
"Wah! Ini benar-benar mengejutkan, tante. Gak nyangka kalo dunia bisa bercanda gini. "
Wanita itu tampak semakin bingung. Begitupun Kara yang mengernyit.
"Chelsea permisi, tante. " Pamit Chelsea dengan suara bergetar kemudian berlari keluar.
Ada air mata yang bisa dilihat Kara dan Octa. Octa hendak beranjak mengejar Chelsea tapi ia urungkan saat melihat Morin yang tertunduk. Akhirnya ia memberi isyarat dengan matanya pada Kara agar segera menyusul Chelsea.
"Kara juga permisi, tante. " Pamit Kara kemudian berlari keluar sebelum mendapatkan persetujuan mamah Rian.
"Ini sebenarnya ada apa sih, Vian? "
Octa membawa Morin ke dalam dekapannya.
"Cuma sedikit salah paham, mah. "
Wanita paruh baya itu menghela nafas.
"Apapun itu mamah harap kalian tidak punya masalah serius dengan putri konglomerat itu. Selesaikan kesalahpahaman ini secepatnya. "
"Iya, mah. "
Sementara itu Chelsea berlari dengan air mata yang mengalir, terus berlari mengabaikan Kara yang berteriak memanggil namanya dan memintanya berhenti.
Akhirnya Chelsea sampai di gerbang komplek perumahan dan langsung menghentikan taksi. Kara berlari semakin cepat untuk mencegah Chelsea naik taksi itu dan kabur lebih jauh.
Tapi Kara terlambat, taksi itu sudah berhasil membawa Chelsea lebih jauh. Kara menendang udara untuk melampiaskan kekesalannya. Beruntungnya ia melihat pangkalan ojek tidak jauh dari tempatnya. Ia berlari dan segera menyusul Chelsea dengan ojek.
Dilain tempat Alex melewatkan jam makan siang karena banyaknya pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Tumpukan berkas menggunung di atas meja kerja barunya. Itu semua adalah pekerjaan Rico yang terabaikan selama beberapa hari kebelakang.
Alex terlihat sangat serius sampai tidak menyadari kedatangan seorang wanita dengan masker, kacamata dan topi yang menyamarkan identitasnya. Wanita dengan cardigan berwarna putih itu tampak menjinjing tas berisi kotak makan dan sebotol air.
"Seneng banget bisa liat kamu serius kayak gini. " Ucap wanita itu yang membuat Alex sontak mendongak.
"Bee? Ngapain kamu kesini? "
Merasa senang langsung dikenali kekasihnya, Bee membuka masker dan kacamata yang ia pakai kemudian tersenyum.
"Apa salahnya aku mengunjungi kamu? Aku tau kamu pasti belum makan siang. " Jawab Bee sambil duduk di sofa.
"Eh, emang udah waktu makan siang yah? " Tanya Alex membuat Bee mendengus.
Bee beranjak menghampiri Alex dan dengan paksa membawa Alex ke sofa setelah menata makanan yang ia bawa di atas meja. Dan Alex hanya bisa menuruti kemauan kekasihnya itu.
"Ini udah lewat jam makan siang, Babe. Makan sekarang! " Ucap Bee sambil menyodorkan makanan ke hadapan Alex.
Alex tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Bee yang tertutup topi dengan penuh kasih sayang. Setelahnya tanpa banyak kata langsung memakan makanan di hadapannya dengan lahap. Beberapa kali Alex bahkan sempat mengacungkan jempol untuk memuji rasa makanan itu. Dan alhasil Bee tertawa melihat hal itu.
__ADS_1
Ditengah acara makan siangnya tiba-tiba handphone Alex bergetar menandakan panggilan masuk. Alex hendak mengambil handphonenya yang tergeletak di meja kerja tapi Bee lebih dulu beranjak dan mengambil handphone itu. Melihat nama yang tertera di layar handphone membuat Bee dengan cepat memberikan handphone itu pada kekasihnya.
"Selamat siang, Tuan Besar. "
"... "
Alex terlihat heran saat mendengar pertanyaan yang diajukan Tuan Besar padanya.
