
"Kirim informasinya sebelum hari ini berakhir! Ingat, dia bukan orang sembarangan. Berhati-hatilah! "
Rico menutup panggilannya sepihak. Apartemennya sunyi seperti biasa, tidak ada kebisingan yang dapat mengganggu istirahatnya. Ia melemparkan tas jinjingnya sembarangan ke sofa kemudian berbaring terlentang di sofa lainnya yang lebih panjang. Matanya terpejam agak lama sebelum kemudian kembali terbuka. Ia menghela nafas lelah dengan mata sayu.
"Gue jadi ngantuk, kayaknya mandi dulu deh baru tidur. " Putus Rico kemudian dengan gontai masuk ke kamar mandi.
20 menit Rico menjalankan ritual mandinya. Bukannya tidur seperti rencananya, Rico malah merasa ia harus makan. Lagipula ia sudah tidak terlalu lelah seperti tadi dan kantuknya hilang karena mandi.
Rico berjalan ke arah pantry dengan mantel mandi yang melekat di tubuhnya. Mendekati lemari es dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. Setelahnya memasak dengan kemampuannya yang bisa dibilang sangat jago.
Beberapa saat memasak dan akhirnya ia benar-benar memakan dengan lahap hidangan di atas pantry. Hidangan yang didominasi sayuran itu benar-benar dinikmatinya. Rico memang terkenal punya selera yang tinggi dalam beberapa hal termasuk makanan. Ia kadang bisa menjadi orang yang pemilih dan karena itulah selama hidup di apartemen ia sering mengasah kemampuan memasaknya. Ia hanya percaya pada masakan yang ia masak sendiri atau ia lihat cara memasak mereka.
Dibeberapa kesempatan ia kadang memasak juga untuk para sahabatnya terutama Rian. Mengingat itu membuat Rico menghentikan suapannya. Rico menggenggam erat sendok di tangannya kemudian sendok itu terlempar di detik berikutnya.
Rico beranjak dari pantry dengan buru-buru menuju kamarnya mencari handphone. Dengan cepat ia membongkar handphone mahal itu dan mengeluarkan sebuah kertas kecil yang mirip dengan prangko. Tangannya bergetar saat memegang benda itu, tatapannya nampak menggila dan akhirnya benda itu sampai di lidahnya.
Beberapa saat dan keadaannya mulai kembali tenang. Rico tersenyum dengan matanya yang tampak kosong. Setelahnya mulai bergumam tidak jelas sambil duduk di lantai dan senderan ke ranjang. Ia terlihat seperti asyik dalam dunianya sendiri. Tertawa keras dan tersenyum tanpa alasan.
Alex tengah tertidur saat sebuah panggilan masuk ke handphonenya. Ia mengambil handphone yang tergeletak di atas laci itu dengan setengah sadar. Masih dalam posisi berbaring Alex menjawab panggilan dengan mata yang setengah terbuka.
Tiba-tiba matanya terbelalak bersamaan dengan tubuhnya yang langsung terduduk saat orang di seberang sana mulai berbicara. Lama panggilan itu berlangsung dan Alex tampak sesekali mengangguk seakan menyetujui sesuatu. Alex menutup panggilan saat pembicaraan mereka telah selesai.
"Apa ini? Sebuah konspirasi atau sikap pengecut? "
Alex tertawa hambar.
"Selama ini gue, Rico dan Rian udah benar-benar tertipu. Jadi ini alasannya? Beraninya dia gunain alasan persahabatan buat nutupin rahasia ini. Tega banget dia mengorbankan adiknya, sahabat gue. Sialan! "
Alex menyalurkan amarahnya dengan membanting barang-barang di dekatnya. Berteriak frustasi saat merasa tidak puas kemudian menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. Dia berusaha mendinginkan kepalanya dan berpikir logis.
"Rico harus tau semua ini dari gue, jangan sampai dia tau sendiri. Gue gak bisa bayangin gimana nekatnya Rico kalo sampai dia tau info ini dengan sendirinya. "
...***...
Chelsea berjalan santai tanpa kedua pengawal di Koridor kelasnya setelah memutar lagu Kpop di radio sekolah. Banyak pasang mata menatapnya maklum meski ada juga yang tampak menatapnya dengan iri. Dan yang dilakukan Chelsea hanya bersikap acuh. Tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di depan kelasnya.
Kara berdiri sambil senderan ke tembok depan kelasnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tampak senyum tercetak di wajah imut-imut dekilnya saat kedua mata sipit itu beradu tatap dengan Chelsea. Chelsea memutar bola mata jengah kemudian berjalan melewati Kara tanpa peduli.
