
Morin bejalan bersama beberapa orang yang mendatangi ketua yayasan. Setelah pembicaraan singkat mereka, akhirnya Morin memutuskan ikut bersama orang-orang itu dan membuat para siswa menatap heran.
Para siswa kepo mulai gencar mencari bahan gosip dan berita itu menggemparkan seisi sekolah. Di mading, radio sekolah dan melalui mulut ke mulut kabar itu menyebar secepat jaringan 4G.
"Gue gak percaya ini. "
Kalimat itu berulang kali keluar dari mulut Raja.
"Chelsea gak mungkin pecandu, gue gak percaya. "
Lagi, kalimat itu yang bisa Raja ucapkan saat matanya menatap tulisan di mading. Raja berjalan gontai menuju kelasnya dan menemukan Kara yang tengah duduk di bangkunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kara nampak bersandar nyaman sambil melipat tangan di depan dada.
"Bang? "
Kara terkekeh.
"Lo suka sama cewek kayak gitu, King? "
Raja nampak jelas tersinggung.
"Siapa yang lo maksud cewek kayak gitu? Lo gak tau Chelsea! Chelsea gak mungkin ngelakuin hal bodoh kayak gitu! " Sewot Raja dengan nada tinggi.
Teman-teman sekelasnya nampak tersentak. Ada yang memilih pergi ada juga yang menyimak.
"Lo yang bodoh, King. Dan ya, bisa-bisanya tuh cewek nipu gue dengan wajah sok polos." Sinis Kara membuat Raja naik pitam.
Tangan Raja terkepal menahan amarahnya. Teman-teman sekelasnya pun berusaha menahan amarah Raja. Raja tampak marah meski akhirnya ia hanya bisa berteriak frustasi.
"Beraninya lo nilai karakter Chelsea, lo orang asing! Lo tau apa, hah?! Lo gak tau Chelsea! Lo gak berhak menghakimi Chelsea! Lo gak berhak! "
Raja menendang meja di depannya dan malah membuat Kara tertawa. Kara beranjak dari duduknya sambil bertepuk tangan. Pria itu berjalan menghampirinya dengan tawa yang seakan mengejeknya.
"Wah! Wah! Apa yang gue lihat sekarang? Lo berani lawan gue, King? Gue yang bikin lo jadi orang yang seperti ini, lo sadar itu, hah?! Lo hidup karena gue dan lo lawan gue demi cewek itu? Bodoh! "
Raja menatap balik tatapan tajam yang dilayangkan Kara padanya. Tangannya yang terkepal tampak bergetar. Sejujurnya ia terintimidasi dengan tatapan itu.
'Kenapa gue selalu jadi lemah saat di depan lo, Bang? Kenapa gue harus selemah ini? '
"Sekalian saja jadi pecandu seperti cewek yang lo puja itu, bodoh! " Hardik Kara sambil mendorong kening Raja dengan kasar kemudian pergi dari kelas itu.
Kara menyeringai tepat saat melewati ambang pintu kelas. Sementara Raja menendang meja yang berada di sekitarnya dengan marah. Kara berjalan menjauh dari kelas Raja. Ia merogoh handphone di saku celananya dan tampak menghubungi nomor seseorang.
"Gue butuh bantuan lo. "
...***...
Langit jingga sore ini tertutup awan mendung yang siap mengantarkan rintik hujan pada bumi. Angin dingin membuat Alex yang tengah berdiri di depan kafe makin mengeratkan jaket denim yang dipakainya. Ia menengadah menatap langit mendung dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia menghela nafas.
"Tau gini gue pakai mantel aja tadi. " Gumamnya menyesali pilihannya sendiri.
'Gimana kabar lo di sana, Rian? Apa lo bisa ngerasain kedinginan juga kayak gue sekarang? '
Alex tersentak dari lamunannya saat merasakan sesuatu yang hangat melingkar di lehernya. Sebuah syal rajut berwarna hijau army melilit di lehernya.
"Maaf ya, kelamaan nunggu sampai kedinginan gini. " Ucap Morin yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa malah dikasih ke gue syalnya? Dingin banget kayak gini, lo bisa kedinginan. " Tanya Alex heran sambil mulai melepaskan syal itu.
Tapi gerakan tangannya terhenti karena tangan Morin menahannya. Morin tersenyum sambil kembali membenarkan posisi syal di leher Alex.
"Gue cuma kedinginan, lo bisa mati. Gak inget kalo lo gak tahan sama udara dingin? Lagian kalo gue kenapa-napa, gue tau lo gak bakal tinggal diam. Kalo lo yang kenapa-napa, siapa yang bakal jaga gue? "
__ADS_1
Morin terus saja mengomel dengan mata yang fokus ke syal dan Alex hanya terdiam mendengar itu. Omelan Morin tidak pernah berubah dan hal itu membuat Alex tersenyum sambil melamun.
