
"Ambil, bunganya berat. "
Mata Chelsea berkaca-kaca dan air mata menetes melewati pipinya. Tatapan penuh kerinduan itu menjelaskan isi hatinya. Angin bertiup menerbangkan rambutnya yang terurai dan bayangan wajah Rian memenuhi benaknya.
"Kak Ian? "
Pria itu mengernyit.
'Ian? Apa itu orang yang sama seperti yang gue duga? Apa itu Arian Nara Megardante? '
"Lo gak suka bunga yah? "
Pertanyaan itu mengembalikan kesadaran Chelsea. Wajah Rian yang terbayang dalam benaknya kini hilang dan berubah menjadi wajah Kara yang terpampang nyata. Chelsea mengalihkan pandangan sambil mengusap air matanya. Sementara Kara menghela nafas dan ikut duduk selonjoran di samping Chelsea.
Chelsea menoleh saat tiba-tiba Kara memasangkan topi menutupi kepalanya. Mata sembab Chelsea menatap Kara dengan heran.Topi itu jelas miliknya. Sementara Kara hanya tersenyum dan menyodorkan beberapa tangkai bunga lavender yang ia sodorkan tadi.
"Bunganya wangi, kayak parfum lo. "
"Kamu penguntit, yah?! " Tuduh Chelsea.
Chelsea melayangkan tatapan tajam yang membuat Kara nyengir tak berdosa. Setelahnya kembali menatap hamparan padang lavender di lembah bukit dengan tatapan sendu. Beberapa kali juga Chelsea sempat menghela nafas. Tapi nampak tidak punya niat untuk beranjak meski matahari semakin terik.
"Lo masih betah di sini? Gak mau balik gitu? Panas banget ini. "
"Kalo kamu mau pulang ya udah tinggalin aja aku disini. " Jawab Chelsea tanpa merubah ekspresi wajahnya.
Kara berdecak.
"Lo ngomong kayak gitu seolah gue orang yang bakal tega. Berasa jahat banget posisi gue kalo lo yang ngomong. "
Chelsea menghela nafas kemudian menoleh dan melayangkan tatapan jengah pada Kara.
"Kalo mau berisik mendingan kamu pergi, tau gak sih kalo kamu tuh ganggu banget. " Celetuk Chelsea membuat Kara kesal sendiri.
"Udah kan? Aku udah jadi antagonisnya, sana pulang! Aku gak mau berbagi oksigen sama orang ngeselin. " Lanjut Chelsea membuat Kara terdiam.
Setelahnya Kara benar-benar beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Chelsea sendiri di sana.
'Tuh bocah kenapa jadi makin ngeselin kalo lagi sedih? Rasanya pengen gue tendang dari sini biar jatuh ke bawah lembah sekalian. '
Kara hanya bisa menggerutu dalam hatinya meski sesekali ia menggerutu tidak jelas. Langkah kakinya semakin membawa ia menjauh dari Chelsea. Ia menoleh sesaat pada pusara Rian yang baru ia ketahui keberadaannya. Menghela nafas kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk menuruni undakan tangga.
Angin berhembus menerbangkan ujung rambut Chelsea. Ia nampak masih nyaman duduk selonjoran sambil panas-panasan di bawah terik matahari. Chelsea menoleh ke sampingnya dan menemukan beberapa tangkai bunga lavender yang tergeletak. Setelahnya nampak tatapan yang sulit diartikan tersorot dari iris matanya.
...***...
Hari beranjak sore dan langit biru berubah menjadi kelabu. Nampaknya hujan akan turun dengan deras malam ini. Rico keluar dari kamarnya dengan kursi roda yang membuatnya kesulitan. Beberapa saat yang lalu ia mendapat kabar dari anak buahnya bahwa Chelsea sudah pulang.
Saat sampai di ruang tengah ia berpapasan dengan Chelsea yang baru pulang dengan penampilan yang acak-acakan. Dengan mata sembab yang jelas terlihat itu membuat Rico yakin akan satu hal.
'Gak salah lagi, Chelsea pasti pergi ke tempat itu. '
Belum sempat Rico bicara, Ayahnya datang dan dengan panik menanyakan keadaan putrinya. Tidak jauh dari tempat itu nampak Alex yang berdiri di ruang tamu dengan pakaian formalnya.
Rico berdecak sebal sebelum beranjak meninggalkan tempat itu. Rasa khawatirnya pada Chelsea hilang setelah melihat keberadaan Alex. Tapi belum jauh Rico beranjak Alex berlari dan menahan bahu sahabatnya itu. Rico hanya menghela nafas kemudian menoleh.
