LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Hadiah Misterius (Revisi)


__ADS_3

"Kamu gak bisa keluar dari rumah sakit dalam waktu dekat. "


Chelsea yang tampak setengah berbaring di atas ranjang ruang rawatnya itu menoleh pada ayahnya dengan lemah. Wajah pucat nya berubah murung seiring tatapannya yang berubah sendu.


Kara yang tengah duduk di kursi samping ranjang yang ditempati dengan cepat menggenggam tangan Chelsea tepat setelah ia melihat perubahan ekspresi di wajah Chelsea. Dan Chelsea kini menoleh padanya. Ia tersenyum memberi kekuatan pada Chelsea.


"Maaf, karena gue lo jadi harus tinggal lama di rumah sakit. Harusnya gue gak usah ngajak lo keluar. " Sesal Kara membuat Chelsea tidak enak hati.


Belum sempat Chelsea membalas ucapan Kara, Tuan Besar Xil sudah bicara lebih dulu.


"Bagus kalo kamu sadar. "


"Ayah, jangan gitu! Ini kan salah Chelsea juga. " Bela Chelsea saat mendengar ucapan ayahnya pada Kara.


"Gak usah bela dia, Chelsea. Jangan bantah ayah lagi mulai sekarang, fokus pada penyembuhan diri kamu. " Ucap Tuan Besar dengan tegas.


Kara yang mengerti dengan keadaan langsung berpamitan pada Chelsea dan Tuan Besar. Awalnya Chelsea sempat menahan kepergian Kara, tapi pada akhirnya Kara tetap pergi juga dari ruang rawat Chelsea.


"Ayah kenapa jadi bersikap kayak gini sama Kara? " Tanya Chelsea saat Kara sudah pergi.


Tuan Besar menghela nafas.


"Ayah ingin kamu hanya fokus pada penyembuhan diri kamu, Chelsea. "


Chelsea menatap sendu pada ayahnya. Ia tidak bisa membantah perkataan ayahnya.


'Kenapa ayah selalu memaksakan kehendak ayah? '


Sementara itu di rumah sakit yang berbeda Alex tengah menghibur Sunny yang tampak murung setelah mengetahui apa yang terjadi pada mamanya. Apalagi Sunny tidak ikut saat mamanya dimakamkan. Sama halnya dengan Morin yang mentalnya masih belum stabil.


Alex beberapa kali mengajak Sunny mengobrol, tapi Sunny hanya duduk di ranjang menghadap jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung kota. Sunny hanya sesekali mengalihkan pandangannya untuk menatap hampa pada pot bunga lavender yang ada di atas meja.


"Sunny, jalan-jalan keluar sama kakak yuk! " Ajak Alex untuk kesekian kalinya.


Dan lagi-lagi Sunny mengabaikannya dan lebih memilih untuk menatap hampa keluar jendela kaca ruang rawat. Alex hanya bisa menghela nafas.


Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dan Ran muncul dari balik pintu. Ada sebuah tas yang Ran jinjing. Anak laki-laki dengan wajah tanpa ekspresi itu hanya melirik sekilas pada Alex yang tengah menatapnya. Setelahnya tanpa permisi menghampiri Sunny yang tampak tidak peduli.


Alex menatap tak percaya dengan kelakuan Ran. Sementara Ran malah duduk dengan santainya di atas kursi samping ranjang yang ditempati Sunny. Tas yang ia jinjing disimpan di atas meja dan setelahnya ia diam. Beberapa saat kemudian Ran tampak menghela nafas.


"Tinggal nangis aja apa susahnya sih? " Celetuk Ran membuat Sunny sontak menoleh.


"Apa?! Setiap orang punya sisi lemah. " Lanjut Ran membuat mata Sunny berkaca-kaca.

__ADS_1


Sementara Alex yang memperhatikan interaksi keduanya hanya diam. Beberapa saat kemudian Sunny menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dan tampak tubuhnya bergetar.


Alex hendak menghampiri Sunny saat Ran lebih dulu naik ke atas ranjang dan mengusap kepala Sunny dengan lembut. Alhasil Alex mengurungkan niatnya dan pergi keluar dari ruang rawat. Setelah berada di luar ruang rawat langkah Alex terhenti. Ia baru menyadari sesuatu.


"Ran bisa kesini, artinya dia juga ada di sini. Apa mungkin... "


Ucapannya belum selesai tapi Alex sudah berjalan cepat ke ruang rawat Morin yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang rawat Sunny. Dan tanpa permisi Alex langsung masuk ke dalam ruang rawat Morin. Ia tampak heran saat tidak melihat orang lain selain Morin yang tengah tertidur di dalam ruang rawat itu.