Morin telah selesai membenarkan syal di leher Alex. Ia menatap heran saat menemukan Alex yang tersenyum sambil melamun. Morin melambai-lambaikan tangannya di depan wajah teman kecilnya itu. Tapi, Alex tidak juga menanggapinya. Akhirnya Morin menghela nafas kemudian tersenyum jahil. Sekuat tenaga ia memukul pundak Alex dan berhasil membuat Alex tersentak kemudian meringis.
"Lo apa-apaan sih? Mau aniaya gue ya? "
Morin tertawa kegirangan.
"Lo ngapain ngelamun? Pakai segala senyum-senyum gak jelas. Lo naksir ya sama gue?"
Alex langsung bergidik.
"Amit-amit, cewek galak kayak lo gak mungkin bikin gue naksir. "
Morin berdecak kesal.
"Sialan lo! " Umpat Morin.
"Kan, dikit-dikit ngomel, terus keluar deh umpatan nya. Lagian gak penasaran gue sama body lo, udah sering liat gue. Lo kan sering banget tuh maksa-maksa ikut mandi sama gue. " Celetuk Alex membuat beberapa pasang mata menatap mereka.
Morin cepat-cepat membungkam mulut lemes Alex dengan tangannya.
"Itu dulu waktu kita masih kecil, jangan ngomong sembarangan! Sekarang udah beda, apaan sih?! "
Alex menyingkirkan tangan Morin dari mulutnya kemudian tertawa.
"Apanya yang beda? " Tanya Alex dengan senyum nakal dan sebelah alis yang naik turun.
Morin salah tingkah, ia mendengus sebal kemudian berjalan meninggalkan Alex yang tengah tertawa puas setelah mengerjainya. Morin menutup kedua telinganya saat Alex berjalan mengikutinya sambil terus bertanya.
"Apa yang berubah, Zoy? Kok gak dijawab? Jawab dulu dong. Zoya, Zoya. "
Morin terus mengabaikan Alex yang bertingkah seperti anak kecil. Saking kesalnya Morin menyebrang tanpa melihat kanan kiri. Hampir saja sebuah motor yang melaju kencang menabrak tubuhnya jika Alex tidak sigap menariknya kedalam dekapan. Orang-orang di sekitar mereka ikut terkejut dengan kejadian itu.
"Jadi, apanya yang berubah, Zoy? " Tanya Alex dengan wajah serius yang langsung membuat Morin tersadar dan spontan meninju dadanya.
Alex tertawa dengan tidak tau dirinya sambil memegang dadanya yang ditonjok Morin saat Morin beranjak menjauh dengan wajah kesal. Morin kembali berjalan meninggalkannya tapi kali ini Alex berlari menyusul Morin kemudian memeluk Morin dari belakang.
"Bercanda Zoy, serius amat. Jangan bikin gue jantungan kayak tadi, kalo gue mati duluan siapa yang bakal jaga lo, heh? "
Morin akhirnya tersenyum sambil menyentuh tangan Alex yang melingkar di lehernya. Morin terkekeh sambil tetap berjalan dengan Alex yang nemplok di punggungnya.
"Lo yang usil duluan. "
Alex tertawa saat Morin menanggapinya dengan nada kesal.
"Bersyukur dong! Cuma gue yang mau jaga anak macan kayak lo. "
Morin kembali cemberut.
"Gue bilangin mama, ya? "
Alex nyengir.
"Jangan lah, abis gue kena omel tante. Tega emang? "
Alex mendramatisir dan membuat Morin mendengus sambil menepis lengan Alex dari lehernya. Morin berhenti berjalan dan berbalik menghadap Alex yang membuat Alex ikut berhenti.
"Mampus! " Ejek Morin kemudian berlari meninggalkan Alex sambil tertawa.
Alex terkekeh melihat kelakuan teman kecilnya itu dan mulai mengejar Morin.
__ADS_1
...***...
Rico dan sang ayah tengah duduk dengan gelisah di kantor polisi terdekat. Dengan penjagaan yang ketat mereka akhirnya sampai ke kantor itu. Wartawan yang awalnya berkerumun di depan kediaman Xilent kini mengikuti mereka sampai ke kantor polisi.
Sebuah mobil avanza hitam akhirnya datang membawa Chelsea yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Wartawan yang mulai heboh melayangkan berbagai pertanyaan berhasil di amankan petugas.
