
"Anak itu benar-benar ingin membunuhku. " Gumam Tuan Besar.
"Apakah Uncle Xil bisa membantu keluargaku? " Tanya Alfa.
Tuan Besar menghela nafas sebelum kemudian membuka matanya yang terpejam. Setelahnya menatap dengan penuh rasa bersalah pada Alfa.
"Uncle akan usahakan, tapi Uncle pastikan Rico akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tolong sampaikan permintaan maaf Uncle pada keluarga kamu, Al. "
Alfa mengangguk.
"Tentu saja Uncle. " Jawab Alfa membuat Tuan Besar tersenyum.
"Tuan Lexan "
Alex sontak menoleh saat Tuan Besar memanggilnya.
"Bisakah kamu membantu saya? " Tanya Tuan Besar membuat Alex dengan cepat mengangguk setuju.
"Tentu saja, Tuan Besar. Anda tidak perlu meminta bantuan itu dari saya, saya akan dengan senang hati membantu anda jika dibutuhkan. " Jawab Alex membuat Tuan Besar senang.
"Kita harus menemui Rico dulu sekarang. " Ucap Tuan Besar yang kemudian menoleh pada Alfa.
"Ikutlah jika kamu punya waktu, Al. "
Alfa tersenyum.
"Tentu saja Uncle Xil, Alfa punya banyak waktu setelah izin dari sekolah. "
Tuan Besar terkekeh dan akhirnya mereka pergi bersama menuju ruang rawat Rico. Direktur Utama mengantar mereka sampai keluar ruangan. Setelahnya para bodyguard yang berjejer satu persatu berjalan mengikuti ketiga orang itu sampai ke ruang rawat Rico yang berada satu lantai di bawah lantai yang mereka tempati saat ini.
Dan di sinilah mereka berada, menerima tatapan tak terbaca dari Rico yang masih setengah berbaring di ranjang. Ketiga orang itu berdiri di samping kanan Rico, tempat di depan pintu masuk ruang rawat yang telah kembali tertutup rapat.
"Wah, wah, wah. Ada apa nih datang rame-rame? Oh ya, ayah menyukai kejutannya?" Tanya Rico dengan sinis.
"Ayah sangat terkejut, Rico. " Jawab Tuan Besar sambil tetap tersenyum.
"Ayah terus berpikir, sejak kapan kamu menguasai sebagian besar saham Adhitama, Rico? "
Rico terkekeh kemudian pura-pura berpikir.
__ADS_1
"Em, ayah gak usah kepo. " Jawab Rico kemudian tertawa seperti orang gila.
Alex menatap miris pada sahabatnya sementara Alfa tertunduk setelah melihat tingkah laku Rico yang lebih mirip orang gila. Sementara Tuan Besar nampak bersikap biasa saja.
"Ayah akan mewariskan Xil grup pada Tuan Lexan. "
Kata-kata itu langsung membuat tawa Rico terhenti. Sementara Alex dan Alfa pun tampak terkejut. Tangan Rico mengepal.
"Kamu tidak bisa merubah hal yang sudah ayah tetapkan, kembalilah ke Aussie, Rico. "
...***...
"Jadi, kamu akan pulang ke Aussie, Babe? "
Octa mengangguk.
"Lusa? "
Lagi, Octa mengangguk. Morin nampak menghela nafas dengan raut wajah muram. Rasa bersalah menyusup ke dalam hati Octa.
"Aku janji gak bakal lama, cuma dua minggu. " Ucap Octa dengan santainya membuat Morin sontak mendelik tajam.
Akhirnya pelukan Octa terlepas dan Morin berdiri sambil melipat tangan di depan dada dengan wajah cemberutnya. Octa tersenyum kemudian menghela nafas.
"Beneran mau ngambek nih? "
Morin masih diam.
"Oh, ya udah. Aku pulang duluan kalo gitu. " Goda Octa yang malah membuat Morin makin kesal.
"Ya udah! Pulang sana! Tinggalin aja aku di sini. "
Morin langsung berjalan menjauhi Octa sambil terus menghentakkan kakinya. Dan Octa yang berniat menggoda Morin menepuk kening kemudian menghela nafas. Setelahnya berjalan santai mengikuti Morin dengan tangan yang terlipat di depan dada.
