
Malam semakin larut dan Alex masih mengurus kepindahan Rico ke rumah sakit Xil grup. Saat hampir tengah malam Alex baru bisa pulang ke rumahnya. Alex membuka pintu depan rumah dengan pakaian lusuh dan rambut yang berantakan. Tersirat jelas raut lelah di wajah Alex membuat pengawal pribadi Ara segera menghampirinya.
"Saya sudah menyiapkan makan malam, Tuan. "
Alex menghela nafas.
"Apa Ara udah tidur? "
"Sudah, Tuan. "
Alex mengangguk-angguk pelan sambil melanjutkan langkahnya menuju tangga yang mengarah ke kamarnya. Si pengawal terus mengikutinya dan tiba-tiba berhenti sebelum menaiki anak tangga. Alex menoleh ke arah pengawal itu.
"Gue mau mandi dulu, lo boleh istirahat. Makanan taruh aja di kamar, gue males turun lagi. "
"Siap, Tuan. " Ucap si pengawal menanggapi sambil mengangguk patuh.
Alex bernafas lega kemudian mulai menaiki tangga dengan tubuh lelah. Sampai di kamar nafasnya putus-putus dan membuat ia duduk lesehan di lantai kamar. AC yang menyala membuat lantai itu terasa dingin saat bersentuhan dengan kulit.
"Kayaknya gue harus pindah ke kamar bawah deh, bisa mati muda gue kalo tiap hari kayak gini. Di jadikan babu sama Xil terus dateng ke rumah harus naik tangga baru nyampe kamar. " Gerutu Alex bermonolog.
Setelahnya memaksakan diri untuk mandi karena meski lelah tapi badannya terasa sangat lengket. Ia tidak nyaman tidur dengan kondisi seperti itu. Lagipula Alex itu penggila kebersihan akut, dia gak bisa lihat tempat kotor dan berantakan. Tentu saja ia tidak akan membiarkan kasurnya kotor dengan keringat meski itu berasal dari dirinya sendiri.
Waktu 15 menit cukup untuk membuatnya kembali segar. Alex keluar dengan piyama di tubuhnya dan rambut yang masih meneteskan air setelah keramas. Wajah lelahnya perlahan mulai memudar. Alex menoleh ke meja yang terdapat makanan di atasnya.
Sebelum melangkah ke arah makanan itu, Alex lebih dulu mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ter sampir di bahunya. Setelah memastikan rambutnya tidak akan meneteskan air, Alex baru mengambil langkah mendekati makanan di atas meja. Ia duduk di sofa sambil menikmati makanannya.
...***...
Octa beberapa kali melirik arloji di pergelangan tangannya sembari membenahi penampilan. Sweater rajut warna mocca dipadukan dengan jeans hitam membuat penampilannya terlihat santai dan casual. Topi baseball hitam dan kacamata senada melengkapi penampilannya pagi ini.
Selesai bersiap Octa kembali melirik arloji di pergelangan tangannya. Melihat waktu yang beranjak siang, Octa segera keluar dari kamarnya dengan kunci mobil dalam genggaman. Berjalan dengan buru-buru dan menuruni tangga menuju ruang keluarga. Tapi langkahnya terhenti saat sang mamah memanggilnya.
"Kenapa buru-buru banget sih? Mau kemana? " Tanya sang mamah sambil menghampiri putra sulungnya itu.
Octa menoleh dan tersenyum hangat pada wanita paruh baya yang sangat disayanginya.
"Vian ada urusan, mah. Harus buru-buru pergi, udah ada yang nunggu. " Jawab Octa memberi pengertian.
__ADS_1
"Gak boleh, harus sarapan dulu baru keluar. " Putus sang mamah sambil menarik Octa menuju meja makan.
Di sana sang ayah dan Ran tengah menikmati sarapannya. Sang ayah tersenyum hangat saat Octa menyapanya. Berbeda dengan Ran yang diam tak peduli dengan keberadaan kakak sulungnya itu. Mereka bertiga sudah memaklumi sikap dingin Ran karena mengira bocah SD itu hanya masih berduka.
"Ran hari ini sekolah bareng kak Vian, ya? " Ucap sang mamah membuat Ran dan Octa sama-sama menoleh.
"Gak perlu, ada pengasuh. " Sahut Ran ketus.
"Iya, mah. Vian juga kan harus buru-buru pergi. " Timpal Octa menyetujui ucapan Ran.
Ran mendelik sebal sementara Octa segera beranjak dari kursi setelah menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Berpamitan pada seluruh keluarganya dan berjalan dengan terburu-buru. Akhirnya mobil sport keluaran terbaru miliknya melaju dengan cepat meninggalkan area mansion Megardante.
Butuh waktu 15 menit untuk sampai di tujuan meski sudah ngebut membuat Morin yang menempati salah satu meja kafe menatap tajam padanya. Octa buru-buru menghampiri Morin dengan senyuman. Sementara Morin berdecak sebal melihat itu.
"Enak ya, yang minta ketemuan tapi datang telat. " Sindir Morin membuat Octa tersenyum kikuk.
