
"Dasar genit! " Hardik Saka.
Sementara Chelsea yang melihat permainan basket Kara bersama beberapa orang yang ikut bergabung itu mulai tersenyum. Ia terpana dengan pesona Kara yang pernah memikatnya saat sekolah menengah dulu.
"Dari mana kamu nemu brandal genit kayak gitu? " Tanya Saka membuat Chelsea terkekeh.
"Abang buta ya? Brandal dari mana? Gak ada brandal seimut itu. "
Saka mendelik tajam sementara Chelsea nampak menatap Kara kagum. Mata Saka setelahnya ikut menatap Kara yang beberapa kali tersenyum manis pada Chelsea dengan tatapan tajam.
Sempat Kara melihat tatapan tajam Saka tapi dengan kurang ajarnya dia mengabaikan hal itu dan membuat Saka mengumpat. Kara hanya fokus untuk membuat Chelsea kembali tersenyum dan itu berhasil.
Setelah lelah bermain, Kara berterimakasih pada orang-orang yang tadi bermain basket dengannya kemudian berlari kecil menghampiri Chelsea. Nafasnya tampak putus-putus dan keringat mulai membasahi wajah Kara yang putih bak porselen itu.
Cahaya matahari di siang hari itu membuat Chelsea silau saat melihat Kara. Tampak jelas dari bagaimana Chelsea menyipitkan matanya saat Kara datang menghampirinya.
Saka yang mengerti hal itu langsung menghalangi pandangan mata Chelsea menggunakan telapak tangannya. Sontak saja Chelsea mendongak untuk menatapnya heran begitu juga Kara yang tampak mengernyit.
"Mendingan kita makan siang sekarang. " Ucap Saka acuh.
"Iya sih, kamu juga pasti capek kan? " Tanya Chelsea sambil mengalihkan pandangannya pada Kara.
Kara tersenyum manis dan membuat pipi Chelsea bersemu.
"Manusia emang butuh makan kalo gak mau mati, termasuk lo. Kalo lo ngerasa jadi manusia yang masih pengen hidup. "
...***...
"Enough for today! Good job, guys! " Teriak sutradara mengakhiri kegiatan syuting hari ini.
Octa meregangkan otot-ototnya sesaat sebelum duduk di kursi yang disediakan untuk istirahat. Malam yang semakin larut membuat udara makin dingin. Dan tak lama managernya datang untuk memberikan mantel padanya.
"Lo mau langsung pulang? " Tanya manager membuat Octa menoleh.
__ADS_1
"Harusnya sih gitu, gue pengen istirahat. Tapi dua jam lagi pesawatnya landing, gue harus jemput orang tua gue dulu baru bisa pulang. " Jawab Octa setelah memakai mantelnya.
Setelahnya Octa berpamitan pada managernya dan berjalan menuju mobil yang berada di parkiran. Menit berikutnya mobil yang dikemudian supir keluarga Megardante itu membawa Octa melintas di jalan raya kota yang ramai.
Dari lokasi syuting sampai ke bandara Octa harus menghabiskan waktu sampai satu jam di perjalanan karena macet. Kebetulan ia pergi dari lokasi saat jam pulang kerja. Jadi banyak kendaraan di jalan raya.
Octa bahkan sempat tertidur di dalam mobil karena kelelahan dan saat sampai di bandara sopir membangunkannya. Octa membenahi penampilannya sebelum keluar mobil karena takut akan ada paparazi.
Setelah selesai mengenakan topi baseball dan hoodie senada, Octa keluar dari mobil dan mengecek handphonenya sebelum masuk ke bandara. Saat masuk ia mengernyit melihat betapa ramainya bandara.
"Kenapa bisa seramai ini? " Gumamnya bermonolog.
Octa berusaha untuk menjauhkan dari tempat ramai itu dengan bantuan sopir yang menjadi bodyguardnya saat ini. Tapi karena orang-orang itu menghalangi jalannya, ia jadi kesulitan.
Atas perintah Octa, sopirnya berjalan menuju petugas bandara untuk menanyakan permasalahan yang sedang terjadi. Tapi sebelum sopir itu kembali, matanya yang sedang terpaku pada layar handphone tampak melebar.
Genggamannya pada handphone terlihat semakin erat. Dan matanya terpejam bersamaan dengan helaan nafas. Setelahnya sopir datang dengan tergesa-gesa dan tampak raut wajahnya panik.