Chelsea sudah memakai masker dan topi sebelum keluar dari mobil, ia nampak tertunduk dalam menghindari jepretan kamera yang terus menyasar padanya saat digiring petugas. Saat Chelsea masuk tatapan kecewa sang ayah langsung menyambutnya.
"Kita akan melakukan tes sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan kedepannya. Silahkan nona Chelsea masuk ke laboratorium kami. "
Chelsea menatap sang ayah dengan tatapan yang sulit diartikan. Sementara Rico tertunduk membuat Chelsea tersenyum tipis. Chelsea melangkah menuju tempat yang laboratorium bersama dua orang petugas wanita.
Rico nampak terdiam sementara sang ayah memejamkan matanya sambil terus membaca doa.
'Chelsea bukan pecandu, trip itu jelas punya gue. Gak mungkin hasilnya bakal positif, apa yang harus gue lakuin sekarang? Apa gue harus seneng atau justru takut? Kalo hasilnya negatif otomatis gue juga bakal ditest. Ini bahaya buat gue, gue gak boleh ketahuan. '
Tes itu tidak berlangsung lama. Chelsea sudah kembali bersama mereka, duduk saling terdiam sambil beradu pandang. Nampak Chelsea begitu tenang dan justru membuat Rico kian gelisah. Sang ayah sudah enggan berbicara.
"Bagaimana hasilnya? " Tanya seorang petugas pada petugas wanita yang baru saja keluar dari laboratorium.
"Kita harus menunggu beberapa jam untuk mengetahui hasilnya. Untuk itu keluarga bisa kembali ke rumah atau jika ingin menunggu kami persilahkan. "
Tuan Besar Xil menghela nafas.
"Kami akan menunggu di sini. " Putus Tuan Besar Xil membuat Rico semakin gelisah.
'Gimana caranya biar gue bisa menghindari tes ini? Kalo ayah tetap disini, gue gak bisa nyari alasan. '
Rico terus bergelut dengan pemikirannya dan mengabaikan sang ayah yang sudah beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Chelsea. Chelsea tidak pernah melepaskan tatapannya pada saat ayah. Dengan berani dia terus menatap.
"Bilang sama ayah sekarang, kamu gak pernah lakuin hal bodoh itu, kan? "
Mendapat pertanyaan itu membuat Chelsea tersenyum.
"Ayah, jangan tutup mata ayah dari kebenaran di depan mata. Chelsea salah kali ini, maaf Chelsea harus bilang ini. Tapi, Chelsea emang bersalah. Jangan bela Chelsea, ayah. Kali ini, jangan bela Chelsea. "
Tuan Besar Xil memejamkan matanya berusaha menerima kenyataan yang ia dengar langsung dari mulut putrinya. Tapi, seberapa pun ia meyakinkan, hatinya tetap menolak percaya. Ia merasa lebih mengenal putrinya dari pada siapapun.
Hampir empat jam menunggu dan akhirnya hasil tes telah di dapatkan. Seorang petugas wanita datang membawa hasil tes itu dari laboratorium. Nampak wajah Rico yang kian gelisah. Sementara Chelsea terlihat tenang.
"Seperti pengakuan tersangka, hasilnya positif. Tersangka adalah seorang pengonsumsi obat-obatan terlarang. "
Lagi, sang ayah memejamkan matanya berusaha menerima kenyataan. Sementara Chelsea hanya tersenyum saat Rico tampak sangat terkejut.
'Gimana bisa hasilnya positif? Jelas-jelas trip itu punya gue. '
"Tersangka akan langsung kami bawa ke tempat rehabilitasi, keluarga bisa ikut mengantar. "
Sang ayah menghela nafas kemudian menatap putrinya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa seperti ini? Kamu membuat ayah kecewa, Chelsea. " Ucap sang ayah membuat Chelsea ikut menghela nafas.
Chelsea hanya menurut saat digiring petugas. Sebelum benar-benar melewati ambang pintu Chelsea menepuk bahu Rico yang masih dalam keterkejutannya. Rico sontak menatap Chelsea dengan penuh pertanyaan. Lagi-lagi Chelsea tersenyum.
"Kenapa? "
"Karena kita sedarah, kak. Cuma ini yang bisa Chelsea lakuin demi kakak. "
Rico mematung. Mengabaikan Chelsea yang kian menjauh.
'Selama ini Chelsea tau? Dia lakuin hal bodoh ini demi gue? Bodoh! Ini gara-gara lo, Adhitama. Gue bakal buat perhitungan sama lo. '
__ADS_1
Dibelakang kerumunan wartawan tampak seorang pria dengan hoodie dan masker hitam mengernyit heran. Rencananya kembali gagal dan justru ia yang mendapatkan kejutan.
"Apa-apaan ini? Kenapa Chelsea? "