Tubuh Kara langsung berdiri tegap saat Chelsea melewatinya tanpa peduli. Ia membuntuti Chelsea yang masuk ke kelas dan membuat beberapa pasang mata teman sekelas Chelsea menatapnya aneh. Tentu saja akan aneh saat melihat pria dekil yang cukup imut dengan seragam SMA sekolah itu mengikuti putri cantik dengan segala kesempurnaan seperti Chelsea. Tubuh Chelsea bahkan lebih tinggi dari pria itu meski hanya beberapa senti saja sebenarnya.
Desas desus itu dengan kecepatan setara jaringan 4G sampai di gendang telinga Raja. Siapa yang tidak tahu tentang pemuja nomor satu Chelsea di sekolah ini? Mungkin dia adalah orang paling kudet di seantero sekolah.
Raja berjalan tergesa dari kelasnya yang hanya berbeda beberapa kelas saja dengan Chelsea. Sampai di ambang pintu kelas Chelsea. Mata Raja terbelalak melihat seorang pria berseragam SMA duduk di kursi kosong di samping Chelsea.
Chelsea yang terlihat acuh pada pria itu membuat senyumnya mengembang. Raja berjalan menghampiri pria itu bermaksud untuk melabrak tapi niatnya terpaksa ia urungkan saat ia mengenali pria itu.
"Eh, Bang! " Sapa Raja membuat pria itu menoleh padanya.
__ADS_1
"Lah, lo ngapain di sini, King? Gue tau ini bukan kelas lo. " Balas Kara heran.
"Abang juga ngapain di sini? Jelas ini bukan kelas abang. "
"Malah nanya balik, gue mengunjungi penggemar gue. " Jawab Kara sambil menunjuk Chelsea dengan dagunya.
Chelsea sontak mendelik tajam padanya.
"Heh! Yang lo sebut penggemar lo tuh siapa? Tuh mulut pengen gue jahit? " Sewot Chelsea dengan galaknya membuat Raja menahan tawanya.
"Sadis amat lo, lo kan Kpopers. "
Raja tampak bingung.
"Apa hubungannya, Bang? "
"Gue juga keturunan Korea, gak salah dong. Kalo dia suka Korea berarti secara gak langsung dia juga suka sama gue. "
Raja menatap Kara dengan tatapan aneh. Sementara Chelsea menepuk keningnya tidak habis pikir.
"Teori dari mana tuh? Sembarangan kalo ngomong! "
"Bang, kayaknya gak gitu deh teknisnya. "
Kara menatap Raja dengan tatapan mengintimidasi.
"Lo mau lawan gue? "
"Dasar orang-orang aneh. " Gumam Chelsea.
Sementara itu pagi ini kediaman keluarga Xilent tampak ramai dengan kerumunan wartawan. Dua mobil polisi dan tiga avanza hitam datang ke sana membuat Tuan Besar Xil terkejut.
"Maaf, apa yang membawa anda sekalian datang ke kediaman Xilent ini? " Tanya Tuan Besar Xil saat ia dan beberapa orang itu duduk di ruang tamu.
"Kami mendapat laporan bahwa salah satu anggota keluarga ini memiliki obat-obatan terlarang. "
Raut keterkejutan di wajah Tuan Besar Xil tidak bisa disembunyikan. Hal semacam ini tidak pernah terlintas di pikirannya.
"Saya tidak tau laporan dari siapa itu, tapi anda sekalian tau bagaimana keamanan kediaman ini. Itu serasa tidak mungkin terjadi. "
"Maaf Tuan Xil, kami tetap harus menggeledah seluruh area kediaman ini. Hasil yang akan membuktikan kebenaran tuduhan ini. "
Tuan Besar Xil akhirnya memberikan mereka izin menjalankan tugas. Menggeledah setiap sudut ruangan termasuk kamar putra-putri Xilent. Penggeledahan berlangsung cukup lama dan membuat Tuan Besar Xil gelisah. Meski mempercayai putra putrinya tapi tuduhan seberat ini tidak mungkin tak berdasar.
Sementara itu Rico datang menggunakan mobilnya ke kediaman Xilent dan melewati kerumunan wartawan dengan perasaan heran. Matanya terbelalak saat menemukan mobil polisi terparkir di halaman rumahnya. Dugaannya terbukti bahwa orang itu tidak akan berhenti mengganggu kehidupannya.