"Tidak ada, Tuan Besar. Saya tidak melihatnya datang ke sini. "
"... "
"Baik Tuan Besar, saya akan laksanakan sekarang juga. "
Panggilan terputus dan membuat Bee menatap penuh tanya pada Alex. Alex menghentikan acara makan siangnya dan menoleh pada Bee. Tanpa berkata-kata langsung mengambil mantelnya yang ter sampir di kursi kerjanya.
Setelahnya berjalan menghampiri Bee, memegang kedua bahu kekasihnya dengan tatapan intens yang membuat Bee semakin bertanya-tanya. Mengerti kebingungan kekasihnya membuat Alex tersenyum.
"Aku harus pergi dulu, Chelsea kabur dari sekolah. Aku harus cari dia sekarang. " Jelas Alex membuat Bee tersenyum.
"Hati-hati, Babe. "
"Oke, kamu tunggu disini yah? Jangan kemana-mana! "
"I am sorry, Babe. But, aku ada jadwal pemotretan sore ini. Aku akan kembali ke apartemen sekarang. "
Bee tersenyum kemudian membereskan makanan dan menaruhnya di lemari pendingin di ruangan itu kemudian menyusul Alex yang sudah berada di ambang pintu. Masker dan kacamata kembali ia pakai.
Alex benar-benar mengantar Bee sampai apartemen kemudian pergi untuk mencari Chelsea. Ia menyusuri jalan sekitar sekolah Chelsea. Beberapa kali bertanya pada orang sekitar dan mencari di beberapa tempat yang mungkin Chelsea kunjungi. Tapi hampir satu jam mencari putri bosnya itu tetap tidak ia temukan.
Lain halnya dengan Rico yang hanya bisa diam di kamarnya. Ia duduk di kursi roda sambil menatap keluar kaca kamarnya. Langit sangat terik dan angin masuk ke dalam kamarnya lewat celah jendela kaca yang terbuka.
Rico menghela nafas dengan tatapan yang tidak pernah beralih dari langit biru berhiaskan gumpalan awan tipis itu. Setelahnya terkekeh saat mengingat kelakuan bodoh para anak buah ayahnya beberapa saat lalu.
"Dasar orang-orang bodoh! Mereka mau nyari Chelsea kemana? Jelas-jelas Chelsea ada di sana, payah! Emang cuma gue yang paling tau Chelsea. "
Rico merogoh handphonenya dari saku sweater hoodie yang dipakainya. Mencari nomor salah satu anak buahnya dan memberi perintah.
"Bagi dua anggota lo, cari Chelsea di tempat itu. Dan jangan sampai anak buah Xilent nemuin adik gue. "
Rico memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari orang diseberang panggilan. Ucapannya adalah perintah mutlak dan anak buahnya sudah sangat tau apa yang akan mereka dapatkan jika membantah perintah Rico.
Rico tersenyum kemudian beranjak dari duduknya. Berusaha untuk berdiri dengan kaki yang masih dibalut perban. Beberapa kali Rico jatuh terduduk dengan nafas tersenggal. Tapi bukannya merasa kesal Rico malah tertawa seperti orang gila.
Sementara itu Chelsea sudah sampai di tempat itu. Ia turun dari taksi disebuah perbukitan yang sangat familiar di matanya. Berjalan pelan dengan air mata yang terus membuat pipinya basah. Perlahan ia mulai berlari semakin cepat menaiki anak tangga dan beberapa kali terjatuh.
Chelsea meringis saat merasakan perih pada lututnya yang terluka tapi setelahnya kembali berlari tanpa peduli. Terik matahari membuat tubuhnya banjir keringat sampai akhirnya ia jatuh terduduk di samping pusara Rian. Menangis terisak sambil memeluk pusara itu.
__ADS_1
Angin bertiup menerbangkan dedaunan kering dan menerbangkan rambut Chelsea yang terurai. Topi yang semula dipakainya sudah hilang entah kemana. Dan Suara dedaunan yang saling bergesekan menjadi backsound yang terdengar pilu saat bersahutan dengan isak tangis.
