
"Jadi rencana awal mau di lanjut apa gimana? " Tanya Rico kemudian meminum jusnya.
Rico dan Alex tengah berada di kantin rumah sakit untuk makan siang bersama. Setelah mendengar pertanyaan Rico, Alex yang semula tengah menikmati mi goreng yang dipesannya langsung menghentikan makannya.
"Setelah semua yang terjadi, cuma orang bodoh yang bakal mundur. " Jawab Alex membuat Rico terkekeh.
Alex tidak lagi memberi jawaban dan memilih kembali menikmati makanannya. Sementara Rico yang mengerti kalau Alex enggan membahas hal itu juga langsung kembali fokus pada minumannya.
Tiba-tiba handphone Rico yang tergeletak di atas meja bergetar. Rico sempat melihat nama yang tertera di layar handphonenya sebelum kemudian menjawab panggilan masuk itu.
"Ada apa? "
"... "
Rico tampak mengernyit.
"Oke, biar gue yang cari tau. Awasi aja gerak-geriknya. "
"... "
"Oke, gue tunggu laporan lo. " Ucap Rico menutup obrolannya dengan orang di seberang panggilan.
Setelahnya Rico menutup panggilan telepon dan menyimpan kembali handphonenya di atas meja. Matanya menatap penuh tanya pada Alex yang sedang menikmati makanannya.
"Lex! " Panggil Rico
"Hm? " Balas Alex dengan enggan.
"Ada yang gak lo ceritain ya ke gue? "
Alex menghentikan kegiatan makannya yang memang sudah selesai. Setelah itu meneguk minumannya dan balas menatap Rico yang juga tengah menatapnya dengan penasaran.
"Apa yang gak gue ceritain ke elo? "
"Ya elah! Gue nanya sama lo, b*go! Kenapa malah nanya balik? Aneh lo! "
Alex tertawa mendengar ucapan Rico.
"Ngomong apa anak buah lo tentang gue? " Tanya Alex membuat Rico menghela nafas.
"Gak ada, cuma dia bilang ada cowok yang selalu ngawasin adik gue. Lo pasti tau siapa tuh cowok, tapi lo gak pernah tuh cerita ke gue. " Jelas Rico
"Adik lo yang mana? "
"Chelsea lah, masa si bocah? "
Lagi-lagi Alex tertawa karena balasan Rico.
"Adik lo itu banyak yang ngejar, cowok yang mana nih? "
"Yang masuk rumah sakit, kata anak buah gue lo beberapa kali jenguk tuh cowok. Lo gak pernah tuh cerita ke gue. "
"Gak penting juga, namanya Raja. Tuh cowok dari yang gue perhatiin emang udah suka sama adik lo dari SMP. "
Rico mengangguk-angguk pelan.
"Tenang aja, gue tau tuh cowok dari keluarga baik-baik. " Lanjut Alex membuat Rico tenang.
"Eh, lo bilang Chelsea banyak yang ngejar, kan? "
"Kenapa? Jangan bilang lo mau gue cerita tentang semua cowok di dekat Chelsea? " Tuduh Alex
__ADS_1
"Gak! Gue masih banyak kerjaan lain yang lebih bermanfaat. " Lanjut Alex sebelum Rico sempat menjawab tuduhan darinya.
Rico melempari Alex dengan kuaci yang bungkusnya baru ia buka.
"Gue belum ngomong, b*go! Gue juga males dengerin lo cerita soal cowok-cowok di sekitar Chelsea. "
"Gue cuma mau lo awasi tuh cowok-cowok. " Lanjut Rico sambil memakan kuaci.
"Oh, oke. " Jawab Alex dengan santainya.
Rico kembali melempari Alex dengan kuaci saat mendengar nada santai Alex.
