
Pagi ini Chelsea turun dari kamarnya menuju ruang makan dengan wajah murungnya. Sang ayah hanya bisa menghela nafas saat melihat putrinya yang masih murung semenjak kematian Rian.
Beberapa kali ayahnya mencoba mengajak mengobrol tapi Chelsea hanya menjawab singkat atau bahkan sekadar tersenyum sebagai tanggapan. Putrinya semakin hari semakin tidak peduli pada sekitarnya.
"Kalian jangan pulang, tunggu Chelsea sampai sekolahnya bubar. " Titah Tuan Besar Xil pada kedua bodyguard pribadi Chelsea.
Dalam keadaan Chelsea yang seperti ini, sang ayah tidak ingin membiarkan Chelsea tanpa pengawasan. Kedua pengawal itu mengangguk patuh. Chelsea yang mendengar titah sang ayah tampak tidak merubah ekspresi sama sekali.
Chelsea tidak peduli. Tanpa bicara Chelsea mencium tangan ayahnya dan berangkat ke sekolah dengan dua pengawal pribadi yang terus membuntutinya.
Dua mobil mewah keluarga Xilent memasuki area sekolah elite tempat anak-anak konglomerat mengenyam pendidikan sekolah menengah. Sebuah sekolah swasta dengan bangunan mewah yang memfasilitasi siswa SMP dan SMA.
Seperti biasa Chelsea keluar dari mobilnya diikuti kedua pengawal pribadi dari mobil yang berbeda. Banyak pasang mata menatap kagum, banyak juga yang menatap iri.
Chelsea berjalan menuju kelasnya tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Sampai di kelas kedua pengawalnya masih saja setia mengikuti. Chelsea duduk santai di bangkunya yang terletak dibarisan paling belakang dan kedua pengawalnya berdiri dengan tegap di belakangnya. Bukannya Chelsea yang risih tapi teman-teman sekelasnya yang justru tidak nyaman.
"Anak manja! "
Chelsea hanya menatap malas pada seorang wanita dengan teriakan cempreng itu. Wanita dengan nametag bertuliskan ' Citra Merisa A' itu menatapnya dengan sinis. Saingan abadi seorang Chelsea dari awal menginjak bangku sekolah menengah.
"Bawa pengasuh kemana-mana. " Ejek Citra mencoba menyulut emosi Chelsea.
Tapi Chelsea masih tidak peduli dan malah Citra yang kesal sendiri.
"Mendingan kalian berdua tungguin di mobil aja, kalo disini terus kasian kalian juga. Pasti disebut pengasuh sama lonceng sekolah itu bikin kesel. " Ucap Chelsea pada kedua pengawalnya dengan ekspresi prihatin yang dibuat-buat.
Citra geram juga pada akhirnya dan memutuskan beranjak dari bangkunya hendak menghampiri Chelsea dengan amarahnya. Belum sempat Citra sampai ke bangku Chelsea, seseorang datang dan berhenti diantara keduanya.
Seorang pria dengan perawakan tinggi dan wajah polosnya itu sesaat mengingatkan Chelsea pada sosok Rian. Kedua pria itu punya karakter yang mirip jika diperhatikan lebih teliti. Chelsea memejamkan mata sesaat sambil menghela nafas untuk menghilangkan pikirannya itu. Kemudian kembali memasang wajah tidak peduli.
"Raja? Ngapain kamu ke sini? " Sapa Citra pada pria di depannya dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Chelsea mendengus sebal saat mendengarnya.
'Pencitraan banget nih lonceng sekolah. '
Raja menatap Chelsea dan Citra bergantian kemudian tersenyum manis. Chelsea jengah melihat kelakuan pria di depannya kemudian mengeluarkan handphone dari tas sekolahnya dan memutuskan untuk fokus ke layar handphone itu. Citra yang melihat pria paling di incar di sekolah itu berdiri di depannya langsung memulai aksi penuh pencitraan seperti biasa.
Sedangkan Raja justru malah mencari-cari perhatian Chelsea. Chelsea menggerutu kemudian mengernyit bingung saat tidak juga mendengar bel sekolah berbunyi. Padahal jam di handphonenya sudah menunjukkan pukul 9 lebih. Harusnya jam pelajaran sudah dimulai dari tadi. Chelsea menepuk bangku siswa di sebelahnya.
"Ini gurunya pada kemana sih? Tumben belum masuk jam segini. "
Siswa itu menoleh.
"Katanya ada rapat apa gitu, gak ngerti juga. "
Chelsea mengangguk-angguk pelan dan melirik dua orang di depannya. Chelsea tersenyum miris melihat bagaimana Raja yang berusaha mendekatinya tapi Citra terus-menerus caper.