Mereka berdua sedang ada di taman kota yang tampak agak ramai. Hari sudah beranjak sore saat mereka datang dan langit pun mulai berubah warna saat ini. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu begitu pun dengan lampu air mancur yang berwarna-warni.
Tiba-tiba langkah Morin terhenti saat matanya menangkap banyak lampion yang digantung pada beberapa tali sekitar dua meter dari atas kepalanya. Morin menengadah untuk mengagumi bersama beberapa orang di depannya yang juga tengah menengadah menatap lampion-lampion itu. Banyak decak kagum yang terdengar.
Sementara itu dibelakangnya Octa yang mengikuti langkah Morin pun ikut berhenti. Matanya menatap Morin yang terlihat sangat senang dan senyum tipis tercetak di wajah Octa. Morin yang nampak berbinar saat melihat lampion-lampion itu membuat Octa terkekeh kemudian berjalan menghampiri Morin.
__ADS_1
'Senyum Morin benar-benar candu. '
Sementara itu sore ini Tuan Besar membawa Rico pulang dari rumah sakit. Karena sebelah kaki Rico yang sempat terjepit saat kecelakaan, tulang kakinya retak dan dengan terpaksa Rico harus memakai kursi roda. Karena Rico sangat enggan repot-repot memakai kruk apalagi sebelah tangannya juga terluka.
"Biar gue bantu lo, Rico. " Tawar Alex saat seorang bodyguard akan mendorong kursi roda yang dipakai Rico.
"Al, tolong bantu gue. " Ucap Rico sebelum tangan Alex berhasil menyentuh kursi roda Rico.
Alfa tampak mengernyit sebelum kemudian membantu Rico. Sementara Tuan Besar yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas. Setelahnya menepuk-nepuk pelan bahu Alex. Alex yang awalnya tertunduk murung langsung menoleh pada Tuan Besar yang tersenyum padanya.
"Semua akan baik-baik saja, Tuan Lexan. " Ucap Tuan Besar membuat Alex sedikit merasa tenang.
Alex menoleh pada Rico yang sudah melewati ambang pintu dengan tatapan sendu. Kemudian tersenyum miris. Setelahnya ia dan Tuan Besar berjalan mengikuti Rico bersama para bodyguard yang mengawal di belakang mereka.
Ditengah jalan menuju lobby rumah sakit handphone Tuan Besar bergetar menandakan panggilan masuk. Langkah Tuan Besar terhenti begitu pun dengan Alex dan para bodyguard yang mengawal mereka. Sementara Rico dan Alfa sudah masuk ke dalam mobil. Tampak sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar handphone dan membuat Tuan Besar mengernyit.
"Ada apa, Tuan Besar? Apa ada masalah? " Tanya Alex saat melihat perubahan raut wajah Tuan Besar.
"Nomor tidak dikenal. " Jawab Tuan Besar tanpa berniat menjawab panggilan yang terus menerus masuk.
"Biar saya yang jawab, Tuan Besar. Mungkin saja ada hal penting. " Ucap Alex menawarkan diri.
Tuan Besar tersenyum kemudian menyerahkan handphonenya pada Alex. Dengan cepat Alex menjawab panggilan setelah menerima handphone itu.
"... "
"Iya, Tuan Besar Xil ada. Silahkan katakan keperluan anda. "
"... "
Awalnya Alex nampak hanya mengernyit sebelum senyumnya mengembang. Tuan Besar terlihat penasaran. Setelah panggilan ditutup Tuan Besar segera bertanya pada Alex.
"Siapa? Apa yang orang itu katakan? " Tanya Tuan Besar.
"Ini tentang Nona Chelsea, Tuan Besar. "
Perjalanan dari rumah sakit menuju kediaman keluarga Xilent terhambat karena macet dan membuat Tuan Besar bersama Rico harus menghabiskan banyak waktu diperjalanan. Sementara Alex nampak tidak ada bersama mereka. Langit sore sudah berubah gelap saat mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang kediaman keluarga Xilent.
Tuan Besar keluar dari mobil dan setelahnya Alfa membantu Rico untuk duduk di kursi roda sebelum mendorong kursi roda itu memasuki rumah mewah di hadapannya. Tuan Besar nampak berjalan di samping Rico dan pintu utama terbuka. Mata Rico terbelalak kemudian berkaca-kaca. Sementara Tuan Besar tersenyum begitu pun dengan Alfa. Dan senyum itu tercetak di wajah Rico.
__ADS_1
"Chelsea? "