
Sebuah pantai dengan hamparan pasir putih itu nampak berdiri beberapa tenda. Sejumlah kamera dan alat-alat yang digunakan untuk syuting pun sudah terpasang di tempatnya. Wartawan dan beberapa fans berkerumun di luar pagar pembatas yang dijaga ketat bagian keamanan. Dari kejauhan nampak Rico tengah duduk berteduh di salah satu tenda dengan seorang penata rias yang mempersiapkan penampilannya.
Beberapa fans berteriak-teriak memanggil namanya sambil mengangkat spanduk bertuliskan slogan-slogan lucu tentangnya. Ada juga yang membawa spanduk yang tercetak fotonya.
Rico tersenyum elegan dengan aura dinginnya pada para fans yang membuat tempat itu semakin riuh.kemudian melayangkan finger love. Rico terkekeh saat mendengar teriakan yang semakin histeris dari para fansnya.
"Udah! Kasian gue sama fans lo. Panas-panas gini malah teriak-teriak kayak gitu demi seorang Rico doang. "
Rico menjulurkan lidahnya mengejek Alex yang tiba-tiba datang.
"Iri, bos? "
Alex berdecak sebal.
"Mohon maaf nih ya, gue merasa lo yang bakal iri sama gue. Secara gue lebih ganteng dari lo, lebih pintar udah jelas, mapan juga. "
"Segitu doang? Tolong ya masnya, gaji situ gue yang bayar. " Sindir Rico dengan senyum meledek.
"Oke, hari ini lo selamat, tapi besok-besok silahkan berangkat kerja sendiri. Hadapi kegilaan wartawan dan fans lo dengan mandiri. " Ujar Alex sambil menepuk punggung Rico kemudian melangkah pergi.
"Eh! Jangan gitu lah, gue yang paling harus iri. Iya, gue akuin. " Bujuk Rico sambil merangkul pundak Alex.
Alex menahan tawa melihat kelakuan sok imut Rico. Kemudian berpura-pura menghela nafas berat.
"Oke "
"Tapi, besok lo tetep jemput gue, kan? Masa lo tega sih sama gue? " Tanya Rico dengan dramatis.
"Emang apa masalahnya? Gue fine-fine aja sih liat lo dikerubungi wartawan. " Balas Alex dengan santainya.
Rico berpura-pura syok. Dan mulai memainkan dramanya.
"Tega kamu mas! Tega! Setelah selama ini, kamu malah kayak gini ke aku. Tega! "
Alex tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia bahkan tertawa sambil memegangi perutnya dengan satu tangan dan satu lagi bertumpu pada lututnya. Melihat itu Rico malah bersikap sok imut yang membuat Alex akhirnya berjongkok karena kakinya lemas. Canda tawa mereka baru terhenti saat syuting dimulai.
Lawan main Rico dalam syuting iklan kali ini adalah seorang aktris pendatang baru yang sama populernya dengan Rico. Tampilan wanita usia awal 20-an itu sangat elegan dengan pakaian casual nya. Tubuhnya bukan tinggi hampir sama dengan Rico. Tidak terlalu kurus tapi bukan body goals juga. Ia wanita yang ceria dan dewasa disaat yang bersamaan.
Rico berjalan menghampiri wanita yang tengah mengobrol dengan stylishnya itu setelah syuting selesai. Kamera wartawan siap memotret aksi Rico sementara para fans heboh sendiri.
"Hi, Rico. " Sapa Si aktris saat menyadari kedatangan Rico.
"Long time no see, Erica. Akhirnya lo ngikutin jejak gue juga. "
Wanita bernama Erica itu terkekeh.
"PD lo emang tetap mengerikan levelnya. " Ejek Erica membuat mata Rico menyipit.
"Lo tuh cuma belum ngerasain jatuh ke dalam pesona gue aja. " Ucap Rico dengan percaya diri.
"Awas! Gue tuh berbahaya, jangan jatuh! " Lanjut Rico dengan bisikan ke telinga Erica.
"Itu pun kalo lo gak jatuh duluan karena pesona gue. "
"Berani taruhan? " Tanya Erica menggoda dengan tangan yang mengelus wajah sampai ke dada Rico sambil berjalan memutari Rico.
Rico terkekeh.
__ADS_1
"Mari kita coba. " Balas Rico sambil menyeringai.
