
"Gue mau minta maaf. "
Rico memejamkan matanya sambil menghela nafas sesaat, setelahnya kembali membuka mata dan melihat-lihat isi flashdisk itu. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuat matanya menyipit kemudian terbelalak. Ia terlihat sangat kaget sampai beberapa saat mematung.
Dengan cepat Rico mengambil handphonenya dan mencari nomor telepon seseorang. Setelah menemukannya ia segera menghubungi nomor itu. Ia nampak tidak sabar menunggu panggilan telepon tersambung. Buktinya setelah tersambung ia langsung bicara to the point.
"Gue pengen keluar dari tempat ini. "
Orang di seberang panggilan telepon tertawa sebelum kemudian menjawab.
Oke, itu gampang. Tapi lo harus lakuin sesuatu.
"Apa itu? "
Ganti semua bodyguard di tempat lo, buat semua orang di sana dalam kendali lo. Gampang kan?
Rico tersenyum penuh arti.
"Gue bahkan bisa ganti semua bodyguard yang ada di keluarga Xilent. "
Setelah menyelesaikan panggilan telepon, Rico kembali menelpon seseorang. Kali ini ia menelpon orang kepercayaannya.
"Gue punya tugas buat lo. "
"Buat kekacauan besar di kediaman keluarga Xilent. "
Gimana maksud lo?
Rico tersenyum sinis.
"Gue mau lo dan anak buah lo buat kekacauan besar di kediaman keluarga Xilent, keluarga gue yang terhormat. Setelah itu, buat seolah-olah lo dan anak buah lo pahlawannya. Lo ngerti maksud gue, kan? "
"Buat semua anak buah lo jadi bodyguard utama keluarga Xilent dan pastikan bodyguard yang jaga gue juga diganti. "
Oke, gue ngerti. Lo bisa liat hasilnya lusa, semua bodyguard di tempat lo bakal Tuan Besar Xil ganti.
"Apa jaminannya? "
Lo udah mempertaruhkan hidup gue dengan rencana ini, gak ada jaminan sebesar ini. Kalo gue gagal, otomatis hidup gue yang terancam.
Rico terkekeh mendengar jawaban orang di seberang panggilan.
"Gue tau lo selalu bisa diandalkan. "
Btw, gue belum mulai apapun dan lo bisa sangat yakin gini?
"Lo tau gimana gue dan gue tau lo bakal mampu menyelesaikan tugas ini. "
Dan kata-kata Rico terbukti. Esoknya seluruh bodyguard yang menjaga tempat pengasingan diganti dengan anak buahnya. Hal ini berhasil dilakukan karena ayahnya memang tidak pernah tau kalau Rico punya banyak anak buah.
Dalam waktu satu dua hari sebagian besar bodyguard keluarga Xilent telah diganti dengan anak buahnya. Keadaan dengan mudah Rico kendalikan dan membuatnya dengan mudah sampai di tempat ini.
__ADS_1
Bandara internasional yang akan membawanya kembali ke tanah air bersama orang yang ia tunggu. Tak lama orang itu datang, seorang wanita sebaya dengannya yang beberapa waktu lalu membuatnya kesal di pesawat. Siapa lagi kalau bukan Bee.
Dan kali ini juga keduanya duduk bersebelahan dengan suasana berbeda dari sebelumnya. Mereka tampak akrab karena banyaknya pertanyaan yang Rico ajukan.
"Jadi lo paham kan sekarang? Pacar gue nerima posisi dari Tuan Besar Xil itu karena Tuan Besar bilang itu cuma sementara. Sebelum lo bisa memperbaiki diri lo sendiri. "
Rico mengangguk, ia sudah mengetahui itu dari salah satu video dalam flashdisk pemberian Alex.
"Hampir aja gue jadi orang bodoh dengan menghancurkan persahabatan gue sama Alex. "
"Pacar gue pasti pernah bilang lo bakal menyesal kalo gak liat isi flashdisk itu, kan? "
Rico mengangguk membenarkan perkataan Bee.
"Dan gue yakin selama ini lo selalu kepikiran sama kata-kata itu. "
Rico menghela nafas.
"Gue bersyukur karena gue belum terlambat meskipun gue tetap nyesel. Gue nyesel udah nuduh Alex sebagai pengkhianat, padahal dia yang selama ini paling peduli dan bisa dipercaya. "
Flashback Off
"Hey! Bengong aja lo! " Tegur Alex yang baru saja datang sambil menepuk pelan pundak Rico.
Rico langsung tersadar dari lamunannya. Sementara Alex memilih langsung duduk di kursi seberang Rico. Saat itu Rico baru sadar kalau anak laki-laki yang duduk bersamanya tadi sudah pergi entah kemana.
