LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Wanita Seksi (Revisi)


__ADS_3

Di ruang gelap dengan sorot lampu yang menembus kaca sebagai pencahayaan, nampak siluet seorang wanita yang berdiri menyamping. Segelas minuman bening beralkohol yang di goyangkannya pelan kini berada dalam genggaman jemari lentiknya.


Postur tubuh yang ramping dengan piyama berbahan satin nampak menjelaskan betapa cantiknya dia. Rambut lurus sepinggang tergerai dengan indahnya.


Tiba-tiba dering handphone menghentikan kegiatannya menyesap minuman itu. Tangannya dengan anggun menggapai handphone yang tergeletak di atas meja di didekatnya. Handphone ditempelkannya ke telinga setelah menggeser gambar telpon hijau di layar handphone.


"Hello, babe. Do you miss me? "


"... "


Wanita itu terkekeh sambil menggoyangkan gelas dalam genggamannya.


"Salahmu datang bersamanya, babe. "


"... "


"Kita bertemu besok, kau tau aku akan datang bersamanya, kan? "


"... "


"I know, babe. But, kita saling cinta. Dia pasti mengalah padamu, kita tidak salah. Apa yang salah jika dua orang yang saling mencintai ingin bersama? "


"... "


"Berhentilah merasa bersalah. Dua tahun aku bersamanya dan hubungan kita jauh sebelum itu. "


"... "


"Kamu yang minta aku menerimanya, kan? "


"... "


"Stop! Aku gak mau kita selalu mempermasalahkan hal ini. Nanti kita bicarakan padanya baik-baik. Aku yakin dia bakal ngerti. "


"... "


"Oke! Kita bicara lagi besok! Love you, babe. "


"... "


Wanita itu nampak kesal sampai melempar handphonenya ke atas kasur sebagai pelampiasan. Setelahnya ia menghabiskan minumannya dengan sekali tegukan. Kemudian meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja dengan kasar.


"Sialan! Kenapa jadi makin ngerepotin sih?! "


Sementara itu di rumah Octa, Rian nampak bolak-balik ke sana kemari mencari keberadaan Rico yang tiba-tiba menghilang setelah selesai makan malam bersamanya. Rian menyusuri setiap sudut ruangan lantai satu rumah Octa sampai akhirnya menemukan Rico yang nampak baru selesai bicara di telpon. Dan senyum misterius tercetak di wajah Rian.


Ia berjalan mengendap menghampiri Rico yang tengah berdiri membelakanginya di pinggir kolam renang. Saat tangan nakalnya hendak mendorong Rico, Rico malah berbalik dan menangkap basah kenakalan Rian.


"Wah! Mau ngapain lo?! Lo mau dorong gue ke kolam renang malam-malam gini?! " Tuduh Rico membuat Rian berkedip cepat beberapa kali.

__ADS_1


"Kok lo tau? " Celetuk Rian tanpa sadar.


"Lo beneran mau dorong gue?! " Pekik Rico kaget.


Rian yang menyadari dirinya keceplosan langsung membekap mulut kemudian berlari menghindari Rico yang mengejarnya. Keduanya terlibat aksi kejar-kejaran membuat Alex yang tengah menonton televisi pusing. Mereka berlari ke sana kemari sambil mengumpat.


Aksi mereka baru terhenti saat Octa datang dan menegur dengan wajah datarnya. Rian berdiri sambil menempeli Alex dengan sikap waspada. Sementara Rico berdiri dengan lengan terlipat di depan dada. Wajah kesalnya terpampang nyata membuat Octa memutar bola mata jengah.


"Rian! Lo nginep, kan? " Tanya Octa yang hanya dibalas anggukan oleh Rian.


"Oke, lo berdua mending pulang cepat. Kata Alex lo ada syuting lagi besok, kan? Biar Rian datang ke lokasi bareng gue. "


Setelah saling berpamitan akhirnya Alex dan Rico pulang sementara Rian memutuskan untuk menginap di rumah Octa. Akhir-akhir ini Rian sudah tidak peduli dengan kemarahan ayahnya. Apalagi Morin sudah kembali kepadanya. Rian hanya berpikir untuk belajar mengutamakan kebahagiaannya sendiri.


Rian dan Octa sudah masuk ke kamar masing-masing saat waktu hampir tengah malam. Kamar mereka bersebelahan. Jangan tanya tentang orang tua Octa. Selama mereka bersahabat, Octa hampir tidak pernah membahas tentang hal itu.


Bukannya Alex, Rico atau Rian tidak pernah penasaran. Hanya saja selama ini tidak pernah ada jawaban dari Octa selain kata "Gue gak mau bahas itu! ". Octa tidak pernah suka bahasan itu dan selama ini mereka selalu berusaha untuk menghindari bahasan tentang keluarga satu sama lain. Kecuali orang itu sendiri yang ingin curhat.


Sementara Rian sudah terlelap, di kamarnya Octa masih tidur terlentang sambil menatap langit. Tersirat banyak beban di matanya.


" Apa gue salah? "


...***...


