LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Kandidat Antagonis (Revisi)


__ADS_3

Alex berjalan bersama Ara dan Sunny menuju tempat kedua wanita beda usia yang sedang selonjoran di atas rumput kering bukit. Keduanya tampak semakin akrab.


"Enak ya main ninggalin aja, pada gak tau diri emang. "


Chelsea dan Morin melirik Alex yang sudah duduk bergabung bersama mereka. Terlihat dua bocah ikut-ikutan nimbrung.


"Maaf, gak niat tapi emang sengaja sih. " Balas Morin dengan gurauan.


Chelsea menatap keduanya dengan penasaran. Morin yang sadar dengan tatapan Chelsea langsung tersenyum.


"Aneh ya liat aku akrab sama Alex? " Tanya Morin menerka pikiran Chelsea tentangnya.


Chelsea menanggapi dengan anggukan pelan.


"Baru liat aja kalian akrab kaya gini. "


Alex terkekeh.


"Kami teman dari kecil, cuma semenjak aku pacaran sama Rian kami jadi jarang komunikasi kalo gak penting. " Jelas Morin menjawab pertanyaan dalam benak Chelsea.


"Kok gitu? Kak Ian emang ngelarang kalian? Masa cemburu sama temen sendiri? "


"Enggak, Rian sama sekali gak pernah larang atau cemburuan. Ya, kami aja sih yang mau jaga perasaan dia. Gak enak aja sama dia kalo kami terlalu akrab. "


Jawaban dari Alex membuat Chelsea mengangguk-angguk paham. Setelahnya obrolan mereka mengalir begitu saja. Tentang pertemanan Morin dan Alex, pertemuan Alex dan Rian sampai tentang proses Chelsea jatuh cinta pada Rian.


"Kamu jatuh cinta sama Rian pas pertama liat dia di agensi? " Tanya Morin memastikan.


"Gitu deh, dulu aku masih SD. Gak habis pikir juga sama diri sendiri kalo ingat itu. "


"Waktu itu Rian masih jadi penyanyi. Dulu Alex sempat jadi fans Rian, ya kan? "


Chelsea tampak terkejut dengan kenyataan yang diungkap Morin sementara Alex terkekeh. Benar juga, dia pernah jadi fans Rian dan sampai sekarang lagi-lagi Rian masih selalu terdengar di kamarnya.


"Sempat gak nyangka juga bisa diterima jadi manager di agensi yang sama waktu itu, padahal masih kuliah tahun kedua. Kalo dipikir-pikir takdir kadang lucu. "


Chelsea dan Morin tersenyum mendengar penuturan Alex. Mata ketiganya kompak menatap hamparan padang bunga lavender di lembah bukit. Sementara kedua bocah yang sejak tadi menyimak memilih diam dan ikut menikmati pemandangan indah di depan mata mereka.


...***...


Rico dan Tuan Besar Xil tengah duduk bersantai sambil bermain catur di teras belakang rumahnya. Sesekali menyelingi permainan dengan meminum kopi seraya menyusun strategi. Rico tampak tidak terlihat kebingungan, wajahnya penuh dengan raut bahagia.


Awalnya Tuan Besar Xil merasa sangat aneh sebelum kemudian berpikir mungkin saja Rico mulai berpikir dewasa dengan menerima segala takdir yang menimpanya. Meski Tuan Besar Xil tidak lantas mencabut perintah pada pengawalnya untuk mencari tau. Segala kemungkinan bisa saja terjadi.


"Hey, Ayah! Itu sudah skakmat! " Teriak Rico tampak kegirangan saat tau ia menang.


"Sejak kapan benteng mu ada di sana? Ayah tidak liat kamu memindahkannya. " Balas Tuan Besar Xil tidak mau kalah.


"Jangan mengada-ngada, Ayah! Aku sudah menyimpannya di sana sejak awal! Aku sudah menang, mengaku saja! " Ucap Rico kekeh.


"Tidak! Mana mungkin kamu mengalahkan ayah? "

__ADS_1


"Sudahlah ayah, kau hanya kalah catur bukan kehilangan saham. "


"Tidak bisa! Pokoknya kita ulang lagi! " Putus sang ayah membuat Rico terkekeh.


