LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Akarnya Dendam (Revisi)


__ADS_3

Pagi ini suasana berbeda terjadi di rumah Octa. Matahari baru muncul dari arah timur saat bel rumahnya berbunyi. Dan mengejutkannya kedua orang tua Rian berdiri di balik pintu depan rumahnya.


"Vian? Ini kamu, kan? "


Octa bingung harus bersikap seperti apa saat nyonya keluarga Megardante itu mengutarakan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya. Octa hanya terdiam dan membuat wanita paruh baya di depannya tidak bisa menahan isak tangis. Sebuah pelukan dari nyonya Megardante membuat tubuh Octa mematung.


"Mamah tau ini kamu, mamah gak mungkin salah. "


Dan pada akhirnya Octa menyerah untuk tetap kekeh menutupi kenyataan. Rian telah pergi dari mereka dan Octa tidak punya alasan lagi untuk bersikap pengecut. Dia tidak harus ketakutan menghadapi kebencian sang adik. Ia jahat? Entahlah, bagaimana menurut pandangan setiap orang saja.


"Mah"


Akhirnya kata itu keluar juga dari mulutnya bersama air mata dan pelukan. Tuan Megardante menghampiri mereka dan mendekap kedua orang itu dengan penuh kasih sayang.


"Maafin Vian yang gak pernah bisa jujur . "


Sang mamah menggeleng.


"Enggak, Sayang. Kamu gak salah, kamu pasti liat semuanya, kan? Kamu pasti takut dengan reaksi Rian, kan? Maafin mamah karena harus membuat kamu melihat kesalahan besar yang kami buat. Maafin mamah. "


"Rian gak pernah punya salah apa-apa, mah. Kenapa kalian bisa setega itu? Lima tahun Vian perhatiin Rian, dia yang paling suka bercanda selama kami jadi sahabat. Kenapa kalian tega menghancurkan dia dari dalam? "


Octa menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh rasa sakit dan kekecewaan. Mengingat semua tawa jenaka dan guyonan Rian yang ternyata topeng untuk rasa sakit membuat Octa didera rasa bersalah yang besar. Dialah sumber penderitaan dan kebahagiaan Rian selama ini. Sampai sifat pengecutnya benar-benar mendorong Rian untuk pergi membawa segala rasa sakitnya.


Octa berjongkok di ambang pintu sambil tertunduk dengan kedua telapak tangan menutupi matanya yang mengeluarkan air mata dengan derasnya. Rasa rindu di sudut hatinya berubah menjadi kekecewaan pada sikap kedua orang tuanya dan kepengecutan yang dilakukannya.


Sang mamah ikut menangis saat melihat kesedihan yang begitu besar dalam diri putra sulungnya itu. Rasa rindu antara mereka malah berubah jadi penyesalan. Mereka semua menyesal. Octa yang kehilangan kesempatan jujur dan kedua orang tuanya yang kehilangan kesempatan mengakhiri penderitaan yang mereka buat sendiri untuk putranya.


Tuan Megardante membawa sang istri kedalam pelukannya. Mereka semua menangis saat kembali mengingat bahwa penyesalan mereka sudah terlambat. Rian telah pergi untuk selamanya dan kebahagiaan yang harusnya terasa saat orang tua bertemu kembali dengan putra mereka yang lama hilang itu malah terganti dengan tangisan. Mereka tidak menyadari iris abu seseorang tengah menatap mereka dengan tatapan penuh rasa puas.


"Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit Rian, penderitaan yang gak seharusnya dia dapat dari keluarga sendiri. Lo semua harus bayar nyawa sahabat gue. "


...***...


Hari beranjak siang saat bel pulang sekolah Ran berbunyi dengan nyaring. Ran keluar dari kelasnya kemudian duduk termenung di pinggir lapangan badminton sekolah dasar swasta yang terbilang cukup elite itu. Sang pengasuh memperhatikannya dari kejauhan, mencoba memberi waktu pada Ran untuk duduk menenangkan diri.


Ran yang memang tidak banyak bicara itu kini semakin sulit diajak bicara. Semenjak kehilangan kakaknya, Ran mulai menolak berinteraksi dengan orang asing. Bahkan pada kedua orang tuanya, Ran enggan bicara.


