LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Trauma (Revisi)


__ADS_3

"Gak usah syuting lagi. "


Rian sontak menoleh pada Octa yang duduk di sampingnya. Octa tidak bosan memperhatikannya yang tengah kebingungan saat melihat naskah sejak 10 menit yang lalu.


"Tapi Ta, gue harus profesional kan? "


"Terus apa?! Gara-gara profesional doang lo mau buang nyawa, gitu mau lo?! "


Nada suara Octa terdengar semakin tinggi dan membuat Rian gelagapan. Rian sendiri bingung.


"Gue mau beres-beres barang lo, kita pulang sekarang! " Putus Octa mutlak.


"Tapi, Ta! "


Octa nyelonong tanpa mendengar sanggahan Rian. Rian akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar. Kepalanya tertunduk dalam sementara jemarinya menggenggam kertas naskah dengan erat untuk menyalurkan rasa frustasinya.


"Kenapa? Kenapa gue harus jadi selemah ini? "


...***...


Seorang pria dengan hoodie hitam, topi, masker dan kacamata senada nampak berdiri di bawah pohon yang lumayan rindang. Tubuhnya sedikit bersembunyi dibalik batang pohon.


Dan dibalik kacamata hitam itu matanya menyorot tajam sebuah titik dimana nampak banyak kamera dan alat keamanan. Beberapa mobil terparkir disekitarnya. Jarak yang cukup jauh membuat matanya menyipit. Tiba-tiba seringai misterius tercetak dibalik maskernya.


"Lokasi yang sangat bagus. Tebing itu akan membunuhnya dengan ketakutan, dia akan berhenti menderita jika mati. Dan si brengsek itu akan tersiksa seumur hidup. "


Sesaat kemudian matanya menyiratkan ketakutan. Lalu berganti menjadi kekhawatiran dan kesedihan yang sulit diartikan. Kepalanya menggeleng kemudian tangannya spontan memukul kepalanya sendiri.


"Tidak! Jangan membunuhnya, dia berharga. Jangan membunuh! " Gumamnya pada diri sendiri.


Tingkahnya semakin aneh. Nampak emosinya berubah tidak terkendali. Kadang sedih kemudian marah dan lalu bergantian berulang-ulang. Sesaat ia mendapat kesadaran, meski hanya beberapa detik namun mampu membuatnya merogoh sebuah benda dari dalam saku hoodie nya. Dan lalu benda itu terjatuh saat emosinya kembali tak terkendali.


Sebuah botol berisi obat yang ternyata adalah benda yang diambilnya dari saku tadi menggelinding di rumput kering bukit kecil dimana ia berdiri. Botol itu terhenti saat menabrak sepatu seseorang. Menyadari sebuah benda menabrak sepatunya membuat orang itu berjongkok mengambil benda yang lumayan sering ia lihat akhir-akhir ini.


"Nona Xil! "


Merasa dirinya di panggil membuat orang itu yang ternyata adalah Chelsea sontak menoleh ke sumber suara sambil menyembunyikan botol kecil yang ia temukan itu kebelakang tubuhnya.


"Tunggu, Nona. Anda dilarang keluar dari pengawasan kami. " Ucap seorang dari dua pengawalnya dengan tegas.


Chelsea menatap keduanya dengan kesal.


"Aku ingin buang air! Kalian masih mau ikut?! "


Kedua pengawal itu nampak gelagapan sambil menahan malu.

__ADS_1


"Maaf, Nona. "


"Pergilah! " Titah Chelsea membuat kedua pengawalnya tak berkutik.


Setelah memastikan kedua pengawalnya pergi jauh, Chelsea mengamati botol kecil berisi pil berwarna putih itu dengan seksama kemudian menengok ke sana kemari. Sampai akhirnya matanya itu menangkap keberadaan seseorang dibalik pohon yang ada di atas bukit yang tidak terlalu tinggi itu. Selanjutnya ia mencari jalan yang bisa membuatnya sampai ke tempat sosok itu.


Dan di sinilah dia, menonton kegilaan seseorang yang bisa dikenalinya karena botol obat yang ia temukan. Chelsea melempar botol obat itu sampai mengenai kepala si pria misterius. Nampak pria itu dalam keadaan marah tapi kemudian berubah ceria setelah melihat chelsea yang berdiri 2 meter dari tempatnya. Mata Chelsea berkaca-kaca tapi sekuat tenaga ia menahan kesedihannya.


"Makan! Aku selalu kecewa sama kamu karena pilihan kamu ini. Tapi hati aku sakit liat keadaan kamu yang kayak gini. "


Sementara di lokasi syuting para aktor dan para kru tengah bersiap untuk syuting kembali setelah istirahat selama 15 menit terlewati. Adegan yang harus dilakukan adalah memanjat tebing dan itu merupakan bagian Rian.


Nampak alat pengaman sudah terpasang dan kru pun sudah memastikan keamanannya. Octa berdiri dibelakang sutradara dengan wajah tanpa ekspresi andalannya. Memasukan kedua telapak tangan kedalam saku celana dan menatap intens pada Rian.


"Oke! Shut up, everyone! And action! "


Rian menarik nafas dalam kemudian mengumpulkan keberanian sebelum benar-benar menaiki tebing. Meski tidak tertangkap kamera, namun tangannya yang bergetar tidak bisa lolos dari penglihatan Octa.


'Gue pasti bisa! '


"Keras kepala! " Gumam Octa khawatir.


