
"Jangan ngomong tentang kebaikan, Kak. Kebaikan itu beban. "
Alex tengah duduk di kursi tunggu rumah sakit saat kata-kata Raja berulang-ulang terucap di pikirannya. Beberapa saat ia bersandar ke tembok di belakangnya dan mulai menengadah. Matanya menatap lampu koridor yang bersinar menyilaukan.
"Gak usah bahas kebaikan deh, kebaikan itu beban. "
"Beban hidup gue tuh, kebaikan dari lo semua. Makanya, jangan terlalu baik sama gue. "
"Jangan bikin gue ngerasa terbebani, woy! Gak usah terlalu baik jadi orang. "
"Lex, kenapa ya fans gue repot-repot kasih ini itu? Beban banget tau gak? "
"Lo tau kan, kebaikan itu beban. Harusnya gue juga gak di bodohi kalo emang gak ada yang ngerasa terbebani sama kebaikan, ya gak sih? "
Alex tiba-tiba mengernyit seolah baru terpikirkan sesuatu. Setelahnya ia memejamkan mata sesaat sambil tertunduk. Kata-kata Raja mengingatkannya pada Rian.
"Jadi, lo sebenarnya udah tau semuanya Rian. Itu sebabnya lo selalu ngelantur tentang beban hidup. " Gumam Alex sebelum kemudian membuka matanya.
"Kenapa gue gak pernah sadar hal ini dari dulu? Dan kenapa juga gue harus ketemu sama orang yang selalu bisa bikin hati dan pikiran gue menolak lupa sama lo? Apa lo gak bisa bikin hidup gue tenang? "
Alex menghela nafas.
"Kalo ini mau lo, bantu gue beresin semuanya dengan cepat, Rian. "
Alex menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia masih tertunduk, tapi kini semakin dalam. Setelah menghela nafas ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
Beberapa saat ia tampak menarik nafas berulang-ulang sebelum kemudian beranjak dari duduknya. Pakaiannya sedikit kusut dan ia merapikannya. Baru setelah itu ia berjalan menuju lift untuk naik ke lantai tempat ruang rawat yang ditempati Chelsea berada.
Alex melirik arloji di tangannya setelah masuk ke dalam lift. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan ia langsung keluar bersama beberapa orang yang tidak ia kenal. Ia sempat menghela nafas sebelum kemudian berjalan di Koridor lantai VVIP.
Langkahnya terhenti tepat di depan ruang rawat Chelsea. Saat itu ia melihat Saka baru saja keluar dari ruang rawat Chelsea.
"Wah, mampus! " Gumam Alex yang hendak mengurungkan niatnya.
"Hey! "
Alex mendesis dan berusaha tersenyum. Sementara Saka datang menghampiri Alex dengan setengah berlari.
'Kenapa harus ketemu nih orang disini? '
"Dari mana aja lo? Gue liat lo udah dari tadi, gue kira lo mau jenguk Chelsea. " Tanya Saka membuat Alex berpikir keras mencari alasan.
"Gue... Jenguk teman dulu, ini sekarang gue mau jenguk Chelsea. " Jawab Alex dengan gugup.
__ADS_1
Mendengar jawaban Alex malah membuat Saka menyipitkan matanya saat menatap Alex. Tampak jelas sekali ia mencari kebohongan di mata Alex. Alex yang mendapat tatapan seperti itu jadi semakin gugup.
"Lo kenapa liatin gue kayak gitu? " Tanya Alex untuk mengantisipasi.
Ditatap seperti itu lama kelamaan akan membuat dia panik sendiri. Dan kebohongannya akan terungkap bahkan tanpa ia bicara.
"Lo... "
Melihat tingkah aneh Alex malah membuat Saka dengan sengaja menggantung ucapannya. Sementara Alex mulai panik dan segera memikirkan alasan lain yang akan mendukung alasannya tadi.
"Masuk aja sana! Chelsea pasti seneng banget liat lo datang jenguk dia ke sini. " Lanjut Saka membuat Alex akhirnya bisa bernafas lega.
Melihat Alex yang menghela nafas membuat Saka tertawa.
"Gue gak pernah nyangka, ternyata jahil sama lo itu bisa bikin gue bahagia. " Ucap Saka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alex.
"Gue menderita, b*go! Laknat banget sih lo jadi orang. " Balas Alex sambil memukul lengan Saka tanpa perasaan.
Saka meringis saat merasakan pegal di lengannya akibat pukulan dari Alex.
"Sakit, woy! " Protes Saka sambil mengusap-usap lengannya.
"Bodo amat! " Celetuk Alex yang kemudian masuk ke dalam ruang rawat Chelsea meninggalkan Saka tanpa peduli.
