
Kediaman keluarga Xil nampak sepi. Meski Chelsea dan sang ayah telah masuk ke dalam rumah, tak ada perbedaan yang terlihat. Chelsea diam begitupun sang ayah yang membuat para pengawal dan pelayan rumah tak berkutik. Mereka takut salah bicara dan malah berimbas pada pekerjaan mereka.
Chelsea berjalan gontai menuju kamarnya dengan mengabaikan semua orang di sekitarnya. Sementara sang ayah yang tak melihat keberadaan putranya semenjak di rumah sakit mengerutkan dahi bingung.
"Kemana Rico pergi? " Tanya sang ayah pada pengawal pribadi Rico.
"Tuan Muda sudah berada di kamarnya, Tuan. Tidak ada tanda-tanda ia keluar semenjak pulang dari rumah sakit. "
Tuan Besar Xil menghembuskan nafas lega.
"Dimana Arshie? "
Pengasuh Arshie langsung buka suara.
"Nona kecil sedang belajar di kamarnya, Tuan. "
"Oke, siapkan makan malam! Untuk Rico dan Chelsea, antar makanan ke kamar mereka di jam yang sama. "
Seluruh pelayan menunduk hormat saat tuannya melangkah pergi. Dan segala perintah dari Tuan Besar Xil segera mereka kerjakan.
Sementara itu di kamarnya Rico tengah terduduk di lantai sambil bersandar ke sisi ranjang. Ia membanting botol kecil berisi pil dalam genggamannya dengan marah. Segera ia mengambil handphonenya di atas ranjang dan menelpon nomor seseorang.
"Bawa trip itu ke rumah gue, jangan sampai ketahuan! "
"... "
"Gue bayar berapapun itu, pil sialan itu benar-benar gak berguna. "
"... "
"Hey! Tentu saja, gue bisa kasih lebih dari segitu. "
"... "
"Oke. "
Rico menutup panggilan telepon kemudian kembali bersandar nyaman pada sisi ranjang. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar dengan nuansa maskulin yang ditempatinya sejak kecil.
"Bisa-bisanya lo ninggalin gue, Rian. Bisa-bisanya lo biarin gue jadi sahabat yang gak berguna. Harusnya lo ngadu ke gue, gue bakal dengan senang hati bunuh mereka buat lo. " Gerutu Rico setelah beberapa saat lalu kembali menelan pil dalam botol kecil yang selalu ia bawa.
Tapi setelahnya tiba-tiba ia tertawa sesaat sebelum kembali menangis.
"Lo orang jahat! Lo bikin gue menderita, lo bikin Alex menderita bahkan lo bikin si bodoh itu menderita. Lo lagi balas dendam, ya? Lo lagi balas dendam, kan?! "
Rico kembali tertawa seperti orang gila. Suasana hatinya terus berubah-ubah, ia bisa terlihat sangat bahagia sampai tertawa terbahak-bahak dan beberapa saat kemudian kembali menangis tersedu. Untung saja sang ayah tidak memasang kamera pengintai di kamar Rico, ayahnya tidak akan tahan melihat tingkah Rico saat ini.
Karena itu juga Rico leluasa menyusupkan barang haram itu ke kamarnya. Lembaran naskah lumayan tebal yang baru ia dapatkan dari pengawalnya itu berhasil meloloskan barang haram yang dipesannya.
Rico tertawa saat melihat trip dalam genggamannya. Suasana hatinya kini sulit untuk ditafsirkan. Ia bisa tertawa saat sedih dan sebaliknya. Lembaran naskah itu dilemparkan sembarangan ke atas ranjang sementara kaki Rico melangkah membawanya menuju balkon kamar.
Pintu kaca itu dibuka dan membuat hawa dingin malam masuk memenuhi ruang kamar yang sangat luas itu. Rico menatap trip itu dengan lekat kemudian menjulurkan lidahnya. Trip itu ia simpan di lidahnya dan dibiarkan beberapa saat. Lama kelamaan sikapnya menjadi sangat aneh. Kali ini dia benar-benar terlihat bahagia meski tatapan matanya kosong. Suasana hatinya tidak lagi berubah-ubah, hanya ada kebahagiaan.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan membuat Rico kaget meski sesaat kemudian terkekeh. Ia melihat jam besar di dinding kamarnya yang menunjukkan waktu makan malam telah tiba. Rico beranjak dari balkon dan menyelipkan beberapa trip yang tersisa ke sela-sela lembaran naskah.
