
"Drama anak sekolah, pasti selalu kayak gini. "
Saka nampak risih saat matanya menangkap sosok Chelsea dan Kara. Lama-lama ia juga merasa kesal melihat tingkah Kara yang belum ia kenal itu. Dan akhirnya Saka merapikan pakaiannya kemudian berjalan menghampiri Chelsea.
Dengan sedikit kasar Saka melumpuhkan Kara dan membuat Chelsea terkejut. Kara yang mendapatkan serangan mendadak dari orang yang tidak ia kenal itu pun ikut terkejut.
"Don't touch my angel! " Ucap Saka memperingati Kara dengan nada mengintimidasi.
Bukannya takut Kara malah terkekeh mendengar ucapan Saka. Wajah santai Saka masih tidak berubah, tetap berusaha mengintimidasi Kara. Sementara Chelsea hanya menghela nafas.
"Apa anda berharap saya takut? Maaf Tuan, siapapun anda tidak berhak mengatur hidup saya. " Balas Kara dengan tatapan tajam.
Wajah santai Kara pun sama-sama mengintimidasi. Dan dengan cepat Kara melepaskan diri dari Saka. Setelahnya tersenyum menyebalkan pada Saka dan berhasil membuat Saka berdecak.
Chelsea yang melihat itu jadi kesal sendiri. Wajahnya cemberut dan matanya menatap perselisihan kedua pria itu dengan jengah.
"Kalo kalian mau ribut, perang sampai saling bunuh ya silahkan! Aku pergi dulu, bye! " Ucap Chelsea membuat kedua pria itu sontak menoleh padanya.
Tapi dengan tidak peduli Chelsea memilih pergi meninggalkan keributan itu. Dengan cepat kedua pria menyusul Chelsea. Dan dengan kekanak-kanakan saling dorong untuk mencegah satu sama lain mendekati Chelsea.
"My angel! "
"Chelsea! "
Kedua pria itu kompak memanggil Chelsea dan setelahnya malah ribut kembali. Sementara Chelsea masih berjalan menjauhi mereka dengan tangan yang terlipat di depan dada. Tiba-tiba tangan seseorang menariknya dan membuat Chelsea hampir memekik karena kaget jika saja telapak tangan orang itu tidak membekap mulutnya.
"St! Jangan teriak dong! Nanti kalo ada yang salah paham gimana? "
Chelsea menghela nafas.
"Om Alex kenapa ngagetin sih?! Kan bisa ngomong dulu gak main tarik-tarik aja kayak tadi, kaget tau! " Omel Chelsea dengan kesal.
"Kan sengaja biar mereka gak sadar kamu gak ada. "
Alex nyengir dan Chelsea memukul lengan Alex lumayan keras.
"Sakit tau! " Keluh Alex.
__ADS_1
"Rasain! "
"Gak usah pakai drama, mendingan sekarang kita duduk. Acaranya udah mau dimulai juga. " Ucap Alex kemudian menarik Chelsea untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia.
Sementara itu Saka dan Kara tengah menoleh ke sana kemari karena tidak menemukan keberadaan Chelsea. Keduanya jadi saling menyalahkan.
"Salah lo nih! Chelsea jadi kabur. " Tuduh Kara seenaknya.
Mendapat tuduhan seperti itu membuat Saka kesal.
"Heh, bocah! Sekali lagi lo ngomong kayak gitu ke gue, gue pastiin Chelsea gak bakal nemuin lo lagi. "
"Bocah?! Lo sebut gue bocah?! " Tanya Kara tidak percaya.
"Heh, Om! Udah tua jangan cari masalah! " Lanjut Kara balik mengejek Saka.
Mendengar itu Saka jadi gemas sendiri.
'Gue buang juga nih bocah ke waduk. '
Tanpa membalas ejekan Kara ia berjalan meninggalkan Kara yang menggerutu kesal. Berteriak tanpa tau tempat dan membuat banyak pasang mata menatap aneh. Saka hanya menggelengkan kepala sambil terus berjalan menjauh.
Acara benar-benar dimulai setelah Chelsea dan Alex duduk di kursi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 09.15 pagi. Lima belas menit lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.
Tidak disangka ternyata Raja duduk di kursi yang cukup dekat dengannya. Dan tanpa harus menoleh satu sama lain mereka bisa saling melihat. Chelsea segera menundukkan pandangan saat matanya dan mata Raja beradu pandang dengan tidak sengaja.
Sementara Raja malah terus menatap Chelsea dengan wajah tanpa ekspresi. Di sampingnya ada Citra yang tampak kesal tapi kemudian tersenyum penuh arti. Tampaknya ia memikirkan sesuatu yang membuatnya senang.
Tiba-tiba Saka datang dan duduk di seberang Chelsea untuk menghalangi arah pandangan Raja. Diam-diam Chelsea bersyukur dalam hatinya. Dan tak lama Kara juga datang dan duduk di samping Chelsea. Chelsea menoleh pada Kara dan Kara tersenyum manis padanya.