__ADS_1
Tatapan dingin Rico membuat Alex tidak enak hati. Tangannya sontak menjauh dari bahu Rico dan dengan tatapan penuh rasa bersalah ia menatap Rico. Membuat yang ditatap lagi-lagi menghela nafas.
"Lo pasti bisa hidup tanpa ganggu gue, jadi mendingan anggap aja kita gak saling kenal. Itu bakalan lebih aman buat lo. " Ucap Rico sebelum kemudian pergi meninggalkan Alex.
Dan yang dilakukan Alex hanya berdiri tanpa berniat menyusul sahabatnya. Sementara itu Chelsea tampak menoleh pada Alex dan menatap dengan tatapan tak terbaca. Kemudian pergi ke kamar setelah meyakinkan ayahnya bahwa ia baik-baik saja.
Alex sudah berniat untuk pulang saat Tuan Besar Xil memerintahkannya untuk duduk sebentar. Tuan Besar Xil nampaknya ingin menyampaikan sesuatu pada Alex dan Alex hanya bisa patuh. Keduanya duduk di ruang tengah dan seorang pelayan datang membawakan secangkir teh untuk Alex dan secangkir kopi untuk Tuan Besar.
Alex memperkirakan bahwa obrolan mereka akan berlangsung cukup lama saat melihat teh dan kopi itu tersaji. Melihat Tuan Besar yang mulai menyesap kopinya, Alex langsung mengambil secangkir teh yang disediakan untuknya. Begitu melihat tampilannya Alex sudah tau kalau itu teh Chamomile. Dan setelah aromanya Alex benar-benar merasa tenang.
Alex mulai menyesap teh yang masih agak beruap itu dan tersenyum saat perlahan rasa lelahnya menghilang. Tuan Besar yang melihat reaksi Alex terhadap teh itu ikut tersenyum.
"Sepertinya kamu menyukai teh itu. "
Alex tersenyum menanggapi ucapan Tuan Besar.
"Saya tidak terkejut mengetahui anda memiliki selera yang sangat tinggi. "
Tuan Besar terkekeh.
"Pekerjaan hari ini pasti sangat menyulitkan kamu, saya pernah merasakan hal itu juga. Dulu Rico yang menyarankan saya mencoba teh ini dan seperti yang kamu tau, aroma dan rasanya benar-benar menenangkan. "
Mendengar nama Rico membuat Alex kembali merasa bersalah. Tuan Besar tersenyum.
"Saya tau Rico masih menolak keputusan saya dan memusuhi kamu. Saya tidak akan melarang kamu memberitahunya, selesaikan masalah kalian sebelum dia pergi. "
...***...
Pagi ini matahari bersinar terang meski awan-awan nampak menutup sebagian besar langit. Di depan bangunan megah mansion keluarga Megardante Octa tengah membenahi kopernya. Memasukan satu-satunya koper yang ia bawa ke dalam mobil. Setelahnya berpamitan pada kedua orang tuanya yang menatapnya dengan tatapan sendu. Sementara Morin terus mendampinginya.
Octa tersenyum kemudian menggenggam tangan Morin dan memperlihatkan pada kedua orang tuanya.
"Ada Morin, mah. Lagian ayah kan harus kerja, mamah juga mendingan istirahat aja. " Jawab Octa berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.
" Udahlah, mah. Kan Vian juga gak akan lama di sana. " Bujuk sang ayah.
Akhirnya dengan terpaksa mamahnya menerima keputusan Octa. Octa berpamitan pada orang tuanya begitupun dengan Morin. Setelahnya mobil Octa yang dikemudikan sopir keluar dari kawasan mansion.
Di dalam mobil Morin terus saja menempeli Octa dan membuat Octa terkekeh beberapa kali. Octa membiarkan Morin yang terus menunjukkan sikap manjanya dan hanya sesekali menanggapi dengan godaan.
"Awas aja kalo kamu jelalatan di sana! Kamu pokoknya harus selalu ngabarin aku, kalo perlu lima belas menit sekali aku harus dapat kabar. " Tegas Morin membuat Octa terkekeh untuk kesekian kalinya.
"Kamu apaan sih? Gak boleh gitu! Aku bakal kabarin kamu, tapi gak sampai lima belas menit sekali juga, Babe. "
Morin nyengir tak berdosa.
"Bercanda, Babe. Tapi, kamu wajib ngasih kabar paling gak sehari sekali, Oke? "
Octa mengangguk kemudian membawa Morin ke dalam dekapannya.
