
Hari ini Chelsea tersenyum sumringah karena setelah berhari-hari tinggal di ruang rawat itu akhirnya ia bisa pulang juga. Ia bukan tidak pernah bertanya tentang alasan mengapa dia harus rawat inap. Tapi meski terus bertanya, ayahnya tetap enggan menjawab pertanyaannya.
"Langitnya gelap, padahal masih pagi. " Ucap Chelsea yang tengah berdiri di dekat jendela ruang rawat.
Matanya menatap keluar jendela kaca. Sementara Ayahnya yang tengah duduk di sofa langsung menoleh saat mendengar ucapan Chelsea.
"Mungkin itu tandanya kamu belum boleh pulang. " Balas Tuan Besar.
Chelsea sontak menoleh sambil cemberut.
"Apa hubungannya sih, ayah? Kita kan pulang pakai mobil, gak akan kehujanan. "
Tuan Besar tertawa.
"Ayah kebanyakan alasan, gak mau Chelsea cepat pulang, ya? " Tuduh Chelsea membuat ayahnya malah tertawa semakin keras.
"Aneh, deh. " Gumam Chelsea sebelum kemudian berjalan menuju ayahnya.
"Si Om sama bang Saka pada kemana? Kok gak ada yang kesini, tega banget. "
"Lexan sedang mengurus kepulangan temannya, kalau Saka katanya sibuk di kantor. " Jawab Tuan Besar.
Chelsea tampak menghela nafas sebelum kemudian menatap kesal pada ayahnya.
"Kita pulang aja sekarang, keburu hujan. " Putus Tuan Besar sambil beranjak dari duduknya dan merangkul Chelsea.
Keduanya keluar dari ruangan itu dan berjalan di Koridor diikuti beberapa bodyguard yang melindungi mereka.
Sementara itu di rumah sakit yang berbeda Morin dan Sunny sedang duduk di sofa lobby rumah sakit menunggu Alex yang tengah mengurus administrasi. Morin tampak beberapa kali melirik ke arah Sunny yang terus tertunduk.
"Dek, jangan kayak gini terus. " Ucap Morin membuat Sunny menoleh padanya.
"Ada kakak. " Lanjut Morin sambil memberikan pot bunga lavender kecil milik sunny ke dalam genggaman tangan sunny.
__ADS_1
Sunny langsung menatap pot bunga lavender kecil itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian menggenggam erat setelahnya seakan ia tidak ingin kehilangan pot bunga lavender kecil itu.
Morin masih terus menatap adiknya yang sudah lama enggan untuk bicara. Tampak jelas kekhawatiran di matanya.
Dan tak lama kemudian Alex pun datang. Ia tersenyum seperti biasanya dan mereka semua pergi menuju mobil yang sudah terparkir didepan lobby.
Sementara itu di mansion keluarga Megardante Ran tengah duduk sambil meminum teh di gazebo taman. Hari ini adalah hari libur, jadi ia menghabiskan waktunya dengan bersantai.
"Hari yang sangat menyenangkan, tidak ada siapapun yang akan merusak hari ini. " Ucap Ran yang kemudian menengadah menatap langit.
"Wah, mendung ternyata. Semoga dia tidak pulang ke sini. " Lanjut Ran.
Wajah dinginnya tidak pernah berubah, tapi terlihat jelas hari ini ia sedang merasa bahagia. Sebelum tiba-tiba orang yang paling tidak ia harapkan kehadirannya itu muncul dengan langkah tergesa-gesa.
Ran menghela nafas kemudian menatap dingin orang itu. Siapa lagi kalau bukan kakak sulungnya, Octavian Ranendra Megardante.
Octa tampak menatap Ran dengan sendu dan membuat Ran terkekeh karena mengerti arti tatapan itu. Ran beranjak dari duduknya sebelum Octa sempat bicara. Ia berjalan menghampiri Octa dan menepuk pelan pundak kakaknya itu.
"Harusnya anda sadar, anda itu pembawa sial. Siapa lagi yang mau anda ambil dari saya? Saya sudah tidak punya siapapun. " Ucap Ran dengan dingin.
"Dari mana? Dari siapa dia tau kabar itu? " Ucap Octa bermonolog.