Kemera wartawan sudah berhasil mengambil gambar mereka dan yang mereka lakukan hanya saling melempar senyum penuh maksud. Dari kejauhan tampak Alex yang berdiri sambil melipat tangan di depan dada. Ia menghela nafas kemudian menggelengkan kepala tidak habis pikir.
"Dua makhluk pembuat masalah itu benar-benar membuatku pusing, apa lagi sekarang? Mau buat skandal? Menyusahkan sekali. " Gumam Alex bermonolog saat melihat kelakuan Rico dan Erica.
...***...
Chelsea menghempaskan gagang pel di tangannya dengan kasar kemudian bergumam tidak jelas. Gara-gara kemarin dia bolos, hari ini dia mendapat hukuman membersihkan seluruh lapangan indoor. Dia sudah melakukan hukuman itu selama hampir 2 jam dan pekerjaannya belum selesai juga.
Tiba-tiba segerombolan siswa memasuki lapangan yang baru saja dipel olehnya. Lantai yang belum kering itu membuat beberapa siswi yang ia ketahui adalah anak kelas 11 itu terjatuh.
Bukannya kabur atau sekadar takut, Chelsea malah tertawa dan membuat semua pasang mata menatapnya. Salah satu siswi yang terjatuh nampak sangat geram sementara Kara yang ternyata ada diantara para siswa itu terkekeh melihat reaksi Chelsea.
"Sialan! Pasti lo yang ngepel, kan? Lo pengen mencelakai gue? "
"Apaan sih? Percaya diri sekali anda, situ gak ada tuh bilang mau ke sini. " Balas Chelsea dengan nada sinis.
"Kurang ajar! Sini lo! " Teriak wanita itu.
"Yang butuh siapa? " Tanya Chelsea angkuh.
Wanita itu hendak kembali memaki saat wanita lain dengan nametag 'Natasha Agisty' datang melerai.
"Kita kesini mau olahraga, gak usah ribut! Dan lo adik kelas, lo butuh bantuan gak? "
Chelsea tersenyum sumringah sementara wanita tadi menatap Natasha dengan kesal.
"Wah! Boleh banget tuh. "
"Ya udah guys, sambil pemanasan sebelum olahraga kita bantu dia bentar. " Komando Natasha yang disetujui oleh teman-temannya kecuali wanita tadi.
Chelsea tersenyum senang.
'Ini cewek baik banget, baru nih bisa disebut kakak kelas. '
Sementara itu Octa tengah duduk bersama sang ayah di gazebo taman mansion keluarga Megardante. Mereka tampak mengobrol sambil menikmati kopi.
"Bagaimana dengan tawaran ayah, Vian? "
Octa menyeruput kopi yang masih sedikit mengepul.
"Sebenarnya Vian gak tertarik sama dunia politik, ayah. "
Sang ayah tersenyum paham.
"Jadi, apa rencana kamu selain menyelesaikan kuliah? "
"Seperti yang pernah Vian bilang ke ayah sama mamah, sekarang Vian kan udah mewarisi sebagian harta kekayaan orang tua angkat Vian, jadi rencananya sih mau berkunjung dulu ke rumah mereka di Aussie. "
"Lagi pula mereka belum tau juga kalo Vian udah ketemu sama ayah dan mamah. Nanti mungkin Vian diskusikan juga sama mereka tentang kedepannya Vian harus gimana. "
"Sejujurnya Vian gak bisa kalo ngambil keputusan gitu aja tanpa berdiskusi sama mereka. Gimanapun juga mereka udah menyelamatkan Vian dan rawat Vian selama lebih dari 15 tahun. " Ujar Octa.
"Ayah setuju dengan keputusan kamu, rasanya ayah juga harus benar-benar berterimakasih pada mereka. Ayah mungkin gak bisa ikut sama kamu karena urusan Ayah gak bisa ditunda. Tapi mamah dan Ran bisa nemenin kamu ke sana. Jadi, kapan kamu mau ke Aussie? "
Octa tampak berpikir sebentar.
__ADS_1
"Mungkin minggu depan bisa, Octa harus konfirmasi dulu ke kampus. Takutnya gak jadi libur. " Jawab Octa kemudian kembali menikmati kopinya.
Sang ayah kembali tersenyum.
