LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Isi Flashdisk 1 (Revisi)


__ADS_3

Manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu, Rico.


Pria itu terkekeh mendengar jawaban sahabatnya di seberang panggilan. Seseorang dengan topi dan kacamata hitam itu tengah duduk menikmati secangkir kopi di sebuah kedai kecil.


"Gue males banget ke tempat biasa, mendingan lo yang ke sini. "


Terdengar helaan nafas sahabatnya sebelum menjawab.


Oke, dimana lo sekarang?


"Biasalah, kedai kopi dekat mansion Tuan Megardante yang terhormat itu. "


Lo gila?! Ngapain lo di sana Rico?! Kalo dia liat lo, gimana?!


Rico terkekeh. Ya, pria itu adalah Rico dan di seberang panggilan ada Alex yang tengah kesal.


"Lo tinggal datang ke sini, Lex. Ayah aja bisa gue kelabui, lo masih meragukan kemampuan gue? Udahlah, datang aja cepetan. "


Oke, gue berangkat sekarang.


Panggilan terputus dan Rico menaruh handphonenya di meja. Setelahnya kembali menikmati kopinya yang mulai dingin. Raut wajahnya berubah saat kopi itu sampai ke indera pengecap nya.


"Kenapa jadi gak enak? " Tanya Rico seolah heran.


"Anda menelpon selama lima menit, kopi ini disajikan pelayan tujuh menit sebelum anda menerima telpon dan suhu udara di dalam kedai ini sekitar 30ยฐ celcius. Kopi itu sudah tidak sesuai dengan selera anda, Mr. Xil. " Jelas seorang anak laki-laki yang berada di meja yang sama dengan Rico.


Anak laki-laki itu memakai kaos oversize warna kuning dengan topi baseball putih dan masker senada. Ia tampak duduk bersandar pada kursi sambil memperhatikan iPad di tangannya. Jika dilihat dari postur tubuhnya, anak laki-laki itu mungkin sudah masuk sekolah menengah pertama. Sementara Rico tersenyum mendengar penjelasan anak itu.


"Wah, benar-benar mengagumkan untuk anak seusia kamu. Dari mana kamu mempelajari hal ini? "


"Apanya yang harus dipelajari? Ini hanya tentang ketelitian. Jangan bersikap seolah anda terkejut dengan hal ini, Mr. Xil. Kita tidak akan bekerja sama jika saya tidak bisa melakukan hal sepele seperti ini. "


Lagi-lagi Rico tersenyum, anak laki-laki di hadapannya memang benar-benar bisa dibanggakan. Meski masih belia, tapi cara berpikirnya bisa mengimbangi Rico dan ia tentu sangat senang dengan hal itu.


Tiba-tiba benaknya memutar kembali kejadian di bandara 3 tahun yang lalu. Rico tersenyum tipis.


Flashback On


"Rico! "

__ADS_1


Rico menghentikan kursi rodanya saat mendengar panggilan Alex. Ia bisa merasakan Alex yang berjalan mendekat padanya. Alex tiba-tiba menyodorkan sebuah Flashdisk pada Rico dan membuat Rico menoleh dengan tatapan bingung. Alex tersenyum melihat reaksi sahabatnya.


"Lo bisa liat isinya kalo lo mau, gue saranin lo liat isinya biar lo gak nyesel. "


Ucapan Alex terus saja terngiang dalam benak Rico. Bahkan sampai saat ini dimana Rico mencoba untuk tidur karena perjalanan yang lumayan jauh akan ia tempuh. Rico menatap keluar jendela kaca pesawat dan hanya mendapat kehampaan.


"Gue benci pikiran gue yang mulai percaya sama ocehan pengkhianat itu. " Gumam Rico bermonolog.


Rico mencari posisi nyaman dan mulai memejamkan matanya. Tiba-tiba terdengar keributan yang membuat Rico sontak membuka mata dengan kesal. Setelahnya memasang headset ke telinganya dan memutar lagu dengan volume yang cukup keras.


Matanya sudah kembali terpejam saat merasakan orang disebelahnya beranjak kemudian tidak lama duduk kembali. Dan Rico memilih untuk tidak peduli. Matanya masih terpejam dan Rico mulai terlelap. Rico bahkan tidak menyadari senyum seseorang mengambang saat melihatnya.


Rico membuka matanya tepat sebelum pesawat landing. Tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat orang di sebelahnya.


"Hay! " Sapa orang itu dengan ramah.


"Ratu tawon?! "


Plak!


Satu pukulan sampai di bahu Rico.


"Nama gue Gebie! B*go! "


"Diam! Nanti aja lanjut ributnya. "


"Amit-amit! Gak mau gue ketemu sama lo lagi. "


Bee hanya tersenyum penuh arti dan membuat Rico menatap aneh padanya. Rico bergidik saat mengingat kembali senyuman Bee dan memilih untuk tidak peduli setelahnya.


Pesawat sampai bandara dengan selamat dan Rico pun kini sudah keluar dari bandara dengan kawalan ketat para bodyguard keluarga Xilent yang ada di negara ini.. Meski tempat tujuannya nanti adalah pengasingan, jangan berpikir bahwa tidak ada penjagaan di sana.