"Sialan! "
Saka terkekeh sebelum kemudian beranjak dari tempat itu. Sementara Alex yang baru masuk ke dalam ruang rawat Chelsea langsung disambut tatapan tajam. Chelsea menatapnya dari atas sampai bawah dan membuat Alex gugup sendiri.
"Kenapa liatnya kayak gitu banget? "Tanya Alex akhirnya.
Chelsea memalingkan pandangannya.
"Ternyata ada yah yang jenguk orang sakit tapi gak bawa apa-apa. " Sindir Chelsea tiba-tiba membuat Alex diam-diam menyesali kebodohannya.
'Kenapa gue bisa lupa hal sepenting itu? Bodoh! Gimana gue jawabnya sekarang? '
Batin Alex sudah panik sendiri memikirkan alasan untuk menutupi kebodohannya. Sekaligus kebohongan yang akan ia ucapkan nantinya. Dan memikirkan hal itu membuatnya sesaat melamun.
Sedangkan Chelsea yang tidak mendengar jawaban dari Alex langsung mengalihkan pandangannya kembali untuk menatap penuh tanya pada Alex. Melihat Alex yang malah melamun membuat Chelsea kesal. Dengan sengaja ia berdeham dan hal itu berhasil membuyarkan lamunan Alex.
"Eh, itu, anu, "
Chelsea mengernyit.
__ADS_1
"Om kenapa sih? Gak biasanya kayak gini, ini benar-benar gak biasa loh om. " Ucap Chelsea dengan curiga.
"Om juga gak pernah jenguk Chelsea, sok sibuk banget jadi orang. " Lanjut Chelsea membuat Alex tersenyum dengan rasa bersalah.
"Iya deh, kamu emang paling benar. "
Chelsea tersenyum karena Alex masih selalu menyerah dengan mudahnya saat mereka berdebat. Tapi beberapa saat setelahnya senyum Chelsea berubah jadi penuh maksud. Dan Alex yang mulai merasakan suasana berubah hanya bisa pasrah dan berusaha tetap tersenyum.
"Om orang baik, kan? " Tanya Chelsea yang membuat Alex mengernyit.
"Tadi Chelsea liat mobil keluaran terbaru, Om mau kan bantu Chelsea? Chelsea suka loh Om sama modelnya. " Ucap Chelsea penuh kode.
Alex memejamkan matanya.
'Gila! Dia orang kaya, kenapa selalu bikin gue melarat tiap gue bikin salah? Kenapa juga gue gak bisa nolak permintaan Chelsea? '
Dia bergidik ngeri saat mengingat hari dimana ia menolak permintaan Chelsea. Selama satu minggu Chelsea mengacaukan pekerjaannya dan membuat klien-kliennya membatalkan kontrak. Setelahnya Chelsea membuat Alex pusing karena berkas-berkas perusahaan beberapa kali ditukar saat Alex akan rapat.
Alex sempat akan mengadu pada Tuan Besar, tapi Chelsea selalu berhasil menggagalkan rencananya dengan berakting. Setelah itu ia tidak lagi berani menolak permintaan Chelsea. Dan tabungannya lah yang jadi korban.
"Om tega nolak permintaan Chelsea? Yakin? "
Alex menghela nafas.
'Lo yang tega ngerampok gue, Chelsea. '
Sementara itu di lokasi syutingnya Octa tengah berbicara dengan manager dan sutradara setelah selesai melakukan sebuah adegan beberapa saat yang lalu. Obrolan mereka nampak diselingi candaan yang membuat mereka tertawa.
"Akting lo makin hari makin bagus, gue sebagai sutradara seneng banget bisa satu project sama lo. " Puji Sutradara pada Octa.
"Bisa aja lo, Bang. Gue malah ngerasa kalo akting gue tuh masih biasa-biasa aja. "
"Gak usah sok merendah deh lo, seneng kan lo dipuji sama sutradara langsung? " Ejek managernya membuat Octa dan sutradara tertawa.
"Gue jadi ingat sama seseorang yang menurut gue dia tuh bakal cocok banget kalo jadi lawan main lo. Apalagi drama kolosal kayak sekarang. Gue pernah benar-benar muji akting dia dulu. Orangnya baik banget, selalu bisa bikin para kru ketawa. "
Octa tersenyum mendengar ucapan sutradara.
"Emang siapa sih, Bang? Gue jadi penasaran sama orang itu. Kapan lagi gue bisa dengar lo muji orang sampai segitunya, kan? " Tanya manager membuat sutradara tersenyum tipis.
"Dia pernah populer banget, orang panggil dia Rian. " Jawab si sutradara membuat senyum di wajah Octa pudar seketika.
"Rian? " Tanya Octa memastikan.
__ADS_1
Sutradara mengangguk.
"Arian Narra Megardante. "