
"Chelsea? "
Gadis dengan senyuman yang mempesona itu menatap Rico dengan bahagia. Setelahnya berjalan anggun menghampiri pria dengan mata berkaca-kaca yang tengah terduduk di kursi roda itu. Chelsea berdiri dihadapan kakaknya dan beralih memeluk sang ayah.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari sepasang ayah dan anak itu. Hanya ada ekspresi bahagia yang terlukis jelas di wajah mereka yang juga mampu membuat hati Alex menghangat. Alex nampak menyaksikan momen itu dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Mereka semua masuk ke dalam rumah dengan bahagia.
"Makasih ya Om Alex udah jemput Chelsea. " Ucap Chelsea tulus yang malah membuat Alex terkekeh.
Tuan Besar pun tersenyum mendengar hal itu.
"Bagaimana bisa kamu menyebut Tuan Lexan Om, Chelsea? Usianya bahkan belum bisa dikatakan pantas dengan panggilan itu. " Tegur Tuan Besar membuat Chelsea nyengir.
"Tapi, kan tetep aja udah tua, Ayah. Lagian Om Alex gak keberatan, iya kan Om? "
Alex tersenyum.
"Saya sudah biasa mendengar panggilan itu dari Nona Chelsea, Tuan Besar. Dan saya rasa itu tidak akan berpengaruh pada apapun. "
Tuan Besar menghela nafas.
"Kalian berdua, ya sudahlah jika Tuan Lexan tidak merasa keberatan. "
Obrolan-obrolan kecil itu terus berlanjut. Sedangkan Rico memilih pergi ke kamarnya dan mengabaikan keberadaan Alex. Terdengar sesekali mereka tertawa dan membuat Rico kesal sendiri. Ia merasa diasingkan di keluarganya sendiri. Apalagi saat ini sang ayah semakin akrab dengan Alex bahkan sampai menyerahkan Xil grup pada seseorang yang pernah Rico anggap sebagai sahabatnya itu.
Tangan Rico terkepal menahan amarah. Ia merogoh handphonenya saat merasa membutuhkan barang haram itu lagi. Beberapa saat menimbang-nimbang keputusannya dan akhirnya menghubungi nomor orang kepercayaannya. Sesaat menunggu dan nomor itu menjawab panggilannya.
"Gue butuh trip itu lagi, sekarang! "
Tapi, gue gak berani , Ric. Masalah adik lo yang ketangkep polisi gara-gara make trip itu udah nyebar. Kagak mau terlibat gue.
Rico berdecak sebal.
"Gue bayar tiga kali lipat, anterin sekarang! "
Orang di sebrang panggilan terkekeh.
Lima kali lipat, baru gue anterin.
"Sialan lo! Gue bayar, anterin sekarang! "
Tak disangka seseorang berdiri di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Obrolan Rico dengan orang itu jelas terdengar sampai telinganya. Orang itu menghela nafas kemudian beranjak pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Di ruang keluarga Tuan Besar masih asyik mengobrol dengan Alex. Sementara Chelsea pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dan Alfa datang kemudian langsung ikut bergabung bersama keduanya.
"Oh iya, Tuan Lexan. Ini Alfa, dia keponakan saya. Kalian harus saling mengenal karena akan sering bertemu nantinya di kantor pusat. " Ucap Tuan Besar memperkenalkan Alfa.
Alex mengulurkan tangannya dan Alfa menyambut uluran tangan itu dengan ramah.
"Apakah keponakan anda ini masih anak sekolah menengah, Tuan Besar? " Tanya Alex membuat Tuan Besar sedikit terkejut.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya, Tuan Lexan? Saya merasa belum pernah menceritakan hal itu. "
Alex terkekeh sementara Alfa pun menyimak dengan penasaran.
"Itu hanya dugaan saya saja, karena seperti yang terlihat dari penampilannya ini. Saya melihat Tuan Muda Adhitama ini sudah seperti orang dewasa begitu pun dengan perawakannya. Tapi, perasaan saya mengatakan Tuan Muda ini masih belum memasuki usia dewasa. " Jelas Alex membuat Alfa mengangguk-angguk pelan sementara Tuan Besar terkekeh.
"Kamu sepertinya sangat mudah memahami orang lain, Tuan Lexan. "
"Benar sekali, Uncle Xil. Aku juga bisa melihat potensi besar pada diri Tuan Lexan ini. " Timpal Alfa menyetujui ucapan Tuan Besar.
Alex terkekeh mendengar hal itu.
"Apakah itu sebuah pujian? " Tanya Alex membuat Alfa dan Tuan Besar tertawa.
"Wah, ada apa nih? Seneng banget kayaknya. " Tanya Chelsea yang tiba-tiba nimbrung.
Gadis itu sudah berganti pakaiannya tadi menjadi piyama berlengan pendek dengan gambar emoticon smile berwarna kuning terang. Serupa dengan celana panjang yang dipakainya. Kakinya tertutup sandal bulu karakter kucing dan rambutnya yang di cepol tinggi itu dilengkapi bando berbulu warna coklat tua sebagai pelengkap.
"Jam segini udah pakai piyama? Dasar kaum rebahan. " Ejek Alfa membuat Chelsea mendelik.
Setelahnya Chelsea memasang wajah sombongnya.
"Dasar orang iri. Hus! Pulang sana! Bikin sumpek aja. " Balas Chelsea.