Dan hari itu menjadi hari berduka untuk keluarga Megardante. Banyak wartawan meliput dan banyak juga orang-orang yang datang untuk berbelasungkawa.
Bendera kuning terpasang di hari mendung itu bersama dengan karangan bunga duka cita dari banyak orang. Octa sibuk menyambut beberapa tamu yang datang sementara Ran berdiam diri di dalam kamarnya.
Rasa bersalah yang dirasakan Octa terhadap Ran jelas terlihat jelas di matanya saat beberapa kali melirik pintu kamar Ran. Kesedihannya pun begitu besar karena kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
Di kamarnya Ran tengah berbaring di ranjangnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Setitik air mata mengalir dari sudut matanya.
"Aku gak menyesal. " Ucapnya meyakinkan diri sendiri.
"Kalian semua emang pantas dapat ini. Karena kalian kak Ian pergi, karena kalian. Aku gak akan lupa dengan semua yang kalian lakuin ke kak Ian. Aku gak mau kalian tenang di alam sana, kalian harus lihat anak sulung kalian menderita sebelum menyusul kalian ke sana. "
__ADS_1
...***...
Hari beranjak sore saat Alex mendapat kabar kematian Tuan dan nyonya Megardante dari Rico. Alex hanya menghela nafas antara kasihan dan senang karena mantan sahabatnya itu menerima kesedihan.
"Dia udah banyak buat Rian menderita seumur hidupnya, dia emang pantas dapat duka ini. Gue gak harus kasihan atau ngerasa sedih. Orang kayak dia emang pantas dapat ini. " Ucap Alex meyakinkan dirinya saat tiba-tiba ia merasa tidak tega.
Alex duduk di lantai kamarnya dan bersandar pada ranjang. Ia menghela nafas sebelum kemudian menengadah menatap langit-langit kamarnya.
"Tapi kenapa? Kenapa rasa gak tega ini harus gue rasain juga? Padahal dia udah bikin Rian menderita bahkan sampai Rian meninggal di depan matanya. "
Alex memejamkan matanya erat. Telapak tangannya tampak terkepal dan sesaat kemudian ia melempar benda-benda disekitarnya ke sembarang arah. Setelahnya berteriak frustasi di kamarnya yang ternyata kedap suara.
Sementara itu Kara tampak tergesa-gesa keluar dari apartemennya. Setelah beberapa saat lalu ia mendengar kabar duka dari salah satu pelayan di mansion keluarga Megardante.
Ia sampai di basement gedung apartemen dan langsung mengendarai motornya keluar menuju jalan raya. Dengan cepat motor itu membelah keramaian jalanan kota. Ia bahkan tidak sadar dengan keberadaan sebuah mobil yang mengikutinya.
Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya ia sampai di mansion keluarga Megardante. Mansion itu sudah cukup sepi karena hari pun sudah beranjak sore. Apalagi sekarang keadaannya mendung.
Setelah turun dari motornya Kara langsung mencari kakaknya. Dan matanya berhasil menemukan Octa yang tengah duduk di sofa ruang tengah dengan tatapan hampa. Di dalam genggaman tangannya ada sebuah foto keluarga yang hanya beranggotakan empat orang kecuali dirinya sendiri.
"Rian, ayah, mamah, kenapa kalian tinggalin Vian kayak gini? Kamu pergi sebelum kakak sempat kasih tau kamu kebenaran itu, dek. Dan sekarang ayah dan mamah pergi saat Vian masih sangat butuh kalian. "
Ucapan Octa membuat Kara tertunduk kemudian memalingkan pandangannya. Ia telah tumbuh bersama Octa dan itu benar-benar membuatnya menyayangi Octa seperti saudara kandungnya.
Kara menghela nafas kemudian berjalan menghampiri Octa. Ia duduk di samping kakaknya itu dan menepuk-nepuk pelan pundak kakaknya.
"Kakak masih punya keluarga, jangan ngerasa sendirian. "
Dari kejauhan tampak Rico yang tengah duduk di dalam mobilnya sambil memperhatikan bangunan mansion dari luar. Ia tersenyum kecut.
"Padahal gue penasaran sama wajah menderita lo, Octa. Tapi sekarang gerimis dan gue males keluar. "
Rico menghela nafas.
__ADS_1
"Semoga lo lebih menderita lagi, karena ini baru permulaan. "