
"Arian Narra Megardante. "
"A-arian? " Tanya Octa dengan keterkejutan yang kentara.
Melihat reaksi Octa membuat managernya mengernyit. Sementara sutradara hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Octa.
"Kenapa? Lo kenal? " Tanya manager membuat Octa sontak menoleh.
"Kenapa lo bisa mikir kayak gitu? "
Ditanya begitu Octa malah balik bertanya dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin.
"Ya, lo kenapa kayak kaget gitu pas dengar nama Rian? " Tanya manager lagi tidak mau kalah.
"Gue? Enggak papa. "
Manager masih tidak yakin dengan jawaban Octa tapi ia memilih tidak memperpanjang perdebatan kecil mereka.
"Tapi gue setuju sama lo, Bang. Rian itu emang aktor yang keren banget, dia bisa nyanyi, bisa akting, bisa ngelawak dan dari yang gue dengar, Rian juga jago dance. Perfect banget! " Puji manager panjang lebar.
"Sayang banget orang berbakat kaya gitu gak dikasih umur panjang. "Ucap sutradara menyayangkan kepergian Rian.
Octa hanya terdiam mendengar obrolan sutradara dan manager yang terus saja memuji Rian. Lama kelamaan ekspresi wajahnya berubah menjadi jengah.
"Dari yang gue dengar ni Bang, katanya sih Rian meninggalnya itu gara-gara depresi karena skandal dia itu loh. Yang katanya dia pacaran sama putrinya bos besar agensi, kan sempat juga dia dikira masuk agensi pakai jalan yang gak sehat. "
"Wah, emang gila yang nyebarin tuh skandal, bisa-bisanya benci sama orang sebaik Rian. " Ucap sutradara kesal.
Tiba-tiba Octa pergi tanpa pamit dan membuat sutradara dan managernya mengernyit.
"Lo mau kemana, woy?! Bentar lagi syutingnya mulai. "
Mendengar teguran manager tidak membuat Octa menghentikan langkahnya.
"10 menit, gak lebih. " Balas Octa sambil tetap berjalan menjauh.
Manager menghela nafas. Sementara sutradara terkekeh melihat manager yang terlihat menanggung beban berat.
"Sabar, emang aktor di umur segitu tuh pas susah banget diatur. " Ucap sutradara membuat manager lagi-lagi menghela nafas.
"Gue bisa mati muda Bang kalo terus-terusan ngurusin dia, kalo gak digaji gede sama dia gue ogah jadi manager. "
Sutradara hanya menepuk-nepuk pundak manager saat mendengar keluh kesah pria bertubuh agak gemuk di hadapannya itu.
__ADS_1
"Bersyukur aja karena lo masih digaji. "
Sutradara tertawa sementara manager hanya bisa menghela nafas berulang kali. Setelahnya mereka tampak berpisah dan kembali menjalankan tugas masing-masing.
Sementara itu Octa tengah berjalan menuju mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman, Octa tampak mengeluarkan handphonenya dari saku celana. Sesaat kemudian ia menelpon seseorang.
"Dimana? " Tanya Octa to the point saat panggilan tersambung.
Gak usah ganggu, kak. Nanti aja lah.
"Gak bisa, harus malam ini di kafe dekat lokasi syuting. " Putus Octa dengan tegas.
Oke, oke, tapi ada imbalannya dong.
"Datang dulu, imbalan itu masalah gampang. "
Perdebatan kecil antara adik kakak itu selesai dengan kesepakatan yang saling menguntungkan. Setelahnya Octa memejamkan mata sambil menghela nafas. Ia duduk bersandar dengan nyaman di dalam mobil.
'Jangan mempersulit hidup kakak, Rian. Jangan membuat kebaikan kakak jadi sia-sia. '
Air mata Octa dengan tiba-tiba merembes dari matanya yang tertutup. Dan ia membiarkan air mata itu mengering di pipinya. Ia baru membuka matanya saat sadar telah pergi dari lokasi cukup lama.
Setelah menghela nafas ia mengusap wajahnya dengan kasar dan keluar dari mobil. Handphone miliknya ia tinggalkan di dalam mobil dan langkah kakinya membawa ia kembali ke lokasi syuting.
"Pakai dulu nih! Masih ada waktu agak lama sebelum syuting mulai lagi. " Ucap manager sambil menyodorkan mantel pada Octa.
Octa menerimanya tanpa banyak bicara dan langsung memakainya karena udara semakin dingin. Manager meninggalkannya dan menghampiri kru sementara Octa berjalan menuju kursi yang disediakan untuknya.
Beberapa saat kemudian seorang kru memberinya secangkir kopi panas dan Octa menerimanya dengan senang hati. Octa menatap intens cangkir kopi yang ada dalam genggamannya.
'Setelah semua yang gue dapat, semua yang gue korbankan, gak mungkin gue lepasin dengan begitu mudahnya. '
...***...
