
"Kami menemukan buku catatan dan pot bunga lavender ini di bawah ranjang. " Ucap seorang petugas sambil memberikan kedua benda itu pada Alex.
Alex menerima benda itu dan petugas langsung pergi sambil membawa kantong jenazah menuju ambulans. Beberapa saat memperhatikan kedua benda itu dan Alex mengetahui pemilik benda-benda itu.
Alex duduk termenung di kursi tunggu rumah sakit. Beberapa kali ia menghela nafas dan mengusap air matanya yang belum sempat turun ke pipi. Matanya terpejam saat kepalanya tertunduk dalam.
Alex menangis dalam diam dan membuat seseorang dengan hoodie hitam yang tengah memperhatikannya dari jauh ikut tertunduk dalam. Topi yang tertutup hoodie itu menyembunyikan identitasnya.
Di dalam UGD Morin tengah ditangani oleh dokter. Setelah menangis histeris karena kehilangan mamanya, Morin langsung tidak sadarkan diri. Alex menoleh pada kursi di sampingnya.
Nampak sebuah buku catatan peninggalan mama Morin yang tidak berani ia buka. Dan pot kecil yang tertanam bunga lavender di dalamnya membuat lagi-lagi Alex meneteskan air mata.
'Korban ketiga, apa yang sebenarnya lo mau? Apa salah Zoya? '
Di rumah sakit yang berbeda Raja tengah berada di taman rumah sakit. Kursi roda yang dipakainya sempat membuat ia kesulitan karena Mamanya sedang bertugas. Beruntung ada perawat yang mengantarnya ke taman.
Beberapa kali Raja menghela nafas. Ia menatap intens setiap tumbuhan yang ada di taman. Setelahnya mengedar menatap gedung rumah sakit sampai ia menengadah menatap langit. Tangannya menggenggam erat pensil yang sempat ia minta pada perawat yang mengantarnya. Sekaligus dengan buku kosong yang ada di pangkuannya.
Raja memejamkan matanya dengan erat saat lagi-lagi objek pandangannya hanya terlihat abu-abu di matanya. Menghela nafas berat kemudian membuka matanya yang tampak redup.
Genggaman eratnya pada pensil perlahan melonggar dan garis-garis itu mulai tergambar di atas kertas kosong di pangkuannya. Wajah Raja dingin tanpa ekspresi saat tangannya dengan lincah menciptakan coretan-coretan indah.
Raja menatap hasil coretan nya dengan wajah tanpa ekspresi kemudian melipatnya menjadi lipatan kecil. Lipatan kertas itu ia masukan ke saku baju pasien yang ia pakai bersama pensil dalam genggamannya.
Setelahnya Raja berusaha untuk kembali ke kamarnya. Melewati lift tanpa bantuan siapapun dan akhirnya sampai di lorong ruang rawatnya. Raja belum sampai ke ruang rawatnya saat melihat beberapa bodyguard tengah menghalangi Chelsea untuk keluar dari ruang rawat VVIP rumah sakit.
Raja memutar balik arah tujuannya karena takut Chelsea akan melihat dirinya dalam keadaan yang sangat lemah. Ia segera kembali ke lift dan turun ke lantai bawah untuk menghindari Chelsea.
'Kenapa harus bertemu Chelsea? Untuk apa Chelsea berada di sini? '
Sementara itu Rico baru saja sampai di basement rumah sakit tempat Alex berada. Ia sempat bingung karena Chelsea dan Alex berada di rumah sakit yang berbeda. Meski akhirnya ia lebih memilih menemui Alex karena takut akan bertemu dengan ayahnya.
"Ngerepotin banget sih si Alex. Ngapain coba pakai masuk rumah sakit? " Gerutu Rico kemudian berdecak sebal.
Rico nampak tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya sekarang. Terlalu tebal dan membuatnya gerah. Apalagi ditambah dengan masker dan topi yang harus ia pakai demi menyembunyikan identitasnya.
Setelah menghela nafas, Rico berjalan memasuki gedung rumah sakit dan masuk ke dalam lift. Ia berpapasan dengan seseorang bertopi dan memakai hoodie saat masuk lift. Kebetulan orang itu keluar dari lift dan pergi melewatinya.
__ADS_1
Orang yang berjalan dengan kepala tertunduk itu membuat Rico beberapa saat menghentikan langkahnya. Setelahnya benar-benar masuk ke dalam lift bersama beberapa orang lainnya.
"Orang itu kayaknya familiar banget, siapa yah? Apa gue pernah ketemu tuh orang sebelumya? " Gumam Rico bermonolog.
"Ah! Masa bodo lah! " Gerutunya setelah lelah dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu Alex yang baru selesai mengurus administrasi langsung berjalan menuju lift. Ia hendak pergi menuju ruang rawat yang ditempati Morin dan Sunny. Beberapa saat yang lalu keduanya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Sunny mengalami sedikit masalah dengan paru-parunya karena terlalu banyak menghirup asap sementara Morin mengalami syok berat. Akhirnya mereka berdua diharuskan rawat inap.
Beberapa saat setelah masuk lift akhirnya Alex sampai di lantai 3 rumah sakit. Ia keluar dari lift dan matanya langsung menangkap kehadiran seorang pria bertopi dan masker yang menutupi sebagian wajah. Pria itu berjalan beberapa langkah di depannya.