"Baiklah, tapi kalau aku menang lagi ayah harus berikan 10% saham Xil grup sebagai hadiah, bagaimana? " Tantang Rico sambil menatap sang ayah dengan remeh.


"Wah! Kamu bahkan sudah punya 10% di sana, dan sekarang ingin lagi? " Gurau sang ayah dengan ekspresi seakan heran.


"Kau jangan pelit padaku, Ayah. Memberiku 10% lagi tidak akan membuatmu bangkrut. Kau punya 50 % di sana, jangan kira aku tidak tau. "


Sang ayah akhirnya tertawa.


"Akhirnya aku bisa yakin untuk mewariskan Xil grup padamu. "


"Kalau tidak padaku ayah akan wariskan ke siapa emangnya? Aku Direktur Utama Xil grup selama ini jika ayah lupa. "


Tuan Besar Xil tertawa.


"Ayah sih mungkin akan mempertimbangkan manajer mu itu. " Ucap sang ayah dengan pandangan menerawang.


Rico mendelik.


"Aku anak kandung, sementara dia siapa? Jangan buat aku jadi antagonis, ayah. "


Ayahnya kembali tertawa. Sementara diam-diam Rico menyeringai.


'Kau hanya tidak tau, ayah. Putramu ini lebih cerdas dari apa yang kau lihat dan kebetulan sekali, putramu ini cukup tertarik menjadi antagonis. Tunggu kejutan dariku, Ayah. Karena bahkan anak buah mu tidak akan bisa menyelidikinya. Aku tau dirimu dan juga titik lemah mu, Ayah. '


Hidupnya mungkin hanya belajar, makan dan istirahat. Tidak ada lagi bermain. Bahkan Sunny yang selalu datang ke rumahnya ia abaikan dan membuat Sunny sering mengeluh dan ngambek meski masih terus menempel padanya.


Pemandangan pertama yang dilihatnya saat menginjakkan kaki di area mansion keluarga Megardante adalah pemandangan paling dibencinya beberapa hari ini. Kedua orang tuanya yang dengan cepat melupakan penyesalan mereka atas kematian sang kakak dan orang baru yang terus-menerus menjadi perhatian kedua orang tuanya.


Ran menatap datar ketiga orang yang mengaku keluarganya itu. Tampak ketiganya tengah melihat-lihat album foto dan sesekali tertawa bersama sambil menikmati camilan dan teh hangat di gazebo taman depan mansion. Mereka bahkan tidak menyambut kepulangan Ran dari sekolah.


"Menyebalkan " Gumam Ran kemudian memilih melangkah masuk kedalam mansion.


Sang pengasuh yang mengerti kekesalan Ran akhirnya pergi dan memberi Ran waktu untuk sendiri. Sebagai seseorang yang mengasuh Ran sejak balita ia cukup mudah mengerti perasaan Ran meski setelah kematian Rian perangai Ran berubah cukup drastis. Awalnya ia pun cukup kewalahan tapi akhirnya bisa menyesuaikan diri juga dengan perubahan itu.


Sampai di kamarnya Ran langsung membuka laci di samping tempat tidur dan mengeluarkan sebuah buku bersampul putih dari sana. Ia duduk di ranjang kemudian membuka buku yang cukup tebal itu. Lembaran pertama tampak kosong, begitu juga beberapa lembar selanjutnya sampai di lembar ke sekian barulah di sana tertulis kata.


Beberapa nama tampak berjejer seperti sengaja di susun. Ran mengambil pulpen yang tergeletak di atas laci dan mulai menuliskan tiga nama baru. Mereka adalah orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya.


"Aku sangat tidak sabar. "


...***...


Matahari telah menyorot dengan terang pagi ini saat Alex mengendarai mobilnya menuju apartemen Rico. Hari ini Rico akan kembali syuting setelah mengambil jeda beberapa hari. Wartawan yang tau kabar itu dengan cepat memenuhi halaman depan gedung apartemen.


