
'Kena lo! Tikus masuk jebakan. '
Rico menghela nafas lega dan sesaat tersenyum senang. Setelahnya baru kembali menaiki motornya dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah menengah anak laki-laki yang bekerja sama dengannya itu sesuai rencana.
Tapi sayangnya Rico mengabaikan keberadaan seseorang dengan hoodie dan topi baseball senada yang mengawasinya dari kejauhan. Orang misterius yang sengaja menyembunyikan identitasnya itu berdiri memperhatikan gerak-gerik Rico kemudian ikut pergi saat Rico melanjutkan perjalanan.
Dan dalam waktu singkat Rico sudah sampai di depan gedung sekolah menengah yang sangat familiar di matanya. Sekolah menengah yang sama yang menjadi saksi bisu suka duka persahabatannya. Dan sekolah menengah yang sama yang mengenalkan adiknya Chelsea pada para berandal. Kemudian adik bungsunya yang baru menduduki tahun kedua.
Rico menghentikan motornya di depan pos satpam. Ada dua orang satpam yang tengah berjaga di sana dan salah satunya menghampiri Rico saat melihat motor Rico berhenti.
"Ada yang bisa dibantu, pak? " Tanya satpam dari balik gerbang yang tertutup.
Rico yang dipanggil 'pak' itu terkekeh dan membuat satpam sesaat mengernyit.
"Apa saya terlihat setua itu? " Tanya Rico membuat satpam itu lagi-lagi mengernyit.
"It's okay, saya ke sini untuk bertemu seseorang, bisakah saya masuk sekarang? Saya juga alumni sekolah ini, katakan saja pada guru BK kalau Juan datang. "
Satpam itu tampak ragu untuk mempercayai Rico, terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Baik, anda bisa menunggu sebentar. " Ucap satpam itu sebelum kemudian pergi dari sana.
Rico tersenyum kemudian memakai topi yang semula ia gantung di ikat pinggang. Cuaca hari ini cukup panas karena hari menjelang siang. Tidak lama menunggu, tampak dari kejauhan seorang pria dengan usia beberapa tahun lebih muda darinya datang dengan langkah cepat.
Rico tersenyum melihat orang yang familiar itu. Ia berdecak kagum saat melihat tidak banyak perubahan pada diri pria itu. Dan saat sampai gerbang, pria itu membukakan gerbang itu untuknya.
Setelahnya Rico melajukan motor miliknya itu memasuki kawasan sekolah. Memarkirkan motor itu di parkiran dan turun dari motor. Saat ia berbalik pria itu sudah ada di hadapannya.
"Long time no see, brother. Bagaimana bisa Adhitama melemparkan pewaris mereka ke tempat ini? " Tanya Rico sambil memberi pelukan pada pria itu.
Pria itu terkekeh setelah pelukan mereka terlepas.
"Kalo ada anak sulung kenapa anak bungsu harus repot? Justru lebih aneh Xilent yang membawa kembali pewarisnya dari pengasingan, padahal pemimpin yang sekarang udah cocok banget. "
Rico menatap tajam pria yang adalah sepupunya itu. Sementara yang ditatap malah tertawa puas.
"Lagian siapa juga yang Xilent bawa kembali, seorang Juan bisa kemana pun tanpa Xilent. " Bangga Rico
"Pantes aja bisa ke sini, mengelabui Uncle Xil ternyata. Tapi aku salut karena kamu bisa lolos dari penjara Xilent. "
Rico tersenyum aneh kemudian bergidik.
"Kenapa cara ngomong lo kayak gitu sih dari dulu? Geli tau gue dengernya, yang gaul dong jadi orang. " Protes Rico membuat sepupunya terdiam.
"Kenapa sih? Perasaan gak ada masalah deh sama cara bicara aku. "
"Woy! Nareska Dalfa De Adhitama, sepupu gue yang lumayan ganteng meskipun masih ganteng gue. Shut up! "
__ADS_1
Alfa hanya tertawa menanggapi sikap narsis Rico. Setelahnya ia menepuk pundak Rico dan mengisyaratkan sepupunya itu melanjutkan obrolan mereka sambil berjalan.
"Lo mau ketemu Arshie? " Tanya Alfa membuat Rico menghela nafas.
"Ya kali, ketahuan dong sama ayah kalo gue kabur dari Aussie. Gue mau ketemu orang yang pastinya lebih berguna dari pada lo. "
Alfa mendelik dan ditanggapi Rico dengan tawa puas.
"Aku bilangin uncle ya, anaknya yang bandel kabur dari Aussie. " Ancam Alfa dan membuat Rico nyengir tak berdosa.
Setelahnya mereka melanjutkan obrolan sambil berjalan menuju salah satu gazebo di taman belakang sekolah. Saat sampai di sana Rico tersenyum begitu melihat salah satu gazebo yang punya banyak kenangan bersama sahabatnya, Rian.
Alfa yang mengerti arti tatapan Rico pada salah satu gazebo langsung membawa Rico menuju gazebo itu. Rico dan Alfa duduk di gazebo dan mengedarkan matanya ke seluruh penjuru taman yang luas.
"Aku panggil dulu anak itu, kamu tunggu aja di sini. "
Rico mengangguk setuju meski setelahnya ia bergidik karena mendengar cara bicara sepupunya.
"Berasa jadi gak normal gue kalo deket-deket sama tuh orang. " Gumamnya setelah sepupunya itu pergi.