Flashback on
__ADS_1
Rico mondar-mandir di kamarnya saat malam semakin larut dan orang suruhannya belum juga melaporkan hasil kerja mereka. Ia mencoba menenangkan diri dengan meneguk Vodka yang ia tuangkan kedalam gelas kaca berukuran kecil beberapa saat lalu. Lambat laun kesadarannya semakin menipis dan tanpa sadar ia tertidur.
Pagi harinya ia tersentak saat terbangun dan cahaya matahari sudah menyorot melewati jendela kaca yang semalam tidak sempat ia tutup gordennya. Tangannya dengan cepat mencari keberadaan handphonenya saat mulutnya dengan lancar mengeluarkan umpatan.
"Sialan! Kenapa gue bisa ketiduran?! "
Ia segera menghidupkan handphonenya yang ia temukan dari kolong ranjang. Tapi setelah beberapa kali dicoba, handphonenya tetap saja tidak hidup. Lagi-lagi ia mengumpat.
"Babi! Kenapa pakai mati segala?! Semoga gak ada hal yang berbahaya hari ini. " Umpat Rico sambil bergegas mencharger handphonenya.
Rico membereskan bekas Vodka dan tempat tidurnya secepat mungkin kemudian berjalan ke kamar mandi. Ia butuh menyegarkan pikirannya. Entah kemana ia merasa harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hari ini. Hari ini ia ada jadwal Photoshoot dan beberapa urusan di kantor pusat Xil grup.
Seperti biasa ia menyelesaikan ritual mandinya dalam waktu tidak lebih dari 20 menit. Perhatiannya langsung teralih pada handphonenya. Rico berjalan dengan mantel mandi yang sudah terganti dengan kaos krem longgar berlengan panjang dengan motif garis merah yang bagian depannya dimasukkan ke celana bahan warna abu tua. Ia menghidupkan handphonenya dan menemukan banyak panggilan tak terjawab dari orang suruhannya. Setelahnya beberapa pesan muncul dan Rico bergegas membuka pesan itu.
"Apa-apaan ini? Orang ini, sialan! Dia benar-benar bukan orang sembarangan! Gue harus pulang sekarang, gue yakin setelah rencana dia gagal kemarin, dia gak akan tinggal diam. "
Rico memasukkan handphonenya ke saku celana, memakai masker dan topi, mengambil kunci mobil yang tersimpan di laci kemudian bergegas pergi.
'Lo gak akan pernah liat dunia lagi kalo berani nyentuh keluarga gue, Adhitama sialan! '
Flashback off
Rico memukul kemudi sesaat sebelum keluar dari mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah. Ia bergegas masuk ke dalam rumah mewah itu dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah sang ayah yang mematung dengan seorang pria di depannya yang tampak menunjukkan trip dalam plastik kecil.
Rico mematung, ia jelas tau trip itu miliknya. Hatinya sakit melihat kekecewaan mendalam yang tersirat jelas di iris matanya. Perlahan ia berjalan menghampiri sang ayah yang sudah terduduk di sofa sambil mengatur nafasnya.
"Ayah "
Semua pasang mata menoleh padanya.
"Rico, bawa Chelsea pulang! Sekarang! " Titah sang ayah dengan nada dingin.
Rico menatap heran.
"Ada apa, ayah? Ada apa ini? Kenapa Rico harus jemput Chelsea? "
Sang ayah memejamkan matanya seperti kesulitan menjawab pertanyaan yang Rico lontarkan.
"Kami menemukan obat-obatan terlarang ini di kamar nona Chelsea. Biarkan kami yang menjemputnya dan anda sekeluarga silahkan datang ke kantor kami."
Perkataan seorang pria yang berdiri di hadapan ayahnya itu membuat Rico benar-benar tersentak kaget. Ia tidak pernah membayangkan akan mendengar hal semacam ini.
'Apa-apaan ini? Kenapa Chelsea? '
"Rico, kenapa Chelsea melakukan hal ini? Chelsea putri yang sangat manja, dia penurut. Chelsea gak mungkin kayak gini, Rico. "
"Mohon anda tenang, Tuan Xil. Bukti ini belum menyatakan kalau nona Chelsea adalah pemilik obat-obatan terlarang ini. Kami akan melakukan tes terlebih dahulu. "
__ADS_1
Rico menghampiri sang ayah dan menepuk pundak ayahnya pelan.
'Beraninya lo sentuh keluarga gue, Adhitama. Chelsea selalu bela lo di depan gue, beraninya lo mengkhianati adik gue. '