LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Firasat Atau Mimpi Buruk? (Revisi)


__ADS_3

Pagi hari ini Rico dan Alex sudah diharuskan bekerja. Meski lagi-lagi syuting dihentikan sementara karena keadaan Rian, namun berita skandal itu membuat agensi terus menerus mengadakan konferensi pers bersama banyak media massa. Dan sebagai perwakilan tentu saja Alex dan Rico yang turun tangan.


Hari ini Alex diharuskan menjemput Rico di apartemennya karena Rico kesulitan keluar apartemen akibat kerumunan wartawan yang tengah menunggunya keluar dari lobby gedung apartemennya.


Berbeda dari biasanya, hari ini Bee ikut menjemput Rico untuk mengalihkan perhatian media. Mobil yang ditumpangi Bee dan Alex diikuti sebuah mobil hitam berisi bodyguard Xil grup.


"Tuan Manager, apa kau akan terus diam? Kita jarang punya waktu bersama, kau tidak ingin merengek dan mengadu padaku? "


Alex menoleh dan menatap Bee dengan tatapan sayu. Banyak kesedihan tersirat di mata Alex membuat hati Bee ikut berdenyut nyeri. Tangan Bee terulur mengusap-usap rambut Alex.


Tiba-tiba Alex menghentikan tangan Bee dan membuat Bee menatap heran. Seperti tau arti tatapan Bee, Alex segera memberi penjelasan untuk menghindari kesalahpahaman.


"Kamu gak boleh punya skandal, Bee. "


Butuh beberapa saat sampai Bee kembali sadar kalau mereka tidak hanya berdua. Ada seorang supir juga di mobil itu.


"Kita ketemu setelah acara selesai. "


"Tapi, janji yah kamu harus cerita semua keluhan kamu ke aku? "


Alex tersenyum saat Bee lagi-lagi mengerti keadaannya. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan Bee.


"Iya, Babe. "


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke apartemen Rico karena jaraknya yang lumayan dekat dari kantor agensi. Saat mobil agensi berhenti di depan pintu lobby gedung wartawan langsung berebut untuk mewawancarai Alex yang mereka ketahui sebagai manager Rico yang notabene sahabat dekat Rian.


"Kamu tetap disini, jangan coba-coba keluar dari mobil. Aku bakal selesaikan ini secepat mungkin. " Pesan Alex yang di angguki Bee.


Bodyguard mulai membuka jalan saat Alex memberi isyarat akan keluar dari mobil. Setelah di rasa aman, Alex bergegas keluar dengan kacamata hitam bertengger melindungi matanya dari flash kamera yang langsung menyambutnya.


Alex mengambil langkah cepat tanpa memperdulikan pertanyaan beruntun dari wartawan. Saat pintu lobby gedung terbuka, nampak Rico sudah siap dengan topi, kacamata dan masker hitam yang menutup seluruh wajahnya.


Sebuah tas berukuran cukup besar miliknya pun sudah ia tenteng dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam handphone. Alex mengangguk memberi isyarat yang kemudian dibalas anggukan oleh Rico. Keduanya berjalan keluar lobby dengan diikuti bodyguard Xil grup.


Rico menghembuskan nafas lega saat dia akhirnya bisa terhindar dari jepretan kamera dan pertanyaan beruntun para wartawan. Meski setelah ini pun dia akan menghadapi hal yang sama. Rico duduk di kursi penumpang sebelah Bee sementara Alex pindah ke kursi sebelah sopir. Mobil agensi itu membawa mereka menjauh dari kerumunan wartawan menuju jalanan padat di jam berangkat kerja.


Tiba-tiba mata Rico terbelalak kaget saat melihat Bee di sebelahnya. Ia tidak sadar kalau Bee sudah ada di dalam mobil dan duduk di sampingnya sejak tadi.


"Tawon?!" Pekik Rico.


Bee mendelik sebal.


"Hay." Ketus Bee sambil melambaikan tangan dengan terpaksa.


"Hay hey hay hey! What are you doing here?! "


Alex terkekeh dengan reaksi Rico. Bukan hal baru memang bagi Alex kalau kedua selebriti yang kerap kali menjadi lawan main di film-film itu bersikap layaknya Tom and Jerry di kehidupan sehari-hari mereka. Apalagi setelah wanita seksi bernama lengkap 'Rivanka Gabie' yang berstatus sebagai kekasihnya itu mengumumkan nama panggungnya.


Rico yang memang selalu bersikap usil itu semakin menjadi-jadi. Dan yang dilakukan Alex hanya menengahi atau mungkin lebih memilih diam dan menyimak.