Pagi ini matahari bersinar terang dan di ruang rawatnya Raja tengah duduk di kursi roda sambil menatap sang mama yang tengah membereskan barang-barangnya. Setelahnya ia menatap sekeliling ruangan dan matanya menangkap keberadaan sebuah pensil dan buku gambar di atas meja.
Tangannya menggapai buku gambar itu dan membuka lembaran demi lembaran. Sampai akhirnya ia menemukan yang ia cari. Sebuah gambar bunga lavender yang nampak abu-abu baginya.
Lembaran dengan gambar bunga lavender itu ia pisahkan dari buku gambar dan ia simpan di atas ranjang yang telah rapi. Setelahnya ia menyodorkan buku gambar dan pensil miliknya pada sang mama agar dimasukkan ke dalam tas.
Pagi ini juga Raja akan berangkat keluar negeri untuk berobat. Keputusan ini tampak sangat membebaninya. Tampak jelas terlihat di matanya tersirat kesedihan. Tapi meski begitu ia enggan membatalkan keputusannya.
Tiba-tiba Alex datang dan menyapa mama Raja dengan hangat. Ia menghampiri Raja dan menepuk pundak Raja sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jaga diri lo di sana. Kalo lo butuh gue, lo bisa kabarin gue kapanpun. " Pesan Alex membuat Raja ikut tersenyum.
"Makasih banget, Kak. "
Alex hanya membalas dengan senyuman. Setelahnya beranjak menghampiri mama Raja dan membantu wanita paruh baya itu membawa barang-barang Raja yang hanya dikemas ke dalam sebuah tas.
Mama Raja tersenyum kemudian berjalan menghampiri Raja dan mendorong kursi roda putranya itu keluar dari ruang rawat. Dibelakangnya Alex berjalan mengikuti keduanya sambil menenteng tas. Mereka berjalan menuju lift yang jaraknya lumayan dekat dari ruang rawat Raja. Hanya menghabiskan sekitar lima menit dan mereka sampai di depan lift.
Sementara itu Chelsea tengah berjalan di Koridor rumah sakit. Ia sekarang dalam perjalanan menuju ruang rawat orang keempat yang namanya Raja. Dibelakangnya Saka yang sejak awal dalam keadaan sehat malah terlihat kewalahan mengimbangi langkah Chelsea.
Ia beberapa kali menyesali keputusannya menuruti permintaan Chelsea. Sayangnya Saka sudah terlanjur janji. Dan Saka menepati janjinya dengan menemani Chelsea sekarang meski terpaksa.
Sampai di ruang rawat yang dituju Chelsea lagi-lagi kecewa. Karena ternyata pasien di ruang rawat itu sudah keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Dan jelas sekali kalau itu bukan Raja yang ia cari.
Chelsea keluar dari ruang rawat itu dengan kecewa. Saka yang melihatnya hanya bisa mengernyit heran dengan sikap Chelsea. Karena yang ia tau, Chelsea sangat menghindari orang bernama Raja itu sejak masih SMP.
"Abang masih gak habis pikir sama apa yang kamu lakukan sekarang, my angel. Kenapa kamu cari dia sekarang? Bukannya dari dulu kamu sangat menghindarinya? " Tanya Saka heran.
Chelsea langsung menoleh pada Saka.
"Abang tau kenapa aku selalu menghindari dia? "
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Saka semakin penasaran.
"Abang gak akan ngerti, jadi abang gak usah tanya hal itu. Yang paling penting sekarang kita harus bisa ketemu sama Raja. "
Saka hanya bisa menghela nafas meski masih merasa heran dengan tingkah Chelsea. Tiba-tiba Kara datang dan membuat Chelsea dan Saka langsung menoleh bersamaan padanya.
"Kamu ngapain ke sini? Kalo ayah liat kamu masih nyamperin aku gimana? "
Kara tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Harusnya gue yang nanya sama lo, ngapain lo nyari dia? " Tanya Kara dengan nada datar.
Chelsea berdecak kesal dan tanpa menjawab pertanyaan Kara ia pergi begitu saja menuju lift membuat Kara dan Saka dengan cepat menyusulnya. Lift yang kebetulan terbuka membuat ketiganya langsung bisa masuk.
'Ini ruangan terakhir, aku harap orang kelima itu kamu, Raja. Aku perlu bicara sama kamu. '
Mereka bertiga keluar dari lift bersamaan dengan Raja yang masuk ke dalam lift di sebelahnya diikuti Mamanya dan Alex. Chelsea langsung berjalan menuju ruang rawat Raja dan seketika ia kembali kecewa saat memasuki ruang rawat yang telah kosong.
Saka dan Kara yang ikut masuk dengan jelas melihat kekecewaan di mata Chelsea. Apalagi beberapa kali Chelsea menghela nafas sebelum berbalik dan berjalan keluar ruangan.
'Kamu sebenarnya kemana, Raja? Kenapa saat aku butuh, kamu justru hilang tanpa bicara? '
__ADS_1