Alex menghela nafas saat mobil yang dikemudikannya memasuki gerbang gedung. Wartawan lebih banyak dari biasanya sampai membuat mobil Alex kesulitan untuk lewat. Tiba-tiba handphonenya bergetar menandakan panggilan masuk. Tampak nama Rico terpampang di layar handphone. Dan Alex tentu saja langsung menjawab panggilan itu.


"Lo dimana? Gue udah masuk gerbang, bakal agak susah soalnya agensi baru kirim bodyguard. Mobil gue juga ke halang wartawan. "

__ADS_1


"... "


"Oh, oke. Berarti lo tunggu aja, nanti gue hubungin lagi kalo bodyguard udah pada datang. "


"... "


"Oke "


Panggilan terputus dan Alex memutuskan untuk menunggu bodyguard dari agensi datang. Ia memperkirakan bodyguard tidak akan lama lagi pasti datang.


"Semoga jalanan gak macet. "


Dan beberapa saat kemudian sebuah mobil datang, Alex tau itu mobil bodyguard dari agensi. Alex menurunkan kaca pintu mobil di sebelahnya kemudian memberi isyarat pada para bodyguard untuk segera membuka jalan untuknya. Sebagian bodyguard nampak turun dari mobil untuk membuka jalan.


Drama penjemputan yang berlangsung cukup lama itu akhirnya selesai. Rico dan Alex sama-sama bernafas lega saat mobil Alex sudah memasuki area jalan raya. Kali ini mobil Alex diambil alih oleh salah satu bodyguard.


"Hari ini cuma syuting iklan doang, kan? "


"Enggak juga, agensi baru konfirmasi kalo ada photoshoot juga, jadi kemungkinan sih paling cepat sore baru selesai. "


Rico mendengus. Sementara Alex terkekeh melihat reaksi Rico yang sudah bisa ia perkirakan. Dan akhirnya keluhan itu keluar juga dari mulut Rico. Alex sempat mematung saat kehampaan tanpa kehadiran Rian itu kembali dirasakannya. Biasanya keluhan Rico akan jadi bahan candaan Rian dan berakhir dengan mereka yang tertawa bersama. Setelahnya Alex tersenyum.


'Rasanya benar-benar kosong tanpa lo, Rian. Selalu ada yang kurang tanpa lo. '


"Udahlah gak usah banyak ngeluh, kayak anak baru aja. Lo udah berapa tahun jadi bintangnya agensi? "


Rico menghela nafas.


"Padahal pengen main, capek sekali jadi idola yang dikagumi kaum hawa. Lo mau gue sumbang kegantengan gue gak? Gue lagi capek jadi orang yang ganteng badai. "


Alex mendelik mendengar penuturan Rico yang selalu kelebihan rasa percaya diri itu. Setelahnya menepuk bahu Rico pelan dengan sorot mata prihatin.


"Kenapa lo? " Tanya Rico heran


"Gue yang orang biasa ini turut prihatin, ternyata jadi ganteng itu sebuah musibah. " Jawab Alex sok sedih.


Rico menepis tangan Alex dengan kasar kemudian cemberut persis seperti anak kecil yang sedang ngambek. Alex tertawa puas sampai perutnya terasa sakit. Kemudian menepuk punggung Rico dengan anarkis.


"Hey! Berhenti gak?! Gue tendang lo dari mobil! "


Tapi Alex masih saja menepuk punggung Rico sambil tertawa. Rico balik menyerang Alex dengan cubitan.


"Mainnya cubit-cubitan kayak anak perawan. " Ejek Alex dengan sisa tawanya.


"Lemah! " Balas Rico sambil balik mengejek Alex dengan jempol terbalik.


Keduanya saling melempar gurauan dan tertawa bersama. Setelahnya kelelahan yang membuat Rico memutuskan tidur sebentar karena jarak ke lokasi syuting ternyata lebih jauh dari yang mereka bayangkan.


Alex tersenyum melihat Rico yang perlahan terlelap. Mereka tidak sadar bahwa ada seringai misterius dan manik abu yang sejak tadi mengintai mereka. Memainkan perannya dengan sangat hati-hati supaya tidak dicurigai.


'Silahkan tertawa sepuasnya! Karena setelah ini mungkin kalian akan kesulitan untuk melakukannya. '

__ADS_1


__ADS_2