"St! Berisik banget sih. Kumpulin tenaga buat menghadapi wartawan nanti. "


Rico menggerutu kesal.


"Terus aja aniaya gue! Bela aja tuh ratu tawon! " Ketus Rico sok ngambek.


Dan dengan kurang ajarnya Alex malah terkekeh. Tiba-tiba wajah cemberut Rico berubah murung.


'Gimana keadaan lo sekarang, Rian? '


...***...


Chelsea berbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah cemberutnya. Sementara sang ayah masih sibuk menatap tulisan di handphonenya sambil duduk santai di sofa.


"Ayah! " Panggil Chelsea dengan nada manjanya.

__ADS_1


"Iya. "


Sang ayah hanya membalas singkat dengan mata terfokus pada handphonenya.


"Ayah! "


"Iya. "


Lagi-lagi Sang ayah membalas dengan singkat. Chelsea mulai merasa kesal.


"Ayah!! "


Akhirnya Chelsea merengek dan membuat Sang ayah terkekeh.


"Iya, sayang. What's wrong? " Tanya Sang ayah akhirnya.


"Chelsea pegel. " Adu Chelsea yang membuat ayahnya bingung.


"Terus? Mau ayah pijitin? "


Chelsea kembali cemberut.


"Ih ayah! Gak peka! "


Sang ayah menatap Chelsea dengan tatapan tak mengerti. Akhirnya Tuan Besar Xil hanya mengusap tengkuknya dan kembali fokus ke layar handphonenya. Chelsea yang melihatnya menghembuskan nafas kasar.


"Ayah, balikin handphone Chelsea dong. " Bujuk Chelsea dengan sikap sok imutnya.


"Gak! Gak ada handphone! Kamu lagi sakit, pokoknya gak ada handphone! Mendingan kamu rebahan aja, istirahat. Kalo cepat sembuh nanti ayah balikin handphone kamu. "


Chelsea mendengus kesal. Tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan Chelsea langsung menoleh begitupun dengan Tuan Besar Xil. Maniknya berbinar saat melihat orang dibalik pintu. Senyum Chelsea mengembang dan tubuhnya sontak terduduk di ranjang.


"Bang Saka?! "


'Dasar genit! '


"Ngapain kamu ke sini? " Tanya Tuan Besar Xil dengan nada ketus.


"Ayah kenapa sih? Ketus banget. " Sewot Chelsea.


Sedangkan Saka hanya tersenyum canggung.


"Dia tuh gak pantes di tanggapi dengan ramah. "


"Maaf, Om. Saka ganggu yah? " Tanya Saka merasa bersalah.


Tuan Besar Xil baru akan mengiyakan saat tiba-tiba Chelsea memotong ucapannya.


"Eh! Enggak dong, Bang. Malah Chelsea seneng banget kalo ada yang jenguk. Sini Bang! "


Saka yang sejak datang berdiri diambang pintu langsung berjalan mendekat ke arah Chelsea. Jarak keduanya semakin terkikis oleh langkah demi langkah yang diambil Saka. Tiba-tiba...


Dor!


Mata Chelsea membulat saat merasakan sebuah benda dengan cepat menembus kulit perutnya. Chelsea menatap manik Saka yang awalnya berwarna coklat itu perlahan berubah menjadi warna abu. Chelsea batuk dan memuntahkan banyak darah yang mengotori baju dan selimut yang menutupi setengah badannya.


Dor!


Lagi, suara itu menggema dan kali ini berhasil membuat mata Chelsea membulat karena syok. Tampaknya Tuan Besar Xil yang terkulai di sofa dengan dahi yang memuncratkan darah karena ditembus peluru. Air mata Chelsea enggan keluar saking terkejutnya.


Tawa menyeramkan Saka tiba-tiba memenuhi ruangan itu. Chelsea memegang perutnya yang mulai terasa sakit. Nafasnya pun kini sesak. Dan Saka hanya tertawa, membuat Chelsea merinding sambil meringis kesakitan.


'Apa ini? Apa akan berakhir seperti ini? '


Mata Chelsea meredup dan tubuhnya semakin membungkuk menahan sakit di perutnya. Tiba-tiba dekapan seseorang menghangatkan tubuh dan hatinya. Dengan lemah Chelsea mendongak dan menemukan mata jenaka Rian yang menatapnya dengan hangat. Wajah tersenyum Rian yang seolah memberinya kekuatan. Chelsea membalas dekapan itu dengan sisa tenaga yang ia miliki.

__ADS_1


'Setidaknya untuk terakhir kalinya, aku akan memelukmu sampai mati. '


"Kau akan baik-baik saja, mari tetap bersama kak Ian, Chelsea. "


Chelsea tersenyum lemah.