"Baiklah, mari makan malam bersama ayah. " Ucapnya kemudian berjalan dengan santai menuju pintu kamar.
Saat keluar dari kamar seorang pelayan yang menenteng nampan dengan nasi dan lauk-pauk beserta buah dan segelas air putih di atasnya itu menyambutnya. Rico mengernyit heran.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di depan kamarku? " Tanya Rico penasaran.
"Maaf, Tuan Muda. Saya bertugas mengantarkan makan malam anda. "
Rico tersenyum dan membuat si pelayan merasa aneh.
"Bawa kembali! Aku akan turun untuk makan malam bersama ayah. "
Pelayan itu pergi lebih dulu dan membuat Tuan Besar Xil yang tengah menikmati makan malam di meja makan menoleh. Dahinya berkerut saat melihat makanan di atas nampan itu masih utuh. Tuan Besar Xil menghentikan makannya.
"Kenapa kau bawa makanan itu kembali? " Tanya Tuan Besar Xil membuat si pelayan menghentikan langkahnya.
Belum sempat si pelayan menjawab, Rico sudah datang dengan wajah cerianya.
"Karena aku akan makan bersama ayah dan Arshie. " Sahut Rico membuat sang ayah dan Arshie menoleh padanya.
Senyum di wajah Rico membuat sang ayah menatap heran. Sementara Arshie terlihat sangat senang saat Rico duduk di sampingnya.
"Hi, little princess. " Sapa Rico sambil mengusap kepala Arshie setelah bergabung di meja makan.
"Kamu baik-baik saja kan, Rico? "
Rico tersenyum menanggapi pertanyaan ayahnya.
"I am okay, seperti yang bisa ayah lihat. "
Menyadari ayahnya yang masih menatap heran, Rico terkekeh dan malah semakin membuat ayahnya khawatir. Rico sempat sangat terguncang dengan kematian sahabatnya, Rian. Tapi, yang terlihat saat ini tidak seperti orang yang tengah berduka.
"Why? Kematian bukan sesuatu yang terus menerus harus diratapi, ayah. Rico tidak harus berubah menjadi gila, kan? "
'Karena gue emang udah gila'
'Sorot mata itu bukan milik orang yang tegar, ada sesuatu yang tidak beres dengan diri Rico. '
...***...
"Apa lebih baik kalo kita udahan aja? "
Sebelah sudut bibir Octa terangkat menciptakan senyum misterius saat Morin mengutarakan pertanyaannya. Morin menatap Octa dengan raut bersalah. Saat ini keduanya tengah menempati sebuah meja di restoran yang cukup mewah.
Mereka mampir ke sana setelah pulang dari kediaman keluarga Megardante. Niatnya hanya untuk makan malam bersama tapi kemudian suasana berubah saat pertanyaan itu keluar dari mulut Morin.
"Kamu suka kan sama Rian? "
Pertanyaan Octa membuat Morin gelagapan. Nada santai Octa saat mengutarakan pertanyaan itu justru membuat Morin merasa semakin bersalah karena memang pertanyaan yang lebih mirip tuduhan itu tidak sepenuhnya salah.
"Bukan gitu, aku pengen mengakhiri semuanya karena kita sama-sama tau ini salah. "
Jawaban Morin berhasil membuat Octa tertawa.
"Sejak awal memang salah, kan aku udah sering mutusin kamu, Babe. Yang bersikeras bertahan itu siapa? Aku pernah bilang, jangan serakah. Sekarang kesalahan itu udah gak jadi kesalahan, jadi apa gunanya kita putus sekarang? "
Morin terpojok dengan fakta yang baru saja diutarakan Octa. Ia menunduk saat hatinya membenarkan perkataan Octa.
"Kita sama-sama bersalah dalam hal ini, atau mungkin aku yang paling bersalah karena memintamu menerimanya dulu? Tidak masalah jika kamu mencintainya, kamu ingin putus, kan? " Lanjut Octa dengan sorot mata yang tidak terbaca.
Octa menatap penuh arti pada tangan Morin yang terus menggenggam sebuah kalung dengan bandul bunga matahari yang sangat familiar di matanya.
__ADS_1
"Ayo kita lanjutkan hubungan ini. "
...***...
Sebuah ruangan bercahaya terang tampak dipenuhi lukisan dan potret-potret wajah familiar yang terpajang di dindingnya. Tampak punggung tegap seorang pria yang berdiri di depan sebuah potret yang menggambarkan lima orang pria yang tampak tengah menikmati langit senja di atas hamparan pasir pinggir pantai.