Ran menoleh saat merasa seseorang berjalan ke arahnya. Tatapannya kian sulit diartikan. Seorang anak perempuan dengan seragam sekolah yang sama berjalan menghampirinya.


"Kamu adiknya kak Rian, kan? " Tanya si anak perempuan saat sudah berdiri di dekatnya.


"Aku adik kak Chelsea, Anggi Ransishie Xilent. " Lanjut si anak perempuan sambil mengulurkan tangan.


Ran masih tidak memberi tanggapan, ia hanya menatap Arshie dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tanpa persetujuan Arshie duduk di samping Ran membuat Ran sedikit menggeser duduknya.


"Kenapa kamu peduli? " Tanya Ran setelah lama mereka saling diam.

__ADS_1


Arshie sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Ran. Tapi kemudian ia tersenyum manis.


"Setiap saat aku liat kak Chelsea yang murung, dia kakak aku yang paling ceria sebelum Kak Rian meninggal. Tapi, sekarang aku bahkan gak pernah lagi bercanda sama Kak Chelsea. Diajak ngobrol aja susah. "


Ran menatap Arshie dengan tatapan penuh tanya.


"Apa hubungannya denganku? "


"Ya ampun! Kamu masih gak ngerti? " Tanya Arshie tidak habis pikir.


Dan Ran menggeleng sebagai jawaban.


"Jadi gini, tadi aku liat kamu diam di sini dan aku bisa langsung tau kalo kamu pasti masih kepikiran kak Rian. Aku gak suka liat orang yang terus menerus bersedih karena kematian seseorang. "


"Kamu gak mikirin kak Rian di sana yang gak bakal tenang liat adiknya kayak gini? Kamu gak harus selalu bahagia, hanya saja jangan terus menerus merasa sedih. "


Ada satu sudut dalam hati Ran yang membenarkan nasihat Arshie. Tapi di sisi lain Ran malah kembali mengingat perlakuan kedua orang tuanya terhadap sang kakak. Rasanya sangat sulit untuk Ran lupakan


Arshie yang melihat Ran yang kembali termenung hanya bisa menghembuskan nafas kasar sembari berharap kata-katanya membuat perubahan yang berarti bagi Ran.


"Kamu tau apa? Kamu gak tau apa-apa, lebih baik kamu diam. " Ketus Ran yang kemudian beranjak dari duduknya.


Ran terlihat marah, ia melangkah semakin menjauh dari tempat Arshie duduk. Sang pengasuh yang melihat hal itu langsung menyusul Ran. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada sang Tuan Muda Megardante.


Si bungsu yang dulu sangat penyabar dan ramah terhadap orang lain itu kini sedang tidak baik-baik saja. Ran membatin dalam setiap langkahnya. Anak laki-laki berusia 9 tahun itu dipaksa dewasa oleh keadaan. Pikiran polos itu dipaksa menerima setiap kebencian dari hatinya.


Ran menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang tidak asing. Seorang pria dengan hoodie hitam dan topi senada yang menutupi kepala itu tengah berdiri membelakanginya. Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya beberapa meter saja.


Awalnya Ran akan mengabaikan kehadiran orang itu saat sebuah nama yang disebut pria misterius itu menghentikan langkahnya. Pria misterius itu tampak sedang mengobrol di telpon.


"Rian udah mati, gue seneng karena si brengsek itu menderita. "


Ran mematung lalu kemudian menatap penuh kemarahan saat mendengar kalimat selanjutnya yang diucapkan si pria misterius.


"Gue cuma bikin skandal biar popularitas si Rian turun, eh tapi dia sampai masuk rumah sakit. "


Pria misterius itu tertawa kemudian berjalan menjauh. Ran langsung mengikuti langkah si pria dan membuat pengasuhnya kewalahan. Awalnya Ran bisa mengikuti dengan baik sampai ia kehilangan jejak.


Ran sudah berniat memarahi pria itu tadi, tapi sekarang ia kehilangan jejak. Pengasuh berhasil menyusulnya dan membujuk Ran untuk pulang dan pada akhirnya Ran memilih untuk pulang.


'Orang itu terlihat tidak asing, dia pembunuh. Dia yang membunuh kakak, dia dan mereka semua adalah orang jahat. '


Sementara itu dibalik sebuah pohon rindang pria misterius tadi nampak bersandar kemudian tertawa. Masker hitam itu menutup identitasnya tapi iris abu miliknya itu akan sangat dikenal oleh Rian.