Di lain tempat Chelsea tengah berdebat dengan ayahnya. Pasalnya ia bosan berdiam diri di ruang rawat dan kebetulan Kara datang untuk sekadar menanyakan kabarnya dan membawa beberapa makanan.
"Chelsea cuma jalan-jalan ke taman aja, ayah. "
Ayahnya tetap menolak permintaan Chelsea.
Sementara Kara yang kini tengah duduk di kursi samping ranjang yang ditempati Chelsea itu hanya diam menyimak. Tampak ia bingung untuk melerai ayah dan anak yang sama-sama keras kepala itu.
Tiba-tiba Saka datang dan langsung mengernyit melihat Chelsea yang cemberut sambil menatap tajam ayahnya. Sementara yang ditatap malah anteng memperhatikan layar Ipad-nya. Akhirnya Saka menghampiri Tuan Besar dan duduk di samping omnya itu.
"Maaf, om. Ini ada apa ya? Kok suasananya gak enak banget? "
Tuan Besar menoleh pada Saka kemudian tersenyum.
"Bagus! Kebetulan kamu kesini. " Ucap Tuan Besar tiba-tiba.
Mendengar ucapan omnya membuat Saka lagi-lagi dibuat bingung.
"Chelsea katanya mau jalan-jalan ke taman, kamu temenin, oke? "
Belum sempat Saka menanggapi, Chelsea lebih dulu protes.
"Tapi Chelsea kan maunya ditemenin Kara, ayah. Kenapa malah Bang Saka? "
Saka tersenyum setelah mengetahui apa yang terjadi antara ayah dan putrinya itu.
"Sama Saka atau gak pergi sama sekali? "
__ADS_1
"Om, biarin aja anak itu ikut, kan ada Saka yang jagain Chelsea. " Pinta Saka yang langsung disetujui oleh Tuan Besar Xil.
"Giliran Bang Saka yang ngomong aja langsung setuju. " Gerutu Chelsea tidak terima.
"Bersyukur! " Celetuk Kara yang membuat Chelsea nyengir.
Kara Tersenyum tipis melihat tingkah Chelsea.
"Dasar bocah-bocah puber. "
Pada akhirnya Saka, Chelsea dan Kara pergi bersama menuju taman rumah sakit. Chelsea tampak sangat senang saat melihat hamparan padang rumput yang luas itu. Ada banyak juga pasien yang tengah berada di tempat itu.
Tapi tiba-tiba senyumnya pudar saat matanya tidak menangkap kebun bunga lavender yang berada di sekitar air mancur. Ia langsung beranjak dari kursi roda yang dipakainya dan membuat Saka dan Kara panik saat ia mulai berlari menghampiri taman bunga yang diganti menjadi taman bunga lily.
"Siapa yang ganti? Siapa yang ganti ini? " Tanya Chelsea dengan suara bergetar.
Saka dan Kara yang mendengar pertanyaan Chelsea hanya diam karena memang mereka tidak tau apapun. Saka merogoh handphonenya dari saku celana dan menelpon seseorang.
Tiba-tiba tubuh Chelsea limbung dan hampir terjatuh. Beruntung Kara sigap membawa Chelsea ke dalam dekapannya.
"Siapa yang mengganti bunga lavender di taman rumah sakit dengan bunga lily? " Tanya Saka pada orang di seberang panggilan.
"... "
Saka tampak mengernyit mendengar jawaban dari orang itu.
"Oke, terimakasih informasinya. "
Saka menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku celana kemudian menatap Chelsea yang tengah murung dalam dekapan Kara. Sorot mata Saka tampak sangat tidak tega melihat hal itu. Ia juga mengurungkan niatnya memberi tahu Chelsea tentang informasi yang didapatkannya.
Saka akhirnya memberi isyarat pada Kara untuk membawa Chelsea kembali ke kursi roda. Setelah Chelsea duduk di kursi roda, keduanya mulai memikirkan cara membuat suasana hati Chelsea kembali bahagia.
Tiba-tiba Kara tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan Chelsea dan Saka. Saka tampak penasaran dengan apa yang akan dilakukan Kara tapi ia memilih membiarkan Kara melakukan apapun rencananya.
Tidak lama Kara kembali dengan sebuah bola basket di tangan. Kara berjongkok di depan Chelsea yang duduk di kursi roda.
"Lo diam-diam suka liat gue main basket kan dulu? "
Pertanyaan Kara itu membuat Chelsea malu. Melihat Chelsea yang tampak malu membuat Kara tertawa kecil. Dan tawa Kara yang langka itu berhasil mengukir senyuman di wajah Saka.
"Khusus hari ini, lo boleh liat gue main basket tanpa ngintip atau pura-pura dapat hukuman bersihin lapangan. " Ucap Kara membuat pipi Chelsea memerah.
Setelahnya Saka membawa Chelsea mengikuti Kara yang berjalan menuju lapangan basket yang ada di taman itu. Kara tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya menggoda Chelsea. Dan lagi-lagi pipi Chelsea bersemu tapi Saka malah menatap tajam Kara.
"Dasar genit! " Hardik Saka.
Sementara Chelsea yang melihat permainan basket Kara bersama beberapa orang yang ikut bergabung itu mulai tersenyum. Ia terpana dengan pesona Kara yang pernah memikatnya saat sekolah menengah dulu.
__ADS_1
'Aku masih gak habis pikir, gimana bisa ada cowok dingin seimut itu? Gimana bisa ada orang yang punya wajah sangar dan imut sekaligus? '