
Sinar matahari pagi masuk menyusup lewat sela-sela gorden jendela ruang rawat. Sinar itu menghangatkan kedua mata Morin yang nampak masih terpejam. Tiba-tiba kedua matanya perlahan terbuka.
Morin menatap kosong langit-langit ruangan dengan warna putih polos. Untuk pertama kalinya ia bangun dalam keadaan tenang setelah beberapa hari kebelakang ia kehilangan kewarasannya.
Morin menghela nafas dengan lemah dan beberapa saat kembali memejamkan mata erat. Setelahnya ia kembali membuka mata sambil berusaha bangkit dari posisi berbaring. Ia meringis saat merasakan sakit di kepalanya.
Tiba-tiba seseorang berteriak panik memanggil namanya. Morin sontak menoleh dan mendapati Alex yang berlari menghampirinya dengan raut wajah khawatir.
"Mana yang sakit? " Tanya Alex heboh.
Morin malah tertawa geli sambil sesekali meringis menahan sakit di kepalanya. Sontak Alex mengernyit heran dengan tanggapan Morin terhadap pertanyaannya.
"Kenapa ketawa? Apanya yang lucu dari pertanyaan gue? " Tanya Alex mulai kesal.
Melihat Alex yang mulai kesal membuat Morin berusaha keras menahan tawa. Meski menyenangkan membuat Alex kesal, tapi dalam keadaannya yang seperti ini dia jadi tidak tega. Apalagi mengingat bagaimana Alex berusaha selalu ada untuknya dalam masa-masa sulit.
"Sorry, gue baik-baik aja. Lo gak perlu khawatir, tenang aja, oke? "
Alex menghela nafas dengan mata yang sesaat terpejam. Setelahnya berusaha menahan diri untuk tidak menyentil kepala Morin.
"Kalo itu tentang lo, gimana gue bisa tenang, Zoy? "
Mendengar ucapan lembut Alex membuat Morin terharu. Tapi tidak berselang lama Alex kembali bicara.
"Lo kira siapa yang selalu bikin gue repot, heh? "
Morin langsung melotot pada Alex yang malah ditanggapi Alex dengan tenang. Alex bukan tidak menyadari reaksi kesal Morin. Ia sengaja ingin membuat Morin kesal dan perlahan benar-benar melupakan kesedihannya.
Tiba-tiba Morin dengan kasar mencubit pinggangnya yang hanya tertutup kaos hitam itu. Alex refleks meringis sambil memohon ampun dan membuat Morin terlihat sangat senang.
"Seneng banget ya liat gue menderita? Dasar anak macan! " Teriak Alex yang membuat Morin menghentikan aksinya.
__ADS_1
Tawa Morin ikut terhenti bersama dengan aksinya mencubit pinggang Alex. Wajahnya yang langsung berubah sendu membuat Alex mengerti bahwa ia telah salah bicara. Tanpa banyak kata Alex membawa Morin ke dalam dekapannya.
Dengan penuh kelembutan Alex mengelus kepala Morin yang sudah membalas pelukannya dengan erat. Morin tampak menyembunyikan wajah sendunya pada dada bidang teman kecilnya itu. Lebih dari itu, Alex malah tampak heran karena tidak melihat Morin menangis.
'Kenapa Zoy jadi kayak gini? Atau dia sengaja nahan kesedihannya karena ada gue? Karena dia gak mau gue repot? Tapi gue gak suka kalo itu benar. '
"Maafin gue, Zoy. Gue malah bikin lo sedih lagi. "
Tidak ada jawaban dari Morin. Hal itu membuat Alex semakin merasa bersalah.
"Kalo mama ada disini, dia bakal belain lo, kan? Dia bakal ikut-ikutan ngatain gue anak macan, padahal gue anaknya. " Ucap Morin tiba-tiba sambil tertawa miris.
Ia belum terlepas dari dekapan Alex. Sementara Alex yang mendengar dengan jelas tawa miris itu langsung menghentikan usapan tangannya pada kepala Morin.
"Kalo lo terus-terusan kayak gini, tante bakal sedih, Zoy. " Ucap Alex sambil melepaskan dekapannya.