Kedua telapak tangannya dimasukkan ke kantong celana bahan yang ia pakai. Hoodie hitam dan topi senada melengkapi penampilannya seperti biasa.
"Lo buat sahabat gue menderita dan pengecut kayak lo harus gue buang ke neraka. "
Tiba-tiba seorang pria dengan setelan serba hitam datang dari belakang. Pria dengan hoodie itu tampak menyadari kedatangannya.
"Ada apa? "
Pria di belakang maju dan nampak membisikkan sesuatu. Setelahnya pria dengan hoodie itu terkekeh kemudian terdiam tiba-tiba.
"Dimana si hati malaikat? Apa dia juga perlu terlibat? "
"Dia sedang berada di rumahnya, Tuan. Belakangan ini dia mulai mencari tau, apa perlu kita melibatkan dia juga? "
Si pria dengan hoodie itu terdiam seolah tengah berpikir.
"Apa menurutmu dia butuh dipengaruhi? "
Pria dengan hoodie itu malah balik bertanya.
"Kita hanya harus mendorong si penguasa, dan Bom! Dia akan ikut terjatuh. Ingatlah, hatinya sebaik malaikat, dia sangat perasa. "
"Jadi, Tuan. Apa kita harus membiarkannya mencari tau atau membantunya? "
Lagi, pria dengan hoodie itu nampak seperti orang yang tengah berpikir keras.
"Biarkan saja, perhatikan dari jauh. "
Sementara itu di kamarnya Chelsea tengah termenung menatap hamparan langit gelap berbintang dari balkon. Matanya masih tampak sembab dan berkaca-kaca dan air mata turun melewati pipinya.
Tangannya tiba-tiba terangkat perlahan mengusap air mata di pipinya. Ia menoleh ke samping dan nampak tidak jauh dari tempatnya berdiri bunga lavender yang tertanam dalam sebuah pot. Bukan hanya satu tapi pot bunga lavender itu bergantungan memenuhi sebelah pagar balkon kamarnya yang cukup luas dengan ukuran 3x4 meter. Dan lagi, kilasan masa lalu berputar di benaknya.
Chelsea tampak tengah berjalan-jalan di toko souvernir. Ia tidak sendirian, ada Rian, Rico, Alex dan beberapa cameraman yang berada di sekitarnya. Kali ini Rico dan Rian melakukan tour ke luar negeri dan beruntungnya Chelsea bisa ikut karena sekolahnya sedang libur panjang.
Saat tidak menemukan barang yang cocok, mata Chelsea beralih pada toko bunga di sebelah toko souvernir itu. Banyak jenis bunga berukuran kecil yang tertanam di pot kecil. Ada juga yang sudah dijadikan buket. Saat sedang kebingungan memilih, tangan seseorang tiba-tiba menunjuk bunga lavender dan membuat Chelsea sontak menoleh. Rian tersenyum padanya.
"Kamu baru naik kelas 3 SMP, kan? "
Chelsea hanya mengangguk malu-malu.
"Coba deh beli satu aja bunga lavender, aromanya bagus buat ngilangin insomnia sama stres. Biasanya kelas 3 itu bakal banyak belajar buat ujian. "
"Kak Ian suka bunga lavender? "
Rian mengangguk dan setelahnya Chelsea memborong semua bunga lavender di toko itu membuat para pengawalnya kewalahan membawa pot-pot kecil itu. Rian hanya tertawa melihat kelakuan anak bosnya. Sementara Chelsea tersenyum malu-malu.
Lagi-lagi air matanya jatuh, kini isak nya pun terdengar. Malam dingin itu terasa begitu membuat hatinya ngilu. Dengan susah payah ia melawan keinginannya untuk tetap meratap, air matanya ia tahan meski ngilu di hati benar-benar menyakitinya.
Chelsea kembali menatap bunga-bunga lavender itu saat hatinya mulai merasa tenang. Ia tersenyum kemudian menghela nafas.
"Udah hampir 1 tahun bunga ini nemenin aku, kak. Karena apa yang kak Ian suka bakal Chelsea jaga. Aromanya benar-benar bikin Chelsea tenang, makasih kak buat segala kenangannya. "
__ADS_1
'Kak Ian bisa liat Chelsea dari sana? Kak Ian bisa dengar setiap detak jantung Chelsea yang hampa? Kak Ian, kenapa secepat ini? Kita bahkan belum jadi siapa-siapa. Chelsea kangen kak Ian. '