LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Pesan Tak Sampai (Revisi)


__ADS_3

Hari mulai beranjak siang saat Alex, Raja dan mamanya sampai di bandara. Alex terus saja menemani sepasang anak dan ibu itu sampai mereka masuk ke bandara. Mereka sempat berbincang dan bercanda.


"Kayaknya kita makan siang lebih awal aja biar bisa bareng-bareng, kan Raja berangkatnya pas setelah jam makan siang. " Usul mama Raja yang langsung di setujui Raja dan Alex.


"Enaknya kita makan dimana ya? " Tanya mama Raja setelahnya.


"Roof Top! "


"Roof Top! "


Raja dan Alex saling menatap saat mereka tidak sengaja mengusulkan tempat yang sama dengan kompaknya. Mama Raja tersenyum melihat hal itu.


"Wah! Kalian bisa kompak gitu, seneng deh liatnya. Berasa liat adik kakak beneran. " Ucap Mama Raja dan senyum sumringah.


Raja ikut tersenyum mendengar ucapan mamanya sementara Alex malah menatap Raja semakin intens. Sebelum kemudian berpamitan untuk pergi ke toilet sebentar.


Sampai di toilet Alex langsung mencuci wajahnya di wastafel. Setelahnya ia menunduk dalam di depan cermin dengan tangan yang bertumpu pada pinggir wastafel. Matanya terpejam dan beberapa kali ia menghela nafas.


"Gimana bisa? Gak mungkin ada yang semirip ini. "


Dengan tanpa izin benaknya memutar kembali ingatan tentang Rian beberapa tahun lalu. Saat itu ia menjemput Rian dan Rico di bandara bersama Octa. Rian dan Rico baru menyelesaikan tour mereka yang diatur agensi.


Flashback On


"Udah hampir waktu makan siang, jadi kita mau makan dimana nih? " Tanya Rico dengan penuh semangat.


"Tumben banget lo nanya? Kayak yang mau traktir kita aja. " Celetuk Rian.


"Eh, salah emang? " Timpal Rico dengan heran.


"Enggak salah, aneh aja. " Jawab Alex menanggapi.


"Aneh gimana? Gue cuma nanya tempat makan loh ini. "


"Jelas aneh kalo yang nanya itu orang pelit kayak lo yang sukanya makan gratisan. " Ucap Octa menohok dengan ekspresi datar.


Rico mati kutu sementara Alex dan Rian tertawa ngakak.


"Ta! " Panggil Rico dengan tatapan yang masih terarah pada objek yang sama.


"Kenapa? Gak usah baperan! "


"Gue belum ngomong elah, gercep banget lo nistain gue. " Protes Rico yang semakin membuat Alex dan Rian senang menertawakannya.


"Lo emang pantes di nistakan. " Ucap Octa menyelesaikan drama mereka dengan cepat.

__ADS_1


Awalnya Rico nampak cemberut sebelum kemudian menghela nafas.


"Okelah, gak papa, Ta. Gue anggap lo bercanda. " Ucap Rico yang membuat Octa memutar bola matanya malas.


"Jadi sebenarnya kita mau makan dimana nih? "


Alex dan Rian tampak berpikir sementara Octa hanya menyimak dengan pasrah. Wajahnya lempeng saja menunggu teman-temannya yang tengah berpikir.


"Gimana kalo... "


"Roof Top! "


"Roof Top! "


Alex dan Rian saling menatap. Sementara Rico menatap keduanya dengan heran.


"Kompak banget lo berdua, jangan-jangan lo berdua itu kakak adik yang terpisah selama bertahun-tahun. "


Rico meringis saat tiba-tiba Octa memukul kepalanya dengan tidak berperikemanusiaan. Sementara Alex dan Rian kembali menertawakan Rico. Rico menatap kesal pada Octa sementara yang ditatap hanya memasang wajah lempeng andalannya.


"Drama banget hidup lo, lain kali gak usah ngaco. " Celetuk Octa.


Rico yang merasa ternistakan hanya mengelus dada mencoba bersabar.


"Semoga jiwa psikopat gue gak maksa buat bunuh orang ini. " Ucap Rico bermonolog.


"Mana ada psikopat kayak lo, modal mata serem doang. "


Flashback Off


Lagi-lagi Alex menghela nafas sebelum kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin. Alex mengambil tisu dan mengeringkan wajahnya kemudian berjalan keluar toilet setelah membuang tisu bekas ke dalam tong sampah.


Sementara itu di rumah sakit milik Xil grup Chelsea berjalan gontai di Koridor. Di belakangnya Saka masih setia membuntuti sementara Kara berdiri menatap setiap sudut ruang rawat yang pernah ditempati Raja.


