
Alex berjalan menghampiri Rico yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Rico belum sadarkan diri sejak dilarikan ke rumah sakit ini. Di samping ranjang nampak sebuah kursi dan Alex duduk di sana. Menatap wajah pucat sahabatnya dengan beberapa luka yang tergores.
"Masalah apa yang bikin lo jadi kayak gini, Rico? Apa karena media atau Chelsea? Jangan seperti Rian, ceritain semuanya setelah lo sadar, Rico. "
Alex tersenyum saat sahabatnya itu tidak bergeming. Beberapa saat kemudian Tuan Besar Xil kembali dari ruang dokter. Wajah tegas dan tatapan kelam pria paruh baya itu membuat Alex merinding. Meski begitu Alex tidak lantas mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Tuan Besar Xil. Alex berdiri dari duduknya.
"Kalau boleh saya tau, apa yang dikatakan dokter sampai merubah raut wajah Tuan Besar? "
Tuan Besar menoleh.
"Urus kepindahan Rico ke rumah sakit Xil grup sekarang, Tuan Lexan. Saya akan pulang sekarang, dua bodyguard akan bersama kamu. "
Setelahnya Tuan Besar pergi bersama kedua bodyguard lainnya tanpa menunggu tanggapan Alex atau sekedar menjawab pertanyaan dari Alex. Sementara Alex hanya diam sambil memperhatikan kepergian Tuan Besar Xil.
Alex menatap Rico beberapa saat sebelum pergi ke bagian administrasi untuk mengurus kepindahan Rico ke rumah sakit Xil grup. Tuan Besar Xil tidak memberinya waktu untuk memberi tanggapan atas perintah itu dan meninggalkan dua orang bodyguard bersamanya. Artinya perintah itu mutlak baginya.
'Apa lagi yang jadi masalah sekarang? Gue harap lo gak bikin masalah, Rico. '
Sementara itu Chelsea tengah termenung di atas kasur yang sangat berbeda dari miliknya di kediaman Xilent. Ia melihat sekeliling kemudian tersenyum miris. Ingin sekali dia menyesali pilihannya sendiri tapi sekarang semua itu tidak ada gunanya. Dia sudah ada di sini, di tempat yang tidak pernah ia duga kakinya akan menginjak tempat ini. Chelsea menghela nafas.
Beberapa kasur di ruangan itu sudah ditempati pemiliknya masing-masing. Satu kamar berukuran 5x6 meter itu dihuni enam orang termasuk Chelsea. Chelsea bersyukur teman-teman sekamarnya semuanya ramah. Dia berpikir mungkin tempat itu tidak akan terlalu buruk. Ya, kecuali fasilitasnya yang memang tidak akan pernah setara hotel berbintang.
Teman-temannya nampak sudah tertidur lelap. Lampu ruangan itu sudah dimatikan dan pencahayaan hanya berasal dari celah-celah jendela yang menyusupkan cahaya dari lampu luar kamar. Udara sedikit panas karena ruangan itu tanpa AC.
"Aku harap kakak aman dengan cara ini. Meskipun aku ngerasa keputusan ini salah, tapi seenggaknya aku bisa menyelamatkan satu kenangan dari kak Ian. "
Benak Chelsea kembali memutar ingatan bersama Rian. Sambil duduk bersila di atas kasur, tangannya menggenggam erat bandul kalung peninggalan Rian yang ia dapatkan dari Morin tempo hari. Matanya terpejam dan ingatan itu berputar di benaknya.
Chelsea menghampiri Rian yang tengah duduk di kursinya sambil memperhatikan Rico yang tengah syuting. Kursi di samping Rian tampak kosong jadi ia duduk saja di sana. Rian menoleh saat menyadari seseorang duduk di sampingnya.
"Anteng banget liatin kak Rico, jangan-jangan dulu sebelum kak Ian jadi aktor kakak salah satu fansnya kak Rico. "
__ADS_1
Rian terkekeh.
"Enggaklah, gak mungkin banget. Mau denger cerita gak? "
Chelsea mengangguk dengan antusias, itulah tujuannya duduk di samping Rian. Dia ingin jadi akrab dengan pria yang disukainya itu. Rian lagi-lagi terkekeh.
"*Jadi dulu waktu kakak sama Rico masih SMA emang kakak duluan yang diincar agensi. Tapi, kakak cuma ditawarin nyanyi doang padahal kakak pengennya jadi aktor. Kakak cerita tuh sama si Rico. Kakak bercanda kan tuh bilang ke dia biar si Rico itu jadi aktor dan kalo udah masuk agensi dia harus rekomendasiin kakak. Eh, taunya dia anggap serius. "
"Awalnya kakak gak tau dia ikutan audisi jadi aktor dan pas mau main film dia ngajakin kakak. Dari sana sutradara jadi tertarik sama kakak dan akhirnya kakak masuk agensi ini bareng Rico. " Ujar Rian menjelaskan panjang lebar dengan antusias*.
