
Chelsea melirik jam di pergelangan tangannya kemudian sedikit menengadah untuk melihat langit siang yang tampak terik. Setelahnya mendengus saat hawa panas menyerang tubuhnya yang tertutup jaket bomber milik pria di sampingnya.
"Makasih ya udah nolong aku. " Ucap Chelsea setulus mungkin.
Kara menoleh padanya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Anggap aja itu hutang lo ke gue yang suatu saat harus lo bayar. " Balas Kara dengan santainya.
Chelsea menatap Kara jengah. Mereka akhirnya hanya saling diam setelah itu. Beberapa saat dalam keheningan membuat Chelsea bosan. Akhirnya ia beranjak dari duduknya dan mulai melangkah pergi dari gazebo itu. Kara yang merasa ditinggalkan menatap tajam kepergian Chelsea dan mulai beranjak menyusul langkah Chelsea menuju halte yang cukup dekat.
Chelsea duduk di bangku halte kemudian mengeluarkan handphonenya dari saku rok. Beberapa panggilan tidak terjawab dan chat dari para bodyguardnya malah membuat Chelsea kesal. Perhatian Chelsea beralih pada Kara yang duduk tanpa permisi di sampingnya. Chelsea sedikit menggeser duduknya menjauh dari Kara dan Kara tampak acuh.
Mereka masih saling diam bahkan sampai bus datang dan Chelsea naik. Tidak disangka Kara pun naik bus yang sama. Meski kesal Chelsea masih berusaha tidak peduli.
Keadaan bus lumayan penuh dan dengan terpaksa Chelsea harus ikut berdiri bersama beberapa orang di sana. Berdesakan dan berbagi oksigen dengan banyak orang yang tidak ia kenal. Tapi Chelsea terlihat baik-baik saja.
Berbeda dengan Kara yang wajahnya nampak risih saat harus berdiri berdempetan. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Chelsea. Chelsea bahkan beberapa kali menahan tawa melihat ekspresi aneh yang diperlihatkan Kara. Meski begitu Chelsea bukannya merasa kasihan malah lebih merasa terhibur.
'Rasain! Itu balasan buat orang sok keren. '
20 menit perjalanan mengantar Chelsea menuju kawasan perumahan elit. Dan tanpa diduga Kara pun ikut turun dari bus. Chelsea sangat risih karena merasa kalau Kara mengikutinya. Berbeda dengan Kara yang nampak senang karena akhirnya bisa terbebas dari kepadatan di bus tadi.
"Eh! Ngapain kamu ikut turun di sini? Jangan-jangan kamu ngikutin aku yah? " Tuding Chelsea membuat Kara mengernyit.
"Apa sih?! Gak usah terlalu percaya diri deh! " Elak Kara membuat Chelsea makin kesal.
Chelsea tidak melanjutkan perdebatan mereka dan memilih pergi meninggalkan Kara tanpa permisi. Kara mengernyit kemudian menyusul Chelsea yang berjalan menghampiri gerbang sebuah mansion mewah.
"Siang Pak! " Sapa Chelsea pada seorang satpam yang tengah berjaga di posnya.
Satpam itu menoleh kemudian tersenyum saat melihat Chelsea.
"Eh, nona Chelsea. Nona gak sekolah hari ini? Kenapa jam segini udah ada disini? " Kepo si satpam membuat Chelsea tersenyum.
"Bolos pak. " Sahut Kara tiba-tiba membuat Chelsea menoleh dengan tatapan tajam.
"Eh, jangan didengerin pak! Ini saya pakai seragam kok, saya mau ketemu Ran, pak. " Sewot Chelsea membuat Kara terkekeh sinis.
"Oh, iya Nona. Silahkan masuk! " Ucap satpam sambil membuka pintu di sudut gerbang.
Chelsea masuk dan meninggalkan Kara di sana dengan tidak berperasaan. Kara mendengus sebelum kemudian duduk di trotoar seperti gembel. Sementara itu Chelsea sudah berada di dalam mansion mewah Megardante.
"Itu pacar nona beneran gak papa ditinggal gitu? " Tanya satpam membuat Chelsea mendelik sebal.
"Pacar? Amit-amit pak, gak usah sembarangan! Biarin lah, gak peduli saya. Orang ngeselin kayak gitu. " Jawab Chelsea kemudian pamit pergi ke dalam mansion.
Chelsea menatap bangunan mewah mansion dengan tatapan penuh kerinduan. Matanya mulai berkaca-kaca dan akhirnya air mata mengalir melewati pipinya. Saat langkahnya semakin mendekati pintu utama mansion, Chelsea mengusap air matanya dengan kasar.
__ADS_1
Chelsea tersenyum saat melihat seorang wanita paruh baya yang tengah menyiram bunga-bunga lavender yang tertanam dalam pot di terasnya. Chelsea memejamkan matanya saat kembali mengingat tentang Rian. Setelah berusaha tenang Chelsea membuka matanya dan menghampiri wanita yang belum menyadari kehadirannya.
"Siang, Tante. " Sapa Chelsea sambil tersenyum.
Wanita itu menoleh dan tampak terkejut.
"Eh, Chelsea. Sini sayang. " Balas Wanita itu sambil tersenyum juga.
Chelsea menghampiri wanita itu dan langsung memberi pelukan hangat.
"Kenapa gak ngabarin dulu kalo mau datang kesini, sayang? Tante gak siapin apa-apa karena gak tau kamu mau datang hari ini."