"Iya, Babe. "
Perjalanan menuju bandara ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Dan selama itu Morin menolak melepas pelukannya. Keduanya turun dari mobil dan berjalan memasuki bandara. Dari kejauhan tiba-tiba Chelsea datang menghampiri mereka.
"Hai! " Sapa Chelsea membuat Octa dan Morin sontak menoleh.
__ADS_1
Keduanya nampak sangat terkejut dengan kehadiran Chelsea. Apalagi Chelsea datang sendiri dengan pakaian yang mampu menyembunyikan identitasnya. Keduanya saling menatap sebelum membalas sapaan Chelsea.
"Chelsea, aku bisa jelasin semuanya. " Ucap Morin membuat Chelsea tersenyum.
"Gak usah, jangan dibahas lagi. Kak Octa mau pergi ke Aussie, kan? " Tanya Chelsea membuat Morin dan Octa heran.
"Gue yang kasih tau. " Ucap Kara yang tiba-tiba datang.
"Jadi, kamu udah maafin kita? " Tanya Morin ragu.
Chelsea tersenyum dan menatap Kara sebelum menjawab.
"Aku cuma mikir aja, ngapain kita mempermasalahkan ini, kan? Toh kak Ian juga udah gak ada, jadi gak ada yang salah sama hubungan kalian. "
Octa dan Morin nampak masih menatap Chelsea dengan tatapan penuh rasa bersalah. Kara yang menyadari hal itu langsung berusaha mencairkan suasana.
"Ya udah lah, kalo kita kebanyakan ngobrol nanti lo malah ketinggalan pesawat, kak. " Tegur Kara sambil merangkul pundak Octa.
Octa tersenyum begitu pun dengan Morin dan Chelsea. Dan menit demi menit pun berlalu. Akhirnya pesawat yang ditumpangi Octa lepas landas. Morin sesaat meneteskan air mata sebelum dengan cepat ia hapus. Chelsea nampak menatap Morin dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sementara itu Rico pergi ke bandara dengan hanya diantar Alex dan beberapa bodyguardnya. Ia tidak sekalipun mengeluarkan suaranya sepanjang perjalanan bahkan saat akan memasuki pesawat.
Alex yang menyaksikan hal itu cukup mengerti bahwa Rico sangat kecewa. Mungkin kalau hanya Tuan Besar yang tidak mengantarnya Rico akan bersikap biasa saja. Alex berdiri dibelakang Rico dan kembali mengingat kejadian pagi ini di kediaman keluarga Xilent.
Flashback On
Rico sudah berada di ruang tengah dengan beberapa bodyguard yang membawa barang-barangnya. Seperti beberapa hari kebelakang Rico tetap bersikap dingin pada Alex dan Alex berusaha memakluminya. Dari kejauhan Arshie berlari membawa sebuah syal berwarna hitam bercorak merah terang. Gadis kecil itu langsung menyodorkan syal yang dibawanya pada Rico.
"Diluar negeri itu ada musim dingin, kakak harus bawa syal. "
Rico tersenyum kemudian mengelus kepala Arshie dengan penuh kasih sayang.
"Cepat pulang ya, kak. Meskipun kakak nyebelin tapi Arshie masih butuh uang kakak. Jadi, jangan lama-lama perginya. "
Rico terkekeh dengan candaan adik bungsunya. Sementara Alex tersenyum tipis saat melihat Rico terkekeh.
Tak lama Chelsea datang dengan pakaian rapi yang mampu menyembunyikan identitasnya. Rico tersenyum saat mengira adiknya akan ikut mengantarnya ke bandara. Tapi Chelsea malah berjalan melewatinya tanpa peduli.
"Kamu gak mau nganterin kakak? "
Chelsea menghentikan langkahnya.
"Kakak udah ingkar janji dengan ninggalin Chelsea. Dan kakak berharap Chelsea ikut nganterin kakak ke bandara? "
Chelsea terkekeh sinis.
"Kakak tau aku yang paling gak mau kakak pergi. "
Flashback Off
"Rico! "
Rico menghentikan kursi rodanya saat mendengar panggilan Alex. Ia bisa merasakan Alex yang berjalan mendekat padanya. Alex tiba-tiba menyodorkan sebuah Flashdisk pada Rico dan membuat Rico menoleh dengan tatapan bingung. Alex tersenyum melihat reaksi sahabatnya.
"Lo bisa liat isinya kalo lo mau, gue saranin lo liat isinya biar lo gak nyesel. "
__ADS_1