi Octa memar karena membentur stir. Ia beberapa saat meringis sebelum mulai menggerutu kesal karena kesialan yang tengah ia hadapi.
"Siapa sih orang tadi? Sembarangan lari-lari di jalan. " Gerutu Octa sebelum kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Ah, sial! " Umpatnya sebelum kembali mengemudikan mobilnya.
Lima menit kemudian ia sampai di lokasi dengan selamat. Sang manager dengan tubuh sedikit gempal berlari tergesa-gesa menghampirinya. Kemudian langsung menyeretnya sambil mengumpat.
"Lo benar-benar bikin gue darah tinggi, gak usah ngomong apapun. Cepat ganti baju. " Ucap si manager saat mereka sampai di ruang rias.
Dan tanpa banyak bicara Octa langsung masuk ke ruang ganti.
"Kenapa gue dulu mau jadi manager nih orang sih? "
Sementara itu Alex hari ini kembali mendatangi rumah sakit yang ia datangi semalam. Rumah sakit itu tempat Raja dirawat sekaligus tempat mama Raja bekerja sebagai perawat.
Alex berjalan di Koridor rumah sakit menuju ruang rawat Raja. Saat sampai ia langsung saja masuk ke dalam ruang rawat dan mendapati mama Raja tengah duduk di kursi samping ranjang dimana Raja terbaring tak sadarkan diri.
Mama Raja menyambut kedatangan Alex dengan hangat. Wanita paruh baya itu begitu berterima kasih pada Alex dan memperlakukan Alex dengan sangat baik sejak semalam.
"Saya benar-benar berterima kasih sama kamu, saya gak tau gimana jadinya kalo kamu tidak menemukan anak saya. "
Alex tersenyum.
"Tante gak perlu seperti ini pada saya, ini sudah jadi kewajiban saya menolong Raja sebagai sesama manusia. " Balas Alex membuat mama Raja tersenyum.
Setelahnya Alex menatap Raja yang masih terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit dengan perban yang membalut kepala dan punggungnya. Semalam Raja menjalani dua operasi besar pada kepala bagian belakang dan tulang belakangnya. Alex bahkan sempat bergidik membayangkan bagaimana penganiayaan yang dialami Raja sampai harus menjalani dua operasi besar sekaligus.
Alex melangkah mendekati ranjang yang ditempati Raja dan berdiri di samping ranjang itu dengan tatapan sendu. Sekilas kenangan berputar di benak Alex dan membuat Alex menghela nafas.
Alex berlari dengan linglung mencari dokter yang menangani Rian. Pikirannya kacau karena lagi-lagi terbayang kejadian beberapa saat yang lalu. Rian kejang-kejang dan memuntahkan banyak darah tepat di hadapannya dan ia tidak bisa melakukan apapun selain berlari mencari dokter.
Karena pikirannya yang kacau Alex jadi bingung sendiri. Ia berhenti sejenak dan mulai menenangkan dirinya sendiri sebelum kemudian kembali mencari dokter dengan pikiran yang sedikit lebih jernih. Sampai akhirnya ia menemukan dokter yang dicari dan langsung memberitahukan keadaan Rian.
Dokter segera berlari bersama Alex dan beberapa perawat menuju ruang rawat Rian. Diperjalanan Alex menyesali kebodohannya yang melupakan bel darurat di kamar rawat Rian. Dan saat sampai di ruang rawat ia hanya sempat melihat wajah sahabatnya yang sudah sangat pucat karena kemudian hanya diperbolehkan menunggu di luar ruang rawat.
Alex memejamkan mata saat merasakan ngilu di hatinya. Kenangan itu benar-benar menyakitkan untuk ia ingat dan entah mengapa ia kembali merasakan rasa sakit itu saat melihat kondisi Raja.
__ADS_1
"Semoga lo bisa sembuh, Raja. Gue bakal ngerasa bersalah kalo ternyata apa yang gue lakuin sia-sia. Entah siapapun lo, gue ngerasa ada Rian dalam diri lo. "
'Seperti jiwa yang sama dalam lain raga. โ