Pagi-pagi sekali bel rumah Octa sudah berbunyi dengan nyaring. Terdengar tidak sabaran dan Octa sepertinya tau siapa yang datang pagi-pagi buta ke rumahnya. Octa berjalan santai menuju pintu depan. Dan dugaannya tepat sekali.


"Lo ngapain masih berdiri di situ? Ayo makan! Jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri. " Ucap Morin tidak tau malu.


Octa hanya menghembuskan nafas kasar melihat sikap pacar sahabatnya yang tidak pernah berubah. Cantik sih. Tapi pakaian nyentrik dan kelakuan tidak tau malunya selalu membuat Octa malu sendiri.


Saat Octa bergabung di meja makan, nampak Rian berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapih. Melihat pacarnya yang sudah nyantai di meja makan membuatnya dengan segera bergabung.


"Pagi, Honey. Pagi-pagi udah nyamperin, pasti kangen aku. "


Morin mendelik sebal pada Rian yang duduk di sebelahnya.


"Masnya jangan terlalu percaya diri. Aku tuh cuma kangen masakan Abang Octa. "


Mendapat balasan tak terduga dari Morin membuat Rian cemberut dan makan dengan rakus. Octa yang melihat cara makan pasangan aneh di depannya langsung bergidik ngeri.


'Apa gini ya rasanya liat pasangan beruang lagi makan? '


Setelah membatin dengan konyolnya, Octa kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda. Acara sarapan selesai dalam waktu kurang dari 15 menit karena Octa memaksa mereka untuk cepat.


Waktu menunjukan pukul 7 pagi saat ketiganya berangkat bersama menuju lokasi syuting film baru yang dibintangi Rian setelah pemulihan.


...***...


"Wah! Peran gue bagus nih. " Gumam Rico yang berjalan di Koridor ruangan para aktor sambil melihat-lihat naskah di tangannya.

__ADS_1


"Kalo dipikir-pikir peran gue emang selalu bagus. Tapi, kok sekarang cuma figuran? Gak papa deh! Yang penting peran gue masih jadi orang kaya. "


Rico terus bergumam sepanjang koridor sambil sesekali tersenyum misterius. Tiba-tiba hal tak terduga terjadi.


Bruk!


"Awh! "


Rico bertabrakan dengan seorang wanita berambut panjang lurus dengan pakaian seksi. Mereka sama-sama terjatuh. Mata Rico berkedip beberapa kali sebelum kemudian menyusul wanita itu yang sudah lebih dulu berdiri.


Mata Rico terpaku menatap wajah yang tidak asing di depannya. Saat wanita itu akan berjalan, ia oleng dan membuat Rico otomatis menahan tubuh wanita itu agar tidak tersungkur.


"Kayaknya kaki lo keseleo deh. "


Wanita seksi nan cantik itu menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih bertumpu di lengan kekar Rico.


"Sialan! Mana harus syuting lagi. Repot banget sih! " Umpat si wanita seksi membuat Rico yang tidak menduga umpatan itu hanya bisa terdiam karena kaget.


"Elo sih! Baca naskah gak tau tempat! " Omel wanita seksi itu setelahnya.


"Bee!! "


Rico yang hendak membalas omelan wanita seksi itu kalah cepat dengan kru yang memanggil wanita seksi itu dengan lantang. Kru wanita itu membawa wanita seksi yang dikenal sebagai Bee menuju ruangan yang ditentukan. Rico cepat-cepat kembali ke ruangannya saat menyadari waktu bersiap sudah hampir habis.


"Lex! Gue ketemu sama peliharaan lo barusan. " Ucap Rico tiba-tiba saat sampai ke ruangannya dengan nafas putus-putus.


Alex yang sedang duduk santai di sofa mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti. Tidak mendapat jawaban dari Alex membuat Rico meralat ucapannya sambil duduk di depan cermin.


"Maksud gue pacar lo, si Bee. "


Alex hanya menatap jengah.


"Lagian lo punya pacar kok nama hewan. "


"Dari pada jomblo. " Balas Alex sarkas.


Rico menyentuh dadanya dengan dramatis. Setelahnya memasang wajah sedih yang dibuat-buat karena ejekan yang jarang didapatkannya dari manager sekaligus sahabatnya itu.


"Tega! Pasti gara-gara kebanyakan bareng si Octa, lo jadi sadis kayak gini. " Tuduh Rico yang tengah fokus ke cermin di depannya.


"Apaan bawa-bawa nama gue?! "


Rico hanya bisa nyengir tak berdosa saat melihat Octa dan Rian di ambang pintu. Wajah Octa nampak seperti biasa, datar-datar serem.


"Mampus! " Ejek Rian pada Rico dengan gerakan bibir saja.


Dan yang dilakukan Alex hanya tertawa dengan santainya di atas penderitaan Rico. Tidak berbeda jauh dengan Rian yang sok menahan tawa di sebelah Octa. Rico hanya bisa pasrah menghadapi nasibnya yang sudah buruk di pagi hari.


'Pagi-pagi udah kena sial, apes banget hidup gue! Gara-gara ketemu pacar si Alex nih! Awas aja tuh cewek! Bikin gue kesel terus dari dulu. Heran gue! Sekarang gimana cara damai sama nih "Arca berjalan"? '

__ADS_1


__ADS_2