Octa bisa bernafas lega saat Rian sudah kembali turun dengan selamat. Wajah Rian nampak pucat dan tangannya masih bergetar. Takut, itu yang tengah dirasakan Rian. Meski dia berhasil naik tebing setinggi 5meter itu, tapi ketakutannya benar-benar terasa menyiksa.


'Apa gue harusnya senang? Gue gak mau bohongin diri gue sendiri kalo perlakuan kayak gini emang yang paling gue butuh saat ini. Tapi kenapa harus lo, Bocah? '


"Kak Ian hebat! "


Rian yang sempat melamun terkejut dengan pujian Chelsea. Wajah terkejut itu berhasil membuat Chelsea tertawa dan akhirnya Rian pun terkekeh. Dari kejauhan Octa menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia yang hendak membantu Rian setelah syuting malah mengurungkan niatnya saat melihat Chelsea yang dengan cepat menghampiri Rian.


"Aku tau kak Ian pasti bisa. Tapi... Maaf ya Kak. Gara-gara saran aku kakak jadi sesak nafas kayak tadi. " Ucap Chelsea dengan nada penuh penyesalan.


"Enggak papa, makasih sarannya, Chelsea. " Balas Rian dengan senyuman.


"Pasti kakak takut banget, tangan kakak jadi dingin. Harusnya kakak jangan dengerin saran aku, kakak istirahat aja yuk! Jangan maksain diri kakak lagi! Aku gak suka! "


Tangan keduanya yang saling menggenggam membuat Rian merasa lebih tenang. Keduanya tidak menyadari tatapan terluka Morin yang berdiri mematung tidak jauh dari keduanya. Ada sebotol air dan kotak obat Rian di genggamannya.


'Sialan! Bocah itu benar-benar pengganggu! Ayo Morin! Singkirkan pengganggu kecil itu! Kau ratunya! '


Morin melangkah menuju tempat Rian namun tiba-tiba terhenti saat Octa mencegahnya. Tatapan Octa padanya membuat Morin merinding.


"Bisakah kau membiarkan mereka? Jangan serakah Morin! "


Setelahnya Octa berbalik dan hendak pergi meninggalkan Morin. Tapi Morin lebih dulu menghentikannya dengan kata-kata menohok.

__ADS_1


"Kau pikir ini salah siapa? Karena siapa aku harus terjebak dengan perasaan rumit ini? Siapa yang pantas disalahkan? "


Octa mengepalkan tangannya menahan amarah kemudian pergi begitu saja meninggalkan Morin. Morin menghembuskan nafas kasar kemudian menyeringai dan mulai membatin sambil melihat interaksi sepasang manusia naif yang membuatnya ingin tertawa.


'Kalo lo seagresif ini, gue justru merasa tertantang buat menyingkirkan lo sejauh-jauhnya. '


"Sayang! "


Panggilan Morin sontak membuat Rian menarik genggamannya dari tangan Chelsea. Senyumnya mengembang mendapati Morin yang datang membawa obat dan sebotol air untuknya.


"Minum obat kamu yah, muka kamu pucat, itu membuatku khawatir. Apa rasanya benar-benar menakutkan? " Tanya Morin dengan khawatir.


Rian meminum obatnya sebelum menjawab pertanyaan Morin. Tangan Rian menggenggam tangan Morin dengan erat kemudian tersenyum manis sambil membatin.


'Jantung gue selalu gak aman kalo sama Morin, rasanya gue kayak bakalan sesak nafas lagi. Udah dua tahun lebih dan rasanya masih kayak gini. '


"Aku baik-baik aja setelah liat kamu. "


Chelsea yang merasa diabaikan langsung pergi tanpa pamit membuat Morin bersorak dalam hati. Sementara Rian justru merasa bersalah.


'Kayak ada yang hilang, gak mungkin karena Chelsea pergi kan? Kalo iya? fix! Berarti gue mulai gak waras! '


Chelsea berjalan sambil menendang-nendang batu kecil di jalan setapak yang dilewatinya. Kedua pengawalnya tidak membiarkannya keluar dari pengawasan mereka membuat Chelsea jengkel. Wajahnya cemberut dan nafasnya dihembuskan dengan kasar berkali-kali. Chelsea tidak tahan untuk berteriak.


"Sialan! "


Setelah berteriak tidak tau tempat dan membuat kedua pengawalnya menatap aneh Chelsea malah menggerutu tidak jelas.


"Anda baik-baik saja, Nona? "


Pertanyaan itu justru membuat Chelsea geram.


"Kau pikir aku akan baik-baik saja?! " Bentak Chelsea membuat kedua pengawalnya tak berkutik.


"Aku bahkan tidak sempat pulang, aku berusaha jadi yang paling mengerti keadaannya. " Gumam Chelsea yang masih bisa didengar meski tidak jelas.


"Setelah seperti ini, kau bertanya apa aku baik-baik saja? " Lanjut Chelsea dengan nada yang membuat pengawalnya merinding.


"Bodoh! " Hardik Chelsea kemudian.


Pandangannya tertunduk dalam dan kakinya melangkah gontai. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat penampilannya sendiri.


'Miris banget sih! '


Tiba-tiba langkahnya dihentikan sesosok pria misterius yang belum lama ia temui. Kepalanya mendongak menatap pria dengan hoodie hitam, topi, kacamata dan masker yang sama setiap mereka bertemu. Pria itu berdiri menghadang jalannya sambil menatap dari balik kacamata. Kontak mata itu tidak dapat terelakkan.

__ADS_1


__ADS_2