Ucapan sopir yang ragu-ragu itu terhenti karena Octa menepuk pelan pundak sopir itu. Perlahan mata Octa terbuka dan tampak sorot kesedihan yang kentara di mata yang selalu tampak dingin itu.
"Saya tau, tolong jangan katakan hal ini pada Ran. Biar saya yang mengatakan ini nanti. "
Waktu istirahat Octa hampir ia habiskan dengan menunggu informasi dari pihak bandara. Tampak ia duduk dengan gelisah bersama orang-orang yang punya maksud yang sama dengannya.
Wajahnya yang biasa dingin dan berubah ceria saat membahas tentang kedua orang tuanya kini tampak pucat pasi. Sopir yang melihat tuannya gelisah hanya mampu menundukkan kepala.
"Tuan Octavian? " Tanya seorang wanita dengan seragam bandara membuat Octa menoleh.
"Mari ikuti saya. " Lanjut wanita itu dengan ramah.
Dan tanpa banyak bicara Octa segera mengikuti wanita itu. Mereka berjalan melewati beberapa orang yang berteriak histeris dan menangis. Wanita itu membawa Octa menuju meja informasi.
"Tuan dan Nyonya Megardante tercatat dalam daftar penumpang. " Ucap wanita itu membuat Octa memejamkan matanya erat.
__ADS_1
Kedua telapak tangannya terkepal dan beberapa kali ia tampak menghela nafas dengan berat. Tubuhnya hampir terjengkang jika saja sopir tidak menahannya. Sopir menuntunnya duduk di kursi.
Setelahnya Octa menutup kedua matanya dengan sebelah telapak tangan saat air mata tidak lagi bisa ia tahan. Tubuhnya mulai bergetar karena menangis tanpa suara.
'Harusnya gue ikut sama mereka, seenaknya gue gak akan ada yang ninggalin gue kayak gini. Gimana cara gue kasih tau Ran tentang kabar ini? '
Sementara itu di ruang rawatnya Morin tengah duduk melamun di atas ranjang. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Alex. Dan Alex tampak mengernyit karena Morin tidak memberikan sambutan padanya saat ia masuk.
Melihat Morin yang melamun membuat Alex menatap sendu. Diluar sedang hujan deras dan Morin tampak memperhatikan rintik-rintik yang menabrak jendela kaca ruangan itu. Tatapannya tampak dingin dan hampa.
Alex berjalan menghampiri Morin dan mengelus lembut kepala Morin dengan tiba-tiba. Morin tampak terkejut dan sontak menoleh pada Alex yang telah berdiri di sampingnya sambil mengikuti arah tatapannya.
"Jangan banyak ngelamun, Zoy. Harusnya lo seneng karena besok lo udah bisa pulang. "
Morin menghela nafas kemudian menyentuh telapak tangan Alex yang ada di kepalanya. Setelahnya ia menarik Alex untuk duduk di depannya.
"Menurut lo, apa gak sebaiknya gue beresin semua urusan gue sama dia? " Tanya Morin yang membuat sebelah alis Alex terangkat.
"Kenapa lo tiba-tiba mikir kayak gitu? Siapa yang mempengaruhi pikiran lo? "
Morin dengan cepat menggelengkan kepala.
"Enggak, Lex. Gak ada siapapun. Gue cuma mikir, gimana bisa gue ngelakuin kesalahan yang sama ke lo, Lex? "
Alex langsung mengubah posisi duduknya menghadap Morin. Telapak tangannya kembali terangkat untuk mengelus lembut kepala Morin. Ada senyuman hangat yang terukir di wajah Alex.
"Gak seperti itu, Zoy. Gue ngelakuin hal ini buat jaga lo, melindungi lo bukan mengorbankan perasaan lo. " Jawab Alex membuat Morin menatap dengan tatapan tidak terbaca.
"Tapi lo gak harus mengorbankan perasaan lo demi melindungi gue, Lex. Lagipula, gak ada satu perahu yang berlabuh di dua dermaga dalam satu waktu. "
"Jangan jadiin gue antagonis di cerita yang akan kita mulai, Lex. " Lanjut Morin membuat Alex tersenyum.
"Gak ada yang harus berkorban, gue ataupun lo. Gak akan ada yang berkorban. "
__ADS_1