"Kenapa kak? Kenapa mereka sejahat ini? Mereka semua mengkhianati kakak. "
Dari kejauhan nampak Kara datang dengan nafas putus-putus. Keringat membasahi seragam sekolah yang dipakainya. Langkah pria itu terhenti saat melihat Chelsea yang terduduk sambil memeluk pusara orang yang tidak ia ketahui. Kara bisa mengetahui Chelsea sedang menangis dari punggungnya yang bergetar.
Tiba-tiba rasa iba itu menyusup ke dalam hati Kara. Ia berjalan pelan tanpa suara menghampiri Chelsea. Tapi kemudian terhenti saat mendengar sumpah yang Chelsea ucapkan. Kara berdiri mematung.
"Aku bakal balas mereka, mereka yang udah mengkhianati kakak. Aku akan buat mereka menyesal karena nyakitin kakak, aku janji kak Ian, Chelsea janji. "
Tangan Kara terkepal kemudian ia mengurungkan niatnya menghampiri Chelsea. Ia memilih pergi dari tempat itu. Tiba-tiba saja hatinya kesal saat mendengar Chelsea bersumpah akan menuntut balas pada kakaknya. Meski tidak tau apa yang terjadi, tapi sebagai adik Kara tentu tidak bisa menerima hal itu.
'Dia baru aja bersumpah buat nyakitin kakak gue, sialan! Gue gak akan biarin itu terjadi, gue gak akan biarin dia ngelakuin hal buruk sama kak Octa. '
Sementara itu Chelsea menghentikan tangisannya. Beberapa kali mengusap pusara Rian seolah itu adalah diri Rian. Matanya sudah sembab dan memerah. Penampilannya juga sangat berantakan. Dengan pakaian penuh debu dan rambut acak-acakan. Ditambah beberapa luka di kakinya.
Chelsea berusaha menguatkan hatinya sebelum kemudian beranjak dari tempat itu. Berjalan gontai ke pinggir bukit dan duduk selonjoran di atas rerumputan kering.
Matanya menatap hamparan padang lavender yang masih tampak segar itu dengan penuh kerinduan. Tangannya menggenggam bandul kalung yang tergantung di lehernya.
'Kak Ian, Chelsea kangen. '
Tiba-tiba beberapa tangkai bunga lavender terulur ke depan wajahnya. Chelsea terlihat sangat terkejut. Ia menoleh pada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Pandangannya yang silau karena sinar matahari itu kesulitan mengenali wajah pria yang tersenyum padanya. Tapi, pria itu seperti sengaja menghalangi sinar matahari yang menyorot pada Chelsea.
"Ambil, bunganya berat. "
Kata-kata itu membuat Chelsea tersentak. Benaknya kembali memutar kenangan indah bersama Rian.
Chelsea duduk selonjoran di atas rerumputan kering sambil menatap hamparan padang lavender yang disinari cahaya matahari yang terik. Tiba-tiba beberapa tangkai bunga lavender menepuk-nepuk kepalanya. Chelsea menoleh menatap seseorang yang berdiri di sampingnya untuk menghalangi terik matahari yang menyorot padanya.
"Gak mau diambil? Bunganya berat nih. "
Chelsea terkekeh mendengar gurauan itu.
"Kak Ian suka aneh! Masa bawa bunga aja bilang berat? Payah! "
Rian tertawa dengan ejekan Chelsea.
"Kalo gitu, kenapa kak Ian suka lavender? " Lanjut Chelsea.
Rian duduk di samping Chelsea kemudian tersenyum.
"Karena lavender itu menenangkan. Kamu mau jadi lavender buat kakak? "
Mata Chelsea berkaca-kaca dan air mata menetes melewati pipinya. Tatapan penuh kerinduan itu menjelaskan isi hatinya. Angin bertiup menerbangkan rambutnya yang terurai dan bayangan wajah Rian memenuhi benaknya.
__ADS_1
"Kak Ian? "