Alex menatap wajah sendu Morin sambil memberikan semangat lewat tatapannya itu. Ia berusaha meyakinkan Morin bahwa semua akan baik-baik saja lewat tatapannya. Tapi Morin hanya diam.
"Gue mau mama sedih, mama gak boleh ngerasa nyaman di sana biar dia kembali. Gue gak mau mama jauh, gue gak mau, Lex. "
Alex menghela nafas kemudian memegang erat pundak Morin. Alex terus menatap mata kosong Morin.
"Gue gak tau apa yang lo rasain, rasanya ada diposisi lo aja gue gak bisa bayangin hal itu. "
Lagi-lagi Alex menghela nafas.
"Tapi, lo masih punya gue di sini. Lo tau kalo gue bakal selalu ada di belakang lo sebagai penjaga, di depan lo sebagai pembimbing dan sekarang... "
Morin membalas tatapan Alex saat ucapan Alex menggantung.
"Gue akan ada di samping lo sebagai... "
__ADS_1
Alex tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena telapak tangan Morin membungkam mulutnya. Ia mengernyit sementara Morin menanggapi dengan gelengan kepala.
"Jangan, wasiat mama itu terlalu berat buat lo. Gue tau lo keberatan, jadi jangan pernah paksa diri lo buat lakuin hal yang gak bisa lo lakuin dengan sepenuh hati. "
Alex melepaskan tangannya dari pundak Morin kemudian tertunduk. Ia tidak menyangkal ataupun membenarkan ucapan Morin. Dan hal itu cukup menjelaskan bahwa ucapannya tidak sepenuhnya salah.
Morin menghela nafas kemudian tersenyum. Setelahnya ia turun dari ranjang dan berdiri tepat di depan Alex. Ia menepuk pundak Alex dan mulai bicara.
"Lo gak lupa apa yang gue minta, kan? Lo gak boleh lupa hal itu, Lex. Karena gue bakal selalu ingetin lo untuk permintaan yang satu ini. "
Alex mengangkat wajahnya dan menatap balik Morin.
"Gue gak lupa, dan lo tau kalo gue lagi usaha buat mengabulkan permintaan lo itu. "
Sementara itu Rico tengah mengendarai mobilnya menuju tempat yang telah ia sepakati untuk bertemu dengan anak laki-laki jutek yang bekerja sama dengannya. Hari beranjak siang saat ia keluar dari kawasan apartemen dan wanita misterius itu masih saja mengikutinya.
Sekarang bahkan mobil wanita itu berada tidak jauh di belakang mobilnya. Dan Rico yang memang menyadari hal itu hanya terkekeh. Setelahnya ia melihat arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu hampir tengah hari.
"Sayang banget waktunya mepet, padahal kayanya asik kalo main-main dulu sama tikus pengganggu. " Ucapnya sebelum kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Rico memasangkan headset bluetooth ke telinga dan menelpon seseorang. Dan tanpa menunggu lama panggilan itu tersambung.
"Bawa motor ke depan stasiun televisi dekat sekolah menengah anak itu sekarang. " Titahnya mutlak.
Dan tanpa menunggu jawaban dari orang di seberang panggilan, Rico langsung memutuskan sambungan telepon itu sepihak. Setelahnya ia fokus mengemudi sampai ke depan gedung stasiun televisi yang ia sebutkan di telepon tadi.
Di sana sudah terparkir motor miliknya yang ia minta antar tadi. Dengan cepat ia memarkirkan mobil yang ia kendarai di belakang motor itu dan keluar menghampiri orang yang berdiri di samping motornya.
"Bawa mobil itu sejauh mungkin dari tempat ini, lo mau pakai jalan-jalan juga terserah. " Ucapnya pada pria dengan seragam serba hitam ala bodyguard.
Setelahnya ia naik ke atas motor dan mengendarai motor itu dengan cepat. Dan seperti ucapannya beberapa saat lalu, pria berseragam bodyguard itu langsung mengemudikan mobil milik tuannya menjauh dari tempat itu.
__ADS_1
Tidak lama setelahnya mobil wanita misterius yang mengikuti Rico datang dan mengikuti mobil Rico yang menjauh. Sementara dari kejauhan Rico yang berhenti di dekat sebuah pohon rindang di pinggir jalan itu tampak tersenyum senang.
'Kena lo! Tikus masuk jebakan. '