"Mubazir woy! Dasar orang kaya! "
"Emang gue kaya. "
Di lain tempat Chelsea tengah berbaring tak berdaya di ranjang ruang rawat VVIP rumah sakit keluarga Xilent. Setelah mengeluarkan banyak tenaga karena memaksa keluar dari ruang rawat dan penjagaan para bodyguardnya beberapa saat lalu, Chelsea sepertinya kehabisan tenaga.
Tuan Besar Xil yang tengah menatap putrinya dengan sendu itu hanya bisa menghela nafas. Beberapa saat sebelum Chelsea memaksa keluar dari ruang rawat, dokter mengatakan kalau Chelsea harus dirawat inap karena masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tuan Besar mengeluarkan handphonenya dan menelpon seseorang. Beberapa saat menunggu akhirnya panggilan tersambung.
"Kamu dimana Lexan? Kenapa kamu gak nemenin Chelsea di rumah sakit? "
Ya ampun! Maafin Lexan ayah. Lexan tadi harus ngurus Zoya dan Sunny.
Tuan Besar menghela nafas.
"Oke, ayah ngerti. Tapi kamu gak papa, kan? Ayah dapat laporan kalau kamu masuk ke dalam rumah yang terbakar itu sebelum Chelsea. "
Lexan baik-baik aja, ayah gak usah khawatir.
"Ayah tenang kalau kamu ngerasa baik-baik saja. Tapi kamu tetap harus diperiksa dulu baru bisa yakin kalau kamu gak papa. Ayah bisa kirim dokter ke rumah kamu kalau kamu gak ada waktu ke rumah sakit. "
Tuan Besar kembali menghela nafas. Setelahnya obrolan-obrolan kecil tercipta antara keduanya. Obrolan itu berlangsung cukup lama karena diselingi candaan.
...***...
Malam semakin larut dan Octa baru saja selesai melakukan pemotretan. Setelah berganti pakaian dan menghapus sedikit riasan di wajahnya Octa langsung menghampiri Ran yang tertidur di sofa ruang rias.
Octa nampak tersenyum tipis sebelum kemudian mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja. Saat membuka handphonenya ia mengernyit karena menemukan banyak sekali panggilan tak terjawab dari adiknya, Kara.
"Anak ini, kurang kerjaan banget. Gak nelpon juga gue udah tau nih anak mau ngomong apaan. "
Meski menggerutu seperti itu Octa tetap menelpon balik adiknya. Sebelum panggilan tersambung ia berjalan menjauh dari Ran karena tidak ingin mengganggu tidur adiknya itu.
"Kenapa? " Tanya Octa saat panggilan sudah tersambung.
Telat banget, sibuk yah?
"Gak kakak jawab juga udah tau sendiri, kan? "
Kara terkekeh.
Kakak gak ada niatan jenguk pacar kakak? Tega banget jadi cowok.
Octa tertawa mendengar ucapan adiknya.
"Gak usah repot ngurusin urusan orang lain, cari pacar sana! "
Gak usah ngeledek juga bisa, kan? Lagian bentar lagi Chelsea juga pasti bisa gue jinakkan.
__ADS_1
"Jinakkan? Dikira hewan buas. Gue jenguk Morin besok, urus sana cewek lo! Jangan sampai lo belum takluk udah direbut duluan. "
Sembarangan! Ya udah lah, nyesel jawab telpon kakak. Bikin emosi lama-lama.
Octa tertawa mendengar ucapan adiknya kemudian memutuskan sambungan telpon. Setelahnya ia kembali ke tempat Ran berada dan bersiap-siap untuk pulang.
Esoknya matahari bersinar terang dan sepertinya hari ini akan sangat cerah. Kara keluar dari basement gedung apartemen dengan menggunakan motor kesayangannya. Ia hendak pergi menuju rumah sakit untuk menjenguk Chelsea.
10 menit kemudian ia sampai di rumah sakit keluarga Xilent dengan selamat. Memarkirkan motornya di basement gedung rumah sakit dan berjalan menuju tempat administrasi.