"Gak mungkin, gak mungkin dia gak jenguk Zoya. Gue tau mereka masih punya hubungan. Tapi kenapa gak ada siapapun selain Zoya di sini? " Gumam Alex bermonolog.


Alex terdiam beberapa saat sebelum berjalan pelan menghampiri Morin yang tengah tertidur dengan tenang di atas ranjang. Tatapan Alex berubah sendu dan ia menghela nafas.


"Cepat sembuh, Zoy. Anak Macan. "


Alex tersenyum sebelum kemudian berbalik. Tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk keluar saat matanya menangkap keberadaan setangkai bunga lavender dengan lipatan kertas di atas meja.


Alex mengernyit kemudian segera mengambil kedua benda itu dari atas meja. Hatinya mengatakan sesuatu yang mustahil saat matanya memperhatikan bunga lavender dan sebuah lipatan kertas yang kini ada di tangannya.


"Ini... "


...***...


Hari sudah beranjak sore dan Chelsea tengah duduk di atas ranjang sambil menonton televisi yang ada di ruang rawatnya. Tangannya juga tidak tinggal diam. Berkali-kali suapan potongan buah itu masuk ke dalam mulutnya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan membuat Chelsea sontak menoleh karena kaget. Dari balik pintu muncul Saka yang tersenyum padanya. Chelsea tampak sangat senang karena kedatangan Saka.


"Chelsea seneng abang punya waktu buat jenguk Chelsea. " Ucap Chelsea sambil memeluk tubuh Saka yang telah berada di samping ranjang.


"Apa sih yang enggak buat kamu. Abang sebenarnya udah pengen jenguk dari pertama dengar kamu masuk rumah sakit. Tapi abang juga punya tanggung jawab lain di kantor. " Ungkap Saka dengan menyesal.


"Dan abang cuma bawa puding buah aja yang ada di rumah karena gak sempat mampir ke tempat lain. Abang gak punya banyak waktu. " Lanjut Saka membuat Chelsea hanya tersenyum.


"Abang ngomong apaan sih? Yang penting abang datang, Chelsea udah seneng banget. "


Saka mengusap kepala Chelsea penuh sayang.


"Kok bisa sendirian sih? " Tanya Saka setelah duduk di kursi samping ranjang.


Tangannya mulai sibuk mengeluarkan kotak puding buah dari tas yang dibawanya. Setelahnya memberi Chelsea suapan demi suapan.


"Ayah harus ketemu klien. " Jawab Chelsea.


Saka mengernyit.

__ADS_1


"Si Om itu kemana? " Tanya Saka sambil menyuapi Chelsea puding buah.


"Ngurus hal lain. "


Setelahnya obrolan-obrolan kecil terjadi di antara mereka. Sesekali mereka tertawa karena candaan yang saling terlontar.


Chelsea menghentikan kunyahan nya saat mengingat sesuatu. Ia menatap Saka penuh maksud dan membuat Saka balik menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kenapa? "


Bukannya menjawab pertanyaan Saka, Chelsea malah tersenyum.


"Udah ketebak sih, mau apa? " Tanya Saka lagi.


"Bantuin Chelsea cari informasi dong. "


"Kan tinggal suruh salah satu bodyguard, beres. "


"Gak bisa, Chelsea gak mau infonya sampai ke ayah. " Tolak Chelsea tegas.


"Jadi? "


"Bantu Chelsea cari orang yang namnya Raja di rumah sakit ini. Terserah mau dia karyawan di sini atau pasien sekalipun. "


Saka mengangguk-anggukan Kepala menyanggupi permintaan Chelsea. Tapi tiba-tiba pintu ruang rawat diketuk dari luar. Saka dan Chelsea sempat saling pandang. Karena memang keduanya tidak mengetahui siapa yang datang.


"Abang yang liat, kan Chelsea gak bisa jalan jauh-jauh. "


Saka mendengus.


"Alasan banget, males kan pasti? "


Chelsea tersenyum tidak tau diri. Setelahnya meski dengan terpaksa Saka tetap berjalan untuk melihat siapa yang datang. Saat membuka pintu hanya sebuah buket bunga lavender besar yang Saka dan Chelsea lihat.


Kurir yang mengantarkan tidak banyak bicara. Dengan cepat buket bunga itu Saka ambil dan bawa kepada Chelsea. Di tempatnya Chelsea tengah menatap heran.


"Dari siapa, Bang? "


"Gak tau, gak ngomong apapun kurirnya. " Jawab Saka kemudian menyerahkan buket itu pada Chelsea.


Chelsea menerima buket itu dan menghirup dalam aroma lavender yang menenangkan dari buket itu.


'Siapa yang kirim ini? Masa sih ini dari Kara? Gak mungkin banget, seandainya buket ini dari Kak Ian. '

__ADS_1


__ADS_2