Dor!


Chelsea terkejut saat mendengar kembali suara tembakan itu. Tiba-tiba tangannya bergetar saat menyentuh sesuatu yang lembab di punggung Rian. Matanya berkaca-kaca saat melihat telapak tangannya penuh darah. Tapi, ia sudah tidak punya tenaga untuk terisak. Dan isak nya tidak pernah keluar, hanya air mata yang turun melewati pipinya.


"Terimakasih karena mencintai kakak. " Ucap Rian yang kemudian terkulai lemah dalam pelukannya.


"Tidak! Tidak! Tidak boleh! Kak Ian! "


Chelsea terperanjat dari tidurnya. Nafasnya putus-putus dan keringat mengucur dari keningnya. Kepalanya pusing dan ia memutuskan untuk kembali berbaring.


"Syukurlah, hanya mimpi buruk. "


Ruang rawatnya kosong, ayah dan kakaknya entah pergi kemana. Tidak ada yang bisa ia lakukan karena handphonenya masih di tangan sang ayah. Tapi Chelsea bisa bernafas lega sekarang. Semua hal buruk itu tidak benar-benar terjadi.


Tiba-tiba suara pintu terbuka mengalihkan atensinya. Nampak ayahnya datang sendirian sambil menenteng sebuah tote bag berwarna kuning.


"Ayah bawa apa? " Tanya Chelsea penasaran.


Sang ayah tersenyum sumringah.


"Tebak dong! "


Chelsea langsung mengerutkan dahinya seolah tengah berpikir keras. Tapi kemudian ia menghembuskan nafas kasar.


"Chelsea menyerah, males mikir. " Ucap Chelsea sambil rebahan dengan nyaman.


Ayahnya berdecak dengan kelakuan Chelsea. Kemudian berjalan menghampiri putrinya itu dan mengulurkan tote bag yang dipegangnya. Dengan sumringah Chelsea menerima tote bag itu sambil menerka.


'Kira-kira apa nih isinya? '


"Yah, ini bukan mobil lagi kan? Chelsea bosen liat mobil di rumah, pada gak di pake. Chelsea kan belum cukup umur. "


Ayahnya terkekeh. Memang benar kalau Tuan Besar Xil selalu memberikan mobil sebagai hadiah untuk Chelsea. Ia sendiri sebenarnya tidak ada pilihan lain, ia bingung memikirkan barang mahal apa yang tidak Chelsea punya sampai akhirnya terus menerus menghadiahkan mobil yang bahkan belum bisa Chelsea pakai.


"Enggak, yang sekarang pokoknya spesial. "


Mendengar ucapan sang ayah membuat Chelsea bergegas membuka tote bag berukuran cukup besar dan harus ia akui cukup berat. Dan matanya berbinar melihat barang di dalam tote bag itu. Chelsea mengeluarkan barang itu dengan perasaan senang.


"Ayah serius beliin Chelsea album ini? " Tanya Chelsea saat mendapati sebuah album terbaru grup K-pop favoritnya sebagai hadiah.


Belum sempat ayahnya menjawab, Chelsea sudah kembali mengeluarkan barang lainnya dari tote bag itu. Sebuah kotak bekal tiga tingkat yang pastinya tidak murah. Chelsea membuka kotak bekal itu dan lagi-lagi Matanya berbinar saat menemukan berbagai menu ala Korea Selatan di dalam kotak itu.


"Wah! Ini siapa yang masak? Ayah beli? " Heboh Chelsea membuat ayahnya terkekeh gemas.


"Itu masakan mamanya Saka. Hadiah itu juga oleh-oleh dari Saka. " Jawab ayahnya membuat Chelsea yang sedang mencoba makanan itu tersedak.


Tuan Besar Xil dengan cepat menyodorkan gelas berisi air dari meja sebelah ranjang. Chelsea segera meminum air itu.


"Kamu ini, ceroboh banget sih. "


Mata Chelsea tampak berkedip beberapa kali. Tubuhnya menegang saat mendengar nama Saka keluar dari mulut ayahnya. Kilasan mimpi buruk itu berputar di benaknya.


"M-maksud ayah, Bang Saka udah pulang? " Tanya Chelsea dengan gelagapan.


"Iya, udah dari lama sih katanya. Sebenarnya ayah males menghadapi sikap genit sepupu kamu itu. Tapi ya udah lah, yang penting tidak merugikan keluarga kita. "


Chelsea masih mematung mendengar Jawaban ayahnya.


'Apa ini?! Jadi yang waktu itu benar-benar dia? Apa arti semua ini? '

__ADS_1


__ADS_2