"Gue suka ini! Gue bakal bikin lo semua jadi pengganti nyawa sahabat gue. Dan anak itu akan sangat membantu. "


...***...

__ADS_1


"Hi, kak Lexan! "


Alex menoleh saat suara cempreng itu memanggilnya. Di kursi ruang tengah terlihat Ara dan Sunny yang menatapnya saat menuruni anak tangga.


"Eh! Ngapain pagi-pagi udah ke sini? " Tanya Alex yang membuat Sunny cemberut.


"Sunny mau ikut ke makam kak Rian. " Jawab Ara dengan mata yang sudah kembali fokus pada televisi yang menayangkan serial kartun di pagi hari.


"Dari mana Sunny tau? "


"Ara kasih tau sama tante. "


Lagi-lagi Ara yang menjawab dan Sunny hanya mengangguk antusias mengiyakan jawaban Ara. Mata Sunny berbinar, anak perempuan itu terlalu polos diusianya yang tidak lagi bisa disebut balita meski masih bisa disebut anak-anak. Alex menghembuskan nafas kemudian tersenyum.


"Kita berangkatnya kapan? " Tanya Sunny terdengar tidak sabaran.


"Kakak siap-siap dulu, kamu sama Ara sarapan dulu biar nanti langsung berangkat kalo kakak selesai siap-siap. "


Sunny mengacungkan jempolnya kemudian menarik-narik tangan Ara yang masih betah duduk di sofa. Seperti perkataannya, Alex kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap setelah mengambil sebuah roti tawar dari atas meja makan.


Beberapa menit kemudian mereka sudah keluar dari rumah Alex. Sunny dan Ara sudah masuk lebih dulu kedalam mobil Alex saat Morin datang.


"Zoya? "


"Hi, Lex. "


Alex mengernyit bingung melihat kedatangan teman masa kecilnya di pagi hari seperti ini. Semenjak Morin jadi pacar Rian, mereka sangat jarang berkunjung ke rumah satu sama lain. Mereka hanya sesekali ngobrol bareng atau sekadar curhat.


"Tumben pagi-pagi udah ke sini? "


Morin tersenyum tipis.


"Udah lama banget ya gue gak main ke sini sampai lo heran gitu? Gue nyari Sunny karena pagi-pagi udah gak ada di rumah, kata Mama dia ikut sama lo. Lo mau ke makam, kan? Gue boleh ikut? "


Alex tersenyum.


"Ayo! Lo emang yang selalu punya hak buat ke sana, Rian pasti seneng. "


Morin kali ini tersenyum manis kemudian masuk kedalam mobil begitu juga dengan Alex. Mobil Alex membawa mereka membelah jalanan lengang menuju daerah perbukitan. Jarak makam Rian dari rumah Alex cukup jauh dan bisa ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan Mobil.


Hamparan padang bunga lavender di sepanjang pinggir jalan menemani perjalanan mereka menuju makam Rian. Alex mengemudi dengan sebelah tangannya. Sebelah tangan lainnya bertengger di kaca mobil dan matanya sesekali melirik padang lavender itu.


'Lo suka banget sama bunga-bunga ini kan, Rian? Apa karena itu lo pengen dimakamin di tempat ini? Ini tempat terakhir lo syuting film. Disini pertama kalinya gue liat lo senekat itu. Lo bertarung dengan trauma demi profesionalitas. '


Alex memarkirkan mobilnya tidak jauh dari makam. Mereka hanya perlu menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke makam. Alex tersenyum saat melihat Morin, Sunny dan Ara tertidur. Kemudian dengan lembut membangunkan mereka. Akhirnya mereka berjalan menaiki setiap anak tangga.


Tapi, langkah mereka terhenti saat melihat seseorang yang tengah menyimpan beberapa tangkai bunga lavender di makam Rian. Meski dari kejauhan, Alex dan Morin bisa mengenali pemilik tubuh itu. Morin menatap orang itu dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


'Gue selalu tau, lo emang yang paling mencintai Rian. Lo selalu jadi yang paling tulus, Chelsea. Sekali lagi gue salah, gue bersalah karena jadi penghalang buat lo sama Rian, gue pengen minta maaf sama lo. Tapi, gue terlalu pengecut. '


__ADS_2