Kara mengernyit saat matanya menangkap keberadaan sebuah kertas di atas ranjang. Kertas itu tersamarkan warna seprai ranjang yang memiliki warna yang sama dengan kertas itu. Dengan cepat melangkah menuju ranjang dan mengambil kertas itu.


"Apa ini gambar bunga lavender? "


Pertanyaan Kara belum sempat terjawab saat Saka memanggilnya dengan tiba-tiba. Tangan Kara sigap menyembunyikan kertas itu saat ia menoleh pada Saka yang berada di ambang pintu di belakangnya.


"Lo kalo masih mau disini gak papa, gue sama my angel mau balik ke ruang rawat my angel sekarang. "


"Oh, oke. Nanti gue nyusul. " Balas Kara.


Setelahnya Saka langsung pergi meninggalkan Kara sendirian di ruang rawat itu. Kara kembali menatap kertas yang ia sembunyikan sebelumnya. Genggaman tangannya tampak semakin erat pada kertas itu.

__ADS_1


"Gak bisa, gue gak akan biarin semua usaha gue sia-sia. "


...***...


Langit sore ini terlihat mendung dan rintik-rintik gerimis mulai berjatuhan membasahi aspal dan tanah yang kering karena sorot matahari siang tadi. Aroma aspal yang di basahi rintik-rintik gerimis menguar dan sampai pada penciuman setiap orang yang berlalu lalang di luar ruangan.


Dari kejauhan tampak Rico yang lengkap dengan penyamarannya tengah meniup uap yang mengepul dari secangkir kopi di tangannya. Setelahnya ia menyesap kopi itu dengan mata terpejam sambil menikmati aroma kopi yang bercampur aroma aspal basah.


Rico yang tengah duduk di dalam sebuah kafe itu menghela nafas kemudian menyimpan cangkir di tangannya ke atas meja. Di seberang meja seorang anak laki-laki yang sama seperti tempo hari tengah memainkan iPad. Identitas anak itu kini tersamarkan topi bucket dan kacamata hitam yang dipakainya.


"Bukankah aroma ini sangat anda sukai, Mr. Xil? " Tanya anak itu sambil menaruh Ipad-nya di atas meja.


Senyum Rico mengembang saat mendengar pertanyaan anak itu yang sebenarnya tidak harus ia jawab. Anak itu terlalu cerdas untuk sekadar menjawab pertanyaan sederhana tentang diri seorang Rico. Tentu saja anak itu tau aroma kesukaannya.


"Aroma ini, aroma musim gugur. " Ucap Rico yang kemudian menghela nafas.


"Memang lebih baik kalo anda menyukai musim gugur. "


Rico tertawa saat mengetahui maksud perkataan anak itu.


"Dasar bocah! "


Bukannya marah anak itu malah mengambil kembali Ipad-nya dari atas meja. Dan tanpa peduli anak itu kembali memainkan Ipad-nya. Rico yang mulai terbiasa dengan sikap anak itu hanya bisa tersenyum memaklumi.


"Wah! Seru banget nih ngobrolnya. " Tegur Alex yang tiba-tiba datang dan bergabung di meja yang sama dengan Rico.


"Seru?! Mata lo katarak? " Sewot Rico tidak percaya.


Melihat reaksi Rico membuat Alex tertawa.


"Udahlah, sensi amat. " Ucap Alex dengan santainya.


Rico menghela nafas setelahnya melipat tangan di depan dada dan menatap Alex yang baru selesai memesan minuman. Menyadari tatapan Rico tersorot padanya membuat Alex balik menatap Rico dengan penuh tanya.


"Apa anak itu ninggalin pesan atau pamit dulu sama adik gue? " Tanya Rico.


"Dia ninggalin pesan, tapi gue gak yakin pesan itu bisa Chelsea temuin atau enggak. Harusnya ketemu kalo gak ada penghalang. " Jawab Alex yang langsung bisa dimengerti oleh Rico.


Rico menghela nafas.


"Semoga bocah itu gak bertingkah dan bikin kita repot kayak kakaknya. "


Alex mengangguk menyetujui harapan Rico sementara anak laki-laki yang berada di meja yang sama hanya menyimak sambil memainkan Ipad-nya. Tidak jauh dari meja ketiganya nampak seorang wanita dengan kacamata hitam dan topi baseball yang menyamarkan identitasnya memperhatikan mereka.


Wanita itu menempati salah satu meja di kafe itu. Sebelah tangannya terus memainkan sedotan minuman yang ia pesan. Wanita itu tidak sadar dengan mata anak laki-laki di meja Rico yang juga diam-diam memperhatikan gerak-geriknya setelah menyadari kalau wanita itu memperhatikan Rico dan Alex.

__ADS_1


"Merepotkan "


__ADS_2