Tempat tinggal Rico nanti justru lebih mirip dengan lapas untuk para narapidana. Meski dengan fasilitas yang mewah tapi penjagaannya sangat ketat. Karena itu Rico tidak suka berada di tempat itu.


Tepat sebelum mobil yang Rico tumpangi melaju, Bee datang dan mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil itu. Rico awalnya bersikap tidak peduli tapi lama kelamaan ia tidak tahan juga mendengar suara ketukan yang tidak ada habisnya.


Dengan enggan Rico membuka kaca mobil di sampingnya dan menatap malas pada Bee. Wanita cantik itu malah tersenyum tidak jelas dan membuat Rico jengah. Apalagi wanita itu tidak kunjung bicara. Saat Rico akan menutup kaca itu kembali Bee menahannya.


"Gak usah ganggu gue kalo gak penting. " Ketus Rico saat akan menutup kaca mobil.

__ADS_1


"Ini soal flashdisk. "


Rico sontak menoleh pada Bee dan mengurungkan niatnya menutup kaca mobil. Bee tersenyum kearahnya dan membuat Rico mengernyit.


"Jadi lo sengaja ikutin gue? "


Bee malah terkekeh mendengar tuduhan Rico.


"Gue harus pastiin lo liat isinya, setelah itu lo bisa hubungi gue. " Jawab Bee tidak jelas kemudian pergi begitu saja.


Sementara mobil yang ditumpangi Rico sudah melaju di jalan raya. Nampak Rico mulai penasaran dengan isi flashdisk yang ia dapatkan dari Alex.


"Sepenting apa isi flashdisk ini sampai pengkhianat itu ngirim pacarnya buat ngawasin gue? " Tanya Rico bermonolog sambil mengeluarkan flashdisk dari saku mantelnya.


Rico menghela nafas sambil memperhatikan flashdisk di tangannya. Setelahnya ia kembali memasukkan flashdisk itu ke saku mantel dan mencari posisi duduk paling nyaman kemudian memejamkan matanya.


Perjalanan yang ia tempuh sudah cukup membuatnya lelah meski dilewati dengan tidur sepanjang perjalanan. Dan sekarang ditambah dengan rasa penasarannya pada isi flashdisk yang ia dapatkan dari Alex.


Berhari-hari Rico mengabaikan rasa penasarannya dan memilih mempertahankan egonya. Sudah hampir satu minggu sejak ia sampai di tempat pengasingan keluarga Xilent. Karena pengawalan ketat di tempat itu, Rico benar-benar tidak bisa menyentuh trip dan sejenisnya.


Perlahan duka akibat kematian sahabatnya membuat Rico kembali menggila. Sering ia mengamuk di kamarnya dan membuat para bodyguard yang berjaga kewalahan. Beberapa diantaranya bahkan menganggap Rico sudah benar-benar gila.


Pagi ini Rico sudah membuat kamarnya kembali berantakan. Ia kembali mengamuk, marah-marah tidak jelas kemudian menangis meraung-raung seperti anak kecil.


"Maafin gue, maafin gue, maafin gue. "


Kata maaf berulang-ulang terucap bersama dengan air matanya yang mengalir. Penampilannya sudah sangat berantakan dan beberapa bagian tubuhnya tampak memar. Ia kembali melempar benda-benda di sekitarnya sampai tiba-tiba tangannya terhenti begitu iris kelam itu melihat flashdisk yang pernah membuatnya penasaran.


Rico perlahan mengambil flashdisk itu dengan tatapan sendu. Kata-kata Alex saat memberikan flashdisk itu kembali terngiang dalam benaknya. Dengan cepat ia memanggil salah satu bodyguard untuk meminta laptop.


Awalnya bodyguard itu tampak ragu. Jelas bodyguard itu takut tuannya akan melempar laptop juga seperti benda-benda lain di sekitar tuannya itu. Meski pada akhirnya Rico tetap mendapatkan apa yang ia inginkan.


Rico membawa laptop yang ia dapat ke atas ranjangnya. Memang flashdisk pemberian Alex dan mulai mengutak-atik isi flashdisk itu. Terdapat beberapa file berisi foto dan beberapa video.


File pertama yang ia buka adalah file dengan nama 'Sekolah Menengah'. Banyak foto Rico bersama ketiga sahabatnya termasuk Rian. Beberapa foto membuatnya tertawa dan beberapa membuatnya tersedu karena merindukan masa-masa itu.


Saat itu mereka benar-benar bahagia dan bebas. Melakukan segala hal bersama meski sesekali harus menghadapi masalah yang cukup berat untuk usia mereka saat itu. Dan perkataan Rian kembali berputar dalam benaknya. Kata-kata yang selalu ia dengar setiap Rian curhat padanya.


"Gue pengen banget ketemu sama kak Vian. Seandainya kesempatan itu datang sekali, gue gak keberatan kalo harus ditukar sama nyawa gue sendiri. "

__ADS_1


"Jangan sembarangan, nyawa bukan bercandaan. Emang mau ngapain sih kalo lo ketemu kakak lo lagi? "


"Gue mau minta maaf. "


__ADS_2