Akhirnya Chelsea menghela nafas dan melenggang pergi tanpa memperdulikan panggilan Raja. Niatnya saat ini adalah bolos dan ia yakin aksinya akan berhasil karena kedua pengawalnya sudah dia usir tadi.
Dan disinilah dia saat ini, berdiri sambil menengadah menatap tembok menjulang di depannya. Setelahnya beralih menatap seragam sekolah yang ia kenakan. Sebuah kemeja yang pas di badan tertutup rompi almamater dan rok beberapa senti di atas lututnya. Penampilannya benar-benar tidak mendukung niat bolosnya saat ini.
__ADS_1
'Ini tembok palingan cuma dua meter kurang lebih, kalo aku bisa naik terus lompat gak bakal kenapa-napa. Tapi, gimana caranya manjat tembok pakai seragam kayak gini? Apa mendingan balik dulu ke kelas terus ngambil baju olahraga? '
Chelsea melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian mendengus sebal.
'Gak! Pasti bakal keburu selesai rapatnya terus guru masuk deh, gagal dong rencana aku. Padahal udah sejauh ini. '
Chelsea tampak murung. Ia tertunduk sambil menatap seragamnya dengan kesal. Tiba-tiba seseorang berdeham dan membuatnya sontak mendongak. Seorang pria yang sedikit lebih pendek darinya tengah menatap Chelsea sambil melipat tangan di depan dada dengan tubuh yang senderan ke tembok belakang gedung kelas 11.
"Ngapain anak SMP di belakang gedung kelas 11? Mau bolos ya, dek? " Tanya si pria dengan nada menyindir.
"Iya, kenapa? Mau bantu? "
Si pria yang tengah mengunyah permen karet itu tersentak kemudian terbatuk-batuk saking terkejutnya dengan jawaban tak terduga dari Chelsea. Pria itu membuang permen karet yang di kunyah nya ke sembarangan tempat. Dan Chelsea memandang jijik.
"Kenapa? Dikira aku bakal ngelak, gitu? "
Bukannya menjawab, pria itu malah bertepuk tangan sambil menatap Chelsea dengan tatapan kagum.
"Wah! Gue suka gaya lo! "
Chelsea menatap malas pada pria dengan nametag 'Min Karra'.
'Marganya sih Korea, tapi aku yakin Oppa-oppa tercinta bakal nangis liat daki anoa ini. Pendek, burik terus jorok lagi. Iuh!! '
"Gitu banget liatin gue, awas lo nanti jatuh cinta sama pangeran yang teramat kiyowoo badai ini. " Tegur Kara dengan segala sikap alay nya.
Kali ini Chelsea bukan malah jijik, tapi justru mematung melihat aksi kakak kelasnya itu. Lagi-lagi ia teringat Rian dan kelakuan alay nya yang selalu membuat ia tertawa.
"Malah bengong, hey! Mau dibantuin gak? "
Chelsea kembali tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya. Beneran mau bantu aku bolos? "
"Gak bantu lo doang, sih. Gue juga mau bolos. " Jawab Kara dengan tawa tak berdosa.
Chelsea mendengus sebal.
'Ternyata emang dasarnya badung. '
Kara melepas kemeja almamater yang di pakainya dan menyisakan tubuh bertelanjang dada. Chelsea sontak bergerak panik dan membuat Kara tertawa gemas. Matanya yang sedikit sipit itu terpejam saat tertawa.
"Tenang, gak bakal gue ngapa-ngapain juga. Gue gak suka bocah. Permisi yah. " Ucap Kara menenangkan Chelsea kemudian memasang kemejanya dan mengancingkan beberapa kancing kemeja itu di pinggang ramping Chelsea.
Chelsea berkedip beberapa kali. Kemudian kembali mematung saat Kara kembali berdiri tegap lebih dekat dengannya. Perut sixpack Kara membuat Chelsea salah fokus. Tiba-tiba tangan Chelsea spontan menampar pipi Kara.
"Berani-beraninya menodai mata suci gadis SMP, gak sopan! " Amuk Chelsea kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kara terkekeh. Ia gemas dengan tingkah sok polos gadis yang terkenal penggila K-pop di depannya itu. Dari mana Kara tau? Semua orang sudah tau, siapa juga yang cukup kudet sampai tidak mengetahui kesukaan gadis penyiar radio sekolah yang selalu menyetel lagu K-pop setiap pagi di sekolah ini. Pasti orang itu tuli atau buta jika tidak kenal Chelsea. Lagian mata k-popers gak mungkin suci dari abs.
"Gak usah sok malu-malu, biasa juga liatin abs Oppa Korea. "
__ADS_1
Chelsea malah jadi malu sendiri meskipun hatinya tidak sepenuhnya menyangkal.