Alex memesan minuman dan baru mulai bicara setelah meminum seteguk air dingin. Cuaca hari ini tidak terlalu panas tapi setelah menghadapi kemacetan di jalan Alex jadi gerah.
"Gue kaget lo mau bicara tentang hal ini, jadi ada apa sebenarnya? "
"Gue cuma gak mau ada korban lain setelah Rian. "
Rico tampak mengernyit. Ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Alex.
"Maksud lo? "
...***...
Hari beranjak sore saat jemari Raja mulai bergerak. Wanita paruh baya yang selalu menjaganya kini sedang tidak berada di ruang rawat itu. Bahkan sampai Raja benar-benar membuka matanya, ia hanya melihat ruangan yang hanya ia tempati sendirian.
Raja mencoba bicara tapi tenggorokannya sakit. Kemudian melihat sekeliling dan tampak terkejut. Saat mencoba menggerakkan tubuhnya ia meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia bahkan sampai terpejam menahan rasa sakit itu.
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dan Alex muncul dari ambang pintu. Saat melihat Raja yang kesakitan ia langsung berlari menghampiri Raja.
"Lo kenapa? Gue panggil dokter, oke? " Tanya Alex dengan khawatir.
Saat Alex akan pergi, Raja menahannya.
"Gak usah. " Tolak Raja dengan lirih.
"Gak papa, gak papa. " Ucap Raja berulang-ulang.
__ADS_1
"Lo yakin? "
Raja hanya menanggapi dengan anggukan.
"Tapi gue yang gak yakin, pokoknya lo harus diperiksa dulu. "
Tanpa menunggu persetujuan Raja, Alex menekankan tombol darurat. Sementara Raja sudah tampak lebih tenang dan Alex segera menyodorkan segelas air yang tersedia di atas meja pada Raja. Ia juga membantu Raja meminum air itu.
"Apa yang lo rasain sekarang? "
Raja memejamkan matanya sesaat kemudian menatap Alex.
"Kakak pakai baju warna apa sekarang? "
Pertanyaan Raja membuat Alex mematung. Ia tampak belum bisa memahami apa yang coba Raja sampaikan padanya. Raja tersenyum miris.
"Jangan kasih tau mama aku ya, kak? "
Belum sempat Alex menanggapi, dokter sudah datang bersama seorang perawat. Alex menjauh beberapa langkah dari ranjang dan membiarkan dokter dan perawat menjalankan tugasnya.
Tatapan Alex memang terarah pada Raja. Tapi jelas terlihat kalau Alex tengah memikirkan sesuatu. Ia memalingkan wajahnya saat mengerti apa yang Raja maksud dengan pertanyaan tadi.
"Bagaimana keadaannya, dok? " Tanya Alex setelah dokter menyelesaikan tugasnya.
"Operasi yang dijalani pasien berdampak pada penglihatannya, sewaktu-waktu pasien bisa saja mengalami kebutaan. Tapi untuk saat ini pasien dalam kondisi yang aman hanya saja kemungkinan besar pasien harus hidup dengan melihat warna abu-abu selamanya. "
Alex menghela nafas mendengar pernyataan dokter. Ia melihat ke arah Raja yang tengah menatap sekelilingnya.
"Apa ada gangguan lain lagi pada tubuhnya? "
"Pasien kemungkinan akan kesulitan untuk berjalan dalam beberapa minggu. Setelah melakukan terapi dan latihan fisik, pasien akan kembali pulih. "
"Terimakasih, dok. "
Dokter ikut tersenyum saat Alex tersenyum dengan ramah. Setelahnya dokter pamit pergi dan meninggalkan Raja dan Alex di sana.
"Lo bisa minta bantuan gue kapanpun. " Ucap Alex sambil menghampiri Raja.
Raja tersenyum miris.
"Kenapa kakak baik banget? "
Alex terkekeh.
"Terus apa gue harus jahat? "
Keduanya tertawa bersama. Tiba-tiba mama Raja datang dengan terburu-buru. Wanita paruh baya itu sempat mematung di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. Jas putih khas tenaga medis masih dikenakannya.
Raja menatap mamanya sambil tersenyum dan membuat sang mama berlari untuk memeluknya. Senyum Alex mengembang melihat hal itu.
"Jangan buat mama khawatir lagi, sayang. Jangan buat Mama takut. "
__ADS_1
Raja tersenyum.
"Raja gak janji, ma. Tapi, Raja akan usahain demi mama. Tolong percaya sama Raja ya, ma? "