"Gak papa tante, Chelsea cuma mau ketemu tante, Ran juga. "
Keduanya tampak mengobrol dengan akrab.
"Lavender itu bunga kesukaan Kak Ian kan? "
Wanita paruh baya yang adalah mamahnya Rian ikut menatap pada bunga-bunga lavender yang ditatap Chelsea. Wanita itu merangkul Chelsea dan menepuk-nepuk punggung Chelsea sambil tersenyum. Tampak kesedihan dan kerinduan dalam tatapan mereka berdua.
"Kamu pasti sayang banget sama Rian, dan tante tau Rian juga selalu punya tempat sendiri buat kamu di hatinya. "
Setetes air mata Chelsea kembali mengalir melewati pipinya.
"Banget tante, sayang banget. Chelsea kangen kak Ian, tante. "
"Tante juga, sayang. Tante juga. "
"Babe, kamu ngapain di pinggir jalan kayak gini? " Tanya Octa membuat Morin menghela nafas.
Tiba-tiba mata Morin terbelalak saat melihat lebam di kening Octa.
"Apa ini, Babe? Kamu kenapa, hah? Kok bisa lebam kayak gini? " Tanya Morin dengan panik.
Octa tersenyum kemudian menarik tangan Morin untuk memasuki mobilnya. Morin menurut meski dengan wajah heran. Setelahnya Octa kembali ke kursi kemudi dan menatap balik Morin yang tengah menatapnya dengan bingung.
"Nanti yah aku jelasinnya, sekarang kita pulang dulu ke mansion. "
Morin tersenyum kemudian mengangguk setuju. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai ke mansion. Tapi Octa kembali menghentikan mobilnya saat melihat adiknya di depan gerbang. Kara yang melihat mobil Octa berhenti langsung menghampiri Octa yang membuka kaca mobil.
"Ngapain lo disini? Bolos yah? " Tanya Octa yang ditanggapi Kara dengan senyuman.
"Sorry, Kak. Gak maksud juga gue ke sini. "
"Ya udah masuk! Jangan nongkrong di pinggir jalan kayak gembel! " Ucap Octa sarkas kemudian kembali melajukan mobilnya memasuki kawasan mansion.
Kara berdecak sebal dengan kelakuan kakaknya itu kemudian berjalan memasuki kawasan mansion.
__ADS_1
Sementara itu Chelsea dan mamahnya Rian sedang berada di kamar Rian saat ini. Mereka berdua sedang mengamati benda-benda milik Rian sambil memutar kenangan bersama Rian.
Kamar bernuansa terang itu sangat membuat Chelsea nyaman. Ada bunga lavender yang tertanam dalam pot kecil di setiap sudut kamar itu dan mengeluarkan aroma yang memenangkan.
"Kamu boleh melihat-lihat kamar ini semau kamu, tante harus keluar dulu. Kamu gak papa kan kalo tante tinggal? "
Chelsea menoleh pada wanita paruh baya itu kemudian tersenyum.
"Iya tante, Chelsea gak papa. "
Wanita paruh baya itu balas tersenyum kemudian keluar dari kamar Rian. Saat akan kembali ke teras depan ia melihat dua orang masuk bersama Octa dari pintu utama.
Ia bisa mengenali Morin tapi tidak dengan remaja berseragam SMA yang berjalan di belakang putra sulungnya. Wanita itu berjalan menghampiri Octa untuk menyambut kedatangannya.
"Kamu pulang bisa bareng Morin, gimana ceritanya? "
"Ketemu di jalan, tante. " Jawab Morin sambil tersenyum.
Mata wanita itu teralih menatap remaja di belakang Octa.
"Siapa yang ada di belakangmu itu, Vian? "
Octa tersenyum dan ikut menatap Kara.
"Ini Kara, mah. Adik Vian, putra satu-satunya orang tua angkat Vian. "
"Siang, tante. Saya Kara, senang bisa bertemu langsung dengan ibu kandung kak Octa. " Ucap Kara sambil tersenyum.
Wanita paruh baya itu balas tersenyum dan mempersilahkan mereka masuk. Mereka semua duduk di ruang tengah.
"Mamah senang kamu akhirnya membawa pacarmu ini ke rumah, Vian. Mamah juga senang karena bisa bertemu langsung dengan keluarga angkat kamu. "
Mereka semua tersenyum begitupun Kara yang nampak memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya.
'Tadi Chelsea masuk kesini tapi kok gak ada, kira-kira tuh bocah rese kemana yah? Ini kan bukan rumah dia. '
"Iya, mah. Maaf ya Vian baru bisa bawa pacar Vian sekarang. "
Morin memukul pelan lengan Octa karena malu.
"Mamah? Vian? Pacar? "
Mereka semua menoleh dan menemukan Chelsea tengah berdiri tidak jauh dari mereka.
"Eh, Chelsea. Kamu belum tau yah, ini Vian kakak kandung Rian dan ini Morin, pacar Vian. " Jelas Mamah Rian membuat Chelsea menatap tak percaya.
Tatapan penuh rasa terkejut, kecewa, marah dan sedih menjadi satu dan membuat Octa dan Morin tertunduk dalam. Morin tampak panik tapi tidak juga memberi pembelaan. Octa mendongak dan menatap Chelsea penuh rasa bersalah. Sementara mamah Rian nampak bingung dengan situasi itu.
__ADS_1
"Kamu gak papa Chelsea? " Tanya wanita paruh baya itu khawatir.
"Wah! Ini benar-benar mengejutkan, tante. Gak nyangka kalo dunia bisa bercanda gini. "