'Bener juga, sih. Tapi kan itu gak liat langsung, cuma dari layar handphone atau laptop doang. '
Setelah menyelesaikan perdebatan penuh omong kosong mereka, kedua makhluk hidup itu langsung menjalankan aksinya. Kara semakin dibuat kagum oleh Chelsea saat dengan mudah Chelsea memanjat tembok dengan hanya mengambil ancang-ancang, berlari kemudian melompat menggapai atas tembok.
Sementara Kara yang memang sedikit lebih pendek dari Chelsea lumayan kesulitan untuk memanjat tembok jika saja Chelsea tidak membantunya.
"Mau bantuin katanya, tapi kayak kebalik. " Sindir Chelsea setelah keduanya melompat turun dengan selamat.
"Gak usah nyindir! Gak sadar diri, itu di pinggang baju siapa yah? "
Chelsea segera mengembalikan seragam Kara dengan dilempar langsung ke tubuh pria itu. Kara hanya terkekeh menanggapi kelakuan Chelsea.
"Terimakasihnya ketinggalan hey!! " Teriak Kara setelah Chelsea berlari menjauh.
"Sama-sama!! " Balas Chelsea sama-sama berteriak kemudian terkekeh juga.
Kara menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat tiba-tiba merasa bingung.
'Kayak ada yang salah, tapi apa? '
"Gak tau lah, bodo amat! "
Sementara Chelsea terus melangkah semakin menjauhi area sekolah. Ia bernafas lega saat mendapati beberapa lembar uang di saku roknya. Setidaknya dia tidak akan menjadi gelandang dan membuat rencana bolosnya sia-sia karena meninggalkan tasnya di kelas. Chelsea menghentikan taxi sebelum kemudian berpikir kemana ia harus pergi. Yang pasti bukan ke rumah.
Dan langkahnya berakhir di tempat ini. Sebuah padang bunga lavender penuh kenangan bersama Rian. Menatap sekeliling, menyentuh bunga-bunga lavender, menghirup aroma menenangkan bunga itu dan memutar kenangan indah bersama Rian. Air matanya menetes dan langkahnya tetap membawanya ke makam Rian.
Satu per satu anak tangga terlewati. Beberapa tangkai bunga lavender di tangannya yang sempat ia petik akhirnya sampai pada gundukan tanah dengan nisan bertuliskan 'Arian Narra Megardante' itu.
Chelsea berjongkok di samping pusara sang pemilik hati dengan tertunduk. Air matanya lagi-lagi menetes, kembali menyiratkan betapa sangat berharganya raga yang tertimbun tanah itu.
"Sejauh manapun Chelsea pergi, Chelsea selalu sampai di sini. Apa kak Ian mau menunggu Chelsea? "
"Chelsea? "
Mendapat panggilan tiba-tiba membuat Chelsea sontak mendongak. Nampak Morin berdiri di hadapannya. Di kejauhan Alex bersama Ara dan Sunny memperhatikan keduanya. Morin ikut berjongkok di sisi berlawanan dengan Chelsea.
Tangannya mengusap nisan kemudian matanya menatap penuh arti pada beberapa tangkai bunga lavender yang tergeletak di atas gundukan tanah itu. Morin tersenyum kemudian menatap Chelsea. Chelsea hanya diam tak menanggapi dan membiarkan Morin menatapnya.
"Kamu pasti sangat mencintai Rian, kan? " Tanya Morin membuat Chelsea tersenyum miris.
"Tapi gak seberuntung kak Morin yang sangat dicintai kak Ian. " Balas Chelsea lirih sambil mengusap air matanya dengan pelan.
Morin lagi-lagi tersenyum kemudian tangannya mengusap kalung dengan bandul bunga matahari yang tergantung di lehernya sebelum kemudian kalung itu ia lepas. Morin menggapai tangan Chelsea dan meletakkan kalung itu di telapak tangan gadis SMP yang menatapnya dengan wajah bingung.
"Aku hanya merasa kamu lebih pantas memiliki kalung itu, kamu lebih beruntung karena sangat mencintai Rian. Kamu hanya belum tau, aku selalu iri karena kamu punya tempat lain di hati Rian, juga di hidupnya. Kamu rumah buat dia dan dia akan jadi matahari buat kamu. "
Chelsea kembali menangis, kini isak nya terdengar begitu memilukan membuat air mata Morin tanpa sadar ikut jatuh. Alex yang memperhatikan keduanya hanya bisa menatap penuh arti.
'Lo selalu jadi orang yang pantas disayangi, Rian. Saat lo pergi, banyak hati yang terluka. Apa lo bisa liat setiap air mata mereka? '
__ADS_1