Alex menatap pria itu dengan intens dan kemudian tersenyum tipis saat mengenali pria itu. Langkahnya semakin cepat karena berusaha menyusul pria yang ia kenali itu. Alex menepuk pelan pundak si pria dan membuat pria itu tersentak kaget.
"Sialan lo! Ngagetin aja. "
Alex tersenyum tipis.
"Sorry, gue gak ada maksud ngagetin lo. Lagian lo gak ngabarin gue kalo mau ke sini. " Ucap Alex sambil berjalan beriringan dengan si pria yang ternyata adalah Rico.
"Lo juga gak ngabarin gue kalo lo masuk rumah sakit. " Balas Rico.
"Gue gak papa, Ric. "
"Gue gak nanya. " Ketus Rico sambil kembali berjalan.
Alex tersenyum mendengar ucapan ketus sahabatnya. Setelahnya ia juga kembali berjalan beriringan dengan Rico.
"Lagian lo ngapain sih pakai masuk ke rumah itu? Kalo mau mati tinggal ngomong sama gue. Biar gue lempar lo ke kandang beruang. "
Lagi-lagi Alex tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabatnya.
"Ini masalah lain, Ric. Zoya emang salah, tapi jangan menyalahkan gue kalo suatu saat kita gak bisa sependapat lagi. Lo tau kan peraturannya, jangan sentuh dia. " Ucap Alex dengan senyuman.
Setelahnya masuk lebih dulu ke dalam ruang rawat Sunny. Rico terkekeh sebelum akhirnya ikut masuk menyusul Alex.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Sunny? " Tanya Alex pada anak kecil yang setengah berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
Sunny tidak menjawab dan malah menatap kosong. Alex menghela nafas memaklumi sebelum akhirnya tersenyum dan membawa Sunny ke dalam dekapannya. Sunny memeluk Alex dengan erat tapi ia tidak mengeluarkan air matanya sedikitpun.
Alex mengelus kepala Sunny untuk memberikan anak itu ketenangan. Sementara Rico hanya memperhatikan keduanya dari depan pintu. Sampai saat ini Rico masih belum mengetahui kalau Sunny adalah anak perempuan karena rambut Sunny yang selalu dipotong pendek seperti laki-laki.
Rico mengedarkan pandangannya dan melihat pot bunga lavender di atas meja. Tatapannya sangat sulit untuk diartikan. Tapi ia sesaat melamun sebelum kemudian kembali sadar saat Alex mengajaknya keluar.
"Yuk! Keluar. Gue mau liat Zoya, lo mau ikut gak? " Tanya Alex.
"Gak mungkin gue ikut, gak boleh ada orang lain yang tau gue udah balik dari Aussie. Gue tunggu di luar aja. " Putus Rico sebelum keduanya keluar dari ruang rawat itu.
Rico langsung duduk di kursi tunggu sementara Alex masuk ke dalam ruang rawat Morin. Di dalam ruang rawat, Morin tengah duduk di ranjang sambil membaca buku catatan peninggalan mamanya dengan berderai air mata.
Alex yang melihatnya langsung berlari dan merebut buku catatan itu dari Morin dan membuat Morin sontak menoleh. Mata Morin sudah sembab dan memerah.
"Balikin bukunya, Lex! Balikin! " Teriak Morin.
Alex menatap sendu teman kecilnya itu dan malah melemparkan buku catatan yang diminta Morin ke atas sofa. Setelahnya Morin langsung berteriak-teriak histeris. Alex segera membawa Morin ke dalam dekapannya.
"Ini alasannya kenapa lo gak boleh baca buku itu, Zoy. " Gumam Alex yang masih bisa Morin dengar.
Mental Morin belum stabil, itu sebabnya Alex mencegah Morin membaca buku catatan peninggalan mamanya itu. Sebelum pergi untuk mengurus administrasi tadi Alex memang lupa kalau buku catatan itu ia tinggalkan di ruang rawat Morin. Ia sempat menyesali kecerobohannya itu.
Berangsur-angsur Morin kembali tenang. Sepertinya Morin kelelahan karena menangis dan mulai mengantuk. Alex membaringkan Morin di ranjang dan menaikan selimut. Sesaat Alex mengelus kepala Morin dengan lembut.
"Lexan " Panggil Morin dengan lirih.
Matanya sedikit terbuka.
"Kenapa? " Tanya Alex dengan suara lembut.
"Baca wasiat mama. " Jawab Morin sebelum kemudian tertidur.
Alex mengernyit mendengar hal itu. Kemudian setelah Morin tertidur ia berjalan menuju sofa untuk mengambil buku catatan peninggalan mama Morin. Dan perlahan ia membuka buku catatan itu.
Alex terperangah saat membaca wasiat yang ditulis mama Morin. Jelas terlihat kalau Alex terkejut dengan isi wasiat itu. Ia menghela nafas sambil memejamkan matanya sesaat. Kemudian menutup buku catatan itu dan menatap sampulnya dengan sendu.
"Bagaimana bisa Lexan menjalankan wasiat ini, tante? Ini permintaan yang sangat berat untuk dipenuhi. "
__ADS_1