Meja berbentuk lingkaran itu membuat mereka duduk memutar. Setiap meja memang diperuntukkan bagi empat orang. Dan acara pun berjalan dengan khidmat. Dimulai dari pembukaan dan sambutan-sambutan yang membuat Chelsea mengantuk.
Dan tidak terasa acara pun sudah hampir berakhir. Malam ini mereka akan kembali ke tempat yang sama karena akan diadakan pesta perpisahan. Hampir semua siswa akan memberikan pertunjukan nanti malam termasuk Chelsea. Karenanya Chelsea memilih segera pulang saat acara perpisahan selesai siang ini.
Chelsea beranjak dari duduknya begitu pun dengan ketiga pria yang duduk bersamanya. Baru berjalan beberapa langkah sebuah tangan menahannya. Chelsea sontak menoleh dan melihat Raja yang tengah berdiri sambil menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Bisa kita bicara berdua? "
__ADS_1
Chelsea mengernyit sementara Kara sudah siap menepis kasar tangan Raja yang menahan pergelangan tangan Chelsea. Tanpa ada penghalang Kara akhirnya benar-benar menepis kasar tangan Raja.
"Gue perlu kasih lo peringatan berapa kali, King? Lo beneran mau gue hajar baru bisa sadar, gitu mau lo? " Tanya Kara sambil menatap Raja dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Nada bicara Kara yang santai itu tidak membuat aura intimidasi nya hilang. Justru malah semakin membuat orang yang mendengarnya terintimidasi. Tidak terkecuali Raja meski raut wajahnya tidak berubah sama sekali.
"Udah, gak usah ribut. Dia nanya sama Chelsea, biar Chelsea yang kasih keputusan. " Ucap Alex menengahi.
Kara menghela nafas sementara Saka tampak menyimak. Chelsea berjalan untuk sedikit lebih dekat dengan Raja.
"Kamu sadar kan, selama ini apa yang kamu lakukan itu benar-benar mengganggu. Kamu sadar kan, selama ini aku gak nyaman dengan perlakuan kamu. Kamu tau itu alasan kenapa aku gak mau dekat sama kamu. " Ucap Chelsea kemudian menghela nafas.
Chelsea memberi jeda pada ucapannya dan menunduk sesaat kemudian kembali menatap Raja.
"Ayo bicara, nanti malam di pesta perpisahan. " Lanjut Chelsea kemudian tersenyum dan beranjak pergi.
Kara dengan cepat menyusul Chelsea diikuti oleh Saka. Sementara Alex tersenyum dan berjalan menghampiri Raja yang tampak mematung. Alex menepuk pelan pundak Raja dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya.
"Saya tau kamu orang baik, selamat berusaha. " Ucap Alex kemudian pergi meninggalkan Raja yang masih mematung.
Tiba-tiba senyum Raja terukir dan matanya terpejam setelahnya menengadah menatap langit siang yang nampak cerah. Tidak jauh dari tempatnya berdiri nampak Citra tengah berdiri menatapnya dengan kesal. Telapak tangan Citra terkepal erat.
Citra semakin dibuat kesal saat Raja bisa tertawa dan tersenyum ceria seperti dulu lagi hanya karena Chelsea. Beberapa saat Citra berusaha menenangkan hatinya sebelum kemudian tersenyum semanis mungkin dan berjalan menghampiri Raja.
"Hai Raja! Seneng banget kayaknya, habis dapat apa nih? " Tanya Citra sok asik.
Tapi Raja langsung kembali bersikap dingin dengan memasang wajah tanpa ekspresinya. Menatap Citra dengan tatapan dingin.
"Bukan urusan lo! Untuk kesekian kalinya gue kasih lo peringatan, jangan ganggu gue! " Ketus Raja kemudian pergi meninggalkan Citra tanpa peduli.
Citra menatap Raja kesal, telapak tangannya kembali terkepal erat menahan amarahnya. Matanya berkaca-kaca sebelum akhirnya air mata mengalir melewati pipinya.
"Kenapa? Kenapa selalu Chelsea? Karena Chelsea, semuanya tentang Chelsea. Dan Chelsea yang harus pergi dari Raja. "
Setelahnya Citra beranjak dari tempat itu dengan sakit hatinya. Ia bahkan tidak menyadari seseorang dengan hoodie hitam menutupi topi yang menyamarkan identitasnya tengah memperhatikan gerak-geriknya. Seseorang yang tengah duduk di salah satu kursi di dekatnya.
"Ini berbahaya. "
__ADS_1
Orang itu mengeluarkan handphonenya dan tampak menelpon seseorang.
"Awasi wanita bernama Citra Merisa Angeline! Laporkan semua gerak-geriknya! "