"Jadi, bisa dibilang, Rico itu salah satu sayap kakak. Kakak pengen selalu jaga dia, kakak selalu kagum sama dia kalo ingat seberapa keras usaha dia buat bantu kakak sampai jadi kayak sekarang. "
Chelsea menghela nafas kemudian berbaring. Senyum tulus tercipta di wajahnya. Hari mulai larut dan matanya terpejam.
'Apa yang aku pikirin? Gak seharusnya aku menyesali pilihan yang aku buat. Justru harusnya aku bahagia karena bisa melindungi salah satu sayap kak Ian. Aku gak tau apa yang mungkin terjadi kalo seandainya aku gak tau fakta itu. '
Mata Chelsea kembali terbuka. Tatapannya menerawang ke masa itu, masa dimana ia mengetahui segalanya. Fakta yang membuat ia sendiri kesulitan untuk percaya.
Flashback On
'Aku gak mungkin salah dengar, tadi kak Rico suruh pelayan panggil om? Om siapa? Masa om Adi? Jelas-jelas di rumah ada Ayah, kakak kenapa sih? '
Pertanyaan di benaknya hari itu tidak pernah terjawab. Sampai hari kematian Rian membuatnya melupakan rasa penasaran itu. Tapi, sesuatu membuatnya kembali bertanya-tanya. Kakaknya tidak hadir saat pemakaman. Bahkan saat di rumah sakit ia sama sekali tidak melihat kakaknya.
Dan malam itu, di hari kematian Rian Chelsea melihat seseorang. Masuk ke dalam area rumah diam-diam. Ia yang tengah berdiri di balkon kamarnya hendak melaporkan pada sang ayah.
Namun niatnya ia urungkan saat melihat kakaknya datang menghampiri orang itu. Chelsea penasaran dan mulai berpikir tentang apa yang harus ia lakukan. Karena jika menghampiri kakaknya ia akan terlambat.
Akhirnya setelah berpikir agak lama, Chelsea lebih memilih mengintip kakaknya di kamar. Ia mengunci kamarnya sendiri agar tidak ada orang yang masuk.
Setelahnya segera mengintip kakaknya yang sudah berada di kamar. Tatapan penuh tanya ia layangkan pada banyak perangko yang terselip dalam naskah kakaknya itu.
__ADS_1
'Ngapain kakak mengendap-endap buat ngambil perangko doang? '
Chelsea segera bersembunyi saat mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Terlihat pelayan yang datang membawa nampan makanan.
Tapi, pelayan itu kembali membawa nampan dengan makanan yang masih utuh. Setelahnya tidak lama Rico menyusul. Chelsea tersenyum karena akhirnya punya kesempatan mencari tau.
Chelsea masuk dengan leluasa ke dalam kamar Rico dan melihat naskah yang tergelak di kasur. Ia segera mencari benda yang membuatnya penasaran. Setelah mendapatkan benda itu ia langsung kembali ke kamarnya karena takut Rico kembali.
Sampai di depan kamar ia melihat beberapa pelayan mengantarkan makanan dan membuatnya harus menunggu lama sambil bersembunyi sampai pelayan itu pergi.
Chelsea masuk ke kamarnya dan kembali mengunci pintu. Duduk di kursi belajar sambil memperhatikan benda di tangannya dengan seksama. Ia masih tidak habis pikir.
Karena penasaran ia mencari tau semalaman. Membaca banyak artikel di internet tapi tidak juga menemukan sesuatu yang aneh.
Dan hari itu datang juga, saat Chelsea bisa menjawab semua rasa penasarannya. Malam itu Chelsea tengah menatap bunga lavender di balkon kamarnya dengan mata sembab. Tiba-tiba handphonenya berdering menandakan panggilan masuk.
Chelsea mengambil handphone yang tergelak di atas laci itu dan sekilas melirik nama yang tertera. Nomor itu milik informan yang ia tugaskan untuk mengikuti kakaknya.
"Bagaimana hasilnya? "
Benda yang nona berikan kepada saya adalah obat terlarang yang dapat menimbulkan halusinasi berlebihan.
Chelsea tersentak kaget mendengar hal itu.
'Jadi, kakak... Ini gak mungkin. Apa jangan-jangan waktu kakak nolong aku dia lagi berhalusinasi? Makanya dia minta pelayan panggil Om dan maksud dia itu ayah. Tapi, dia berhalusinasi jadi siapa? Satu-satunya saudara ayah itu keluarga Adhitama, keluarganya bang Saka. Apa mungkin... '
"Masa kakak berhalusinasi jadi bang Saka? Mereka emang saingan, tapi masa sampai segitunya? "
"Apa waktu itu juga sama? Apa saat aku ketemu kakak di belakang pohon di atas bukit waktu syuting itu, obat di botol itu juga... sama? Aku kira dia cuma kecanduan obat penenang. "
Flashback Off
__ADS_1
Chelsea menghela nafas kemudian memejamkan mata.
'Gak seharusnya aku terus mengingat hal itu, semuanya terasa sangat berat buat aku terima. Semoga kakak mau berhenti setelah apa yang aku lakuin, aku gak mau satu sayap kak Ian rusak. '