LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Rahasia? (Revisi)


__ADS_3

"Makan dulu, Ta. Lo belum makan dari kemaren, kan? " Tegur Alex pada Octa yang masih betah senderan di sofa sembari menatap Rian dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Gue gak lapar. " Balas Octa dengan datar.


Alex menghela nafas berat saat untuk kesekian kalinya mendapatkan jawaban yang sama dari sahabatnya. Sorot mata Octa yang sejak awal sudah kelam kini bertambah kelam. Alex dengan jelas dapat menyadari perubahan sikap Octa yang cukup drastis menurutnya. Tidak pernah Alex mendapati Octa sangat murung seperti saat ini.


'Pasti ada alasan lain yang lebih kuat. Gak mungkin hanya karena kecelakaan yang dialami Rian, terus tiba-tiba dia berubah kayak gini. Apa perlu gue cari tau alasannya? '


Bergelut dengan pikirannya membuat Alex tidak menyadari kedatangan Ran yang didampingi pengasuhnya. Ran berlari mendekati ranjang abangnya. Octa yang melihatnya dengan sigap menahan bocah usia 9 tahun itu sebelum benar-benar sampai ke ranjang Rian.


"Abang lo lagi istirahat, jangan diganggu, oke? "


"Kenapa? Abang gak bakal keganggu. Ran kan adiknya abang Rian. "


Mendapat sanggahan dari Ran membuat Octa menggiring bocah itu menuju sofa untuk duduk bersamanya. Sebelum kembali bicara pada Ran, Octa lebih dulu meminta pengasuh untuk kembali pulang.


"Abang lo katanya gak mau diganggu sama siapapun. Sekarang lo duduk di sini aja jagain Abang lo bareng Bang Octa. Lo udah makan? "


"Gak sempat, Bang. "


"Oke, kalo gitu biar gue aja yang beliin lo berdua makan. " Sahut Alex mengajukan diri kemudian beranjak pergi setelah mendapat persetujuan dari Octa.


"Orang tua lo sibuk ya, Ran? " Tanya Octa kepo.


"Enggak"


"Kenapa gak pernah datang jenguk abang lo? " Tanya Octa heran.


"Kata ayah abang itu gak penting. "


Octa terhenyak mendengar kejujuran Ran padanya. Hal itu membuatnya semakin penasaran.


"Kenapa bisa gitu? " Tanya Octa menahan ngilu di hatinya.


"Ran gak tau jelasnya. Tapi, kata bibi yang ngasuh Ran ayah sama mamah gak suka sama abang gara-gara abang nakal bikin abang Ran yang lain hilang. " Jawab Ran tanpa beban.


Octa mengepalkan tangannya untuk kembali menahan ngilu yang menyerang hatinya akibat jawaban tak terduga dari Ran.


'*Kenapa lo gak pernah ngeluh, dek? Jadi sahabat lo ternyata gak cukup. Lo tutupin rasa sakit lo dari gue, Alex dan Rico. 5 tahun kita semua bareng-bareng dan lo gak pernah sedikitpun ngeluh. "


"Maafin kakak, harusnya kakak jujur sejak kita ketemu. Jadi gak bakal kayak gini. Harusnya lo udah bahagia sekarang, ayah sama mamah gak bakal nyalahin lo. Maaf, kakak belum siap jujur sama lo, sama ayah, sama mamah*. '

__ADS_1


...***...


Rico berjalan bersama Alex di lorong rumah sakit dengan tergesa. Hari ini Rian akan keluar dari rumah sakit setelah satu minggu dirawat dengan intensif. Keadaannya belum benar-benar baik tapi hanya stabil saja. Rian baru sadar 2 hari yang lalu tapi sudah minta pulang dengan rengekannya yang membuat Octa sakit kepala.


Akhirnya setelah banyak drama, Rian diizinkan pulang untuk rawat jalan. Rico yang mengetahui kabar itu langsung minggat dari acara cukup bergengsi yang tengah dihadirinya bersama sang manager, Alex. Dengan tuxedo mahal yang masih melekat ditubuhnya, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya dan masker hitam yang sukses menyamarkan identitasnya. Rico benar-benar tidak ingin ketinggalan menjemput sahabatnya itu.


Rian tampak tenang menonton televisi yang menyiarkan kabar kecelakaan yang menimpanya saat Rico masuk ke ruang rawatnya dengan tidak sabaran diikuti Alex yang berjalan santai. Rian sontak menoleh saat mendengar pintu terbuka.


"Ahay! Sobat gue akhirnya keluar juga dari kandang obat!! " Teriak Rico dengan hebohnya sambil berlari memeluk Rian.


" A*j*r! Tangan gue kejepit, b*bi! " Pekik Rian dengan muka risih yang menggemaskan saat Rico malah menempel padanya seperti kucing.


"Aaaa!!! " Rengek Rian jijik.


Alex terbahak sampai matanya berkaca-kaca. Tapi kehadiran Octa yang baru kembali dari toilet sambil tergelak membuat suasana hening seketika. Mereka bertiga melongo kaget tanpa berubah posisi saat mendengar suara tawa Octa.


"L-lo ketawa, Ta? Gue gak lagi halusinasi, kan? Atau jangan-jangan lo kerasukan setan humoris? "


Belum sempat Octa menjawab pertanyaan aneh Rico, tiba-tiba wajahnya sudah basah akibat guyuran sahabat laknatnya itu.