"Sus, saya mau mencari ruang rawat nona Xil, dimana yah? " Tanya Kara pada perawat di belakang meja administrasi.
"Nona Xil berada di ruang rawat VVIP nomor 1,Tuan." Jawab perawat dengan ramah.
"Terimakasih, Sus. " Ucap Kara sebelum kemudian pergi ke arah lift.
Beberapa saat menunggu akhirnya lift terbuka dan ia segera masuk ke dalam lift bersama beberapa orang. Tidak butuh waktu lama untuk Kara sampai ke ruang rawat Chelsea.
Beberapa bodyguard yang sudah tidak asing dengannya langsung membungkuk menyapa Kara saat ia sampai di depan ruang rawat Chelsea. Kara tersenyum ramah.
"Apa Tuan Besar ada di dalam sana? " Tanya Kara pada salah satu bodyguard.
"Iya, Tuan. Sebentar Tuan, biar saya melapor dulu pada Tuan Besar. " Jawab bodyguard itu kemudian masuk ke dalam ruang rawat.
Di dalam ruang rawat Chelsea tengah memakan potongan buah-buahan sambil duduk di atas ranjang. Ia tampak bosan sementara ayahnya sibuk dengan tablet di tangannya.
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dan seorang bodyguard masuk menghadap Tuan Besar. Tuan Besar segera mengalihkan pandangannya pada bodyguard yang hendak memberi laporan. Bodyguard itu mulai bicara setelah memberi hormat pada tuannya.
"Tuan Kara datang menjenguk Nona, Tuan Besar. "
Tuan Besar tersenyum mendengar laporan bodyguardnya.
"Suruh masuk aja. " Ucap Chelsea dengan sumringah.
Bodyguardnya itu menatap pada Tuan Besar. Saat mendapatkan anggukan dari tuannya ia langsung membungkuk hormat dan segera kembali ke luar. Tak lama kemudian Kara datang dengan senyuman manisnya.
Kara menyapa Tuan Besar sebentar dan berjalan menghampiri Chelsea yang sudah menatapnya dengan sumringah. Chelsea tampak sangat senang bertemu dengan Kara.
"Maaf yah, gue baru bisa datang sekarang. Gak bawa apa-apa lagi. "
"Aku udah seneng banget kamu bisa jenguk aku. "
Kara tersenyum mendengar ucapan Chelsea. Setelahnya obrolan kecil berlangsung antara keduanya. Dan setelah banyak obrolan itu kini Chelsea tengah berjalan menuju taman rumah sakit ditemani Kara di sampingnya.
"Kalo lo capek, ngomong aja. "
Chelsea tersenyum kemudian mengangguk. Mereka berjalan pelan dan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke taman. Taman rumah sakit terlihat sedikit ramai dandan membuat Kara ragu untuk membawa Chelsea ke sana.
"Yakin mau tetap ke taman? " Tanya Kara dengan ragu.
"Yakin lah, sumpek tau di kamar terus. "
Akhirnya Kara tetap menemani Chelsea menuju taman meski agak ragu. Mereka awalnya hanya duduk di bangku taman dan menikmati udara segar. Tapi seorang anak kecil melemparkan boleh gas pada Chelsea dan membuat Chelsea ingin ikut bermain.
Tanpa meminta persetujuan Kara, Chelsea langsung menarik pergelangan tangan Kara untuk ikut bersamanya bermain dengan anak-anak. Awalnya Kara nampak enggan tapi setelah lama bermain ia nampak senang.
Keduanya saling melempar bola dan tiba-tiba seorang anak melemparkan bola itu pada seseorang yang duduk di kursi roda. Semua menoleh pada orang itu begitupun Chelsea dan Kara. Chelsea tampak terkejut.
"Raja? " Gumam Chelsea.
Raja sama terkejutnya dengan Chelsea. Dengan panik ia melemparkan bola itu dan beranjak
__ADS_1
"Raja! Tunggu! "