'Banyak yang aku lewatkan, aku ingin melihatnya tumbuh jadi dewasa seperti ini. Masa kecil dan remajanya, aku ingin melihat itu. Seandainya penculikan itu tidak pernah terjadi, aku bisa melihat Vian tumbuh dan Rian akan bersama kami saat ini. Maafkan Ayah, Rian. Ayah tidak bisa jadi orang tua yang baik buat kamu. '
...***...
Hari telah beranjak sore, syuting telah selesai dan kini Rico dan Alex tengah berada di lokasi photoshoot yang telah dijadwalkan. Alex duduk memperhatikan Rico dari jauh. Banyak fans dan wartawan yang berkerumun meski jumlahnya tidak sebanyak saat syuting iklan tadi. Lokasi photoshoot kali ini memang di tempat terbuka dan dekat dengan pemukiman penduduk.
Suasana tenang tiba-tiba menjadi sangat riuh dan membuat Alex beserta keamanan terkejut. Alex menoleh dan mendapati dari kejauhan sebuah mobil avanza hitam dan dua mobil polisi melaju ke arah lokasi mereka. Fans menjadi riuh dan para wartawan sudah mengambil kesempatan memotret. Benak Alex dipenuhi pertanyaan. Photoshoot pun terhenti saat mendengar sirine mobil polisi semakin mendekat.
"Kok ada polisi? Ada apa sih? " Tanya Rico bingung.
Belum sempat Alex menjawab pertanyaannya seorang wanita dan dua pria berjalan kearah mereka diikuti tiga orang polisi. Seorang pria menunjukkan identitasnya.
"Kami harus melakukan penggeledahan kepada semua orang di lokasi ini. Mohon kerja samanya. "
Setelah mendapat persetujuan, photoshoot dihentikan dan semua orang digeledah beserta dengan barang bawaan mereka. Tidak ada sesuatu yang mengejutkan dan semua nampak aman-aman saja. Rico duduk di kursi yang telah disediakan sementara matanya menerawang. Tampak suatu hal sedang menjadi bahan pikirannya.
'Apa ini? Kenapa bisa ada penggeledahan tiba-tiba? Untung gue simpan trip itu di handphone sebelum ke sini. Pantes gue ngerasa bakal ada sesuatu, ternyata ada yang mau main-main sama gue. Sialan! Hampir aja gue ketahuan, gue harus cari orang itu secepatnya! Ini benar-benar berbahaya. '
Penggeledahan bersih, tidak ada hal aneh yang ditemukan. Orang-orang itu berpamitan.
"Terimakasih atas kerja sama anda semua, tetap patuhi peraturan yang berlaku dan selamat kembali beraktivitas. "
Para petugas kembali ke mobil mereka dan mobil itu melaju menjauh dari lokasi. Photoshoot tidak langsung dilanjutkan karena bertepatan dengan waktu jeda. Semua orang memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya.
"Lo ngerasa ada yang aneh gak, sih? " Tanya Alex tiba-tiba membuat Rico menoleh.
"Aneh gimana? "
"Setau gue emang disini tuh selalu ada patroli rutin, tapi bukan hari ini jadwalnya. Atau jangan-jangan ini kerjaan seseorang yang iri sama lo. "
Rico tampak ikut berpikir sejenak.
'Pikiran kita sama, Lex. Tapi, lo gak boleh ikut campur buat yang satu ini karena gue antagonisnya. '
"Udahlah, mereka pindah jadwal kali patrolinya. Ribet amat pikiran lo, santai elah! Gak ada kejadian apa-apa juga. Botak lo entar kalo kebanyakan mikir. " Jawab Rico dengan gurauan.
"Yeh! Udah bagus gue pikirin kebaikan lo. Gak tau diri emang, gak ada terimakasihnya sama sekali. "
Rico terkekeh.
"Terimakasih, udah tuh. Gue udah bilang makasih sama lo. "
Alex mendengus.
"Gak kayak gitu juga teknisnya. "
"Tau ah, gelap! " Ucap Rico sambil senderan dengan santainya.
"Terang gini lo bilang gelap? Gini nih kalo otak jarang dipake, karatan kan? "
"Lo yang kudet! "
Sementara itu seorang pria dengan wajah tertutup masker dan kacamata hitam memperhatikan dengan tangan terkepal erat. Ia menghela nafas.
__ADS_1
'Lo boleh senang karena lolos kali ini, kita lihat di kejutan selanjutnya. Gue gak akan biarin lo lolos lagi. Lo harus jadi jembatan kehancuran si brengsek itu, Rico. '