"Gak waras! " Umpat Octa sambil mengeringkan wajahnya menggunakan beberapa lembar tisu yang dia comot dari meja laci di sebelah ranjang Rian.


Rico menghela nafas lega. Setelah menyimpan gelas yang sudah kosong di tangannya ke tempat semula. Sementara Alex kembali terbahak menyaksikan tingkah random sahabatnya saat Rian masih melongo seperti orang bodoh.


Octa yang merasa paling waras hanya bisa menatap jengah kemudian memutuskan beranjak meninggalkan kegilaan sahabatnya. Tangannya telaten memasukan beberapa jenis obat ke dalam ranselnya. Setelahnya memilah dan menyodorkan 5 butir pil dengan bentuk dan ukuran yang berbeda di telapak tangannya ke arah Rian.


Mata kelamnya menatap Rian yang tengah melayangkan tatapan memelas padanya. Seakan tidak setuju dengan isyarat yang diberikan Octa, Rian merengek dengan


manjanya berharap Octa terpengaruh.


"Jangan dong, sekali aja. Entar deh makan obatnya, yah? "


Octa menghela nafas kasar.


"Janji tapi, yah? "


Rian dengan cepat mengangguk.


"Kalo gak lupa. " Gumam Rian seperti bisikan.


Tapi siapa sangka ternyata Octa mendengarnya. Octa menatap tajam Rian yang nyengir tak berdosa sambil mengusap tengkuknya. Dengan cepat Rian mengambil 5 pil di tangan Octa dan menelannya dengan satu tegukan air. Rico dan Alex yang sedari tadi menahan tawa akhirnya tergelak juga saat melihat betapa Rian sangat penurut saat mendapat tatapan tajam dari Octa.

__ADS_1


"Gokil! Lo berdua cocok banget jadi adik kakak. " Celetuk Rico yang membuat ketiga sahabatnya terdiam sambil menoleh padanya dengan tatapan sulit diartikan.


"Lawak lo! Gak mungkin lah! Ngaco! " Sanggah Rian dengan senyum kikuk.


"Gue iya-in karena gue ganteng badai. " Balas Rico dengan narsisnya.


Sementara tatapan mata Alex terarah pada Octa yang terdiam dengan sorot mata yang tak terbaca. Alex cukup peka untuk menyadari sorot mata aneh Octa saat mendengar celetukan Rico.


'Apa ini?! Lima tahun bareng-bareng dan kita semua masih main rahasia?! Gak bisa! Gak boleh kayak gini! Gue gak mau jadi orang bodoh yang gak tau apa-apa. '


...***...


"Masih ingat pulang kamu? "


Octa yang baru masuk ke ruang tamu rumah Rian sambil mendorong kursi roda sahabatnya itu tampak terhenyak mendengar suara ketus yang menyambut kedatangan mereka. Hatinya terhenyak melihat Rian yang hanya diam seolah tidak mendengar apapun. Nampak Rian menghela nafas kemudian tersenyum kecut.


"Ta, lo dengar suara gak? Kayak ada yang ngomong. Ke kamar gue aja yuk, serem gue di sini. " Ajak Rian dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat.


Octa hanya bisa mengikuti kemauan Rian tanpa bicara apapun. Pria berkacamata yang tengah duduk di sofa ruang tamu sembari membaca kertas tertumpuk di meja tiba-tiba melempar berkas di tangannya dengan kasar ke meja.


"Kamu berani mengabaikan saya, Rian?! " Teriaknya saat Rian dan Octa sudah sampai di depan kamar Rian.


"Gue orang gak penting, ngapain lo nanya? Muak liat lo sok perhatian kayak gini. "


"Rian! "


Mata Rian nampak tertutup saat kepalanya tertunduk seakan tidak mengizinkan orang lain tau hatinya terluka. Octa sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak ikut campur. Tiba-tiba suara lirih menginterupsi membuat atensi Rian dan Octa menoleh.


"Cukup, Yah! "


Seorang wanita paruh baya yang masih nampak awet muda itu tiba-tiba sudah berdiri di anak tangga. Matanya terbelalak saat melihat Rian yang terduduk lemah di kursi roda dengan kaki dan tangan kanannya yang terpasang gips. Rian sontak mengalihkan pandangannya saat beradu tatap dengan sang mamah.


Dan Octa kembali mendorong kursi roda Rian saat diberi isyarat meninggalkan wanita paruh baya yang nampak masih terpaku. Saat pintu kamar Rian telah tertutup wanita itu baru menuruni anak tangga dengan tergesa berniat menghampiri putranya. Namun langkahnya tertahan oleh suara tegas sang suami yang tengah menatapnya dengan tajam.


"Susul anak sialan itu dan silahkan bawa barang-barang kamu keluar dari rumah ini, tanpa Arran! "


"Tapi, Rian butuh kita saat ini. "


"Ya sudah, temui saja! Dan keluar dari rumah ini! Saya sudah berbaik hati menampung anak sialan itu selama ini, bawa pergi sekalian! "


Mendengar bentakan sang suami membuat wanita itu urung menemui putranya. Wanita itu hanya terisak sebelum kemudian menoleh pada Octa yang baru keluar dari kamar Rian. Netra wanita itu menyiratkan keterkejutan yang amat kentara saat tatapan mereka beradu. Octa segera memutus kontak mata mereka dan beranjak pergi tanpa berkata apapun.

__ADS_1


"A-apa itu dia? Benarkah itu dia? Iris kelam itu... "


__ADS_2