Tuan Besar dan Alex terkekeh melihat interaksi kedua remaja labil itu.
"Sudah, sudah! Ini sudah waktunya makan malam, mari kita makan malam bersama. " Lerai Tuan Besar sembari mengajak semua makan malam bersama.
Alex tiba-tiba teringat dengan Ara. Ia sudah lama tidak makan bersama adiknya itu karena sibuk. Apalagi hari ini dia juga pergi dari rumah sebelum Ara selesai sarapan.
"Maaf Tuan Besar, sepertinya saya tidak bisa ikut. Saya harus segera pulang, adik saya pasti sedang menunggu saya untuk makan malam bersama. " Ucap Alex membuat Tuan Besar menoleh padanya.
"Yasudah, saya juga tidak bisa memaksa kamu. "
__ADS_1
Alex tersenyum kemudian beranjak dari duduknya.
"Selamat malam, Tuan Besar. " Ucap Alex sebelum kemudian pergi keluar.
Alex menaiki motornya yang terparkir di halaman kediaman keluarga Xilent dan memakai helmnya sebelum kemudian motor itu melaju keluar dari area kediaman keluarga Xilent dengan kecepatan rendah. Jalanan sudah lumayan lengang. Alex mengendarai motornya sambil menikmati angin dingin malam.
...***...
Sang surya pagi ini enggan menampakkan diri. Langit terlihat mendung dan awan-awan hitam tebal itu berhasil menyembunyikan sang surya begitu pun sinarnya. Tapi belum ada setetes air hujan pun yang turun membasahi tanah. Hanya angin dingin yang berhembus dan membuat orang-orang yang telah sibuk dengan aktivitasnya harus memakai pakaian cukup tebal.
Pagi ini Chelsea sudah kembali ke sekolah. Ia berangkat pagi-pagi dengan seragam yang tertutup sweater oversize warna kuning terang. Topi baseball berwarna senada menutup kepalanya, tidak lupa kacamata hitam dan masker hitam yang melengkapi penampilannya. Chelsea sudah siap untuk menghadapi harinya di sekolah yang mungkin akan sedikit membuatnya kesulitan.
Dan benar saja, bahkan saat mobil Chelsea dan para bodyguardnya baru memasuki gerbang sekolah. Lemparan-lemparan tomat busuk dan telur menyasar mobil dan membuat Chelsea sedikit khawatir.
"Nona, mungkin sebaiknya kita kembali saja ke kediaman keluarga Xilent. Ini akan sangat membahayakan keselamatan anda, Nona. " Ucap seorang bodyguard yang berada dalam mobil yang sama dengan Chelsea.
Chelsea menghela nafas kemudian tersenyum dibalik masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, aku tetap akan sekolah. " Putus Chelsea.
Dan akhirnya Chelsea keluar dari mobilnya setelah para bodyguard berdiri berjejer diluar untuk mengawalnya. Sepanjang perjalanan menuju kelasnya tidak ada lemparan tomat atau telur yang menyasar pada Chelsea. Hanya beberapa cemoohan yang terdengar dan jepretan kamera yang membuat Chelsea terus menunduk ke kelasnya.
Sampai di kelas Chelsea melihat beberapa teman sekelasnya yang malah mengabaikan keberadaan Chelsea dan Chelsea pun hanya diam. Chelsea duduk di bangkunya dengan tetap membisu. Tiba-tiba Raja datang dan dengan tergesa-gesa menghampiri Chelsea. Chelsea mendongak dan hanya menatap Raja dari balik kacamata hitamnya.
Raja duduk di bangku sebelah Chelsea yang kosong. Dengan wajah sumringahnya menghela nafas kemudian tersenyum pada Chelsea. Chelsea tetap diam menunggu apa yang akan dikatakan Raja padanya.
"Lo gak papa kan? Gue tau lo gak salah, gue seneng lo udah bisa sekolah lagi. " Ucap Raja dengan antusias.
"Udah ngomongnya? " Tanya Chelsea jengah.
Setelahnya Chelsea berjalan menuju loker miliknya yang hanya beberapa langkah dibelakangnya. Meninggalkan Raja yang nampak tidak terkejut dengan sikap Chelsea terhadap dirinya. Raja ikut beranjak dan menghampiri Chelsea. Ia merasa sedikit leluasa mendekati Chelsea karena para bodyguard keluarga Xilent hanya menjaga di luar kelas.
Chelsea membuka lokernya dan tiba-tiba ia mematung. Lokernya penuh dengan sampah kertas dan fotonya yang digunting. Tulisan-tulisan buruk tentangnya membuat Chelsea tertunduk. Raja langsung menghampiri Chelsea dan melihat semua itu kemudian dengan cepat berbalik.
"Siapa yang berani lakuin ini, hah?! Ngaku sekarang! " Teriak Raja membuat beberapa siswa yang ada di kelas menoleh dan menatap aneh.
"Gak ada lagi yang percaya sama aku. " Gumam Chelsea kemudian menutup pintu lokernya dan berbalik.
Chelsea berjalan menuju pintu keluar kelas. Tapi tangan Raja menahan pergelangan tangannya dan membuat langkah Chelsea terhenti. Chelsea menoleh dan menatap Raja dari balik kacamata hitamnya.
"Gue percaya sama lo. "
__ADS_1