"Iya deh, aku minta maaf, Babe. Mamah maksa aku buat sarapan dulu, kalo gak diturutin malah gak bisa keluar rumah. Maafin ya? Ya? Please, Babe. " Bujuk Octa yang membuat Morin menahan tawa.
Octa mengernyit melihat reaksi Morin. Dan Morin jelas bisa melihat hal itu. Morin masih enak saja menahan tawa karena mereka sedang berada di tempat umum.
"Kamu kenapa sih, Babe? " Tanya Octa sambil cemberut.
Mendapat jawaban seperti itu dari Morin membuat Octa semakin menjadi-jadi.
"Kan biar kamu gak marah, Babe. " Balas Octa dengan wajah cemberut sok imutnya.
"Ih! Jijik, Babe. " Ucap Morin sambil mendorong wajah Octa yang terus mendekatinya dengan wajah sok imut.
Dan yang dilakukan Octa hanya terkekeh. Setelahnya Octa menggenggam tangan Morin kemudian mengecupnya. Membuat pipi Morin bersemu karena malu.
"Makasih kamu udah bersedia bertahan sampai sejauh ini. Maaf karena dulu aku sempat meragukan kamu. Bahkan beberapa kali mengusir kamu dari hidupku. Maaf, maafin aku. Aku cuma takut menyakiti adikku. "
Sementara itu seperti perintah Tuan Besar, hari ini pagi-pagi sekali Alex berangkat menuju kediaman Xilent. Dengan penampilan sangat sopan, Alex kali ini mengendarai motor sportnya. Saat gerbang kediaman Xilent terbuka, nampak para bodyguard berjajar menyambutnya dari gerbang sampai pintu utama.
Motornya berhenti di depan teras depan dan Alex segera turun. Pintu setinggi empat meter itu terbuka menampilkan seorang pria paruh baya yang tampak berjalan menghampiri Alex dengan wibawanya. Dua bodyguard berjalan mengikuti di belakangnya.
Alex membungkuk hormat saat Tuan Besar Xil sudah berdiri di hadapannya. Tuan Besar tersenyum kemudian menepuk pelan bahu Alex. Ada tatapan yang sulit Alex artikan dari iris abu Tuan Besar.
__ADS_1
"Saya tau kamu selalu bisa saya andalkan. Ikut saya ke rumah sakit Xil grup, kita harus melihat keadaan Rico. "
Alex tampak bingung.
"Tapi, apa yang ingin Tuan Besar sampaikan pada saya? "
Tuan Besar tersenyum.
"Kamu akan tau nanti, setelah kita bertemu Rico di rumah sakit. " Jawab Tuan Besar kemudian berjalan pergi menuju mobil.
Setelah mendengar jawaban Tuan Besar atas pertanyaannya Alex malah semakin penasaran. Tapi meski begitu Alex memilih diam dan berjalan menuju motornya. Saat melewati Tuan Besar yang sudah duduk di dalam mobil, perintah Tuan Besar menghentikan langkahnya.
"Masuk ke dalam mobil, Tuan Lexan. "
Alex sempat mematung sesaat sebelum kemudian mengangguk patuh. Dengan cepat Alex masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Tuan Besar seperti biasa. Suasana canggung tercipta di sana.
Perjalanan menuju rumah sakit Xil grup dari kediaman keluarga Xilent hanya menghabiskan waktu 10 menit. Tuan Besar turun dari mobil bersama Alex dan langsung berjalan diikuti beberapa bodyguard di belakang mereka. Meski sudah sering diikuti bodyguard, Alex masih saja merasa risih. Terlihat jelas dari raut wajahnya dan Tuan Besar pun menyadari hal itu. Tuan Besar tersenyum.
"Biasakan dirimu dengan para bodyguard ini, Tuan Lexan. "
Mendengar ucapan Tuan Besar membuat Alex mengernyit bingung.
'Apa maksud Tuan Besar ngomong kayak gitu? Lagi pula itu bukan hal penting yang harus Tuan Besar urus. Memang apa masalahnya untuk Tuan Besar? Gue gak ngerti. '
Setelah berjalan beberapa saat kemudian menaiki lift, akhirnya Tuan Besar dan Alex sampai di sini. Di depan sebuah ruang rawat VVIP milik rumah sakit Xil grup bersama seorang dokter senior yang sudah lumayan berumur. Dokter itu mempersilahkan Tuan Besar untuk masuk dan Alex diharuskan ikut.
Di atas ranjang terlihat Rico yang langsung menoleh saat Alex dan Tuan Besar masuk. Tuan Besar berjalan menghampiri putranya dan berdiri di samping ranjang. Rico menatap sang ayah dengan bingung.
"Ada yang harus kamu jelaskan pada ayah, Rico. "
"Apa? Apa yang harus dijelaskan? " Tanya Rico bingung.
"Tentang obat itu, tentang kamu yang adalah seorang pecandu. "
Rico dan Alex sama-sama tersentak. Alex melayangkan tatapan tak percaya sementara Tuan Besar tampak diam dengan tatapan tajam. Rico gelagapan.
"A-apa maksud ayah? " Tanya Rico dengan gugup.
__ADS_1
Plak!